Tuesday, July 31, 2007

17 Agustus, Hari Kemenangan Kaum Kiri Indonesia !!!

oleh Indro Suprobo Siapakah di antara generasi muda sekarang yang masih sangat berantusias untuk mengikuti upacara bendera 17 Agustus sebagai ritual tahunan perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia? Sebagian kecil barangkali masih merasa sangat bangga bila boleh menjadi petugas pengibar bendera berbaju putih, berpeci hitam dengan kain merah menutup leher. Beberapa mungkin juga masih sangat berantusias untuk bergegap gempita menabuh drum band dengan baju serba seragam dan serba berbaris rapi siap grak maju jalan belok kanan belok kiri, jalan di tempat sesuai aba-aba warisan tentara kolonial. Atau barangkali, masih terlalu banyak pula para puteri muda remaja berseri yang bangga penuh damba untuk menari-nari beratraksi saling gendong, lenggak lenggok lincah gemulai berpakaian serba mini menarik hati lelaki lintas generasi. Di kampung-kampung barangkali akan ada banyak keramaian penuh sorak gembira melupakan untuk sementara segala beban hutang, pungutan dan biaya sekolah, tagihan pembelian benih, tunggakan bon pupuk yang telah menumpuk, iuran arisan, biaya kontrakan dan seabrek kesulitan yang sehari-hari sering membuat kepala terasa nyeri. Jathilan atau kuda lumping, tarian kubro, pentas dangdut dengan lagu favorit yang hampir sama di mana-mana seperti es-em-es atau kucing garong, wayang kulit, sampai pengajian penuh humor barangkali akan menjadi acara-acara terpilih. Eit, jangan sampai dilupakan! Beragam perlombaan seperti makan kerupuk, gebug bantal, panjat pinang, memasukkan paku ke dalam botol, kelereng, sepeda indah, gerak jalan, kebersihan, bikin roti terbesar atau gapura paling unik pantaslah disebutkan dalam deretan ritual tahunan mahahebat ini! Seluruh keriangan yang meletus bagaikan balon udara itu pastilah terjamin direkam, dipotret, ditulis dan diberitakan ulang serta disiarkan oleh hampir semua media yang tersedia di sekujur deretan pulau-pulau Republik Indonesia Raya. “Peringatan Hari Merdeka dalam Aneka Rupa”, begitulah kira-kira tema utama. Tetapi tunggu dulu para pembaca setia….. Masih ada satu hal lagi yang tak boleh dilupa. Yang satu ini adalah persoalan mahapenting tetapi selalu saja memiliki kepastian teramat tepat untuk dilupakan. Di mana-mana, di seluruh pelosok negeri ini, gegap gempita dan meriah megah peringatan kemerdekaan Republik Indonesia Raya Jaya Sentausa, selalu saja dan terjamin pasti melupakan sunyi sepi studi dan pergulatan budi pekerti para tokoh pendahulu penggagas ide merdeka dan pendiri negeri yang secara hormat dan terpuji haruslah digolongkan sebagai kaum kiri!! Idealisme merdeka Indonesia Raya tidaklah mungkin begitu saja turun sebagai wahyu dari surga atau dari Tuhan agama-agama. Ide merdeka Indonesia Raya dipungut, ditenun, dianyam dan diolah dari sunyi sepi studi dan pergulatan budi kaum intelektual kiri yang cerdas bernas maju kreatif progresif penuh empati dan harga diri. Mereka ini menggagas dan menyusun ide merdeka dalam pergulatan sunyi sepi studi atas wacana-wacana kiri yang secara jelas tegas disebut sebagai sosialisme. Beberapa dari antara mereka yang berangkat dari sunyi sepi studi wacana kiri bolehlah diingat di sini. Yang paling awal, Soewardi Soerjaningrat, Douwes Dekker dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo yang mendirikan “Indische Partij”, sejak tahun 1912 telah secara gamblang menyatakan cita-cita “Hindia Merdeka, Sekarang!”. Mohammad Hatta yang muslim dan saleh, yang menyerukan cita-cita Indonesia Merdeka di depan Meja Hijau di Nederland tahun 1928, telah menulis analisis kritis dan kiri dalam majalah Hindia Poetra untuk mendukung kaum petani miskin melawan penguasa perkebunan dan pabrik gula di Jawa dengan judul “De economische positie van den Indonesischen grondverhuurder” (Kedudukan ekonomi orang Indonesia yang menyewakan tanah) dan “ Eenige aantekeningen betreffende de grondhuur-ordonnantie in Indonesie” (Beberapa catatan tentang ordonansi penyewaan tanah di Indonesia)[i]. Ir. Soekarno, yang pada tahun 1930 secara berapi-api memaparkan “Indonesia Menggugat” di hadapan pengadilan Hindia Belanda, sangatlah jelas dengan bacaan sosialisme yang dilahapnya. Sjafruddin Prawiranegara yang pernah ditunjuk oleh perdana menteri Hatta untuk menjalankan Pemerintahan Darurat, adalah seorang Muslimin juga yang bahkan dengan tegas berujar bahwa manusia yang beragama dan beriman, tidak bisa lain, ia pasti kiri.[ii] Yang lain lagi adalah seorang negarawan yang juga pernah menjadi Perdana Menteri, yakni Soetan Sjahrir. Bersama Hatta, ia berjuang agar prinsip-prinsip kedaulatan rakyat, keadilan sosial bagi seluruh rakyat dan penghormatan kepada harkat martabat manusia menjadi kehidupan nyata negara dan masyarakat Indonesia. Pergulatan budi dan empati dalam menggumuli wacana berhaluan kiri itu tak pernah lagi dibuka, disinggung, diangkat, dijunjung apalagi disanjung dalam pidato-pidato resmi ritual peringatan hari merdeka Indonesia Raya sekarang ini. Padahal, itulah faktor utama dan penentu munculnya pemikiran dan gereget gerakan merdeka para pendiri negara. Wacana kiri atau sosialisme pada umumnya, sejak Orde Baru, dan oleh Orde-orde yang terbaru lagi (tak tahulah apakah itu sungguh sebuah transformasi atau hanyalah mutasi) telah ditempatkan dalam sudut sepi, dilarang keras untuk dipelajari, diberi stigma “berbahaya”, tak boleh lagi dicerna secara dewasa, dan kalau ada yang berkumpul serta menjadikannya sebagai tema diskusi, akan segera saja berhadapan dengan gerudugan segerombolan polisi. Oleh karena itu, sudah sepantasnya dan sehormatnya, sosialisme atau wacana kiri itu ditempatkan penuh martabat dan harga diri sebagai bahan studi untuk dipelajari. Soetan Sjahrir, sebagaimana dikutip oleh amarhum YB. Mangunwijaya mengatakan: “Sosialisme adalah ajaran dan gerakan mencari keadilan di dalam kehidupan kemanusiaan. Sosialisme adalah ajaran politik yang memihak golongan miskin dan tidak berpunya yaitu kaum proletar. Ia menentang golongan yang menggunakan kekayaannya untuk kepentingan dirinya dengan memperoleh untung dari kemiskinan orang yang dipekerjakannya pada perusahaan-perusahaannya. Mereka yang mampu dan berpunya itu biasanya adalah golongan yang berkuasa dalam negara. Sehingga negara pun selalu berpihak pada mereka, sedikitnya selalu membela kepentingan mereka dengan perundangan yang menjamin kedudukan dan kekayaan mereka. Sosialisme selalu mengikhtiarkan supaya lebih banyak kaum miskin di dunia menolak nasibnya sebagai kaum miskin, hina, dan tertindas dan menuntut perubahan sehingga tidak ada lagi kaum tertindas dan kaum yang menindas, dan tidak ada lagi kaum yang menghisap dan kaum yang dihisap” [iii] Jurang yang lebar antara kemelaratan penuh sengsara mayoritas orang miskin dan kesejahteraan penuh nikmat segelintir orang kaya dan kuasa, sejak semula menjadi kegelisahan, penolakan dan geliat perlawanan kaum kiri. Bahkan sejak semula embrio agama-agama berangkat dari penolakan atas hal ini. Jangan salah sangka bahwa Isa binti Miryam dari Nazareth yang hidup dan ajarannya menjadi pondasi kekristenan dari beragam sekte dan aliran, adalah termasuk dalam golongan kaum kiri-sosialis purba. Ia membela kaum tani dan buruh kota yang melarat-sengsara dalam tirani penjajahan kaum kuasa baik negara manca maupun para komprador sebangsa. Memang sudah semestinya orang yang benar-benar beragama pastilah menjadi golongan kiri pula karena paradigma kiri adalah haribaan agama-agama. Apabila praksis dan paradigma agama-agama masa kini tidak bertaut dengan haribaannya, maka pantaslah diserukan kembali pertobatan ideologis kepada agama-agama, yakni sebuah pertobatan Copernican dari kapitalisme dan neoliberalisme menuju kemanusiaan dan sosialisme, dari perang dan ketidakadilan menuju keadilan dan perdamaian. Heibatnya, seorang professor agama-agama bernama Kang Nam Oh, berujar dalam kritik yang mendalam,”Sebuah bangunan gereja yang kosong adalah lebih baik daripada bangunan gereja yang berisi penuh dengan orang-orang kristiani yang belero dan tanpa otak”.[iv] Yang dimaksudkannya dengan kritik ini adalah ritualisme dalam agama apapun tak ada artinya jika tidak memiliki pertautan dengan komitmen dan praksis yang berpihak kepada yang tertindas, yang terkalahkan, yang dipinggirkan. Agama musti kembali kepada haribaannya, yakni kemanusiaan dan sosialisme. Jurang yang menganga antara mayoritas melarat miskin susah dan segelintir kaya sejahtera selalu menjadi dasar perlawanan orang yang berpikir. Situasi itulah yang melahirkan pikiran dan gerakan merdeka di Indonesia. Situasi serupa dalam lingkup wilayah yang lebih terbatas memunculkan gerakan perlawanan sosial di tiga daerah (Tegal, Brebes, dan Pemalang).[v] Meskipun pembangunan telah berjalan puluhan tahun dan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia Raya telah digegap-gempitakan 62 kali, jurang antara kaum kaya raya dan kaum miskin serba kekurangan semakin menganga pula. Fenomena yang aneh tapi nyata ini tak pernah bisa dipahami kalau generasi Indonesia Raya sekarang ini tetap dilarang mempelajari sosialisme dan wacana kiri. Oleh karenanya, daripada bergegap-gempita dengan banyak biaya yang seringkali harus dengan berhutang juga, barangkali lebih arif bijaksana dan hemat tiada tara kalau 17 Agustus, sebagai hari merdeka Indonesia Raya diperingati dalam sunyi sepi studi wacana kiri alias sosialisme, sambil menyadari bahwa UUD 1945 dan terutama Pancasila adalah sebenar-benarnya kiri jiwanya, serta meresapi dalam kecerlangan budi bahwa pada hakekatnya Republik Indonesia Raya dirancang dan direncana seturut mazhab sosialisme pula. Nah kalau begitu, selanjutnya, ketika sosialisme menjadi bahan diskusi, tak perlulah repot-repot digerudug gerombolan pak polisi, karena mereka juga sangat butuh belajar apa sesungguhnya kiri. Supaya kiri yang ini pun boleh punya nasib yang sama dengan yang biasa terpampang dalam rambu-rambu “Kiri jalan terus”. ----------------- [i] Parakitri T Simbolon, Turun Gunung! Mohammad Hatta 11 Tahun di Belanda, dalam Seratus Tahun Bung Hatta, Penerbit Buku Kompas 2002, hlm.46 [ii] YB. Mangunwijaya, Kiri dan Kanan Dalam Sprachspiele, dalam Menuju Republik Indonesia Serikat, Gramedia 1999, hlm.209 [iii] ______ , Mengapa Sosialisme Indonesia Perlu Kita Pelajari?, dalam Menuju Republik Indonesia Serikat, Gramedia 1999, hlm.218 [iv] Keun Soo Hong, Reconciliation For Peaceful Common Living – Disarmament and Security, dalam Asia, The Reconciler, Report of The Sixth Assembly of The Asian Conference on Religion and Peace, Asian Conference on Religion and Peace (ACRP) and Interfidei 2005, hlm 111-124 [v] Anton E. Lucas, One Soul One Struggle, Perlawanan Tiga Daerah, Resistbook 2004

Enam Jam di Caracas

Oleh Indro Suprobo 

Bagi orang yang biasa-biasa saja seperti saya, mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Venezuela secara gratis, merupakan pengalaman luar biasa. Ini terjadi karena undangan seorang teman lama, Alejandro Pino d”Araujo, yang kebetulan mengajar filsafat di College of Social and Humanistic Sciences, Simon Bolivar University. Pada saat itu, Universitas Simon Bolivar menyelenggarakan Workshop National berjudul “Simon Bolivar : The Liberation Movement in Philosophycal and Political Perspective”Yang menarik dalam seminar itu adalah hadirnya Hugo Chaves, sang presiden, sebagai salah satu narasumber karena dia adalah salah satu mantan mahasiswa yang pernah kuliah di universitas tersebut. Narasumber yang lain adalah Ambrosio Wegemento Segundo, salah seorang murid dari teolog besar penggagas A Theology of Liberation, Gustavo Gutierrez. 

