Saturday, July 09, 2022

Pengorbanan Abraham dan Manusia yang Berakal


Oleh Indro Suprobo


Dua pertanyaan serius yang diajukan oleh manusia jaman ini terkait kisah Abraham yang mengorbankan anak terkasihnya adalah pertama, bagaimana mungkin Allah yang menyampaikan perintah jangan membunuh kepada Musa dan keturunannya justru memerintahkan pembunuhan sebagai korban bakaran? Kedua, bagaimana mungkin Abraham dan anak terkasihnya secara sangat patuh berusaha menjalankan perintah itu tanpa kritik maupun protes sama sekali?

 Kisah ini terdapat dalam Kitab Perjanjian Lama, terutama kitab Kejadian 22:1-19 dengan judul perikop “Kepercayaan Abraham diuji”. Kutipan lengkap narasi tersebut adalah sebagai berikut:

 22:1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan." 22:2 Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran  pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." 22:3 Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. 22:4 Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. 22:5 Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu." 22:6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 22:7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?" 22:8 Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 22:9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. 22:10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. 22:11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham. " Sahutnya: "Ya, Tuhan." 22:12 Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu  yang tunggal kepada-Ku." 22:13 Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. 22:14 Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan." 22:15 Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, 22:16 kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri--demikianlah firman TUHAN--:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, 22:17 maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. 22:18 Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku ." 22:19 Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba.

 Konteks dan Waktu Penulisan

Meskipun masa hidup Abraham diperkirakan antara tahun 2165 – 1990 sebelum Masehi, mayoritas penafsir dan pengkaji kitab suci mengidentifikasi bahwa narasi tentang pengorbanan Abraham ini ditulis oleh tradisi para Imam (Priestly Tradition atau Priester Codex) yang disingkat dengan tradisi P, pada masa sekitar tahun 400-an sebelum Masehi, yakni paska pembuangan bangsa Israel ke Babilonia. Meskipun ditulis pada masa yang jauh lebih muda, namun narasi ini ditempatkan pada awal kisah sejarah bangsa Israel sebagai bagian dari narasi besar tentang panggilan Abraham dari Ur Kasdim dan kisah tentang Sara dan Hagar (atau Siti Hajar dalam tradisi Muslim), sehingga narasi itu tampak terjadi pada masa sejarah pembentukan bangsa Israel.

 Periode paska pembungan ke Babilonia merupakan periode krisis yang berat bagi bangsa Israel baik dari sisi politik, ideologis, maupun mental dan religiositas. Pengalaman pembuangan adalah pengalaman kehancuran total sebagai bangsa sekaligus kehancuran dalam banyak pandangan dan keyakinan keagamaan. Kehancuran kenisah atau Bait Allah (Baitullah) yang diyakini sebagai pusat kehadiran Yahweh dan pusat kekuatan bangsa dalam menghadapi musuh-musuh politik, merupakan pengalaman krisis religiositas yang mendalam. Jika tempat kediaman Yahweh itu hancur lebur, lalu di manakah kehadiran Yahweh itu? Apakah Ia telah meninggalkan bangsa Israel? Apakah Ia yang dianggap sebagai sesembahan utama dan sumber kekuatan bangsa juga telah terkalahkan oleh dewa-dewi sesembahan para musuh? Jika tidak demikian mengapa Ia hancur? Jika Yahweh telah menjanjikan kemakmuran dan pertolongan kepada bangsa, mengapa bangsa Israel justru tercerai berai dan bahkan dibuang di negeri asing dan hidup sebagai budak? Itulah pengalaman krisis fundamental yang dialami oleh Israel sebagai bangsa pada masa itu. Akibatnya, pada masa ketika mereka boleh kembali ke negeri asal mereka, dibutuhkan sesuatu yang dapat kembali meneguhkan identitas kebangsaan dan religiositas mereka sebagai orang-orang yang dipilih dan mendapatkan jaminan perlindungan serta beragam jaminan lain dari Yahweh, Allah sesembahan Israel.

 Dalam masa krisis identitas politik dan religius semacam itu, sebagian orang Israel telah mengadopsi atau bahkan melibatkan diri dalam ritual-ritual bangsa-bangsa tetangga demi mendapatkan keselamatan, ketenangan, atau kemakmuran sebagaimana diyakini oleh agama-agama tradisional bangsa-bangsa tetangga di Babilonia. Salah satu bentuk ritual keagamaan yang dijalankan adalah pengorbanan manusia demi mendapatkan keselamatan. Ritual semacam ini tercermin dalam teks kitab nabi Yeremia 7: 30-31 sebagai berikut:

 7:30 Sungguh, orang Yehuda telah melakukan apa yang jahat di mata-Ku, demikianlah firman TUHAN, telah menempatkan dewa-dewa mereka yang menjijikkan di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini untuk menajiskannya. 7:31 Mereka telah mendirikan bukit pengorbanan yang bernama Tofet di Lembah Ben-Hinom untuk membakar anak-anaknya lelaki dan perempuan, suatu hal yang tidak pernah Kuperintahkan dan yang tidak pernah timbul dalam hati-Ku.

 Fungsi Narasi dan Perhatian Tradisi Para Imam

Dalam konteks krisis identitas kebangsaan dan religiositas semacam itulah narasi tentang pengorbanan Abraham ini ditulis oleh tradisi para Imam. Narasi yang ditulis pada tahun 400-an sebelum Masehi ini tentu saja tidak mencerminkan fakta historis tentang apa yang dilakukan oleh Abraham, melainkan lebih merupakan narasi yang bersifat teologis, metaforis, ideologis dan edukatif. Narasi ini berfungsi sebagai upaya untuk meneguhkan kembali identitas dan karakter kebangsaan maupun religius bangsa Israel dalam menghadapi krisis fundamental. Identitas dan katakter itu sudah selayaknya dijangkarkan pada figur Abraham sebagai tokoh besar dan utama pendiri bangsa yang pada generasi berikutnya diteguhkan dan dilanjutkan oleh Musa.

 Karena penulis narasi ini adalah tradisi Para Imam, sangatlah masuk akal jika perhatian utamanya diarahkan kepada persoalan ibadah dan ritual serta hukum. Maka narasi ini berkaitan erat dengan hal-hal ritual dan keagamaan, yakni ritual pengorbanan, terutama jenis korban bakaran. Perintah Allah kepada Abraham untuk mempersembahkan anak terkasihnya sebagai korban bakaran, sepantasnya dibaca sebagai cerminan sekaligus sindiran tentang praktik mengorbankan anak kepada dewa-dewi agama-agama asing yang lazim dilakukan oleh sebagian orang Israel pada masa itu sebagaimana terefleksikan dalam teks Yeremia 7:30-31. Karena ayat ini bersifat sebagai sindiran dan cerminan dari praksis masyarakat masa itu, sangat dipahami pula bahwa dalam ayat itu Abraham menunjukkan ketaatan mutlak tanpa protes sedikitpun, karena bagi tradisi para Imam, sikap kritis itu tidak menjadi perhatian. Perhatian utamanya adalah menyindir dan mencerminkan praksis serta kognisi sosial tentang pengorbanan manusia.

 Sebagai bentuk sindiran, perintah Allah kepada Abraham dalam Kej 22:2 pada akhirnya ditanggapi dengan perintah malaikat kepada Abraham untuk tidak melakukan apapun kepada anak terkasihnya (Kej 22:12). Kesatuan gagasan antara perintah untuk mempersembahkan anak pada Kej 22:2 dan perintah malaikat untuk tidak membunuh anak pada Kej 22:12 membentuk sebuah pesan kritis dan edukatif bahwa orang-orang Israel yang benar-benar percaya dan setia kepada Allah, sama sekali tak akan pernah melakukan persembahan anak sebagai korban bakaran sebagaimana lazim dilakukan oleh para penyembah dewa-dewi asing. Pesan ini diteguhkan dengan rangkaian ayat yang berkaitan yakni Kej 22:8, 13 dan 14.

 Secara naratif, jawaban Abraham terhadap pertanyaan anaknya bahwa Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban (Kej 22:8) merupakan ayat yang bersifat antisipatif terhadap ayat 13 dan 14. Ayat 14 merupakan penegasan dan puncak dari antisipasi itu yakni bahwa “Allah benar-benar menyediakan” sehingga tempat dari peristiwa itu disebut sebagai tempat “Tuhan menyediakan”. Allah telah menyediakan anak domba jantan yang tanduknya tersangkut di antara belukar.

 Dengan demikian, sebagai penegasan identitas di tengah krisis religius bangsa Israel paska pembuangan Babilonia itu, narasi ini hendak mengatakan sebuah kritik bahwa bagaimanapun situasi sulit yang dihadapinya, bangsa Israel hendaknya tetap setia kepada Allah melalui praktik dan tindakan ibadah sebagaimana telah diwariska oleh nenek moyang sepanjang sejarah dan tidak diperkenankan melakukan ritual keagamaan berupa pengorbanan anak sebagai korban bakaran, karena Allah sendiri lebih menghendaki anak domba jantan sebagai korban bakaran maupun korban persembahan. Sebagai penegasan identitas di tengah krisis, narasi ini juga hendak menyatakan penegasan bahwa dalam situasi apapun, orang Israel hendaknya tetap setia kepada Allah karena Allah adalah pemberi jaminan, Ia adalah “Allah yang menyediakan”. Meskipun perikop narasi ini diberi judul “Kepercayaan Abraham diuji”, sebenarnya yang menjadi tema pokok dan pesan utama dari narasi ini adalah keyakinan tentang “Allah yang menyediakan” atau Allah yang memberikan jaminan dan perlindungan bagi kehidupan manusia beriman. Maka penulis menilai bahwa Kej 22:14 dalam perikop ini merupakan ayat sentral dan puncak.