 Dalam paper setebal 15 halaman yang berjudul Contra l’Estigma (Melawan Stigmatisasi), Hugo Chaves menyatakan bahwa selama sekian lama rakyat Venezuela telah berada dalam berbagai macam bentuk penindasan dan penjarahan namun selalu saja mengalami halangan besar untuk melakukan pemberontakan karena sejak kecil, dalam keluarga-keluarga, telah ditanamkan alat sensor yang sangat ampuh yakni kesadaran stigmatis. Kesadaran stigmatis ini telah menumpulkan kesadaran kritis warga masyarakat dan pada gilirannya memupus segala kemungkinan untuk melakukan kritik, perubahan, apalagi pembebasan. Salah satu contoh stigmatisasi itu dialaminya sendiri ketika masih kecil. Keluarga besarnya secara turun temurun menuturkan bahwa kakeknya adalah seorang pembunuh. Setelah dewasa, dengan wawasan dan bacaan sejarah tentang gerakan-gerakan revolusioner di banyak tempat, Chaves menyadari bahwa sebenarnya kakeknya bukanlah seorang pembunuh, melaikan seorang pejuang yang emoh terhadap segala bentuk ketidakadilan di hadapan matanya. Kesadaran yang ditanamkan sejak kecil itu merupakan kesadaran stigmatis yang bertujuan agar orang-orang biasa yang setiap hari hidup dalam kesusahan, tidak menirukan tindakan protes maupun perlawanan seperti para pejuang pendahulu itu. Lebih dari itu, sosialisme sebagai sebuah model pemikiran dan gerakan telah diberi stigma sebagai satu-satunya keburukan pemikiran yang arogan dan terbukti telah bertekuk lutut di hadapan kegagalan besar. Sosialisme lalu dengan mudah telah dilipat-lipat dalam kesadaran hanya sebagai sebentuk komunisme, ateisme, kediktatoran dan represi yang justru menyengsarakan. Itulah stigma terhadap sosialisme. 

 Karena sebagian besar rakyat Venezuela adalah pemeluk agama katolik Roma, Chaves menggunakan teologi pembebasan Amerika Latin sebagai bahasa komunikasi yang ampuh. Prinsip-prinsip dasar sosialisme memang menjiwai pendekatan teologi pembebasan ini. Ia menyatakan bahwa Yesus dari Nazareth adalah orang yang dalam iman yang besar, melakukan pemberontakan secara individual, social, politis, cultural dan religius pada jamannya. Yesus adalah inspirasi bagi gerakan pembebasan dan revolusi. Yesus adalah tokoh revolusioner dan progresif yang melawan segala bentuk manipulasi, stigmatisasi, akumulasi keuntungan oleh segelintir orang yang menyengsarakan ribuan bahkan jutaan orang yang lainnya. Sebagaimana Yesus telah melakukan revolusi pada jamannya, maka pada saat ini, adalah tugas semua orang yang mengaku sebagai pengikut Yesus, untuk secara radikal melakukan gerakan revolusioner. Setan paling nyata dalam kehidupan dunia sekarang adalah kebijakan politik-ekonomi dan dominasi Amerika yang merampas hak dan menghancurkan kehidupan sebagaian besar warga dunia. Kemiskinan dalam semua dimensinya telah merenggut kehidupan rakyat Venezuela dan rakyat di sebagian besar belahan dunia ini. Kemiskinan adalah sebuah penghancuran terhadap kehidupan manusia dalam banyak sendi. Kemiskinan yang mematikan ini tidaklah sesuai dengan apa dipesankan oleh Yesus yakni hadirnya kerajaan kehidupan. Oleh karena itu, dalam semangat yang sama seperti Yesus, “Kita harus melawan segelintir orang yang terus menerus menghancurkan sebagian besar dunia ini. Sekarang juga harus kita lakukan!”, tegasnya dengan nada tinggi, sorot mata yang menatap tajam karena kesedihan dan komitmen, sambil mengepalkan tangan ke atas. Semua yang hadir tanpa dikomando serentak berdiri dan bertepuk tangan. Saya ikut berdiri di antara mereka yang hadir dengan hati yang luar biasa tergetar. Beberapa yang hadir bahkan meneteskan air mata entah karena kobaran semangat, kemarahan maupun keharuan. Kampus Universitas Simon Bolivar yang terletak di lembah Sartenejas, dan termasuk daerah kotamadya Baruta, wilayah ibu kota Caracas bagian selatan itu terasa bergetar dalam kemegahan semangat, sesuai dengan nama yang dikenakan padanya, Simon Bolivar, El Libertador, sang pembebas bagi beberapa Negara Amerika Latin. 

Sesi seminar itu dilanjutkan dengan diskusi kelompok di luar ruangan aula. Dalam diskusi kelompok, saya mendapatkan tempat diskusi yang cukup menarik, yakni di sebuah gazebo kecil di pinggiran Laguna de los patos, sebuah danau kecil buatan yang indah di dekat pintu gerbang masuk universitas. Danau buatan itu menjadi semakin menarik karena dipenuhi bebek putih yang berenang dan berlompatan di atas air. Laguna de los patos memang berarti “danau bebek”. Hugo Chaves memang presiden yang tegas dalam prinsip namun sangat low profile. Dengan santainya dia meminta para pengawalnya untuk menikmati danau, sementara dia sendiri menyelonong nimbrung dalam diskusi kecil kami. 

Salah seorang anggota kelompok diskusi kami adalah seorang Marxis tulen bernama Milan Machovec. Ia adalah seorang profesor senior yang jauh-jauh datang dari Charles University, Praha. Salah satu buku terkenal yang pernah ditulisnya adalah Jesus Fur Atheisten yang diterbitkan oleh Kreuz Verlag Stuttgart, dan diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh Darton, Longman & Todd, London dengan judul A Marxist Looks At Jesus. “Saya sangat sepakat dengan apa yang tadi telah dinyatakan oleh mister Presiden, Hugo Chaves dalam forum. Yesus adalah manusia radikal dan progresif yang dapat menjadi inspirasi bagi gerakan perlawanan saat ini, bukan hanya bagi rakyat Venezuela, melainkan bagi sebagian besar warga dunia yang cenderung mengalami ketidakadilan. Kita semua musti terlibat penuh komitmen di dalamnya”, kata Machovec memulai pikirannya. 

 “Benar, dan terima kasih tuan Machovec. Anda adalah teman bagi kami, rakyat Venezuela, dan Anda pantas mendapatkan lebih banyak teman dari berbagai belahan dunia kita”, potong Hugo Chaves meneguhkan pernyataannya. “Tetapi saya memiliki kritik terhadap kekristenan secara khusus berkaitan dengan bagaimana mereka memahami pesan Yesus”, kata Machovec lagi. Teman saya yang sangat katolik, Alejandro Pino d’Araujo tampak serius menantikan tuturan Machovec selanjutnya. “Pesan Yesus yang asli sebenarnya terdiri dari dua elemen penting”, sambung Machovec. “Yang pertama, Yesus menyatakan bahwa suatu jaman baru sedang datang. Kedatangan jaman baru itu menjadi efektif karena usaha dan kerja keras manusia sendiri. Kedua, jaman baru itu bukan hanya merupakan jaman yang akan datang kelak, melainkan terwujud dalam situasi konkret kekinian hidup kita ini, pada saat sekarang ini dan di sini, serta bersifat imperatif bagi hidup manusia sehari-hari. Oleh karena itu, semua orang yang mengaku sebagai pengikut Yesus sang manusia revolusioner itu, musti mewujudkan daya pembaharuan dan progresivitas itu saat sekarang ini juga dalam konteks yang sangat real ini. Namun sayangnya, daripada mewujudkan daya kekuatan radikal dan progresif bagi penegakan keadilan jaman ini, melawan secara tegas semua yang melakukan perampasan, manipulasi dan peminggiran serta pemiskinan terhadap kemanusiaan, kristianitas telah cenderung membelokkan pesan itu kepada pencapaian kedamaian dan kebahagiaan pada akhir jaman. Dengan cara itu, kekristenan pada saat sekarang ini justru cenderung menawarkan opium atau candu bagi manusia yang lebih asyik dengan kebahagiaan batiniah pribadi tanpa memberi dampak nyata bagi situasi kemiskinan yang akut”. 

 Semua anggota kelompok tampak serius mencermati jalan pikiran sang profesor yang Marxis dan gandrung kepada Yesus itu. Semuanya masih menunggu-nunggu akhir dari paparan pikiran Machovec. Saya juga demikian. “Saya percaya bahwa kekristenan tidak mati, melainkan pincang saja. Namun, pesan Yesus itu justru masih sangat hidup sampai sekarang ini. Saya melihat bahwa pesan itu sangat hidup dalam sebagian besar rakyat Venezuela yang menginginkan kehidupan dunia yang lebih adil. Pilihan politik mister Presiden dan rakyat Venezuela adalah bukti nyata”, kata Machovec melambat, mengakhiri paparannya dalam diskusi kecil itu. 

 Diskusi kecil menjadi semakin hangat oleh beberapa tanggapan kemudian. Contoh-contoh konkret kebijakan politik radikal populis di Venezuela yang lebih dikenal dengan bolivarianisme itu, meneguhkan para peserta diskusi bahwa alternatif itu sangat mungkin dan sangat terbuka. Namun alternatif itu membutuhkan komitmen yang besar dan kerja keras serta kerjasama yang lebih luas. Sebagaian kecil warga tentu masih saja ada yang tak sepakat dengan ini karena mereka telah lama menikmati untung tanpa peduli kepada sebagian besar lain yang buntung. 

 Jam makan bersama menjadi penentu berakhirnya diskusi kelompok kecil ini. Semuanya menuju ke tempat perjamuan lalu pulang ke tempat masing-masing. Saya masih punya waktu dua hari dan menginap di rumah teman yang mengundang saya itu. Rumah si Alejandro Pino d’Araujo itu kecil dan sederhana namun sangat nyaman. Kasurnya yang empuk dan pepohonan sejuk di sekitar kamar membuat saya cepat tertidur. Namun ternyata, ketika bangun tidur, saya sudah berada di rumah sendiri, di pinggiran desa Ngaglik, Sleman. 

 “Kamu tidur pulas sekali siang ini”, kata isteri saya sambil mengenakan pakaian sehabis mandi sore. Saya merapikan buku-buku yang tersebar di tempat tidur lalu berangkat mandi. Ah….hari minggu yang segar… dan mimpi yang indah.***