 Manusia Beriman adalah Manusia Berakal

Narasi pengorbanan Abraham sebagaimana tertulis dalam Kej 22:1-19 ini dengan demikian merupakan narasi yang diproduksi secara kontekstual oleh tradisi para Imam untuk membangun masyarakat Israel yang mengedepankan akal dan sikap kritis dalam menghadapi situasi krisis. Cara berpikir tentang pengalaman krisis, cara menyikapinya dan cara bertindak yang dipilihnya musti ditata ulang dan dikonstruksi secara lebih jernih dan bertanggung jawab. Bagi tradisi para Imam, membunuh anak sebagai korban persembahan adalah tindakan yang sangat tidak masuk akal dan tidak bertanggung jawab. Persembahan korban bakaran dan korban sesembahan hendaknya mewarisi tradisi leluhur yakni berupa anak domba jantan karena selain dapat memenuhi fungsi religius, persembahan itu juga dapat berfungsi sosial yakni menjadi sarana untuk berbagi dengan orang-orang di sekitar, terutama mereka yang kurang beruntung. Menyantap daging korban bersama-sama dengan seluruh komunitas juga merupakan wujud dari ekspresi identitas kebangsaan dan religius orang Israel pada masa itu. Diperlukan pilihan-pilihan yang lebih konstruktif dan produktif untuk menyusun kembali identitas kebangsaan dan religius bangsa Israel. Perlu meneguhkan kembali keyakinan bahwa mereka adalah anak turun Abraham yang tetap mewarisi panggilan dan pilihan oleh Allah untuk menghadirkan diri sebagai bangsa yang berkualitas, setia dan menjunjung tinggi nilai-nilai yang telah disemai dan dikukuhkan dalam hukum Musa. Sepuluh perintah Allah, secara sosial adalah temuan nilai yang sangat mendasar sepanjang perjalanan sejarah sebagai bangsa dan pantas untuk dijagai sertai dikembangkan dalam kehidupan.

 Dari penelusuran ini tampak jelas bahwa narasi tentang pengorbanan Abraham sebagaimana tertulis dalam kitab Kejadian itu merupakan sebuah rumusan ideologis, teologis, metaforis dan edukatif dalam ranah suprastruktur yang konstruksinya sangat dipengaruhi atau ditentukan oleh basis materialnya, yakni pengalaman krisis fundamental yang dihadapi oleh masyarakat Israel kuno pada masa setelah pembuangan Babilonia. Dalam konteks itu, narasi pengorbanan Abraham yang ditulis oleh tradisi Para Imam dengan jarak kurang lebih 1590 tahun setelah masa hidup Abraham ini tidak mencerminkan fakta historis, melainkan lebih menekankan gagasan teologis, ideologis, metaforis dan edukatif. Dalam konteks itu pula, perdebatan tentang siapa yang dipersembahkan, Iskak atau Ismail, menjadi sangat tidak relevan karena selain tidak mencerminkan fakta historis, penggunaan narasi itu sebagai bahan untuk menegaskan identitas komunitas akan sangat tergantung kepada konteks audiens yang dituju. Yang lebih utama diperhatikan adalah pesan bahwa menjadi manusia beriman semestinya dijalankan dengan menjadi manusia yang lebih berakal dan bersikap kritis. Ini membutuhkan latihan terus-menerus. ***


Thursday, May 26, 2022

Jilbab dan Fantasi Ideologis

 



oleh Indro Suprobo


Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah postingan video pendek tentang prestasi seorang perempuan muda muslim berjilbab aseli Indonesia, berpendidikan Master dari universitas internasional, yang berhasil menjadi salah satu staf di sebuah perusahaan teknologi digital internasional. Dalam salah satu bagian singkat, perempuan muda ini memberikan kesaksian atau sharing personal mengapa ia memilih mengenakan jilbab. Alasan atau motivasi mengenakan jilbab itu adalah refleksi personal yang ia berlakukan bagi dirinya sendiri dan sama sekali tak memberikan kesan memaksa orang lain untuk mengambil pilihan seperti dirinya. Sebuah pilihan personal dan mandiri.

Tampaknya, bagi sebagian orang, pilihan mengenakan jilbab itu telah menghalangi tumbuhnya penghargaan, apresiasi, dukungan, atau kegembiraan empatik atas prestasi intelektual dan skill kompetitif yang telah diraih oleh perempuan muda itu. Hanya karena ia memilih mengenakan jilbab, tanggapan yang muncul terhadapnya, dalam bahasa gaul milenial diungkapkan dengan kata-kata,"....wah.....nggak jadi oke deh.....". Padahal, lembaga internasional dan semua orang yang bekerja di dalamnya, yang berasal dari beragam negara dan kultur itu oke-oke saja dan enjoy dengan apa yang ada. Kompetensi dan komitmen perempuan muda ini lebih utama daripada yang lainnya dan kehadirannya sebagai perempuan berjilbab di antara mereka, merupakan hal yang biasa dan disikapi secara santai, sebagai sesuatu yang unik, yang khas dan indah.

Memang pantas diakui sebagai kenyataan sekaligus keprihatinan bahwa bagi sebagian orang tertentu, kehadiran figur perempuan berjilbab ternyata dapat melahirkan fantasi ideologis, yakni fantasi yang berisi tentang stereotype atau pandangan serba buruk yang bersifat generalisir dan cenderung tetap. Kehadiran figur berjilbab telah melahirkan perasaan benci, tak suka, bahkan perasaan terancam atau tak merasa aman. Ini boleh disebut sebagai semacam alergi emosional yang bersifat delusif. Orang-orang dengan fantasi ideologis semacam ini, pada umumnya mengalami kesulitan untuk membangun imajinasi yang proporsional tentang orang lain, terutama terhadap orang lain yang mengenakan jilbab. Sebaik apapun prestasinya, sesantun apapun perilakunya, dan sesolider apapun komitmen perempuan berjilbab itu terhadap nilai-nilai kehidupan seperti keadilan, kesetaraan, keterbukaan, kasih sayang dan empati, ia tetap akan difantasikan sebagai "ah...nggak oke dech....".

Munculnya fantasi ideologis semacam ini barangkali terkait dengan pola konsumsi informatif yang dipilih oleh sebagian orang tertentu itu. Sebagian orang memang tidak memilih konsumsi atau asupan informatif berdasarkan kebutuhan informasi yang sehat dan menyehatkan bagi bagi seluruh cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak dalam kehidupan bersama yang semakin beragam. Sebagaimana memilih makanan, sebagian orang memang cenderung memilih asupan informatif sesuai dengan keinginan dan apa yang disukainya, bukan berdasarkan kebutuhan demi kesehatan seluruh sistem berpikirnya. Asupan informasi yang sehat dan proporsional tentu saja akan sangat memengaruhi kesehatan cara berpikirnya. Sementara asupan informasi yang tak sehat, akan mengakibatkan gangguan atau kerusakan fungsi dalam elemen-elemen yang mendukung keseluruhan cara berpikir. Dalam gaya bahasa Slavoj Žižek, asupan-asupan informatif yang dipilih oleh sebagian orang itu disebut sebagai asupan ideologis juga. Yang lebih mengherankan lagi, orang memilih asupan-asupan itu bukan karena mereka tidak tahu, melainkan justru karena mereka mengetahuinya. Jadi mereka memang cenderung memilih apa yang sebenarnya tidak sehat bagi cara berpikir mereka bukan karena mereka tidak mengetahuinya, melainkan justru karena mereka mengetahuinya. Begitu kata Žižek. Jika konsumsinya dalam jumlah banyak dan terus-menerus, orang Jawa menyebutnya "kemaruk dan ngawula wadhuk".

Barangkali mengetahui sesuatu saja itu tidak mencukupi karena bagaimanapun juga keinginan dan apa yang disukai itu lebih mendominasi pilihan-pilihan sebagian orang. Keinginan dan kesukaan itu memang lebih bersifat emosional daripada rasional. Barangkali hal ini pula yang membantu menjelaskan mengapa orang-orang yang mengenyam bangku sekolah sampai derajad tinggi pun kadang-kadang mengalami halangan untuk memilih asupan-asupan informatif yang sehat yang lebih dibutuhkan untuk mendukung kesehatan cara berpikirnya. Ketika yang emosional lebih dominan daripada yang rasional, setiap orang, siapapun dia, akan cenderung mengalami kesulitan untuk mengambil jarak, bersikap kritis dan analitis terhadap kecenderungan dirinya sendiri dalam memilih asupan informatif yang sehat. Itulah halangan terbesar, terberat dan tersulit dalam melahirkan apa yang disebut sebagai konsistensi, yakni keselarasan antara cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak.

Salah satu cara yang barangkali dapat membantu orang untuk lebih konsisten adalah berlatih terus-menerus untuk menyediaan saat hening, jeda, menunda, mengambil jarak, dan lebih sering bertanya diikuti penyelidikan analitis atas setiap gerak dinamis di dalam diri sendiri sambil membangun imajinasi bahwa ada yang lain, yang mungkin lebih luas dan lebih besar, bahkan lebih indah daripada yang tampak dalam dinamika diri itu.

Latihan ini perlu dilengkapi dengan keberanian untuk belajar mendengarkan yang lain dan berbeda itu berbicara atas nama dirinya sendiri. Mendengarkan yang lain adalah sebuah laku sprititualitas yang progresif yang dapat membantu orang untuk meninggalkan fantasi-fantasi ideologis yang tidak sehat, dan menemukan serta mengenali imajinasi-imajinasi yang jauh lebih empatik tentang orang lain yang berbeda. Dengan demikian orang menjadi lebih ugahari.