Belajar dari Kasus RCTV di Venezuela

Oleh Indro Suprobo Berita menarik yang pantas dicermati dari negeri Venezuela akhir-akhir ini adalah tidak diperpanjangnya ijin siaran Radio Caracas Television (RCTV) yang menuai gelombang protes. Yang lebih menarik lagi dari berita itu adalah bagaimana banyak media memberitakannya. Tidak diperpanjangnya ijin siaran RCTV diberitakan dengan judul-judul yang menarik pikiran, antara lain “Stasiun Televisi Oposisi Ditutup”, “Berakhirnya Pluralisme Media” dan sebagainya. Judul-judul dan isi pemberitaan yang beredar itu telah menciptakan suatu imaji tertentu tentang kebijakan pemerintahan Venezuela di bawah kepemimpinan Hugo Chaves. Beberapa imaji yang muncul berkaitan dengan berita ini antara lain adalah terjadinya pelanggaran hak asasi oleh pemerintah Venezuela, kebijakan Chaves adalah anti demokrasi, dan terjadinya pemberangusan kebebasan bersuara. Pertanyaan yang bisa diajukan di sini adalah apa yang sebenarnya terjadi? Kebijakan Politik Radikal Naiknya kepemimpinan Hugo Chaves di Venezuela didukung oleh 63% suara dalam pemilu. Kepemimpinan baru ini telah diikuti oleh lahirnya Konstitusi Bolivarian pada tahun 1999 yang menjadi dasar utama bagi seluruh kebijakan pemerintahan dalam banyak bidang. Pembaharuan-pembaharuan yang dijalankan di atas dasar konstitusi ini oleh karenanya lebih akrab disebut sebagai perubahan revolusioner bolivarian. Perubahan revolusioner bolivarian ini ditandai oleh visi kerakyatan yang diamanatkan oleh konstitusi 1999 yakni tegaknya kedaulatan politik dan ekonomi rakyat Venezuela yang anti imperialisme, demokrasi partisipatif yang membuka ruang luas bagi keterlibatan politis akar rumput, swadaya ekonomi, distribusi yang adil dari pendapatan pertambangan minyak Venezuela dan penghapusan tindakan korupsi. Visi kerakyatan itu oleh pemerintahan Chaves diwujudkan dalam beragam program kesejahteraan sosial yang meliputi pengadaan transportasi gratis untuk rakyat yang sangat membutuhkan namun tak mampu membayar, penyediaan pelayanan kesehatan masyarakat yang berkualitas dan gratis, perlindungan hak-hak komunitas lokal yang selama ini terpinggirkan oleh kebudayaan dominan, pelayanan perumahan gratis bagi mereka yang miskin, upaya pengadaan kedaulatan pangan yang murah, berkualitas, organik dan bersifat lokal untuk membuka akses nutrisi bagi masyarakat yang tak mampu dan seabrek program lain yang memprioritaskan mayoritas rakyat miskin Venezuela yang selama ini selalu berada di pinggiran kebijakan. Sangat jelas di sini bagaimana kedaulatan dan kesejahteraan rakyat menjadi visi dasar seluruh kebijakan. Tentu saja kebijakan semacam ini sangat menggoncang kemapanan segelintir orang yang telah menuai banyak keuntungan sebelumnya. Kebijakan tentang Media Tak dapat disangkal bahwa kebijakan pemerintahan Chaves tentang media selalu harus mendasarkan diri pada Konstitusi Bolivarian tahun 1999. Konstitusi ini mendorong persyaratan yang sangat tegas berkaitan dengan penyelenggaraan lembaga media, terutama oleh lembaga-lembaga swasta. Undang-undang tentang Pertanggungjawaban Media yang berlaku di Venezuela, biasa disebut Ley Resorte, sangat tegas dalam menuntut tanggung jawab sosial dari para penyelenggara media radio dan televisi, dan berorientasi kepada komitmen yang sangat kuat terhadap dua hal mendasar yakni “hak-hak anak” dan “meningkatnya jumlah program siaran yang diproduksi sendiri secara nasional maupun lokal”. Kebijakan dalam hal media ini sangat jelas terkait dengan apa yang disebut sebagai kedaulatan rakyat dalam pelayanan dan produksi media siaran. Dalam konteks kebijakan inilah ijin siaran RCTV tidak diperpanjang oleh pemerintah. RCTV merupakan stasiun televisi milik swasta yang pada bulan April 2002 terlibat aktif dalam kampanye kudeta terhadap pemerintahan Chaves dan turut memblokir siaran Venezolana de Television, siaran televisi milik pemerintah yang merepresentasikan mayoritas penduduk miskin di Venezuela dengan program siaran unggulan berupa tanya jawab langsung dengan presiden tentang semua persoalan yang dihadapi secara real oleh masyarakat. Alasan yang diajukan oleh pihak pemerintah berkaitan dengan tidak diperpanjangnya ijin siaran RCTV ini adalah untuk mendemokratisasikan gelombang siaran, agar gelombang siaran itu menjadi milik lebih banyak orang yang merepresentasikan kepentingan mayoritas warga Venezuela daripada hanya menjadi milik segelintir juragan media yang melakukan oligopoly dengan dukungan internasional. Lebih jauh, pemerintah memberikan penjelasan bahwa Channel 2 yang selama ini menjadi milik RCTV tidak ditutup, siaran di gelombang ini tetap akan diteruskan. Hanya ijin siaran yang dimiliki oleh sebuah perusahaan swasta inilah yang tidak diperpanjang, dan sebagai gantinya, ijin siaran itu akan diberikan kepada swasta lain yang lebih dapat mengemban visi konstitusi, atau kepada perusahaan gabungan swasta dan publik, atau kepada perkumpulan kaum pekerja itu sendiri. Pemerintah justru memberikan prioritas dan mendorong para pekerja RCTV untuk mengorganisir diri dalam suatu perkumpulan dan mendapatkan ijin untuk mengelola siaran secara mandiri. Persyaratan dasarnya, program-program siaran yang akan dijalankan mengacu secara tegas kepada komitmen mendasar terhadap dua hal yaitu “perlindungan terhadap hak-hak anak” (program siaran yang edukatif) dan “mendorong peningkatan produksi program siaran mandiri baik lokal maupun nasional”, bukan produk impor yang menyedot biaya mahal, menguntungkan segelintir orang, dan tidak memberi kontribusi ekonomis bagi rakyat Venezuela. Kebebasan Bersuara Langkah demokratisasi media yang dijalankan dalam tindakan tidak memperpanjang ijin siaran ini diarahkan untuk membuka ruang lebih luas bagi sebagian besar rakyat yang mengorganisir diri dalam banyak perkumpulan untuk mengekspresikan kepentingannya melalui media siaran. Salah satu hal penting yang dibangun oleh pemerintahan baru dalam kepemimpinan Hugo Chaves adalah dibukanya ruang-ruang pendidikan populer hak-hak rakyat berdasarkan Konstitusi Bolivarian agar mereka lebih mandiri dalam partisipasi aktif berpolitik, dalam memperjuangkan hak-haknya berhadapan dengan kekuatan-kekuatan yang abai terhadap kepentingan mereka, dalam mengajukan alterhatif-alternatif solutif real dan kontekstual berkaitan dengan problem sosial di wilayah masing-masing. Kekuatan politik rakyat semacam inilah yang pada saat terjadi kudeta di bulan April 2002, menjadi kekuatan populis utama yang mampu mengembalikan kepemimpinan dan pemerintahan Chaves. Mayoritas kaum miskin Venezuela yang selama ini tak pernah mendapatkan bagian dari kue keuntungan kekayaan negara ini menjadi subjek pertama yang dipertimbangkan oleh kebijakan sosialisme demokratis Venezuela. Merekalah harta utama bagi gerakan-gerakan pembaharuan populis negeri Venezuela. Apabila gelombang siaran yang selama ini dikuasai oleh sekelompok kecil pemilik saham perusahaan swasta itu ditawarkan kepada 63% rakyat pendukung Chaves yang senyatanya berasal dari beragam latar belakang, bukankah itu berarti membuka keran bagi mereka yang selama ini tak pernah mendapatkan saluran untuk bersuara, mengemukakan cara berpikir sesuai dengan konteksnya, memandang permasalahan sosial real yang dihadapi dari kacamata mereka sendiri, dan tidak didekte oleh sekelompok kecil juragan media pemegang hak gelombang siaran? Dengan demikian, tidak diperpanjangnya ijin siaran RCTV barangkali dapat dibaca sebagai demokratisasi media, dibukanya lebih banyak kemungkinan bagi mereka yang selama ini kalah untuk bersuara, dan lebih dari itu, kedaulatan rakyat dalam pengelolaan media yang berkomitmen kepada siaran edukatif demi perlindungan hak-hak anak dan peningkatan jumlah program siaran yang mampu diproduksi sendiri secara lokal maupun nasional, mendapatkan lebih banyak jaminan. Bagi mayoritas rakyat miskin Venezuela, barangkali kebijakan ini dipahami sebagai sebuah kebijakan populis. Seandainya kita bertanya kepada Chaves sendiri tentang kebijakan ini, barangkali ia akan menjawab dengan mengutip sebuah ungkapan lama,”Di mana hartamu berada, di situlah hatimu”.***

Wednesday, February 07, 2007

Miyah

Indro Suprobo Pada mulanya ia masih bisa mengucapkan terima kasih. Itu terjadi beberapa bulan yang lalu ketika ia terima sebungkus roti kering dan jajanan pasar yang kuberikan kepadanya. Orang-orang di desaku memanggilnya Miyah. Itulah namanya. Tak kutahu pasti siapa nama lengkapnya sebenarnya, Rumiyah, Tumiyah, Jumiyah, Parmiyah, Umiyah atau yang lainnya. Ia tidur di pinggir jalanan desa di tepi sawah. Tenda yang terbuat dari kain dan sisa-sisa plastic telah menjadi rumahnya. Seutas tali yang ditambat di antara dua pohon pinggir jalan sudah cukup menyangga tendanya. Ketika panas maupun hujan angin, ia tetap tidur di situ. Barangkali bagor bekas menjadi semacam kasur saat ia mendengkur. Suatu saat, ketika kubawakan pakaian-pakaian bekas yang masih pantas dipakai, ia masih juga bisa mengucapkan terima kasih dan sedikit ngobrol meski tak banyak kata yang bisa nyambung. Sebuah kaos oblong bergambar Mahatma Gandhi kesukaanku, kuberikan juga kepadanya karena sudah tak cukup kupakai. Mahatma Gandhi…oh…manusia mulia sahabat duafa yang ikhlas hati meninggalkan harta dan kuasa. Gambar wajahmu akan tergantung di sekitar tenda di pinggir jalanan desa. Miyah, sang penghuni tenda, suatu kali pasti juga akan memakainya. Masih juga belum terlalu kupercaya bahwa ia adalah perempuan gila seperti kata orang-orang desa. Itulah sebabnya kusempatkan ngobrol atau sekedar bertanya menelusur masa lalu hidupnya. Meski tak sepenuhnya nyambung, bisa kuraba kira-kira sejarah yang telah dilaluinya. *** Dulu ia adalah perempuan pedagang nasi bungkus di kereta. Anak lelaki satu-satunya telah berhenti pada kelas tiga dari sebuah sekolah dasar desa. Setiap hari, anak lelakinya selalu bersama-sama berdagang rokok dan aqua. Itu dilakukan karena sudah tak ada lagi biaya untuk sekolahnya, meskipun ia terhitung di antara murid juara. Berjualan rokok dan aqua di kereta adalah cara supaya ia bisa membantu ibunya sekaligus menabung dari sedikit sisa yang ada. Suatu saat, dalam angan-angannya, ia masih ingin melanjutkan sekolah di desa. Setiap pagi kereta api selalu menjadi harapan hidupnya. Gerbong merah yang selalu penuh penumpang adalah ruangnya. Sekali dalam tiga hari, selalu ada penumpang yang membeli rokoknya satu bungkus penuh. Selebihnya membeli rokok eceran saja. Tapi itu lebih menguntungkannya karena labanya menjadi sedikit lebih banyak. Sore hari, sebagian uangnya diberikan kepada ibunya. Sisanya disimpan dalam celengan plastic berbentuk ayam. “Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit”, kata ibunya pelan sambil menghitung uang hasil jualan. “Kalau sudah banyak, kamu bisa sekolah lagi” Bagi Miyah, anak lelaki satu-satunya itu adalah yang paling berharga dalam hidupnya. Ia selalu menjadi pembangkit harapan, yang menyulut kegembiraan, Ia bagaikan nyala yang tak pernah pudar di antara seribu malam. Kadang-kadang ia menangis sendirian tanpa suara ketika memandangi anaknya tertidur sambil memeluk celengan ayam. Ada harapan dan keinginan besar terpendam dalam tubuh yang meringkuk itu. Ia sangat ingin agar harapan yang seperti akar itu, suatu saat membesar dan bertumbuh menjadi pohon segar. Ketika memandang pohon itu dalam lamunannya, ia merasakan kegembiraan yang merongga di dalam dadanya. Tak pernah terkira, hari itu semuanya berubah. Seperti biasa ia dan anaknya bergegas memasuki gerbong kereta memulai hidupnya. Penumpang yang terlalu padat membuat mereka tak leluasa untuk segera menyusuri lorong kereta. Karena kecil, anaknya bisa lebih dahulu berpindah ke gerbong lainnya. Tak seperti biasanya pula, hari ini banyak penumpang membeli nasi bungkusnya. Ia bergembira. Pasti nanti akan ada lebih banyak sisa yang bisa disimpan dalam celengan ayam anaknya. Sampai hari siang, nasi bungkusnya tak lagi tersisa. Ia berjongkok di teras di antara sambungan gerbong. Keringat yang mengalir di belakang telinga, dielapnya dengan selendang gendongan. Seorang penumpang memintanya bergeser karena mau kencing di kakus. Tiba-tiba gerbongnya bergetar kencang dan oleng tak karuan. Suaranya teramat kacau dan bergemuruh ditimpali jeritan dan kepanikan yang luar biasa. Ia masih sempat melihat gerbong di depannya terguling dan terseret. Ia menjerit memanggil-mangil nama anaknya. Tetapi semuanya terlalu kacau lalu menjadi gelap. *** Teramat sakit untuk dirasakan. Kini ia menjadi perempuan yang kehilangan anak karena kereta yang terguling ringsek di sungai. Tak ada yang tersisa. Hanya celengan ayam yang selalu dibawanya ke mana-mana dan menyulutkan amarah kepada entah berantah. Ia berjalan menuruti langkah kaki, menyusuri rasa sakit dan amarah yang mendalam. Matanya menatap jauh, memandang tanda tanya yang teramat angkuh. Di pinggiran jalan desa, di tepi sawah, perempuan yang kehilangan anak itu berhenti. Ia berusaha untuk memahami dan mengerti, tetapi selalu saja tak tercermati. Ia tak lagi berjualan nasi. Menyendiri dan sepi. Tak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi. Barangkali tak punya juga arti. Pada mulanya, ia masih bisa mengucapkan terima kasih. Tetapi belakangan ini, ia sudah lebih sering tertawa sendiri dan tak bisa diajak omong-omong lagi. Kemiskinan dan kehilangan telah membuatnya tak lagi mengerti artinya tertawa. Dan orang-orang desa sudah biasa memangilnya Miyah, si perempuan gila. Pagi ini, sepulang dari pasar, aku melihatnya duduk sendiri di tenda, menyanding celengan ayam milik anaknya, tertawa sambil mengikatkan seutas kain di kepala, dan mengenakan kaos oblong bergambar Mahatma Gandhi yang aku suka. Sesampai di rumah, kubaca berita. Orang-orang berdasi juga tertawa-tawa menerima rapelan tunjangan yang jumlahnya tiada terkira. Ah….aku tak tahu lagi apa artinya, ketika orang-orang desa menyebut kata gila. ***

Tuesday, December 26, 2006

Kabar Duka dari Mushala

Oleh Indro Suprobo 

Suatu pagi di hari Minggu pada bulan ramadhan yang lalu, dari mushala di seberang desa diberitakan sebuah kabar duka dalam bahasa Jawa. “Sampun kapundhut ing ngarsanipun Pangeran, ibu Fransisca Suhartini [bukan nama sebenarnya]….(Telah meninggal dunia, ibu Fransisca Suhartini)”. Setelah itu setiap mushala terdekat secara bergantian mengabarkan kembali berita duka itu kepada semua warganya. Begitulah kebiasaan di desa-desa kecil di wilayah padukuhan Dayakan, kelurahan Sardonoharjo, kecamatan Ngaglik, Sleman, Jogjakarta. 

Yang menarik untuk dicermati kemudian adalah peristiwa setelah berita duka itu. Dari corong mushala yang berada di desa wilayah almarhumah itu menetap, terdengar lantunan kidung-kidung requiem, kidung-kidung duka yang biasa dinyanyikan oleh para saudara yang beriman Kristen Katolik yang sekaligus menjadi doa peneguh jiwa bagi keluarga yang ditinggalkan dan ungkapan ketundukan kepada keagungan Tuhan dalam peristiwa-peristiwa besar kehidupan manusia. Kidung requiem itu dilantunkan selama kurang lebih satu jam. Tak lama kemudian, selama kurang lebih satu jam pula, terdengar dari corong mushala yang sama, lantunan ayat-ayat suci al-Quran yang biasa dilantunkan pada saat ada orang meninggal dunia. Tanpa banyak komando, orang-orang desa segera berbagi tugas, salah satunya adalah menggali makam. Sementara sebagian besar warga desa berdatangan untuk melayat, sekitar jam sepuluh pagi, di rumah duka diselenggarakan upacara ibadat gerejani yang dihadiri oleh jemaat Kristen Katolik dan dipimpin oleh pemimpin jemaat setempat yang disebut prodiakon. 

Pada saat upacara melepas jenasah di siang hari, seluruh warga desa dan perangkat desa berkumpul di rumah duka. Dalam sambutannya, bapak kepala Dusun menyatakan,”Saya sebagai kepala Dusun di sini, meminta dan memohon dengan hormat kepada saudara-saudara yang beriman kristiani untuk memimpin seluruh upacara pelepasan jenasah ini hingga selesai”. Dan terjadilah. Seluruh upacara pelepasan jenasah itu dilakukan dalam tata cara ibadat Kristen katolik dan dihadiri oleh semua warga desa dari semua agama dan kepercayaan. Kaum perempuan berjilbab, tua maupun muda, tampak sangat biasa dengan semua ini dan mengikuti upacara dengan penuh hormat dan kidmat. 