Ini berlaku juga bagi semua fantasi ideologis yang muncul akibat kehadiran simbol-simbol lain yang berbeda.

Maka ketika muncul rasa tidak suka atau merasa tidak aman karena kehadiran jilbab, pertanyaan yang pantas diajukan adalah "mengapa merasa begini ya?" Apa yang salah dengan jilbab? Atau "kok aku ngga oke banget sich?"

Semoga semakin banyak orang sanggup menemukan apa yang baik, apa yang indah, apa yang adil, dan apa yang melahirkan rasa syukur di dalam semua yang lain dan berbeda.

Syaloom alaika.


Friday, May 06, 2022

Dua Jenis Kekosongan

 


Oleh Indro Suprobo

Dalam hidup ini paling tidak ada dua jenis kekosongan, yakni kekosongan yang melahirkan kemarahan dan kekosongan yang melahirkan keramahan.

Kekosongan yang seringkali melahirkan kemarahan adalah kekosongan yang dilandasi rasa berkekurangan (lackness), yakni kekosongan yang "menuntut" untuk selalu diisi. Tuntutan itu kadang-kadang disebut sebagai hasrat atau drive. Jika tak terisi atau tak terpenuhi, atau jika ada fantasi bhw kekosongan itu terjadi krn isinya direbut oleh orang lain, ia bisa melahirkan kemarahan, prasangka, kebencian, bahkan mungkin juga kekerasan.

Kekosongan yang melahirkan keramahan adalah kekosongan yang dilandasi oleh rasa aman dan kepenuhan meskipun dalam kesendirian. Kekosongan ini adalah akibat dari pengosongan diri (kenosis) yang justru dipenuhi oleh kesunyian (solitude) namun bukan kesepian (loneliness). Kekosongan yg demikian ini justru merupakan keikhlasan utk melepaskan apa yg tidak penting bagi diri, agar tersedia ruang yg lebih luas untuk dapat menyambut yang lain (termasuk Ia yang Mahalain) dalam keramahan (hospitality).

Yang terakhir inilah yang dihayati dalam Idul Fitri, kesediaan utk menyambut kehadiran yang lain dalam keramahan, karena menyadari bahwa Ia yang diseru sebagai Yang Mahabesar itu adalah Ia yang Maharamah.

Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita semua berlimpah anugerah.



Monday, February 07, 2022

Perempuan yang (dituduh) berzinah


 Oleh Indro Suprobo


Kisah tentang perempuan yang dituduh berzinah hanya terdapat di dalam Injil Yohanes, yakni Yohanes 7:53-8:11. Kisah ini menarik untuk dicermati karena salah satu bagian ayatnya sering digunakan untuk melegitimasi sikap anti kritik. Ayat yang dimaksudkan berbunyi demikian,”Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”. Menjadi lebih problematis lagi jika penggalan ayat ini, bahkan isi seluruh perikop kisah ini ditelikung maknanya sebagai landasan untuk tidak mengungkap dan tidak membongkar kasus-kasus kekerasan atau penyelewengan seksual dalam institusi keagamaan, dan membiarkannya terkubur, lalu memaknainya sebagai sebuah praksis pengampunan yang bernilai relijius yang diteladankan oleh Yesus. Sebaliknya, pernyataan itu justru merupakan penegasan dan kritik Yesus yang sangat tajam bahwa tidak ada tempat bagi manipulasi dan kemunafikan agar keadilan benar-benar dapat ditegakkan.

Agar detail yang penting dalam kisah ini dapat lebih dicermati dan agar pembaca yang kurang familiar terhadap kisah ini dapat memiliki gambaran agak lengkap, berikut saya kutipkan perikopnya.

7:53 Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya, 8:1 tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. 8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. 8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. 8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. 8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" 8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. 8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." 8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. 8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. 8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" 8:11 Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Kalimat paling awal, yakni 7:53 sebenarnya merupakan sambungan dari perikop sebelumnya, yakni kisah tentang Pembelaan Nikodemus terhadap Yesus (7:45-52). Perikop tentang Nikodemus ini pantas dipertimbangkan sebagai bagian dari konteks karena ia memberi keterangan yang penting bagi beberapa detail ayat dalam kisah tentang perempuan yang dianggap berzinah ini.

Dalam struktur besar Injil Yohanes, kisah perempuan yang dianggap berzinah ini merupakan bagian dari tema besar Kitab Tanda-Tanda, yang berisi tentang pernyataan diri Yesus di hadapan umum, melalui pengajaran, kotbah, dialog-dialog dengan masyarakat dan melalui tindakan-tindakan konkret yang dilakukannya. Pernyataan diri ini menimbulkan pertentangan di antara masyarakat. Ada yang percaya kepadanya dan ada yang tidak percaya kepadanya. Sebagian masyarakat mempercayainya sebagai Mesias, orang yang diutus Allah karena tanda-tanda yang dilakukannya. Sebagian dari kalangan agamawan, diwakili oleh figur Nikodemus, mempercayai Yesus. Sebagian yang lain menentangnya dan berniat membunuhnya. Kisah ini secara khusus berada dalam tema tentang “penentuan sikap terhadap Yesus: percaya atau tidak percaya”, yang berada dalam rangkaian kisah dari bab 7:1 sampai dengan bab 10:42.

Kisah ini secara khusus digambarkan terjadi di Yerusalem, di bait Suci, pada hari terakhir dalam rangkaian Hari Raya Pondok Daun, setelah Yesus menyampaikan kotbah atau pengajaran di bait Suci. Beberapa hal penting yang pantas diperhatikan dalam kisah ini adalah sebagai berikut, pertama, dalam kasus dugaan perzinahan ini, para pemimpin agama hanya mengajukan seorang perempuan untuk diadili, tanpa kehadiran laki-laki pasangannya (8:3-4). Kedua, pengajuan pengadilan atas dugaan perzinahan ini dilandaskan pada hukum Taurat, namun dengan alasan licik untuk mencobai Yesus agar ditemukan alasan untuk menyalahkannya (8:5-6). Ketiga, Yesus mengambil sikap kritis dan berpihak kepada keadilan, yakni dengan menunduk diam sambil menulis atau menggambar sesuatu di tanah, lalu memberikan respon yang mengejutkan (8:7-9). Keempat, Yesus memberikan ruang kepada perempuan itu untuk bersuara dan menyatakan dirinya sendiri (8:10-11).

Dari empat hal penting yang dapat dicermati dari kisah ini, ada beberapa pembelajaran yang dapat dipetik. Pertama, kisah ini mencerminkan nalar patriarki di mana dalam kasus-kasus dugaan perzinahan, perempuan dijadikan sebagai subyek utama dan penyebab yang pantas untuk diberi hukuman, sementara laki-laki yang merupakan pasangan dalam dugaan tindakan perzinahan itu absen dari tuduhan. Praktik ini sebenarnya tidak sesuai dengan hukum Musa karena kitab Ulangan 22:22 menyatakan bahwa,”apabila seseorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka haruslah keduanya dibunuh mati, laki-laki yang tidur dengan perempuan itu dan perempuan itu juga. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel”.  Dalam kisah ini tampak adanya ketidakadilan terhadap perempuan.

Kedua, ketidakadilan terhadap perempuan dalam kasus dugaan perzinahan itupun ternyata hanya menjadi instrumen manipulatif bagi sebagian elit agama untuk memfasilitasi kepentingannya, yakni mempertahankan hegemoninya sekaligus menjebak Yesus agar dapat dipersalahkan. Ini merupakan praktik yang sungguh luar biasa parah. Kasus ini disebut jebakan karena jika Yesus menentang hukum Taurat, yakni dengan membebaskan perempuan itu, maka ia tak pantas disebut Mesias dan pasti tidak akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Namun jika ia menyetujui hukum Taurat itu, sementara pada masa itu pemerintah Romawi tidak memberlakukan hukuman mati pada kasus perzinahan, maka Yesus akan dituduh sebagai orang yang menghasut orang banyak dan menimbulkan keonaran. Ia akan dituduh subversif. Kedua pilihan itu akan membawa Yesus kepada kesulitan yang melemahkan bahkan menghancurkan seluruh gerakan sosio-spiritualnya selama ini. Manipulasi dan jebakan ini tampaknya juga merupakan respon sebagian elit agama yang membenci Yesus terhadap komentar Nikodemus (salah satu wakil elit agama yang membela Yesus) yang menyatakan bahwa hukum Taurat tidak menghukum seseorang (menghukum atau membunuh Yesus) sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuatnya (7:51). Pernyataan Nikodemus ini terdapat dalam perikop yang mendahului kisah ini.