Kekerabatan sebagai yang utama 
Bagi mereka yang menaruh perhatian kepada tema pluralisme dan dialog agama-agama di tengah masyarakat, apa yang terjadi di padukuhan Dayakan ini merupakan sebuah peristiwa yang menarik dan unik. Di tengah terpaan berita tentang konflik dan kekerasan agama-agama di beberapa wilayah di Indonesia, dukuh Dayakan ini menampilkan wajah alternative yang menyejukkan. Yang lebih menarik lagi, dari cerita para tetangga diketahui bahwa ibu Fansiska Suhartini yang meninggal dunia itu, ternyata sangat biasa melakukan shalat tarawih bersama warga desa, meskipun ia adalah seorang perempuan beriman Kristen Katolik. Malam hari sebelum meninggal, ia sempat terjatuh setelah menjalankan shalat tarawih dan tidak sadarkan diri. Esok harinya, kabar duka itu bergema dari corong mushala dan kidung-kidung requiem serta lantunan ayat suci Al-Quran mengiringi kepergiannya. “Requiem aeternam….semoga beristirahat dalam keabadian..” 

Menurut cerita para tetangga pula, rumah tempat tinggal almarhumah sudah biasa digunakan baik untuk sembahyangan para jemaat Kristen katolik dalam berbagai macam bentuknya maupun untuk doa-doa dalam tatacara Islam seperti tahlilan, kenduri dan sebagainya. Semuanya berjalan baik dan banyak keluarga menikmatinya secara wajar dan tanpa prasangka. Peristiwa unik semacam ini bisa terjadi karena kekerabatan di antara warga desa masih sangat kental. Suasana komunitarian sangat mewarnai kehidupan sehari-hari. “Di desa ini, paseduluran atau persaudaraan merupakan hal yang lebih diutamakan daripada hal-hal lain seperti agama dan kepercayaan”, ungkap salah satu ketua RT dalam salah satu obrolan malam di pos ronda. Sapa-aruh atau tegur-sapa akrab dalam perjumpaan sehari-hari merupakan kebiasaan yang masih sangat mudah dijumpai. Panggilan akrab seperti pakdhe Giyanto, mbah Sis, kang Jumari dan Lik Suroto, sangat sering terdengar dalam pergaulan harian. Saling berbagi hasil panen ladang di antara warga juga masih sangat terjaga. 

Dalam suasana hidup yang mengutamakan kekerabatan, persaudaraan dan sifat-sifat komunitarian semacam ini, perbedaan agama dan kepercayaan tak lagi punya tempat untuk memecah belah dan menyulut konflik di antara warga. Agama dan kepercayaan, tidak termasuk dalam prioritas persyaratan hidup bersama warga masyarakat. Tegur sapa, kesediaan untuk terlibat dalam aktivitas gotong royong warga, kerelaan untuk ikut menjalankan ronda malam, keikhlasan untuk menyediakan uang jimpitan, kegembiraan yang dipancarkan dalam kehadiran pada saat muyen (berkunjung ketika ada kelahiran bayi), jagong manten (acara pernikahan), dan ketulusan untuk hadir dalam kenduri, justru merupakan hal-hal yang lebih utama dalam persyaratan hidup bersama antar warga. Prioritas kepada paguyuban warga ini dengan sendirinya telah menjadi alat sensor terhadap munculnya prasangka antar agama. 

Ketika ada anggota warga yang mencoba mempersoalkan isu-isu agama, yang bisa menimbulkan rusaknya rasa hormat terhadap perbedaan, ia akan segera mendapatkan kritik dan teguran dari warga lainnya. Jika kritik dan teguran itu tak dihiraukan juga, ia justru akan menerima sangsi social dalam berbagai macam bentuknya antara lain pendapat dan gagasannya tidak akan mendapat tempat di hati warga (dalam bahasa Jawa, “ora usah digubris”). Apabila yang mempersoalkan isu-isu agama itu adalah mereka yang berasal dari luar desa yang mempunyai fungsi sebagai pemuka agama, ia akan mendapatkan teguran dan kritik yang sama dari warga. Apabila kritik dan teguran itu tak juga dihiraukan, ia akan mendapatkan sangsi social dalam bentuk “tidak akan diundang lagi” untuk menjalankan fungsinya. Dalam kehidupan warga desa yang mengutamakan paguyuban dan persaudaraan ini, perbedaan-perbedaan agama telah diterima sebagai sebuah kewajaran kehidupan. Perbedaan adalah keniscayaan yang pantas dihormati, diterima dengan segala kearifan dan keikhlasan budi, dijalani dan dinikmati sebagai sebuah kebiasaan. 

Mushala sebagai pusat 
Meskipun agama tidak menjadi prioritas dalam persyaratan hidup bersama antar warga, mushala di desa itu tetap merupakan pusat kegiatan. Shalat berjamaah pada saat maghrib dan isya dijalankan secara rutin, pengajian malam jumat diselenggarakan secara terencana, panggilan adzan selalu bergema akrab di telinga, segala bentuk pengumuman dan berita disampaikan dari corong mushala, pertemuan remaja dan orang muda diselenggarakan dengan jadual yang tertata, obrolan tentang perbaikan parit dan jalan desa dilakukan sesuai kebutuhan. Semua itu terjadi di mushala desa. 

Karena tidak dipersempit semata-mata sebagai tempat aktivitas keagamamaan, melainkan sebagai pusat aktivitas seluruh dinamika warga yang meliputi aktivitas social dan cultural, mushala telah menjadi tempat yang diakrabi oleh seluruh warga desa apapun agamanya. Fungsi-fungsi social sebuah mushala yang berkait dengan paguyuban dan kekerabatan antar warga desa menjadi lebih mengemuka. Semua warga, apapun agamanya, merasa memiliki mushala itu sebagai bagian dari hidup hariannya, dan bukan sebagai sesuatu yang asing di luar dirinya. Kehadiran Mushala desa yang demikian ini pada gilirannya merupakan kehadiran yang membawa suasana damai, persaudaraan, saling memperhatikan, dan menandai kehidupan sebuah komunitas desa. Dalam bahasa keindahan, Mushala desa yang demikian ini barangkali boleh disebut sebagai “Mushala yang merangkul seribu hati”. 

Melawan Prasangka Agama 
Mushala desa yang mengabarkan berita duka itu merupakan potret dari perlawanan warga desa terhadap prasangka antar agama, karena ia menyuguhkan sebuah alternative sekaligus kritik atas fenomena mainstream relasi agama-agama di Indonesia. Selama sekian lamanya, masyarakat Indonesia hidup dalam carut-marut prasangka. Pergaulan antar agama selalu berada dalam suasana rentan, mudah terpecah, mudah disulut kemarahan dan kekerasan, dan cenderung saling curiga. 

Penanaman prasangka terjadi melalui berbagai cara, di berbagai tempat, bahkan sampai merasuk dalam unit-unit keluarga. Prasangka antar agama bertumbuh subur karena disemai oleh perasaan superioritas satu sama lain. Rasa superior ini telah menutup banyak pintu bagi suasana saling belajar, usaha mengenali secara lebih dekat, dan menjalin komunikasi secara lebih akrab. Akibatnya, perbedaan-perbedaan tak pernah terpahami, pengalaman dari yang lain tak pernah terselami, dan segala bentuk relasi tak pernah tersusun dari ketulusan hati. 

Di tengah situasi seperti ini, syair requiem yang dikidungkan dari corong Mushala, telah mendobrak kebekuan relasi agama-agama yang diwarnai prasangka. Seolah-olah ia hendak berkata-kata,”Wahai dengarlah, kami menyeru kepada Dia yang sama dalam bahasa yang beragam rupa”

Suatu pagi di hari Minggu, pada bulan Ramadhan yang lalu, kabar duka dari Mushala telah menjadi bukti nyata bahwa kearifan komunitas-komunitas desa telah mampu mengelola relasi agama-agama dalam damai yang didamba, dalam hormat setulus hati dan dengan ikhlas di kedalaman sanubari. Semoga semakin banyak mushala dan tempat ibadah lain sejenisnya, semakin mampu merangkul sebanyak mungkin hati. 


Hari gini tak punya Tivi?

Oleh Indro Suprobo Kisah awal Perbincangan anak-anak desa di teras rumah sore itu ramai sekali. Hamid, Ayuk, Aji, Abid, Sunca dan Ibra saling berkomentar tentang Jathilan yang baru saja mereka tonton malam kemarin. Kecuali Ibra yang baru berumur 4 tahun dan belajar di playgroup, anak yang lain sudah sekolah di SD sebelah desa. “Eh, aku punya kendang lho. Aku ambil ya. Nanti mas Hamid yang menabuh ya”, kata Ibra mengajukan usul. “Iya, ayo diambil. Nanti Ayuk yang joged ya”, sambung Hamid Lalu terdengarlah suara ketipang-ketipung kendang, diiringi beragam bunyian dari kaleng bekas cat, potongan bamboo, dan mulut-mulut yang menirukan alat musik. Si Ayuk menjoged, menjejak-jejakkan kaki kanannya ke tanah sambil mulutnya bersuara “Cring-cring, cring-cring” menirukan bunyi kelintingan yang biasa dipasang di kaki para penari Jathilan. Seluruh keasyikan anak-anak ini berakhir setelah adzan maghrib dilantunkan oleh takmir. Mereka segera pulang ke rumah masing-masing dan bergegas menuju mushala desa. Cerita kecil ini merupakan kisah nyata yang masih tersisa di sebuah desa di pinggiran utara Jogjakarta. Barangkali, kisah-kisah semacam ini sudah semakin sedikit jumlahnya karena ruang-ruang bermain, beraktivitas bersama, bertukar imajinasi dan berbagi kreativitas di antara anak-anak telah semakin tergusur oleh salah satu bentuk kemajuan teknologi yakni televisi. Aktivitas anak-anak yang sangat dinamis ini, semakin lama semakin terpinggirkan dan digantikan oleh aktivitas baru yakni menonton TV. Bagi sebagian besar orang jaman sekarang, kehadiran TV di dalam rumah seakan-akan sudah merupakan keharusan yang tak boleh ditawar lagi. Kalau sebuah rumah tak memiliki TV, barangkali orang akan berkomentar,”Hari gini kok tidak punya televisi”. Tidak adanya TV di dalam rumah, sudah hampir menjadi hal aneh bagi kehidupan kebanyakan orang jaman sekarang. Pilihan alternatif Ada sebagian kecil orang yang memilih untuk tidak memiliki TV di rumahnya. Beragam alasan melatarbelakangi pilihan ini, salah satunya adalah agar memiliki kesempatan lebih banyak untuk ngobrol bersama anggota keluarga. Mereka yang memilih untuk tidak memiliki TV di rumah tentu saja tidak selalu sama dengan orang yang anti TV. Secara lebih tepat, orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki TV di rumah adalah orang-orang yang secara sengaja hendak mengambil jarak terhadap kotak ajaib symbol kemajuan teknologi ini. Pilihan semacam ini termasuk pilihan alternatif. Tanpa mengabaikan manfaat besar yang bisa dipetik dari kehadiran televisi, mereka yang berada dalam kelompok ini pada umumnya sangat menyadari bahwa televise memiliki kecenderungan besar untuk menyerap seluruh perhatian dan energi anggota keluarga yang menontonnya. Masing-masing anggota diserap oleh tontonan yang sedang berlangsung, sehingga relasi individual antara penonton dan tayangan televise itu jauh lebih besar porsinya daripada relasi personal antar anggota yang sedang bersama-sama menonton. Akibatnya, dialog yang terjadi adalah dialog antara televise yang sedang menyampaikan pesan dan penonton yang sedang menyerap pesan dengan segala dinamikanya (confirmative maupun oppositional). Mereka yang memilih untuk tidak memiliki TV di dalam rumahnya, biasanya memiliki kegandrungan lebih besar terhadap pola relasi dialog yang melibatkan lebih banyak pihak. Misalnya dialog yang terjadi antara ayah, ibu dan anak. Dialog yang semacam ini dirasa lebih memberikan makna daripada aktivitas menonton televisi yang menyerap perhatian dan energi mereka. Memperluas ruang bercerita Bagi mereka yang telah memilih untuk tidak memiliki TV di rumahnya meskipun sebenarnya mampu membelinya, telah terasa betapa ruang untuk bercerita dalam keluarga menjadi lebih luas. Ada lebih banyak waktu dalam keluarga yang bisa dimanfaatkan untuk bercerita antara suami dan istri, antara anak dan orang tua, maupun antara anak-anak sendiri. Terbukanya ruang yang lebih luas untuk bercerita ini ternyata sebanding dengan perkembangan kemampuan anak untuk mengungkapkan dirinya. Anak-anak yang terbiasa menikmati ruang luas semacam ini menjadi lebih terbiasa untuk menguraikan gagasan, memaparkan pendapat, menggambarkan imajinasi, menciptakan detail-detail dalam cerita pengalaman, menciptakan perluasan kisah yang kreatif dan semuanya itu merupakan sebuah proses yang sangat produktif. Anak-anak yang terbiasa dengan hal-hal demikian, menjadi lebih terbiasa pula untuk memproduksi pikiran yang orisinil dan kreatif. Karena terbiasa untuk bercerita dan didengarkan, anak menjadi terbiasa pula untuk mengajukan pertanyaan berkaitan dengan hal-hal yang ingin diketahuinya atau yang menimbulkan rasa heran baginya. Pertanyaan atau jawaban yang diajukan seringkali juga menantang orang dewasa untuk berpikir keras menemukan jawaban atau tanggapan. Ibra yang baru berumur sekitar 4 tahun dan tak pernah nonton televise itu suatu kali bertanya kepada kakak pendamping di playgroupnya yang sedang hamil sangat muda. “Katanya di dalam perut Kak Tuti ada adiknya, kok perutnya tidak besar? Mana adiknya?” “Adiknya masih kecil sekali, jadi perutnya juga masih kecil, tapi sudah ada adiknya di dalam perut”, jawab kakak pendamping. “Ooo…itu berarti adiknya masih sel”, komentar si Ibra kemudian. Kakak-kakak pendampingnya terkaget-kaget dengan komentar itu dan akhirnya tertawa dan hanya bisa mengiyakan. “Ya, ya, betul, masih sel”. Pada kesempatan lain, ketika sedang dimandikan oleh kakak pendamping di playgroupnya, si Ibra bertanya “Kak, kenapa kok busa sabunnya berwarna putih?” Tanpa berpikir serius kakak pendampingnya menjawab sekenanya,”Karena sabunnya berwarna putih” “kalau sabunnya berwarna merah, apakah busanya juga berwarna merah?” tanpa Ibra penasaran “Kalau sabunnya berwarna merah, busanya tetap berwarna putih”, jawab kakak pendamping mulai serius berpikir. “Kenapa kok busanya berwarna putih?” tanya Ibra lebih heran lagi. Karena tak mampu menjawab pertanyaan itu, dan butuh jawaban yang serius, akhirnya kakak pendamping itu menyerah dan terpaksa menjawab,”Nanti kamu tanyakan kepada ayah dan ibumu ya” Buku sebagai media alternatif Tanya jawab dan komentar yang demikian ini terjadi karena si Ibra yang tak pernah menonton TV itu lebih akrab dengan buku-buku cerita baik yang fiksi maupun yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan alam dasar seperti dunia binatang, dunia tumbuhan, pengetahuan dasar tentang tubuh manusia dan sebagainya. Bersama dengan orangtuanya, ia lebih terbiasa bercerita dan mendengarkan cerita dari buku tentang perbedaan antara kupu-kupu dan ngengat, tentang mengapa ada serangga yang memiliki belalai panjang dan ada serangga yang memiliki belalai pendek bahkan ada yang tak punya belalai, Karena tak ada TV di rumah, ia lebih terbiasa mendengarkan orangtuanya bercerita tentang bagian-bagian tubuh manusia sambil memperlihatkan gambarnya yang bagus, menggambar sendiri bagian-bagian yang menarik perhatiannya sambil menceritakan ulang nama dan fungsi bagian itu secara sederhana dan mendasar. Semua buku cerita dan buku pengetahuan umum dasar itu disampaikan kepada anak-anak dalam dunia bermain, sambil bermain, dan dinikmati sebagai sebuah permainan yang menggembirakan. Dengan demikian semua itu menimbulkan kesan bagi anak dan membantunya untuk mengingat-ingat dan suatu saat ia bisa menceritakan ulang semua yang berkesan baginya itu kepada orang lain. Beberapa orang yang memilih untuk tidak memiliki TV di rumah, memiliki harapan agar mereka memiliki kesempatan yang lebih untuk menamani anak dalam berakrab-ria dengan buku dan bacaan yang dibutuhkan bagi pertumbuhannya. Harapan lebih jauh adalah bahwa kalau anak sudah terbiasa bercerita, merangkai gagasan dan pikiran secara runtut dan penuh dengan bunga kegembiraan, pada saatnya, ia akan lebih mudah untuk ditemani dalam proses menuliskan seluruh gagasan dan imajinasinya. Kisah akhir Pada suatu malam menjelang tidur, ketika seorang ayah hendak mendongeng sebagai pengantar tidur, anaknya menolak dan mengatakan, “Sekarang ayah diam. Aku mau bercerita tentang bis kota. Dengerin ya”. Lalu si anak bercerita panjang sekali sampai akhirnya baik si anak maupun si ayah terlelap oleh dongeng yang diceritakan itu. Setelah sekian tahun si ayah terbiasa mendongeng kepada anaknya, sekarang ia tak perlu repot lagi karena si anak telah mampu mendongeng sendiri dan mendongeng untuk ayahnya juga. Selebihnya, waktu-waktu bersama dalam keluarga menjadi saat-saat yang penuh kesegaran, dialog, tanya jawab, tawa bersama, dan terlalu berharga untuk dipinggirkan demi sebuah kehadiran kotak ajaib di dalam rumah. Sumber: www.parasindonesia.com, 22 Des 2006