Ketiga, yang paling penting dari semua ini adalah sikap kritis Yesus yang berpihak kepada keadilan. Sikap diam Yesus sambil menunduk ke tanah mencerminkan dua hal penting, yakni pengambilan jarak atau sikap kritis, discernment terhadap fenomena yang sedang dihadapinya, sekaligus sebuah tindakan keberpihakan yang empatik terhadap diamnya perempuan yang dalam seluruh proses itu sama sekali tak diberi kesempatan maupun ruang untuk berbicara, menjelaskan dan membela dirinya. Tentu saja Yesus sangat memahami hukum Taurat bahwa dalam kasus semacam ini yang harus dihukum adalah kedua pasangan, bukan hanya perempuannya saja. Lebih penting dari itu, Yesus juga memahami hukum Taurat bahwa untuk menghukum seseorang, dibutuhkan proses mendengarkan penjelasan dari mereka yang dituduh, bukan dengan cara semena-mena menuduh dan menjatuhkan hukuman. Penghadiran saksi-saksi yang berkualitas dan bertanggung jawab juga merupakan prasyarat utama. Yesus sangat memahami bahwa ada banyak kemungkinan terbuka dalam kasus ini karena semuanya berada dalam ketidakjelasan. Yesus membuka kemungkinan praduga tak bersalah terhadap perempuan yang dituduh itu. Sikap kritis dan keberpihakan terhadap keadilan inilah yang membuat Yesus akhirnya memberikan jawaban yang menohok. Pernyataan Yesus “barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” secara tegas menunjukkan suatu tamparan dan kritik yang sangat tajam terhadap tindakan instrumental manipulatif yang dilakukan oleh sebagian elit agama yang dengan mengorbankan martabat dan keadilan terhadap perempuan, telah berupaya untuk meraih kepentingannya sendiri, yakni mempertahankan citra kesucian, kekuasaan, penjaga moralitas, dan seluruh ikutan yang menguntungkan dirinya sendiri. Melalui pernyataan dan kritik itu Yesus hendak menegaskan bahwa kewibawaan tidak dapat dipertahankan dengan cara-cara manipulatif, menyembunyikan lelaki pelaku kejahatan perzinahan dan membiarkannya menikmati kebebasan dan keleluasaan sementara hanya perempuan yang dipersalahkan tanpa diberi kesempatan untuk membela dan menjelaskan dirinya sendiri. Jika sungguh-sungguh hendak bersikap adil, maka siapapun yang diduga menjadi pelaku kejahatan harus diajukan bersama-sama dengan proses-proses yang diperlukan agar seluruh hak dan martabatnya tetap terjaga, dan agar kebenaran dapat diungkap. Secara tegas Yesus hendak menyatakan bahwa tidak ada tempat bagi manipulasi dan kemunafikan demi mempertahankan seluruh kepentingan yang hanya menguntungkan diri atau segelintir elit kekuasaan dengan membungkam perempuan di pojok gelap ketidakadilan. Pernyataan ini menuntut suatu sikap etis yang tegas sekaligus praksis implementatif yang radikal. Oleh karena itu, sikap diam Yesus dalam kisah ini bukanlah tindakan cuci tangan dan tindakan pasif membiarkan seluruh ketidakadilan tetap terkubur. Diamnya Yesus adalah sebuah tindakan aktif, kritis, analitis, strategis, sekaligus advokatif (membela) untuk menggali dan mencari pokok persoalan mendasar agar dapat memberikan tindakan responsif yang bertanggung jawab, bijaksana, tegas dan adil.

Keempat, perempuan sudah semestinya diberi ruang yang setara untuk menyatakan seluruh dirinya, membicarakan dirinya sendiri sesuai dengan martabat yang dianugerahkan oleh Tuhan kepadanya, untuk membela dirinya dalam situasi-situasi yang memojokkan dirinya, dan membebaskan dirinya dari seluruh relasi kuasa yang membelenggunya sehingga keadilan yang adalah sebenar-benarnya tanda kehadiran Tuhan dapat terwujud dalam kehidupan, dan agar perempuan dengan seluruh martabat dirinya dapat menyebut dan menemukan Yesus sebagai “kyrios”, tuan atau pribadi yang berwibawa dalam perkataan dan perbuatan, di dalam seluruh pengalaman keperempuanannya.

Pada akhir kisah, Yesus berkata kepada perempuan itu,”Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang”. Perkataan terakhir ini merupakan pengulangan sekaligus penegasan yang bermakna demikian: “Aku tidak menyetujui dan tak akan membiarkan engkau terus berada dalam ketidakadilan. Mulai sekarang, bertindaklah dan ambillah pilihan-pilihan tegas dalam hidup agar kamu, kaum perempuan, menjadi pribadi-pribadi yang mandiri dan penuh martabat, tidak diseret lagi oleh arus manipulasi dan kemunafikan yang sistematis demi kepentingan dan keuntungan segelintir elit kekuasaan, yang dapat membuat dirimu terperosok, terlibat di dalamnya, dan merugi, karena semua itu adalah praksis dosa. Ini adalah pernyataan perutusan dan pemberian mandat kepada kaum perempuan untuk terlibat secara aktif bersama-sama dengan Yesus, menyatakan tanda-tanda kehadiran Allah, di antaranya adalah menjalankan keadilan, menentang segala jenis manipulasi dan kemunafikan yang merendahkan martabat kemanusiaan, terutama martabat perempuan.

Sebagaimana dimaksudkan oleh Injil Yohanes, pada akhirnya, pembaca kisah ini juga dibawa kepada penentuan sikap: setuju dan berpihak kepada perkataan dan tindakan Yesus, atau menentangnya. ***


Thursday, January 27, 2022

Amoris Laetitia dalam Perspektif Dialog Agama-Agama

 


oleh Indro Suprobo


Tantangan Semua Agama

Dokumen Amoris Laetitia merupakan dokumen yang berupaya menekankan perspektif dan prinsip-prinsip dasar kristiani tentang kehidupan keluarga di tengah tantangan hidup berkeluarga yang dihadapi pada jaman ini. Tantangan hidup berkeluarga sebagaimana digambarkan dalam Bab 2 dokumen ini, merupakan tantangan yang dihadapi bukan hanya oleh Gereja Katolik, melainkan juga dihadapi oleh semua komunitas agama. Dalam situasi krisis kehidupan keluarga itu, dokumen ini mengundang keluarga-keluarga untuk menghargai anugerah perkawinan dan keluarga, dan untuk bertekun dalam cinta kasih yang diperkuat oleh nilai-nilai kemurahan hati, komitmen, kesetiaan dan kesabaran. Dokumen ini juga mendorong setiap orang agar menjadi tanda kerahiman dan kedekatan ketika kehidupan keluarga tidak terwujud secara sempurna atau tidak berjalan dengan damai dan sukacita.

Selain tantangan umum, ada beberapa tantangan yang agak khu-sus yang digambarkan sekaligus ditanggapi secara agak khusus juga yakni relasi setara antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga (53-55), menghadapi difabilitas di dalam keluarga (47, 82, 195, 197), dan tantangan ideologi gender yang tampaknya mengarah kepada persoalan LGBT (56), yang dalam dokumen ini disebut sebagai ideologi yang membayangkan sebuah masyarakat tanpa perbedaan seksual dan merongrong dasar antropologi keluarga, yang mempromosikan identi-tas pribadi dan keintiman emosional, yang secara radikal terlepas dari perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Tentang relasi laki-laki dan perempuan serta difabilitas, tampak bahwa tanggapan positip sudah muncul dalam dokumen ini. Khusus berkaitan dengan LGBT, tampaknya ini masih merupakan pekerjaan rumah yang besar yang membutuhkan discernment lebih panjang dan pendekatan-pendekatan lintas disiplin yang masih harus terus digali di masa depan.

Berkaitan dengan relasi agama-agama dan perkawinan, secara agak khusus, dokumen ini juga menyinggung soal perkawinan beda agama atau disparitas cultus (248). 


Spiritualitas Hidup Berkeluarga Lintas Agama

Bab Empat dalam dokumen ini, yang berjudul Cinta Kasih dalam Perkawinan, adalah spiritualitas hidup berkeluarga yang dapat dihayati oleh semua orang dari beragam latar belakang agama. Nilai-nilai dasar yang dipaparkan dan dijelaskan dalam bab ini merupakan nilai-nilai dasar yang terdapat dalam semua agama dan dapat dihayati oleh semua orang dalam berbagai latar belakang agama. Ini merupakan spiritualitas lintas iman yang mendasar dalam kehidupan berkeluarga. Gambaran-gambaran spiritualitas hidup berkeluarga yang dalam dokumen ini secara khas dijelaskan dalam kerangka Trinitarian, tetap dapat dihayati oleh keluarga-keluarga dari berbagai agama dalam kerangka sufistik tentang "relasi kesatuan dan pengalaman akan Allah", yang menunjukkan cara berpikir tentang pengalaman ketunggalan antara manusia dalam kasih yang dihayati dalam relasi kesatuan dengan yang ilahi. Nilai-nilai kesabaran, kebaikan hati, tidak iri hati, tak memegahkan dan tak menyombongkan diri, sikap ramah, murah hati, tanpa kemarahan batiniah, pengampunan, bersukacita bersama orang lain, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, berharap, menanggung segala sesuatu, berbagi sepanjang hayat, dsb merupakan nilai-nilai dasar yang pantas dihayati oleh semua orang dalam hidup berkeluarga. Semuanya itu membawa kepada pertumbuhan pribadi, keindahan dan rasa hormat. 


Tantangan Disparitas Cultus di Indonesia

Sebagaimana dinyatakan sejak dalam pembukaan dokumen bahwa hidup berkeluarga bukanlah persoalan melainkan sebuah kesempatan (7), perkawinan disparitas cultus juga dipahami sebagai sebuah kesempatan istimewa untuk dialog antaragama dalam kehidupan sehari-hari.. [...].. yang melibatkan kesulitan-kesulitan khusus menyangkut baik identitas keluarga Kristiani maupun pendidikan agama bagi anak-anak...(248). Dalam konteks khusus Indonesia, perkawinan disparitas cultus, terutama antara komunitas Kristen dan Islam, pantaslah diperhatikan tantangan khas yang ada. Tantangan khas itu antara lain adalah tantangan soal tafsir hukum yang secara mainstream masih berlaku yakni bahwa lelaki non muslim tidak dapat menikah dengan perempuan muslim tanpa mengubah identitas agamanya. Sementara perempuan non muslim masih dapat menikah dengan lelaki muslim tanpa mengubah identitas agamanya. 

Mereka yang sudah terbiasa dengan studi agama-agama, apalagi terbiasa dengan kajian antropologi agama, barangkali akan lebih mudah memahami bahwa tafsir mainstream ini merupakan produk dari konteks sosio-kultural tertentu dengan tujuan-tujuan yang tertentu pula. Tafsir mainstream ini merupakan produk ideologis agama (supra-strukrur) yang sangat dipengaruhi oleh "pengalaman basis" tertentu. Masih berlakunya tafsir mainstream ini merupakan realitas yang menantang dan musti dihadapi oleh calon pasangan dan pasangan yang menjalani perkawinan disparitas cultus

Karena realitas yang menantang ini masih belum mengalami perubahan dan barangkali masih akan bertahan untuk beberapa waktu ke depan, maka sudah layak dan sepantasnya, calon pasangan perkawinan disparitas cultus dalam konteks khusus ini semestinya mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan ini secara matang. Realitas yang menantang ini dapat juga ditempatkan sebagai kesempatan yang musti dimaknai oleh pasangan disparitas cultus sebagai ruang yang tetap terbuka bagi pertumbuhan pribadi untuk mencapai kepenuhan. 

Pasangan perkawinan disparitas cultus memiliki tantangan yang lebih berat dan nyata untuk sanggup melampaui "keterbatasan agama-agama" yang bagaimanapun juga tetaplah merupakan produk kebudayaan yang dilekati oleh kontekstualitas dan partialitas yang tak tersangkal. Pasangan-pasangan ini dituntut untuk mampu melampaui "rasa lekat tak teratur emosional" terhadap masing-masing agamanya, membongkar bawah sadar relasi-kuasa antar agama yang bersemayam di dalam dirinya, melepaskan diri dari perasaan menang-kalah, dan musti berani menghadapi stigma sosial yang biasa dikenakan kepada pasangan yang menjalani perkawinan disparitas cultus.

Mereka juga merupakan pasangan yang secara nyata harus membongkar prasangka-prasangka antara agama karena yang dihadapinya setiap saat adalah pasangannya sendiri, yang sangat dikasihinya, yang berangkat dari latar belakang agama yang berbeda. 

Tidak ada rumus umum yang dapat diberikan kepada pasangan disparitas cultus, kecuali kematangan pribadi dan kedewasaan iman yang sanggup melampaui segala bentuk formalisme dan perkara teknis agama-agama. Selebihnya, tantangan yang dihadapi akan sangat unik dan khas tergantung kepada kondisi keluarga dan komunitas konkret kontekstual yang dihadapi. Semua yang lainnya, harus dicari, digali, digeluti, ditekuni sendiri sesuai dengan kondisi realnya. Ini sangat menuntut "kebijaksanaan" pribadi dengan segala risiko yang sanggup ditanggung. Seluruh pergulatan rohani yang diolahnya sesuai dengan konteks tantangan realnya yang khas itu akan menjadi bekal utama bagi pasangan untuk menghadapi seluruh "penilaian publik" yang mungkin akan dihadapi dan dikenakan kepadanya. 


Kesempatan Saling Mendidik dan Saling Belajar

Keluarga dalam perkawinan disparitas cultus memiliki tantangan lebih besar untuk menjalani proses saling mendidik dan saling belajar di dalam iman. Seluruh prinsip dasar dan spiritualitas hidup keluarga sebagaimana digambarkan dalam Bab Empat dokumen Amoris Laetitia, menjadi fondasi utama sekaligus indikator kesehatan iman. Yang paling utama adalah bertumbuhnya iman kepada Allah Pencipta meskipun berada dalam forma dan kerangka berpikir agama-agama yang berbeda. Pilihan tentang model pendidikan iman, terutama untuk anak-anak yang dilahirkan di dalamnya, sepantasnya diserahkan kepada kebijaksanaan pasangan sesuai dengan kesanggupan untuk menjalankan dan menanggung semua risiko yang muncul darinya. Yang paling utama dan terutama adalah tumbuhnya pribadi-pribadi beriman di dalam keluarga, yakni pribadi-pribadi yang sanggup untuk senantiasa tunduk kepada Allah, konsisten menjalani nilai-nilai religius dasar yang menumbuhkan hormat kepada kemanusiaan dan sanggup hidup bergembira penuh kedamaian di dalam perbedaan-perbedaan. 

Keluarga-keluarga dengan perkawinan disparitas cultus justru menjadi kesempatan istimewa untuk saling mendidik dan saling belajar dalam hal iman. Dalam keluarga ini ada banyak kesempatan dan ruang untuk saling berbagi pemahaman tentang perbedaan yang ada, termasuk perbedaan-perbedaan yang paling krusial tanpa kehilangan rasa hormat, kasih sayang dan pembelaan (pro-eksistensi). Keluarga-keluarga disparitas cultus mengundang pribadi-pribadi di dalamnya untuk terus-menerus mengasah kerendahan hati dan keterbukaan serta kesanggupan mendalam untuk mengagumi nilai-nilai yang tersembunyi di dalam setiap perbedaan, sanggup membaca (iqra) tanda-tanda kehadiran dan keagungan Tuhan di dalam diri setiap pribadi, yang pada gilirannya semakin menumbuhkan kasih dan sayang satu sama lain. 

Proses saling belajar dan saling mendidik diri ini, ketika sudah menjadi gaya hidup harian, pada gilirannya akan membawa setiap pribadi dalam keluarga itu kepada kerendahan hati dan keterbukaan religius bahwa setiap pribadi dan setiap manusia memiliki pengalaman yang unik tentang Tuhan. Oleh karena itu ia juga akan sampai kepada pemahaman bahwa setiap agama pun demikian juga, masing-masing memiliki pengalaman yang unik tentang Tuhan, dan tak ada satu pun yang dapat mengungkapkan keseluruhan misteri ketuhanan itu dalam kesempurnaan. Tak ada kebenaran obyektif dan sempurna tentang Tuhan yang musti dianut oleh semua manusia, karena Tuhan senantiasa transenden terhadap semua keterbatasan manusia dan semua kategori. Dengan demikian, pendakuan atau chauvinisme agama yang mengorbankan agama orang lain tak dapat diterima. Masing-masing orang dan agama-agama menyadari keterbatasan dan relativitas dirinya di hadapan Tuhan. 

Kerendahan hati dan keterbukaan religius (iman) ini justru akan berdampak kepada saling hormat, tak memegahkan diri dan tidak sombong, dan membawa kepada pertumbuhan rohani yang mendalam, mendamaikan dan membahagiakan. 


Patriarkhy, Tantangan Hidup Berkeluarga Lintas Agama

Pengalaman hidup berkeluarga di masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa tantangan nyata yang masih dihadapi oleh semua keluarga adalah patriarkhy, yakni kerangka berpikir bawah sadar yang memengaruhi seluruh jaringan hidup berkeluarga (pasangan suami-istri, mertua, keluarga dekat, keluarga besar, dan lingkungan tetangga). Dari hal-hal yang paling serius seperti menghadapi pilihan-pilihan sulit yang membutuhkan otonomi pribadi sampai kepada hal-hal remeh temeh soal penggunaan "kendhit" pasca melahirkan bagi perempuan, kerangka pikir patriarkhy senantiasa menyusup di dalamnya. Dalam kenyataan ini, perempuan cenderung menjadi prioritas korban. 

Kerangka berpikir patriarkhy juga menjadi penghalang utama bagi kebeneningan melihat atau menganalisis persoalan/krisis yang kadang-kadang dihadapi oleh pasangan. Dalam situasi-situasi krisis, perempuan cenderung menjadi subyek yang ditempatkan sebagai penyebab. Dalam situasi-situasi semacam itu, pihak laki-laki sebagai pihak yang cenderung diuntungkan, memiliki tantangan dan undangan untuk menghadirkan prinsip-prinsip pro-eksistensi bagi pasangannya, terutama ketika harus berhadapan dengan keluarga dekat pihak laki-laki (ibu, bibi, sepupu perempuan dan sebagainya). Tantangan patriarkhy ini menjadi lebih berat justru ketika kerangka berpikir patriarkhy itu justru dihidupi dan dihayati oleh kaum perempuan dalam jaringan keluarga. 

Dalam kenyataan semacam ini, hidup berkeluarga, terutama bagi pasangan jaman sekarang, semakin menjadi kesempatan untuk menjalankan edukasi baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi keluarga dekat dan keluarga besar di sekitarnya, maupun kepada keluarga-keluarga lain yang berelasi dengannya. Meskipun gerakan kesadaran tentang keadilan relasi gender sudah berkembang di banyak tempat, pada kenyataannya, nalar patriarkhy masih bersemayam di dalam bawah sadar keluarga-keluarga. Ini merupakan tantangan iman yang nyata bagi keluarga-keluarga. Disebut sebagai tantangan beriman dalam keluarga karena patriarkhy pada dirinya sendiri merupakan ketidakadilan. Karena keluarga adalah partnership atau kemitraan yang setara di hadapan Allah, yang dipanggil untuk bertumbuh dalam kebebasan dan kasih sayang, maka ketidakadilan merupakan halangan yang besar dan pantas diselesaikan. Patriarkhy di dalam hidup berkeluarga merupakan bagian dari struktur dosa yang mengancam pertumbuhan pribadi dan kasih sayang. 

Dokumen 153-157 yang berbicara tentang Kekerasan dan Manipulasi, yang secara agak sempit berbicara tentang seksualitas, jika diperdalam sampai kepada dasar kerangka berpikirnya, ia berbicara tentang kritik dan kewaaspadaan terhadap patriarkhy. Masih dibutuhkan konsistensi berpikir, bersikap dan bertindak yang lebih besar terkait persoalan ini baik dalam tubuh Gereja Katolik maupun Agama-Agama lain pada umumnya. 