Manusia Yesus

Oleh Indro Suprobo Di pengasingan yang sunyi dia terlahir. Tersingkir dari kebisingan pertikaian kuasa. Dalam sunyi pula dia dibesarkan Dan saat memasuki kebisingan kerumunan dunia Dia telah mampu membacanya dari kebeningan sunyinya Untuk melawan segala kelicikan manusia dan menjadi kawan bagi mereka yang tersingkir oleh kuasa Kelahiran Yesus adalah tanda reinkarnasi komitmen dalam sejarah kemanusiaan. Masa kanak-kanak telah mendidiknya untuk menjadi akrab dengan pengalaman ketersingkiran, pengasingan, penolakan, ketidakpedulian, kesewenangan, kemiskinan dan penghinaan. Beruntunglah bahwa kedua orangtuanya, Maria dan Yusup, adalah orang-orang yang memiliki komitmen besar terhadap kehidupan. Mereka menyuguhkan cinta, kasih sayang, perhatian, ketulusan, kejujuran, martabat, pengertian, dan rasa hormat dalam keseharian yang detailnya tak sempat terdokumentasi oleh kitab manapun, namun terbaca jelas dalam keseharian Yesus pada masa hidupnya kemudian. Dengan demikian, pengalaman negative kehidupan tak mampu merusak kepribadiannya karena kedua orangtuanya telah sanggup menemani dalam mengolah, mencerna dan memaknai semua itu menjadi kekuatan besar bagi pertumbuhan jiwanya. Keakraban dengan pengalaman negative kemanusiaan, yang dilengkapi oleh pendidikan tentang keutamaan-keutamaan hidup dalam keluarganya, telah menjadi ladang subur bagi tumbuh dan berkembangnya komitmen kemanusiaan dalam diri Yesus. Pergaulannya dengan kehidupan masyarakat sehari-hari telah mengajarinya untuk mengerti apa dan bagaimana ketidakadilan itu terjadi. Sementara aneka ragam kebiasaan bersama kedua orangtuanya dalam keluarga, telah mendidiknya untuk memahami apa dan bagaimana harkat-martabat manusia sepantasnya dijunjung tinggi. Visi yang melawan Yesus adalah seutuhnya manusia seperti orang-orang pada jamannya. Sesuai dengan konteks hidupnya, ia hadir dalam seluruh kewajaran kemanusiaan. Ia makan roti, minum air atau anggur, mengenakan pakaian, gelisah oleh berbagai macam pertanyaan, merasa marah melihat ketidakadilan di depan mata, geram terhadap kelicikan-kelicikan, bersedih oleh pengalaman penderitaan, bersyukur atas segala pengalaman bahagia, dan tertawa karena penghiburan-penghiburan sederhana. Yesus adalah manusia yang beriman juga. Dalam keimanan itulah, barangkali ia berbeda dengan orang-orang pada jamannya. Kedalaman hidup rohani dan spiritual inilah yang membuatnya unik dan dihormati, dan pada masa berikutnya terhitung sebagai salah satu di antara para nabi dalam sejarah kehidupan manusia. Keutuhan kemanusiaan dan kedalaman spiritual telah menuntun perjalanan hidup Yesus kepada kesanggupan menghadirkan visi baru bagi kehidupan. Ketika menyatakan kepada orang-orang sejamannya bahwa Allah adalah Bapa (Abba), pada saat itu pula Ia menawarkan sebuah komitmen kemanusiaan yang sangat radikal. Dalam konteks struktur social dan kebudayaan masa itu, pernyataan Allah adalah Bapa (Abba) merupakan pernyataan perlawanan terhadap kenyataan ketidakadilan yang meluas dan menggelisahkan jiwanya. Ketika Allah dinyatakan sebagai Bapa (Abba), maka setiap manusia adalah anak-anak Allah yang memiliki harkat dan martabat yang sama. Dalam kerangka itu, segala bentuk ketidakadilan, penyingkiran, peminggiran dan pemiskinan kemanusiaan tak lagi memiliki landasan pijaknya. Pernyataan Yesus ini tentu saja tidak pada tempatnya untuk dipahami dalam pengertian denotative biologis, melainkan dimaknai dalam pengertian konotatif spiritual. Konsistensi yang menawan Pilihan Yesus untuk menjadi kawan bagi mereka yang tersingkir dan terpinggirkan dalam kehidupan social-kultural, merupakan wujud dari konsistensi dirinya untuk berkomitmen kepada keadilan dan martabat kemanusiaan. Ia berusaha menolong mereka yang sakit namun tak punya akses terhadap layanan kesehatan. Ia menghormati kaum perempuan dan anak-anak yang hak-haknya terabaikan oleh struktur social dan budaya pada masanya. Ia bergaul dan berkomunitas dengan orang-orang yang mendapatkan stigma dalam kehidupan social dan dengan demikian merehabilitasi hidupnya. Tak segan-segan ia melontarkan kritik tajam kepada mereka yang memanipulasi kedudukan dan kuasa. Semuanya itu dilakukan bukan dalam kemegahan tempik sorai para pengagum, melainkan dijalankan dalam kewajaran keutuhan kemanusiaannya yang mengalir dari kebeningan, keikhlasan dan ketundukan sebagai manusia beriman. Sebagai manusia seutuhnya, tentu saja Yesus tidak luput dari pergulatan batin dalam seluruh proses untuk setia kepada visi dan komitmen dirinya atas kemanusiaan. Ancaman dan terror sebagai akibat dari kata-kata, cara berpikir dan tindakannya, tentu dihadapinya pula, dan ada kalanya semua itu menimbulkan kegentaran hebat dan kekhawatiran. Sebagai manusia, sudah selayaknya apabila ia mempertimbangkan resiko-resiko dari pilihan hidupnya dan senantiasa belajar setia untuk menanggungnya. Sampai akhir hidupnya, Ia telah menunjukkan kepada orang-orang sejaman dan komunitas pendukungnya, sebuah konsistensi pilihan yang menawan. Inspirasi Profetis Manusia Yesus yang peristiwa kelahirannya diperingati pada hari natal, merupakan sumber inspirasi bagi seluruh umat kristiani untuk mereinkarnasi komitmen radikal bagi terbangunnya martabat kemanusiaan. Komitmen manusia Yesus tentulah menjadi komitmen manusia Kristen seluruh dunia. Tantangannya dalam kehidupan dunia sekarang ini sangatlah nyata. Lonceng natal yang berdentang di seluruh penjuru dunia, merupakan panggilan dan peringatan untuk terus berjerih payah mengambil pilihan menjadi kawan bagi saudara yang terpinggirkan, menghormati hak-hak perempuan yang masih cenderung terabaikan, bergaul dan berkomunitas dengan saudara-saudara yang masih menanggung stigma dalam kehidupan social, menyelenggarakan pendidikan murah bagi semakin banyak anak yang tak sanggup membayar, mendahulukan pelayanan kesehatan istimewa kepada lebih banyak orang yang memiliki keterbatasan kesanggupan membiayai diri mereka, dan membongkar segala macam prasangka antar kelompok yang cenderung melahirkan ketidakadilan, Sebagaimana manusia Yesus dilahirkan dalam kesunyian pengasingan, maka kegembiraan perayaan natal sudah semestinya tidak mengabaikan kesedihan, kesulitan hidup dan derita yang sangat nyata di sekitarnya. Dengan demikian, peringatan kelahiran manusia Yesus menjadi jalan menuju kebeningan hati yang semakin menumbuhkan keutuhan kemanusiaan umat kristiani dan menjagai konsistensi dalam mewujudkan visi keadilan bagi kehidupan. Selamat Natal, terutama buat saudara-saudari yang sedang prihatin

Thursday, November 30, 2006

KATETE (Keluarga Tanpa Televisi)