Wednesday, January 12, 2022

Orang Majus: Pergulatan Membaca Tanda

 


Oleh Indro Suprobo

Kisah orang majus dari Timur yang mengunjungi kanak-kanak Yesus (Matius 2:1-12) merupakan kisah yang khas dalam Injil Matius, dan tak ditemukan dalam narasi Injil yang lain. Dari sisi struktur, kisah ini merupakan bagian dari prolog Injil Matius yang mencerminkan sebagian konteks sekaligus konstruksi wacana teologis penulis Injil.

Ditulis sekitar tahun 70 M, Injil Matius mencerminkan situasi jemaat pada masa itu, yang mulai memiliki keunikan cara hidup dan semakin terbedakan dari tradisi Yudaisme. Pantas diakui, Injil Matius juga mencerminkan situasi polemik antara jemaat Kristen awal dan orang-orang Yahudi pada masa itu.[1] Dalam konteks polemik yang menantang itu, kisah orang Majus dari Timur memiliki peran dan pesan penting. Di satu sisi ia merupakan sarana untuk secara jelas menggambarkan dan membela keistimewaan Yesus, namun di sisi lain ia merupakan sarana untuk meneguhkan orang-orang Yahudi yang telah menjadi kristen agar tidak goyah terhadap keyakinan barunya, dan agar memiliki landasan legitimatif dalam cara berpikirnya, sehingga pilihan untuk percaya kepada Yesus itu merupakan pilihan yang berkualitas dan bertanggung jawab. Injil Matius tidak menyediakan informasi detail tentang siapa sebenarnya yang disebut sebagai orang Majus dari Timur itu, berapa jumlah orang Majus yang mengunjungi Yesus, bagaimana dan kapan mereka mengunjungi kanak-kanak Yesus, apakah mereka bersama-sama berkunjung sebagai satu rombongan ataukah mereka datang sendiri-sendiri secara bergantian, dari wilayah mana saja persisnya mereka datang, dan sebagainya. Selain itu, fakta historis tentang peristiwa seperti dinarasikan dalam kisah ini juga menjadi perdebatan karena banyak ahli sejarah yang dianggap kompeten seperti Flavius Yosephus sama sekali tak memiliki catatan tentang hal ini. Meskipun demikian, kisah ini menarik untuk direfleksikan sebagai bahan pembelajaran. Penulis cenderung melihat kisah ini sebagai narasi metaforis-mitologis yang tidak mencerminkan fakta historis namun secara kultural berfungsi sebagai sarana untuk membangun sebuah kerangka pemaknaan yang khas tentang siapakah Yesus bagi penulis Injil. Penulis lebih melihat kisah ini sebagai mitos yang di dalamnya mengandung sebuah kerangka berpikir jamannya, yang tetap menarik untuk dikaji dan dipahami. 

Jika dikaitkan dengan kisah infantisida, pembunuhan kanak-kanak oleh Herodes, yang dinarasikan dalam perikop berikutnya (Mat 2:13-18) secara sederhana kisah ini hendak menyatakan dua hal pokok. Pertama, Yesus adalah Musa baru (yang diselamatkan dari pembunuhan anak-anak), yang bahkan membuat orang-orang Majus dari negeri yang jauh dan asing pun, yang bukan orang Yahudi, hadir untuk menghormatinya. Penempatan Yesus sebagai Musa baru ini merupakan pemaknaan alegoris oleh penulis Injil yang di satu sisi menunjukkan kelanjutan dari karya keselamatan Allah dalam Perjanjian Lama (continuity) dan di sisi lain menunjukkan kebaharuan, perbedaan dan tentu saja keunggulan Yesus (discontinuity). Sementara itu, kehadiran orang Majus dari Timur ini berfungsi juga untuk menunjukkan nada universalitas keselamatan, bahwa keselamatan itu bukan hanya untuk orang Yahudi, melainkan juga untuk seluruh bangsa. Kedua, kualitas kemajusan mereka telah menjadikan mereka sanggup mengenali, menerima, menemukan dan menghormati Yesus sebagai pribadi yang bernilai. Maka siapapun dia, entah orang Yahudi entah bukan Yahudi, jika memiliki kualitas kemajusan, ia akan sanggup mengenali dan menemukan kehadiran pribadi yang bernilai dalam kehidupan. 

Tulisan reflektif ini tidak berfokus kepada kristologi Injil Matius, melainkan lebih memperhatikan aspek kemajusan yang secara figuratif menyediakan beberapa pembelajaran menarik. 

Pertama, di antara beragam pemaknaan tentang orang Majus, penulis cenderung memilih pengertian orang Majus dalam karakternya yang paling substansial dan fundamental, yakni sebagai orang-orang yang memiliki kecintaan terhadap proses belajar terus-menerus demi memperluas dan memperdalam wawasan sebagai sarana fundamental untuk lebih sanggup memahami, mendengarkan, mencermati, dan mengenali apa yang penting, yang baik, yang indah, yang luhur, yang adil dan yang bermanfaat dalam kehidupan. Pengertian ini dapat disandingkan dengan istilah "para pecinta ilmu, para santri, kaum pembelajar, learning people". Jika Gereja ditempatkan dalam kategori pengertian ini, maka ia akan disebut sebagai "ecclesia discent" (Gereja yang belajar). Dalam hal ini, wawasan itu dapat bersifat intelektual maupun spiritual-religius, yang oleh Mgr. J. Pujasumarta, Pr (alm) dirumuskan sebagai spiritualitas integral. 

Kecintaan untuk belajar terus-menerus ini merupakan gerak dinamis di dalam diri seseorang yang tidak lahir secara natural melainkan merupakan hasil dari pembelajaran dan pembiasaan yang panjang. Ia merupakan buah dari habitus, dalam arti selain merupakan hasil pembiasaan sekaligus juga merupakan hasil dari pilihan yang membedakan (distinctive) dari jenis pilihan lain. Ini merupakan gerak yang harus dilatih dan ditekuni setiap saat sehingga menjadi laku atau the way of life. Sungguh menarik, bahkan kecintaan untuk belajar pun harus dipelajari dan dilatihkan, serta dibiasakan...!!!

Kedua, orang majus adalah mereka yang dengan wawasan dan pengetahuan yang diperolehnya melalui kecintaan belajar itu, senantiasa berupaya untuk membaca tanda-tanda dalam kehidupan. Tanda selalu berisi dua elemen yakni penanda atau sesuatu yang menandakan, dan tinanda atau sesuatu lain yang ditandakan. Penanda itu bisa berupa apa saja, perkataan, ujaran, peristiwa, kecenderungan, kebiasaan, sikap, perilaku, kebijakan politik, konflik di tengah masyarakat, komentar di media, respon terhadap suatu peristiwa, dsb. Tinanda adalah apa yang kurang lebih menunjukkan isi, penjelasan, substansi, pengertian utama, maksud, kepentingan dasar, dinamika dari sesuatu yang menjadi penanda itu. 

Pergulatan untuk terus-menerus membaca relasi penanda dan tinanda di dalam kehidupan inilah yang menjadi panggilan dasar seorang yang memiliki kualias kemajusan. Seluruh pergulatan membaca tanda ini mengarah kepada pengenalan dan penemuan tentang apa yang mendasar dan penting, apa yang baik dan benar, apa yang indah dan mengagumkan di dalam kehidupan. Ini merupakan sebuah karakter keterbukaan, kesiapsediaan untuk menyelami dan melampaui. Sekaligus, ia menunjukkan karakter magis, menuju yang lebih. 

Mereka yang berada dalam panggilan kemajusan ini, pada umumnya memiliki sikap dan pandangan bahwa setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah, setiap peristiwa dan pengalaman adalah materi pembelajaran. Ia senantiasa terbuka untuk mencari dan menemukan. Dalam kerangka spiritualitas, pergulatan membaca tanda ini diorientasikan untuk menemukan nilai-nilai fundamental dalam kehidupan yang memungkinkan manusia dapat menjalani dan mewarnai kehidupan menuju kepada pertumbuhan, perdamaian, kasih sayang, saling hormat, saling meneguhkan, kesetaraan, kemartabatan dan keadilan. 

Jika diimplementasikan di dalam teologi sosial, maka pergulatan membaca tanda ini juga memiliki keserupaan dengan seluruh pergulatan analisis sosio-kultural-struktural yang berorientasi kepada menemukan nilai spiritualitas dasar manakah yang pantas dan semestinya ditegakkan dalam situasi kontekstual itu. 

Ketiga, orang-orang majus adalah orang-orang yang pada akhirnya akan senantiasa bersikap kritis terhadap jebakan-jebakan ideologis yang tersebar di dalam kehidupan. Mimpi yang mengingatkan para majus untuk tidak kembali kepada Herodes adalah simbolisasi tentang sikap kritis terhadap ideologi politik dan kekuasaan yang seringkali menyembunyikan kepentingan yang justru dapat menghancurkan kehidupan dan pertumbuhan kemanusiaan. Sikap kritis selalu diorientasikan kepada pertumbuhan kehidupan, mekarnya kemanusiaan, dan meluas serta mendalamnya kasih sayang. Sikap kritis semakin dibutuhkan terutama pada masa sekarang ini karena beragam ideologi itu bekerja secara sangat halus dan seringkali tak terdeteksi oleh pikiran dalam banyak aspek kehidupan. 

Keempat, pilihan orang-orang Majus untuk tidak kembali kepada Herodes, selain merupakan sikap kritis, juga merupakan pilihan keberpihakan. Kemajusan menghantar kepada keberpihakan terhadap yang rentan, yang terancam kematian dan kehancuran kemanusiaan. Kemajusan mengarahkan kepada keberpihakan terhadap segala yang memungkinkan pertumbuhan dan kehidupan.

Dengan demikian, kisah orang majus ini dapat menjadi kisah yang mengundang kita untuk senantiasa membangun kualitas dan kedalaman kita sebagai orang-orang yang mencintai proses belajar terus-menerus, agar semakin memiliki kesanggupan untuk bertekun dan setia dalam pergulatan membaca tanda-tanda dalam kehidupan, disertai sikap kritis dan pengambilan jarak, sehingga semakin dapat menemukan nilai-nilai fundamental yang dibutuhkan dalam kehidupan bersama, yang pada gilirannya menjadi landasan bagi keberpihakan. Nilai-nilai fundamental seperti kebaikan, kebenaran, kasih sayang, kesetaraan, dan keadilan itulah yang akhirnya menjadi pegangan, acuan dan landasan bagi seluruh cara berpikir, bertutur kata, bersikap, dan bertindak di tengah kehidupan yang paling kontekstual. Proses ini berlangsung terus-menerus tanpa henti. 

Kualitas kemajusan yang kita jaga setiap saat akan menjadi sarana yang membantu kita untuk semakin sanggup menemukan apa yang benar-benar baik, indah, agung, memesona, luhur, penting, adil, menumbuhkan dan memekarkan kemanusiaan. Kesetiaan untuk menjagai kemajusan ini juga dapat menjadi sarana bagi kita agar dalam situasi apapun, dalam lingkungan apapun, nilai-nilai luhur dan fundamental yang diperjuangakan oleh para guru rohani sepanjang sejarah ini tak pernah hilang dan terlepas dari pertimbangan-pertimbangan dan pilihan kita. Bagi setiap orang dari beragam latar belakang keyakinan dan agama, nilai-nilai fundamental ini telah dijunjung tinggi dan diperjuangkan oleh para guru rohani mereka melalui perkataan maupun keteladanan. 

Akhirnya, kualitas kemajusan ini, yakni kecintaan untuk senantiasa belajar dan membuka diri, dapat membantu setiap manusia untuk mengenali dan menemukan segala yang baik dan indah, yang luhur dan yang adil, di dalam setiap komunitas kemanusiaan, di dalam keragaman kebudayaan, agama-agama, dan keyakinan-keyakinan leluhur,[2] yang pantas dikembangkan dalam kehidupan bersama.***

[1] Bdk. I. Suharyo, Pengantar Injil Sinoptik, Kanisius Yogyakarta, 1993, hlm. 77-82

[2] Bdk. Nostra Aetate artikel 2, dalam Dokumen Konsili II, Dokpen KWI dan Obor 1993, hlm. 310

Friday, December 24, 2021

Natal, Menghormati Martabat Perempuan

 oleh Indro Suprobo



Narasi Injil Lukas tentang peristiwa kelahiran Yesus (Luk 2:1-14) merupakan kesaksian dan refleksi iman yang menyediakan inspirasi menarik dan fundamental tentang penghormatan terhadap martabat perempuan. Saat ini, perspektif ini sangat penting dan kontekstual bagi masyarakat pada umumnya maupun bagi umat kristiani secara khusus. Injil Lukas mengisahkan bahwa pada saat Kaisar Agustus mengeluarkan perintah tentang penyelenggaraan sensus penduduk, Yusuf meninggalkan kota Nasareth di Galilea menuju ke kota Betlehem di tanah Yudea, bersama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung. Di Betlehem itulah Maria melahirkan Yesus di palungan, karena sudah tak ada tempat di rumah penginapan. Para gembala mendapatkan kabar dari malaikat tentang peristiwa itu.

 Kisah yang sangat ringkas dan padat itu menyimpan kompleksitas yang sangat kaya dan penting. Tulisan singkat ini hendak menggali kompleksitas itu beserta implikasi pentingnya bagi kehidupan saat ini.

 Pertama, menurut hukum Romawi, Maria tidak diharuskan untuk ikut mendaftarkan diri dalam sensus itu. Namun, Yusuf dan Maria bersepakat untuk bersama-sama meninggalkan kota Nasareth dan pergi menuju kota Betlehem. Bagi pasangan itu, keputusan ini merupakan keputusan yang penting. Kehamilan Maria, yang bagi umat Kristen dan Islam diimani sebagai kehamilan oleh karena rahmat dari Yang Suci tanpa hubungan biologis dengan seorang lelaki, oleh sebagian besar orang di sekitarnya pada masa itu, dianggap sebagai aib yang menimbulkan beragam fitnah dan prasangka. Ketegangan ini tidak dicatat dalam Injil dan tradisi kristen lainnya, namun terpelihara dalam narasi-narasi komunitas Muslim. Narasi-narasi legendaris yang berisi banyak mukjizat itu, sesuai dengan masanya, tentu saja tidak selalu mencerminkan fakta historisnya, tetapi menjadi petunjuk tentang adanya ketegangan yang tidak mudah itu. Tentu saja situasi itu memberikan tekanan yang berat bagi mereka berdua, terutama bagi Maria sebagai perempuan. Dapat dibayangkan bagaimana tekanan batin yang dialami oleh Maria dalam menghadapi situasi itu. Boleh dikatakan bahwa lingkungan yang dihadapi oleh Maria pada masa itu adalah lingkungan yang bersifat toxic, meracuni pertumbuhan mental seseorang melalui prasangka, fitnah, dan semua jenis sikap serta perilaku yang melemahkan mental (character killing). Yusuf dan Maria pasti berbagi pikiran dan gagasan untuk menghadapi situasi ini. Dengan adanya sensus penduduk ini, mereka pasti berbagi pandangan dan pertimbangan apakah akan berangkat sendiri saja ataukah berangkat bersama. Mereka menimbang semua risiko yang mungkin terjadi.

 Dalam konteks itu, keputusan untuk bersama-sama meninggalkan kota Nasareth adalah keputusan untuk meneguhkan partnership dalam untung dan malang. Dalam situasi sulit ini, Yusup mempertimbangkan beban mental yang akan dihadapi oleh tunangannya apabila ia ditinggal sendirian, dan berempati kepadanya dengan mengambil keputusan untuk meninggalkan Nasareth bersama-sama. Ini merupakan cerminan dari adanya relasi yang setara dan penuh empati antara Yusuf dan Maria. Relasi setara yang penuh empati ini memungkinkan keduanya untuk berbagi pandangan dan perspektif, membuka ruang bagi perbedaan pendapat, dan secara ikhlas bersedia untuk saling mendengarkan, menyelami perasaan dan kecemasan, dan saling memahami kebutuhan mendasar yang pantas dipenuhi sebagai pribadi demi ketenangan dan kenyamanan batin. Semuanya itu akan berdampak kepada kesehatan mental dan pertumbuhan pribadi masing-masing.

 Relasi setara dan empati antara Yusuf dan Maria, merupakan nilai fundamental yang melandasi hubungan sebagai pasangan. Dalam relasi semacam ini, setiap pribadi ditempatkan sebagai subjek mandiri dan utuh yang memiliki kebebasan untuk menyatakan pikiran, perasaan, pertimbangan, dan keputusan menyangkut apa yang baik dan penting bagi dirinya. Di tengah situasi yang berpotensi membebani mental, Yusuf dan Maria saling memberi ruang untuk bersama-sama menelusur keputusan terbaik bagi mereka. Yusuf tak semena-mena mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan pendapat dan perasaan Maria. Ia mempertimbangkannya, mendengarkannya, dan menempatkan Maria sebagai pribadi yang penting dan memiliki hak utama untuk mengambil keputusan karena Maria adalah pihak yang akan menuai dampak paling besar dari keputusan itu. Empati Yusuf, membuat pertimbangan dan keputusan Maria, memiliki ruang, dukungan, dan peneguhan. Inilah inspirasi pertama yang dapat digali dari narasi ringkas ini.

 Kedua, perjalanan yang harus ditempuh dari Nasareth ke Betlehem cukup jauh, yakni kurang lebih 81 mil atau sekitar 128 kilometer. Dengan menaiki keledai di siang hari dan beristirahat di malam hari, perjalanan itu memakan waktu kurang lebih 3 hari. Bagi perempuan yang mendekati masa melahirkan, perjalanan semacam itu tentu saja merupakan perjalanan yang berat. Ini merupakan risiko dari keputusan bersama. Selama perjalanan ini, Yusuf tentu saja menghadirkan dirinya sebagai pelindung, penolong, penghibur, sekaligus sahabat bagi Maria sehingga seluruh kesulitan dalam perjalanan itu dapat dilampaui. Ini merupakan bentuk tanggung jawab yang dijalankan oleh Yusuf dan mencerminkan kualitas pribadinya. Tanggung jawab itu juga mencerminkan keikhlasan, rasa syukur dan kesanggupan untuk menanggung risiko dari keputusan.

 Menanggung konsekuensi dari keputusan bersama bukanlah hal yang sederhana. Seringkali hal ini tidak mudah karena seringkali tidak semua risiko itu dapat diantisipasi dan disiapkan sejak awal mula. Ada banyak hal yang seringkali baru muncul dalam perjalanan pelaksanaan keputusan. Tanggung jawab untuk menanggung risiko dalam keikhlasan, kesabaran, keterbukaan terhadap kemungkinan, disertai pikiran positip dan selalu dilandasi oleh orientasi kepada menemukan kebaikan dan kepentingan bersama sebagai pasangan, merupakan hal yang fundamental dan menjadi ciri dari kualitas pribadi dari mereka yang menjalankannya. Menanggung konsekuensi dari sebuah keputusan bersama selalu membutuhkan support dari masing-masing pribadi, saling mendukung, saling memperbesar tabungan emosi agar selalu memiliki energi yang cukup untuk terus berjalan dan berproses. Dalam proses ini, Yusuf dan Maria saling berbagi energi, kompetensi, dan keutamaan pribadi, sekaligus saling memahami keterbatasan dan kelemahan kontekstual yang ada di setiap keunikan situasi. Inilah inspirasi kedua.