Indro Suprobo Nuansa Pagi…. Pagi itu, begitu bangun dari tidurnya, si Enthung, anak yang baru berumur sekitar 4 tahun langsung menuju ke dapur di mana ayah dan ibunya lagi asyik meracik masakan bahan sarapan. “Hai kalian semua. Selamat pagi!”, begitu sapaannya kepada ayah dan ibunya. Terbiasa dengan suasana egaliter dalam keluarga, si anak pun terbiasa menyapa kedua orangtuanya dengan sebutan “kalian”, atau “kamu”, “aku” dan sejenisnya. Dengan penuh girang ayah dan ibunya membalas “Hai, selamat pagi juga enthung-enthungku”. “Kalian sedang memasak makanan buat aku ya?” lanjutnya ramah “Iya dong, sayang. Ini makanan buat kita semua, supaya sehat”, jawab ibunya. Sebentar si Enthung melihat-lihat bayam, wortel, bawang, kunci, tomat, laos, daun salam dan garam yang sudah siap untuk diolah. Pagi itu, keluarga kecil ini hendak memasak “Bayam yang dibrambang salam”. Makanan sejenis sup tetapi bumbunya tidak “diuleg” melainkan dipotong kecil-kecil lalu direbus. Setelah mendidih, wortel dan bayam dimasukkan kemudian. Segar dan kemepyar. “Ayah, apakah kamu mau menemaniku ke sana?”, tanyanya sambil menunjuk ruang tamu. “Mau. Kamu mau apa di sana?”, jawab ayahnya sambil bertanya balik. “Aku mau didongengi Opi’s”, jawabnya singkat. Ayahnya segera mengikuti si Enthung dari belakang dan menuju ke ruang tamu. Di ruang tamu Enthung duduk di kursi panjang sementara ayahnya duduk di sebelahnya dan membacakan salah satu dari buku dongeng yang bertumpuk-tumpuk di bawah meja tamu. “Opi’s on the airplane” adalah salah satu judul buku dongeng anak berbahasa Inggris yang berkisah tentang pengalaman Opi naik pesawat terbang ketika mengunjungi pamannya di kota lain. “Opi’s on the airplane. Opi naik pesawat terbang”, begitulah ayahnya mulai membaca buku dongeng itu sambil menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Enthung asyik mendengarkan sambil melihat gambar dalam buku itu. Sesekali ia mengajukan pertanyaan. Sesekali ia menyela dengan cerita kecil tentang detail lampu pesawat. Ketika si Enthung menyela dengan cerita tentang detail lampu pesawat, ayahnya kadang-kadang mengajukan pertanyaan lanjut yang langsung dijawab juga oleh si Enthung. Pagi itu, ayah dan anak mengobrol tentang pesawat terbang, berimaginasi, memperluas dongeng dengan cerita tambahan sendiri dan saling mengajukan pertanyaan serta jawaban. Ini hanyalah sepenggal cerita kecil di pagi hari dari sebuah keluarga yang tidak memiliki televisi di rumahnya. Hari Gini Tak punya televisi? Ya, benar. Keluarga kecil ini tak memiliki televisi di rumahnya. Mereka memang memilih untuk tidak memilikinya bukan karena anti kepada televisi melainkan karena ingin mendidik anaknya untuk lebih menggandrungi buku dan aktivitas bercerita lisan. Sesekali, ketika sedang berkunjung ke rumah keluarga, si enthung bisa menonton film anak-anak seperti Dora the explorer, namun begitu film selesai, ayah dan ibunya mengajaknya ngobrol tentang film itu atau melakukan aktivitas lainnya. Pilihan untuk tak memiliki televisi pada jaman sekarang barangkali oleh sebagian besar orang dianggap sebagai hal yang aneh atau tidak wajar. Maklumlah, bagi hampir setiap keluarga, TV sudah merupakan barang murah yang wajib dimiliki dan ditonton sebanyak mungkin waktu. Kebutuhan untuk menonton televisi seolah-olah sudah merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi dan ketika kebutuhan itu tak terpenuhi, seolah-olah dunia menjadi begitu sepi dan menjemukan. Sebaliknya, keluarga kecil itu memang sudah terbiasa tanpa kehadiran televisi dalam hidup hariannya. Saat-saat bersama banyak dilalui dengan bercerita bersama anak, menggambar sambil mendongeng, bertanya jawab dengan anak berkaitan dengan aktivitas di sekolahnya, ngobrol suami-istri atau berdiskusi tentang topic tertentu yang menarik perhatian saat itu. Tak ada istilah kesepian bagi mereka. Barangkali saat-saat yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai kesepian, oleh mereka telah dinikmati sebagai saat hening, wening. Saat dimana hati dan budi bisa lebih cermat-jeli mengeja peristiwa hidup dalam bening. Mencipta ruang imaginasi Keluarga kecil itu sangat menyadari bahwa TV memiliki kekuatan besar untuk menyerap perhatian pemirsanya. Ketika perhatian itu terserap, seluruh energi juga terserap. Akibatnya ia sendiri tak lagi memiliki kekuatan untuk mencurahkan atau memancarkan energi. Nah, agar kemampuan mencurahkan dan memancarkan energi itu lebih besar, keluarga ini memilih media lain yang lebih kondusif untuk hal itu. Buku merupakan pilihan utama sebagai media yang merangsang orang untuk mencurahkan energi. Karena yang dibaca adalah kata-kata, maka otak mendapatkan rangsangan untuk mencipta suasana, mencipta penggambaran, mencipta detail, memperluas nuansa dan sebagainya. Dengan demikian, membaca dan mendongeng adalah aktivitas menciptakan imaginasi yang lebih besar. Oleh karena itu, aktivitas itu merupakan aktivitas yang menciptakan ruang luas bagi imaginasi dan proses kreatif lainnya. Tidak semua buku (dongeng) ada gambarnya. Ketika tak ada gambarnya, orangtua ditantang untuk menciptakan gambaran itu bagi anaknya. Dengan begitu, anakpun mendapatkan rangsangan untuk mengeja gambaran itu. Ketika teks atau narasi dalam buku itu tidak menarik atau terlalu kaku, orangtua memiliki tantangan untuk membuat agar teks atau narasi itu menjadi lebih menarik. Penekanan intonasi, perbedaan cara bersuara, perbedaan mimik atau wajah, disertai ekspresi detail dari mulut, mata, alis, dan gerakan tubuh lain merupakan seni berimaginasi dan berkreasi yang baik dan menyehatkan. Melihat itu, anak akan menciptakan imaginasinya sendiri dan bergembira. Semua itu merupakan sebuah proses kreatif dalam keluarga. Saat-saat bersama menjadi saat untuk berkreativitas. Kebiasaan demikian yang terus-menerus akan mempengaruhi anak untuk terbiasa melakukan proses kreatif, menciptakan ide, memaparkan penggambaran, menyampaikan kisah dari perspektifnya sendiri, dan merangkai suatu narasi dari kekayaan nuansa pribadinya. Menciptakan ruang dialog Aktivitas mendongeng, apalagi sambil melukis, diselingi dengan pertanyaan dan jawaban, diselingi cerita sisipan oleh anak maupun orangtua, merupakan ruang dialog yang sangat berharga. Dalam dialog itu, kebiasaan bertanya, kebiasaan menjawab, kebiasaan memahami jawaban orang lain, kebiasaan memaparkan sesuatu yang sedang dibayangkan atau dipikirkan, mendapatkan tempatnya yang terhormat. Dan yang paling menarik, kebiasaan untuk memaparkan pandangan atau gambaran atau imaginasi yang berbeda mendapatkan kehormatannya. Harapannya, kalau anak sudah terbiasa untuk berdialog, terbiasa untuk bercerita, memaparkan kisah berdasarkan imaginasinya yang bebas dan menggembirakan hati, tidak memiliki ketakutan untuk mengajukan pertanyaan maupun menyampaikan jawaban, pada gilirannya, anak itu juga akan bisa menuliskan apa yang ada dalam pikirannya. Menulis bukan lagi sebuah aktivitas yang berbeban dan berat, melainkan aktivitas yang menggembirakan hati untuk mencurahkan segala isi budi : keprihatinan, protes, dukungan, sanggahan, pertanyaan dan penjabaran komitmen diri. Kejutan yang tak terkira Setelah sekian tahun keluarga kecil ini menjalani kehidupan tanpa kehadiran TV, ada banyak kejutan yang tak terkira dalam kaitan dengan perkembangan si Enthung, anak mereka yang telah berusia sekitar 4 tahun itu. Si Enthung menjadi anak yang mudah sekali bercerita dan memaparkan kisah real maupun imaginasi alias khayalannya sendiri. Ia bisa bercerita panjang sekali dengan urutan yang bagus dan detail-detail yang menarik hati. Ketika sedang terlibat dalam obrolan ayah dan ibunya, ia akan banyak mengajukan pertanyaan yang kadang-kadang membuat orangtuanya harus berpikir keras untuk bisa menjawabnya secara bijak. Atau kadang-kadang ia akan mengajukan protes dalam sindiran pertanyaan yang membuat ayah dan ibunya tertawa terbahak karena kesahihan protes itu. Dan akhirnya, ketika melihat televisi, ia telah memiliki kesanggupan untuk mengambil jarak terhadapnya, tanpa harus anti terhadapnya. Suatu kali, ketika sedang berkunjung ke rumah saudara, ada tayangan film sinetron yang berisi pertengkaran saling memaki antara pasangan suami istri. Si Enthung berkata kepada ibunya, “Ibu tolong matikan TV itu. Aku merasa bising mendengar suaranya. Aku sedang ingin menonton Dora, kok belum ada ya?”. Wah…wah….wah….si Enthung sudah bisa membedakan antara suara dan kebisingan. Barangkali itu merupakan salah satu kecerdasan bermedia. Bising bukan lagi sekedar suara ramai tak beraturan, melainkan suara yang tak lagi diperlukan karena tak bisa berdamai dengan kebutuhan untuk menyelami hening-bening. Hening-bening adalah suasana yang dibutuhkan oleh jiwa untuk bisa lebih produktif mengelola segala bentuk proses kreatif dalam hidup sehari-hari. Kalau anak sudah memiliki kepekaan terhadap hal ini, ia punya modal besar untuk menyelami kedalaman. Nuansa Malam Menjelang tidur, setelah menum segelas susu, si Enthung meminta ayahnya untuk menemani tidur. "Ayah, ayo kamu menemani aku tidur", pintanya. Di kamar tidur, ayahnya berbaring di sebelahnya, sementara si Enthung tidur telentang sambil mendongeng panjang lebar tentang hal-hal yang berkesan baginya sepanjang hari ini dengan segala bumbu imaginasinya. Ia akan bercerita tentang truk tangki atau bis malam dengan detail bentuk kaca spionnya, kenalpot dan lampunya, lengkap dengan percakapan sopir maupun para penumpangnya. Seringkali nama-nama teman-teman sepermainannya akan ikut dilibatkan dalam kisahnya itu. Ia bercerita panjang sekali dengan pernak-pernik intonasinya sampai keduanya tertidur. Pada malam hari, ayah tak perlu banyak cerita karena si Enthunglah yang akan mendongeng untuk mereka berdua. Nah, seandainya tak sanggup dengan model keluarga tanpa telivisi ini, barangkali televisi tetap dipersilakan hadir dalam keluarga, namun dengan memperhatikan permintaan si Enthung kepada ibunya itu : “Ibu tolong matikan TV itu. Aku merasa bising mendengar suaranya. Aku sedang ingin menonton Dora, kok belum ada ya?” Kalau anak-anak seperti Enthung ini semakin banyak jumlahnya, barangkali tidak perlu dengan banyak kritik dan protes, tayangan TV semacam smackdown itu sudah akan ditutup dengan sendirinya sebelum menelan korban.

Tuesday, November 28, 2006

"Tuhan Agamamu Apa?"

Indro Suprobo Ketika langit di atas rumah masih berwarna kuning kemerah-merahan, si No’e, gadis kecil yang belum genap 7 tahun umurnya itu, sedang menyirami anggrek di halaman rumah bersama embah putrinya, perempuan tua yang sudah genap 70 tahun umurnya. Si No’e kelihatan asyik sekali menikmati aktivitas menyirami bunga itu. Gerak geriknya memancarkan keriangan dan kemanjaan khas anak-anak. Sambil berdiri, tangan kanannya memegangi selang yang memercikkan air ke tanaman, sementara tangan kirinya methentheng di pinggang dan kepalanya agak oleng ke kiri. Bibirnya menyungging senyum sementara matanya memandangi anggrek yang ia sirami. “Cikicikicikicikicikicik……….” begitu bunyi air yang meloncat-loncat bergantian menyentuh tanaman dan jatuh ke tanah. “Airnya jangan banter-banter ya Nok, ya, supaya bunga anggreknya tidak rontok”, kata embah putri kepada cucunya. “Segini ini kebanteren nggak mbah, airnya?”, tanya si No’e minta pertimbangan. “Wo….kebanteren kuwi Nok, cah ayu. Dikurangi sedikit lagi” “Segini ya mbah?”, tanya si No’e lagi meyakinkan sambil mengurangi daya semprot air. “Nah, segitu itu pas”, kata simbah. Pembicaraan mereka terhenti karena masing-masing asyik dengan aktivitas mereka. “Cikicikicikicikicikicicikicikicikicik…..” bunyi air terdengar di antara kediaman simbah dan cucu ini. Embah putrinya si No’e ini tangannya terampil sekali mencabuti rumput-rumput kecil di dalam pot-pot bunga. Memang tangan yang sekarang keriput itu sejak muda telah terlatih melakukan aktivitas demikian karena sering membantu orangtuanya bekerja di sawah sepulang dari sekolah desa. Tangan itu juga sangat terampil merangkai bunga karena sering dimintai tolong menghias altar untuk keperluan misa di kampusnya ketika masih menjadi mahasiswi fakultas teologi. “Hi…hi…hi….”’ si No’e tertawa-tawa kecil ketika menyaksikan bunga anggrek yang disiraminya itu mengangguk-angguk lucu. “Mbah, mbah, lihat mbah, bunga anggreknya mengangguk-angguk!” kata si No’e kegirangan sambil menunjuk bunga yang sedang disiraminya. “Wah…iya..ya. Bunga anggreknya mengangguk-angguk”, kata embah putri menanggapi kegirangan cucunya. “Mbah, mbah, bunga anggreknya kok mengangguk-angguk itu kenapa sih mbah?”, tanya si No’e lugu. Si embah yang mantan guru agama desa itu tercenung sejenak memikirkan jawaban atas pertanyaan cucunya yang polos itu. Kecerdasannya yang dulu terbukti nyata saat mengikuti kuliah teologi selama sepuluh semester dan meraih gelar sarjana dengan predikat cum laude itu sekarang sedang diuji oleh pertanyaan cucunya. Wow, ia menemukan jawabannya! “Nok, cah ayu, bunga anggrek itu mengangguk-angguk karena mengucapkan terima kasih kepadamu. Ia merasa segar karena disirami air setiap hari. Jadi, ia berterima kasih.” Si No’e tersenyum senang sambil matanya memandangi bunga yang mengangguk-angguk kepadanya. “Mbah, mbah, kata bu guru ngaji, orang yang bisa mengucapkan terima kasih itu orang yang baik. Bener nggak mbah?” tanya si No’e lagi. “Iya dong” “Kata bu guru ngaji, orang yang baik itu disayangi Tuhan” tanya No’e lagi. “Iya dong” “Orang yang disayangi Tuhan itu besok masuk surga ya mbah?” “Iya dong” Si No’e diam sejenak, sementara wajahnya tiba-tiba berubah menjadi serius. Si embah putri memperhatikan perubahan wajah itu namun ia diam tanpa pertanyaan sedikitpun. “Cikicikicikicikicikicikicik…” suara air terdengan jelas lagi. Gadis kecil yang sudah sekolah di Taman Kanak-kanak Santa Maria itu sedang mempunyai pertanyaan agak sulit bagi dirinya. Ia disekolahkan di TK St. Maria oleh orangtuanya karena itulah satu-satunya sekolah TK terdekat. Setiap sore, biasanya ia belajar mengaji karena kedua orangtuanya adalah muslim yang saleh. Ibunya dulu beragama katholik, lalu menjadi Islam dan rajin sholat karena menikah dengan suaminya. Sore ini ia tidak mengaji karena libur, guru mengajinya sedang punya hajat menyunatkan anak laki-lakinya. “Mbah, teman-teman di sekolah bilang kalau orang yang masuk surga hanya orang yang mengikuti Tuhan Yesus. Katanya, tanpa Tuhan Yesus orang tidak bisa masuk surga. Betul nggak, mbah?” Mbah putri yang sarjana teologi itu agak bingung mencari jawaban pas untuk cucunya yang lugu. Lalu, kecerdasannya membantunya untuk menjawab. “Nok, cah ayu, Tuhan Yesus itu orang baik sekali. Dia suka menolong orang lain. Jadi dia masuk surga. Semua orang yang baik seperti Tuhan Yesus itu disayangi Tuhan dan masuk surga”. “Orang yang mengikuti Yesus namanya orang kristen ya mbah?” “Iya”, jawab embahnya singkat “Kalau orang Islam, masuk surga juga to mbah?” “Iya dong. Orang Islam khan berdoa kepada Tuhan dan berbuat baik kepada orang lain. Jadi disayangi Tuhan”. “No’e..! Mau ikut sholat sama ibu nggak?” tiba-tiba suara ibunya si No’e menghentikan pembicaraan mereka. “Ikut!” jawab No’e. “Mbah, No’e sholat dulu sama ibu ya mbah” “Ya, ya, sana sholat dulu biar disayangi Tuhan” jawab simbahnya sambil membereskan selang dan cethok. Pembicaraan sore itu sangat melekat pada ingatan si No’e, gadis kecil yang belum genap 7 tahun umurnya itu. Malam harinya, ia tertidur pulas karena senang. Wajahnya tenang dan nafasnya teratur sekali. Bintik-bintik keringat menempel di dahinya yang bersih. Ia bermimpi bertemu Tuhan. Dalam mimpinya, Tuhan seperti embah putrinya dan suka menyirami anggrek. “Tuhan, Tuhan, bunga anggreknya mengangguk-angguk berterima kasih kepada Tuhan karena disirami” kata si No’e cerah sambil menunjuk pada bunga. “Oh iya. Kamu pinter sekali. Siapa yang mengajari?” “Embah putri”, jawab si No’e. “Wah, embah putrimu baik sekali. Senang dong punya embah putri seperti itu” kata Tuhan penuh pengertian. “Iya, mbah putri baik sekali sama No’e. Tuhan, orang yang baik seperti embah putri besok masuk surga ya?” tanyanya polos. “Oh tentu. Orang baik seperti embah putrimu pasti masuk surga” kata Tuhan meyakinkan. “Orang baik seperti Tuhan Yesus juga masuk surga, Tuhan?’ “Oh ya, Tuhan Yesus masuk surga” “Orang kristen yang mengikuti Tuhan Yesus dan suka menolong orang lain masuk surga juga ya?” “Iya” “Orang Islam juga masuk surga?” “Iya” “Tuhan, Tuhan itu kristen apa Islam?” tanya si No’e polos sekali. “Ha…ha…Nok, cah ayu” jawab Tuhan sambil mengusapi kepala si No’e, gadis kecil yang belum genap 7 tahun umurnya itu. “Tuhan tidak punya agama, sayang”. “Tuhan tidak mengikuti Tuhan Yesus?” “Tidak” “Tuhan sholat seperti No’e tidak?” “Tidak” “Terus, besok Tuhan masuk surga tidak?” tanya si No’e makin penasaran. “Iya dong, sayang” jawab Tuhan sambil tersenyum. “Lho, kok bisa?” tanya si No’e penuh keheranan. Tuhan tertawa sambil asyik menyirami anggrek, sementara si No’e yang kecil itu terbangun dari mimpinya.*** Judul asli cerpen ini adalah "Lho kok bisa?" (judul dalam edisi teks). "Tuhan agamamu apa?" adalah judul dalam edisi kaos yang sudah dipopulerkan oleh Institut Dian/Interfidei Jogjakarta

Monday, November 27, 2006

Religiositas untuk Anak, Bukan Agama (3)

Indro Suprobo Sewajarnyalah setiap orang menginginkan suatu kejelasan dan kemantaban "kepada siapa ia bergantung dan berserah diri, bersembah pasrah, dan berorientasi kepada apa yang sering disebut sebagai surga. Sungguh ini sangat wajar dan barangkali lebih banyak orang demikian adanya. Kejelasan dan kemantaban itu memang bisa ditemukan dalam agama-agama. Ambillah sebuah contoh, sebagai orang katolik tentu saja seseorang sangat mengharapkan bahwa dalam seluruh hidupnya sebisa mungkin ia menunjukkan kepada orang-orang di sekelilingnya bahwa ia jelas-jelas menggantungkan hidup dan mengarahkan hidup kepada Allah Bapa melalui dan di dalam Yesus kristus (begitulah rumus teologis iman kristen...yang membedakannya dari yang lain). Kebutuhan yang sama tentu juga akan ditularkan kepada anak-anak yang dicintainya sebagai salah satu bukti dan wujud cinta pula, sehingga selanjutnya anak memiliki kebutuhan yang serupa dan orangtua terpanggil untuk memenuhi kebutuhan itu. Demikian pula halnya untuk para pemeluk agama-agama pada umumnya. Dalam pengalaman keseharian, ternyata ada kewajaran yang lain lagi yang dapat kita jumpai. Ada orang yang menjalani hidup ini secara "santai" (mungkin istilahnya kurang tepat juga), yang karena menyadari bahwa ia tidak mengetahui segala pernak pernik hidup yang teramat luas, namun mengakui bahwa sangat mungkin "ada" pernak-pernik itu (surga, neraka dsb), sekaligus mengakui pula adanya bermacam ragam cara berpikir tentang pernak-pernik itu, lalu ia mencoba menikmati saja bermacam ragam kemungkinan itu secara santai dan sungguh-sungguh menikmatinya, meresapinya dan menemukan maknanya. Akibatnya ia tidak memiliki harapan untuk mempertegas mau menggunakan cara berpikir yang mana. Akibat lebih jauhnya juga, ia bahkan tidak mengharapkan surga, namun cukuplah menyembah sujud, menghormat “Yang Tak Terlampaui” itu dan rela nan ikhlas untuk masuk neraka asal berada dalam sikap itu. Ada Rumi, ada Rabiah al Adawiyah. Dalam rumus bahasa arab dan bernuansa agama sikap itu digambarkan dengan "Hasbyallah" atau kurang lebih artinya "cukup Allah" bagiku. Rumus itu tentu saja berada dalam kerangka agama. Dalam aras itu, saya mencoba belajar, tentu dengan segala kegagalan. Aras yang satu ini menarik juga untuk saya pelajari dalam nalar pikiran, dalam pangrasa batin, dan dalam renik-renik tindakan praktis. Ini spiritualitas yang menarik hati dan saya ingin belajar menyelaminya senikmat mungkin. Pada awalnya tentu saja ada banyak halangan dari sisi nalar maupun batin, apalagi dari sisi praksis. Ada banyak pertanyaan mengemuka, ada banyak gugatan dsb. Ada banyak pengalaman mistik yang menarik hati untuk diselami secara real. Dan saya sungguh sedang belajar menyelami beragam pengalaman mistik yang senyatanya tidak hanya berada dalam satu agama saja. Kalau itu bisa memperkaya batin dan hidup rohani pribadi dan berguna untuk praksis hidup (termasuk dalam mendidik anak-anak), dengan senang hati saya menikmatinya. St. Ignatius de Loyola melalui latihan rohani (salah satu mistik kristen) menyatakan agar manusia berlatih dan berusaha "meninggalkan rasa lekat tak teratur". Nah saya bereksplorasi untuk memperluasnya, bagaimana menjalankan semangat atau prinsil "meninggalkan rasa lekat tak teratur kepada salah satu agama". Apakah ini memperkaya rohani atau mengkerdilkan rohani? Tentu awalnya ada banyak keraguan dan bahkan ketakutan, juga pemberontakan batin. Tetapi ternyata setelah berulang kali mencobanya dan belajar.....wah...wah....betapa hidup ini menyediakan kekayaan rohani yang luar biasa harum. Sholat jamaah di mushala desa, misa sederhana di kapel kecil, bajan dan agnihotra di ashram, sujud wening di pendapa sapta dharma dsb...terasa bukan lagi kotak-kotak yang saling terpencil melainkan suatu tanah lapang dengan warna warni aroma yang bisa dihirup dengan bebas dan menyehatkan. Kalau sudah begini, Yesus Sang Junjungan, Al Quran, Mohammad Sang Rasul, injil, santo-santa, para nabi, tritunggal mahakudus, Om dan yang lainnya, bukan lagi kotak-kotak juga melainkan tanah lapang pula. Dalam aras ini, tak ada rumus "tersesat" lagi. Rumus “tersesat” hanya berlaku bagi orang yang mengagungkan “satu kotak” sebagai satu-satunya kebenaran. Tentu ini adalah aras yang lain, yang kebetulan saya sedang belajar memilihnya sebagai sebuah kewajaran yang dibangun. Dalam aras ini pula, saya sangat menaruh tunduk hormat dan syukur penuh ikhlas kepada teman dan saudara dan siapapun yang memilih untuk memiliki ketegasan tertentu dalam arus hidupnya, ada yang menegaskan diri kepada Yesus, ada yang menegaskan diri kepada Al Quran, ada yang lain lagi. Dan saya belajar menegaskan diri menjadi kelana hati. Kalau tidak keliru, ada lagunya di dalam buku madah bakti yang biasa digunakan dalam perayaan ekaristi di gerja katolik: ....kita bagai kelana...di tengah cakrawala....menuju langit suarga......dst

Religiositas untuk Anak, Bukan Agama (2)

Indro Suprobo Ada banyak orang beranggapan bahwa ketika menghadapi kematian – sebuah peristiwa besar yang tidak main-main dalam hidup seseorang – orang pastilah menginginkan agama sebagai kejelasan dasar bagi dirinya yang memberi kerangka dari seluruh pemaknaan atasnya. Saya sendiri menghayati kematian (terutama orang-orang terdekat, tercinta dan pada saatnya nanti kematian saya sendiri) sebagai bagian dari kehidupan yang teramat luas dan agung itu. Oleh karena itu, saya menghayati bahwa hidup tak pernah mati, karena ia luas, agung, dalam, maharangkum, mahaliput, dan abadi. Menghadapi kematian dengan demikian adalah memandang suatu bagian dari keluasan, keagungan, kemaharangkuman, kemahaliputan, dan keabadian. Karena kematian adalah bagian dari kehidupan, maka sikap terdalam menghadapinya tak lepas dari sikap terdalam terhadap kehidupan. Dari banyak kearifan agama-agama maupun kepercayaan, dan kehidupan orang-orang mendalam para pendahulu kita (para nabi, mistikus, santo-santa, solihin-soleha, dan semua mereka yang hanif), sikap terdalam terhadap kehidupan adalah hormat, syukur dan hanif (tunduk). Dalam sikap itu pulalah kematian dihadapi. Agama-agama dan beragam keyakinan di dunia ini dengan caranya masing-masing sesuai konteks sejarah dan kebudayaan yang membentuknya juga mengajarkan, mengajak, memotivasi dan mencontohkan dalam praksis nyata sikap terdalam serupa ini terhadap kehidupan (termasuk di dalamnya kematian). Dan agama-agama hanyalah salah satu dari begitu banyak kearifan kehidupan yang lagi-lagi teramat luas, agung, dalam, maharangkum dan mahaliput itu. Agama-agama adalah bagian dari keluasan dan keagungan itu tetapi ia tak bisa diklaim sebagai satu-satunya kearifan apalagi keagungan itu sendiri. Dalam refleksi personal, dari kedalaman kesunyian batin, dari kebeningan dan keheningan hidup yang saya perjuangkan dari waktu ke waktu (dg segala kesulitan dan kegagalannya) - dalam hal ini pendidikan seminari memiliki andil besar melalui pembiasaan silentium ordinarium, magnum maupun sacrum -, saya menjumput sebutir kelegaan dan niatan yang mendasar bahwa saya akan mendidik diri saya dan anak-anak saya untuk terus-menerus belajar menghayati kearifan-kearifan hidup yang telah tumbuh subur dalam keluasan ini. Oleh karena itu, kebutuhan mendasar adalah menjalankan kearifan itu. Kebetulan agama adalah salah satu atau sebagian dari kearifan itu. Ketika umumnya orang merumuskan "agama harus dijalankan....keyakinan harus dipahami....dan anak-anak membutuhkan itu...", saya merumuskannya dengan "kearifan hidup sepantasnya dijalankan, pemahaman dasar tentangnya sepantasnya dicermati.....dan anak-anak tentulah sangat membutuhkan itu". Namun karena saya menghadapi dunia anak-anak, ketika menemaninya dalam membaca dan mengerti kehidupan ini (termasuk di dalamnya kematian), saya berusaha sebisa mungkin menggunakan nalar dunia anak-anak. Ketika dia menanyakan mengapa pamannya yang masih muda meninggal dunia, saya menjawab dengan mengatakan bahwa paman meninggal dunia karena jantungnya berhenti. Kenapa berhenti? Karena jantungnya mengalami kerusakan dsb. Tak ada jawaban yang berkaitan dengan "karena dipanggil Tuhan", karena jawaban itu tentu saja merupakan konsumsi untuk orang dewasa. (Dan sekali lagi, anak-anak tetaplah anak-anak, bukan orang dewasa berukuran kecil) Ilmu pengetahuan alam, biologi, fisika dan kimia dasar adalah referensi yang sangat berguna untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan yang oleh nalar orang dewasa biasanya dijawab dengan nalar agama-agama. Dunia "bermain dan belajar" anak-anak bukanlah (jadi berbeda dengan) dunia yang hanya sekedar "main-main" karena bermain dan belajar-nya anak-anak adalah medan nyata terdekat bagi religiositas sehari-hari. Dalam dan melalui dunia bermain dan belajar itu, saya menikmati proses menemani anak-anak mengenali kearifan-kearifan hidup terutama sikap hormat kepada kehidupan. Bukankah banyak (tentu tidak semua) permainan anak-anak (terutama di desa entah di gunung, di wilayah pertanian, perikanan-nelayan dsb) sebenarnya merupakan perwujudan dari rasa syukur atas anugerah kehidupan dan rasa hormat terhadapnya? Itu semua, menurut saya, merupakan religiositas sehari-hari. Berkaitan dengan kematian saya sendiri suatu saat nanti, dengan ikhlas hati dan segala ketundukan, saya tidak berkepentingan dengan cara agama apa saya mau diperlakukan. Soal itu merupakan urusan orang yang hidup. Mau dengan cara islam, katolik, kristen beragam aliran, kepercayaan lokal, atau aliran apapun yang mungkin tidak mengalir juga, silakanlah saya manut saja karena semua itu adalah bagian-bagian dari kaya rayanya alam semesta ini. Moga-moga saya akan menghadapi kematian saya sendiri dengan satu sikap: hormat dan tunduk kepada hidup yang luas dan abadi. Moga-moga pula ini boleh disebut sebagai iman dalam teori agama-agama. Lalu, orang yang sangat beragama mungkin bertanya, "Lalu Tuhan ada di manakah Engkau?" Salah satu jawabnya (tentu bukan satu-satunya) mungkin bisa meminjam salah satu judul film "Kejarlah Daku....kau Kutangkap!"

Religiositas untuk Anak, Bukan Agama (1)

Indro Suprobo Barangkali kami merupakan salah satu saja dari sekian banyak orang yang percaya dan mempraktekkan bahwa agama bukanlah satu-satunya melainkan hanya salah satu dari religiositas. Dalam kerangka itu kami menemani anak kami yang baru berusia 4 th untuk tidak terikat kepada salah satu agama. Sampai sekarang, agama anak kami boleh dikatakan tidak jelas. Repotnya, dalam masyarakat yang sangat membutuhkan kejelasan agama ini, kami sering harus berpikir sekian kali ketika ditanya orang tentang agama anak. Ketika periksa di sebuah Rumah Sakit, petugasnya bertanya, “Agama anak anda apa pak?” Saya menjawab, “Agamanya bermain”. Perawatnya bingung. lalu saya tegaskan bahwa dia tidak/belum beragama. "Tapi kolom ini harus diisi pak" katanya. “Ya sudah diisi saja Islam, yang banyak jumlahnya”, begitu jawab saya. Dengan begitu, urusan pengisian formulir agama di rumah sakit lalu selesai. Demikian juga ketika harus membuat kartu keluarga di kelurahan. dengan penuh percaya diri, petugas kelurahan mengisi seluruh data agama dengan "Islam" karena melihat istri saya mengenakan jilbab. Semua itu tidak kami persoalkan dan urusan selesai dengan sangat sederhana. Tetapi dalam aktivitas sehari-hari di rumah dan di sekolah, anak kami memang tidak beragama. Kami sengaja mencari sekolah (play group dan TK) yang tidak ada pelajaran agamanya. Namun kami percaya bahwa tentu saja lingkungan dekat sehari-hari akan membentuk nilai-nilai religiositas bagi anak. Lalu teknik pengenalannya bagaimana? Pertama-tama ini berkaitan dengan sikap dasar kita sendiri sebagai orang tua. Saya dan istri yang kebetulan berbeda latar belakang kebiasaan agama, sepakat untuk tidak mendidik anak dalam koridor agama tertentu, melainkan dalam nilai-nilai religius (dari beragam agama dan prinsip-prinsip nilai hidup). Memang orangtua kami sendiri sering meminta memperjelas agama anak saya dengan agama tertentu. Belumlah menjadi kewajaran bagi mereka apabila seorang anak belum memiliki kejelasan dalam beragama. Namun kami berpendapat bahwa "yang paling jelas, agama anak kami sekarang ini adalah bermain dan bergembira", tidak perlu dimasukkan dalam kotak agama lebih dahulu. Nanti pada saatnya dia akan punya pilihan sendiri. Apapun pilihannya nanti, kami akan mendukungnya. Secara praktis, kepadanya kami memperkenalkan kebiasaan katolik pada saat mengikuti perayaan natal di gereja desa (istri saya yang muslim ikut serta ke gereja) dan pada saat lebaran kami memperkenalkan kebiasaan Islam dengan mengikuti sholat id di masjid pesantren milik keluarga, pada hari peringatan turunnya Krishna, kami memperkenalkannya dengan kebiasaan Hare Kreshna di sebuah asram yang rutin mengundang kami setiap tahun, dan pada kesempatan tertentu kami meperkenalkan dia dengan kebiasaan buddis di vihara dekat selokan mataram jogja. Di rumah, kami sering memutar kidung-kidung religius berbagai agama sambil bermain kendang, kelintingan, gitar dsb. Dan semuanya itu "menggembirakan hati"nya, dan dengan demikian menggembirakan hati kami juga. Yang paling prinsipial dari semua itu adalah menemani anak untuk belajar bersyukur, berharap, bergembira, sabar dalam sulit, hormat pada teman dan orang lain, tidak terbiasa berbohong dsb. Soal berdoa, kami biarkan dia sedang merasa senang dengan cara apa, tetapi yang paling sering adalah mengucap dalam bahasa indonesia sederhana dalam dunia anak-anak. Misalnya, Tuhan terima kasih sudah mendapatkan makanan, semoga sehat. amin. Nah cukuplah itu buat kami. Mau ditambah tanda salib silakan, mau diramu dengan bacaan bismillahirohmannirohim juga boleh. Itu semua hanyalah cara, atau fitur dalam dunia handphone. Kami sengaja tidak memperkenalkan konsep-konsep abstrak terlebih dulu kepadanya. Yang kami kenalkan adalah yang "manusiawi' dulu. Akibatnya, kadang-kadang dia memanggil saya dengan sebutan "Tuhan" tetapi memanggil ibunya dengan sebutan "Allah" (dieja dalam cara bahasa Arab). Saya dan istri tertawa sambil berterima kasih kepadanya. Cukup dengan tertawa karena dia memang sedang bermain-main dan menertawakan "yang serius" dalam agama-agama. Begitulah dunia anak kami. Dia tetaplah anak-anak dan bukan orang dewasa berukuran mini. Untuk menghindari konsep "Tuhan Yesus" yang belum cocok buat anak-anak (menurut kami), kami menggambar sambil mendongeng tentang Yesus sebagai anak tukang kayu yang suka membantu ayahnya membuat meja, kursi, cowek, munthu, gagang pacul dan mobil-mobilan buat anak-anak. Lalu kami mengatakan kepada anak kami,"Yesus adalah orang yang baik dan suka membantu anak-anak membuat mobil-mobilan". Dengan demikian, ia mengenal Yesus sebagai manusia yang baik hati yang pantas diteladani, dihormati dan dijunjung dalam puja dan puji. Dalam cara yang sama, kami perkenalkan dia dengan beragam tokoh lain dari kearifan kehidupan. Barangkali ini merupakan salah satu praksis berteologi dari bawah bersama anak-anak. Diolah kembali dari diskusi panjang dalam sebuah milis

Menerima Pluralitas dan Membangun Moralitas Berkeadilan

Indro Suprobo Dengan segala kerendahan hati dan ketulusan yang serba jujur berjiwa besar, pantaslah diakui bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang berkenyataan plural, kaya kepelbagaian, berornamen perbedaan, dan memiliki banyak ekspresi hidup. Masyarakat Indonesia senyatanya bukanlah masyarakat yang satu dan sama. Kenyataan ini adalah bagian dari wujud kemanusiaan yang wajar sebagai konsekuensi logis dari anugerah keunikan karya penciptaan Sang Ilahi. Konteks ruang dan waktu yang menjadi ladang subur bagi pertumbuhan kehidupannya dalam membangun jati diri kemanusiaannya, bukan pula sebuah kenyataan yang satu dan sama melainkan sejak semula berwujud keragaman. Oleh karenanya, keanekaan atau pluralitas yang menjadi kenyataan hidupnya adalah hal yang tidak dapat disangkal. Kepelbagaian dalam kehidupan yang meliputi kesukuan, kedaerahan, ekspresi bahasa, cara berpikir dan berasa, model hidup bersama, cara memahami dan menghayati Sang Ilahi serta gaya mengekspresikan religiositas adalah kenyataan sekaligus kekayaan hidup masyarakat Indonesia. Kepelbagaian semacam ini dalam kehidupan bersama tidak akan menimbulkan permasalahan sejauh dikelola secara wajar dan senantiasa mencerminkan prinsip keadilan bagi setiap keunikan. Kepelbagaian dan perbedaan mulai menimbulkan permasalahan dalam hidup bersama ketika pengelolaannya melahirkan situasi ketidakadilan bagi sebagian keunikan. Pengelolaan hidup bersama akan melahirkan ketidakadilan ketika motivasi dasar dan tujuannya berujung pada kepentingan terbatas dan mulai menganggap sepi kebutuhan essensial salah satu atau sebagian keunikan dalam masyarakat. Sejarah hidup bersama masyarakat Indonesia telah menunjukkan bahwa berbagai pergolakan dan peristiwa yang melukai harkat dan martabat kemanusiaan selama ini timbul ketika kepentingan terbatas dan tidak adil memasuki wilayah motivasi dan tujuan tindakan sebagian masyarakat yang memiliki kewenangan dan tanggungjawab dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan kehidupan bersama. Wilayah motivasi dan tujuan tindakan adalah wilayah moralitas. Kalau demikian, mengelola kepelbagaian menuntut sikap moral tertentu yakni moralitas berkeadilan. Dalam konteks pengelolaan pluralitas, moralitas berkeadilan dipahami sebagai sikap dasar individu dalam menghadapi pluralitas yang tercermin baik dalam pikirannya, perkataannya maupun dalam tindakannya. Moralitas berkeadilan ini juga berarti menerima kenyataan pluralitas dalam kehidupan, memberi ruang bagi pertumbuhan masing-masing keunikan yang ada, menerima yang berbeda sebagai sesama yang pantas dihormati dan dihargai secara jujur, serta menumbuhkan kesanggupan bagi masing-masing keunikan untuk membangun jati dirinya tanpa diskriminasi. Masyarakat yang membangun hidupnya berdasarkan moralitas berkeadilan adalah masyarakat yang tidak menempatkan dirinya sebagai superior terhadap yang lain melainkan setara serba sejajar dan seharkat-semartabat. Lebih jauh, moralitas berkeadilan semacam ini dapat dibangun dengan cara memahami setiap nalar dari setiap keunikan yang ada dalam masyarakat. Untuk memahami nalar yang bekerja dalam setiap keunikan ini, dibutuhkan sikap lebih lanjut yakni, sikap lintas nalar. Itu berarti berusaha keluar dari nalar keunikannya sendiri dan memasuki nalar keunikan yang lain dan berbeda. Pada umumnya orang menyebut sikap ini sebagai sikap passing over, melintas batas. Peristiwa yang menggores kemanusiaan yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia berkaitan dengan pluralitas beberapa waktu lalu adalah konflik sangat destruktif antar suku dan agama yang menimbulkan korban jiwa tak terhitung banyaknya. Korban jiwa sedemikian banyaknya ini adalah akibat dari tidak adanya moralitas berkeadilan yang telah hidup dalam diri anggota masyarakat yang sebenarnya mempunyai kewenangan dan tanggung jawab untuk mengambil keputusan berkaitan dengan pengelolaan kehidupan bersama yang plural. Kepentingan-kepentingan terbatas yang sonder keadilan telah bekerja dalam nalar individu-individu yang menjalankan peranan strategis di tengah masyarakat baik itu sebagai penentu kebijakan, para pendidik baik formal maupun informal, tokoh masyarakat dan sebagainya. Nalar berkepentingan terbatas sonder keadilan ini telah bekerja secara sistematik dalam kesadaran masyarakat dalam waktu yang sedemikian panjang. Akibatnya nalar ini seakan-akan menjadi hal yang sah dan wajar untuk hadir dalam kehidupan bersama. Pada gilirannya, masyarakat yang senyatanya adalah plural dan terdiri dari beragam keunikan lalu menjadi tidak terbiasa atau tidak memiliki kesanggupan untuk bersikap lintas nalar, lintas keunikan. Persoalan yang nyata dan mendasar dalam kehidupan masyarakat yang plural ini membutuhkan siasat yang relatif jitu untuk mengatasinya. Salah satunya adalah menguatkan pendidikan masyarakat untuk menerima pluralitas dan mengelolanya secara lebih dewasa dan adil. Untuk itu, mendesaklah usaha untuk membuka konteks-konteks historis berkaitan dengan konflik yang terjadi dalam masyarakat kita terutama konflik antar suku dan agama. Perlu pula dibuka kearifan-kearifan yang sebenarnya secara potensial telah dimiliki oleh masyarakat sendiri dalam mengelola pluralitas ini namun telah dipolitisir oleh mereka yang memiliki kepentingan terbatas dan tidak adil. Sharing pengalaman dari mereka yang telah secara jujur dan ikhlas berjerih payah membangun pergaulan inklusive dalam konteks pluralitas ini juga pantas diungkapkan sebagai contoh alternatif mengelola kehidupan yang beragam dan penuh perbedaan. Kejujuran dan ketulusan untuk bertatap muka, kehendak baik untuk duduk bersama merumuskan persoalan-persoalan ketidakadilan yang menimpa hidup bersama serta menemukan simpul-simpul kerja bersama dalam menegakkan keadilan merupakan kebutuhan mendesak yang tak bisa lagi ditolak. Pada saat yang sama, teramat pentinglah kemandirian dan sikap kritis terhadap segala yang bisa (menganggap diri) menjadi otoritas, karena dari sanalah segala kemungkinan manipulasi, indoktrinasi dan konstruksi nalar tak berkeadilan dapat mengalir secara pasti meskipun perlahan. Sumber: www.usc-satunama.org, Jumat 9 September 2005