 Ketiga, keputusan untuk melakukan perjalanan bersama yang jauh itu pasti juga dilandasi oleh pertimbangan bahwa sebentar lagi Maria akan segera melahirkan. Dengan mengikutsertakan Maria dalam perjalanan sensus itu, Yusuf menunjukkan komitmennya untuk membersamai dan menghadirkan dirinya dalam seluruh proses melahirkan itu, sehingga Maria tidak melahirkan sendirian. Melalui pilihan ini, Yusuf menunjukkan dan mewujudkan solidaritasnya terhadap Maria. Komitmen untuk hadir di samping Maria dalam proses melahirkan itu juga mencerminkan sikap hormatnya terhadap rahim perempuan. Rahim yang menenun kehidupan baru di dalam tubuh perempuan adalah ruang suci bagi kehidupan. Rahim adalah baitul kudus, ruang di mana yang Maha Suci melakukan keajaiban dan keagungan, yakni penciptaan kehidupan. Sangat dimungkinkan, dalam proses melahirkan itu, Maria dan Yusuf dibantu oleh beberapa perempuan lain di sekitar mereka yang sama-sama dalam perjalanan untuk mendaftarkan diri dalam sensus. Dalam seluruh proses itu, Yusuf akan sibuk membantu proses kelahiran sesuai dengan arahan perempuan-perempuan lain yang ada bersama mereka sehingga seluruh proses persalinan berjalan lancar. Ketika anak itu lahir, Yusuf ada di samping Maria dan menyambut sang bayi sebagai anaknya dan meneguhkan kepada semua yang hadir, inilah anak kami. Seluruh tindakan ini sangat berarti terutama bagi Maria, yang karena kehamilannya, harus menanggung fitnah dan prasangka, disudutkan sebagai perempuan hina.

 Pantas dibayangkan bahwa di antara orang-orang yang hadir di sekitar palungan di Betlehem itu, terdapat juga orang-orang yang berasal dari lingkungan dekat Yusuf dan Maria di Nasareth. Itu artinya, sangat dimungkinkan bahwa di antara mereka ada juga orang-orang yang tergolong dalam barisan penyuka prasangka dan fitnah kepada Maria. Ini berarti bahwa Maria sebagai perempuan senantiasa menghadapi kerentanan sebagai pihak yang cenderung dipersalahkan. Dalam situasi itu, kehadiran Yusuf untuk membersamainya dalam proses kelahiran, bukan semata-mata kehadiran fisik sebagai pasangan hidup, melainkan kehadiran dalam kepenuhan aspek pribadinya, yang merupakan cerminan dari keberpihakan, solidaritas, pembelaan terhadap posisi Maria dalam keseluruhan dirinya.

 Kehadiran Yusuf di samping Maria di saat kelahiran Yesus itu sekaligus meneguhkan bahwa di tengah segala badai prasangka dan fitnah terhadap perempuan yang bernama Maria itu, yang boleh disebut sebagai wacana diskriminatif (discriminatory discourse) terhadap Maria, Kehadiran Yusuf adalah sebuah wacana pembelaan (counter discourse) dan perlawanan yang subversif terhadap semuanya itu. Wacana diskriminatif (discriminatory discourse) itu cenderung menghancurkan martabat keperempuanan Maria, namun kehadiran Yusuf di samping Maria sebagai counter discourse, merupakan tindakan nyata yang memulihkan martabat keperempuanannya. Dengan demikian, anak yang dilahirkan dari rahimnya, dibebaskan dari segala fitnah dan prasangka, dan diberi ruang untuk menjadi pribadi yang bermartabat, yang di kemudian hari bertumbuh menjadi panutan, inspirasi, teladan, guru, dan beragam peran penting lainnya sebagaimana tercermin dalam beragam gelar yang disematkan kepadanya, yang sangat bermakna bagi orang-orang yang akhirnya menjadi para murid dan pengikutnya. Inilah inspirasi ketiga.

 Pentingnya tiga inspirasi fundamental itu ditegaskan melalui kisah para gembala yang mendapatkan kabar dari malaikat. Kisah itu tidak dimaksudkan untuk menceritakan peristiwa faktual historis berupa hadirnya malaikat dan bala tentara surgawi yang mengiringi kelahiran Yesus, melainkan berfungsi sebagai sarana metaforis-mitologis untuk mengungkapkan refleksi penulis Injil bahwa seluruh peristiwa kelahiran itu merupakan peristiwa yang sangat penting dan pribadi yang dilahirkan itu di kemudian hari menjadi pribadi yang istimewa bagi mereka yang percaya dan mengikutinya. Kisah metaforis tentang para gembala dan malaikat itu berfungsi juga untuk menyatakan bahwa seluruh proses dan nilai-nilai yang dihidupi oleh Yusuf dan Maria baik dalam pikiran, perkataan, sikap, maupun perbuatan mereka berdua, merupakan partisipasi dalam seluruh nilai dan kehendak Ilahi. Seluruh nilai itu dikehendaki dan direstui oleh yang Ilahi. Dengan kata lain, perwujudan seluruh nilai dalam kerangka relasi perempuan sebagaimana dijalankan oleh Yusuf dan Maria itu adalah tindakan yang mengakibatkan sukacita surgawi. Ini adalah tindakan yang diridhoi oleh yang Ilahi.

 Oleh karena itu, peringatan Natal adalah sebuah penegasan tentang penghormatan terhadap martabat perempuan. Peringatan Natal adalah sebuah kritik yang hendak menyatakan bahwa perempuan bukanlah sumber fitnah, bukan penggoda yang melunturkan kesucian para pemimpin agama, bukan obyek yang harus senantiasa diatur dan ditata dalam relasi kuasa. Perempuan adalah subyek dan pribadi yang utuh, mandiri, dan bermartabat, yang seluruh peran aktifnya dapat mengakibatkan sukacita surgawi.

 Pantas dinyatakan di sini bahwa prasangka dan cara memandang perempuan sebagai sumber fitnah dan penggoda, dalam psikoanalisis Lacanian dapat dikategorikan sebagai fantasi subyek patriarkhis tentang tercurinya kenikmatan (jouissance) oleh perempuan, yang mengakibatkan situasi kekurangan (lack), yang sekaligus mengakibatkan rasa sakit (pain) di dalam diri subyek patriarkis. Dengan demikian, prasangka dan cara memandang perempuan sebagai sumber fitnah sebenarnya adalah cerminan dari rasa berkekurangan, perasaan terancam dan trauma yang dimiliki oleh subyek patriarkhis itu sendiri. Ini dapat menjadi petunjuk bahwa semua tindakan kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di tengah masyarakat, tidak disebabkan oleh sikap maupun perilaku perempuan itu sendiri, melainkan berasal dari cara berpikir subyek patriarkhis terhadap perempuan. Sejak dalam pikiran, perempuan telah ditempatkan sebagai obyek dan direndahkan martabatnya.

Inspirasi Natal yang ditemukan dari narasi Injil Lukas ini juga dapat dijadikan sebagai landasan kritis internal bagi institusi Gereja sendiri agar mulai serius dan penuh komitmen untuk mencegah dan menyelesaikan kasus-kasus perendahan martabat perempuan yang terjadi di lingkungan anggotanya secara transparan, bertanggung jawab, penuh empati, tegas, membela martabat perempuan, mengutamakan kehadiran yang berpihak kepada korban. Gereja perlu serius belajar dari pribadi Yusuf, suami Maria, untuk bersikap kritis terhadap wacana diskriminatif (discriminatory discourse) terhadap martabat perempuan yang bekerja dalam alam ketaksadaran patriarkhisnya, dan semakin berani hadir dalam solidaritas nyata terhadap penghormatan martabat perempuan sebagai wacana pembelaan (counter discourse), dengan cara mengangkat seluruh kasus perendahan martabat perempuan yang dilakukan oleh anggota-anggotanya ke dalam hukum publik, karena tindakan itu adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, yang merupakan urusan publik. Langkah ini pada awalnya barangkali akan menyakitkan bagi institusi karena memberi kesan tentang merosotnya kewibawaan (the theft of enjoyment), namun jika sanggup melampauinya, ini justru akan menjadi cerminan dari kualitas kewibawaan itu sendiri, yang sekaligus memancarkan martabat. Gereja perlu melepaskan diri dari fantasi traumatik tentang kemerosotan wibawa, menuju kepada kehadiran emansipatoris yang membebaskan dan empatik.

 Semoga, penghormatan terhadap martabat perempuan semakin menjadi cara hidup kita sehari-hari. Selamat Natal untuk semua saudara dan saudari yang merayakan.


Saturday, December 18, 2021

Timeless Moment, Sebuah Epilog

 


Oleh Indro Suprobo

Kapanpun dan di manapun, setiap orang senantiasa menghadapi realitas harian. Di dalamnya tersedia banyak sekali peristiwa dan hal-hal yang dapat dijumpai. Namun pantas diakui bahwa seringkali banyak hal dan peristiwa yang tersedia di dalam realitas harian itu, lepas begitu saja dari perhatian dan pemahaman sese-orang. Ia lewat dan lenyap tanpa jejak, tak tersimpan sedikitpun dalam ingatan. Menghilang tanpa bisa dikenang.

Inner Journey, Perjalanan Jauh ke Dalam, adalah buku ketiga Ruy Pamadiken yang menawarkan cara berbeda dalam menghadapi realitas harian. Meminjam istilah yang digunakan oleh Abraham Maslow, seorang pengusung psikologi humanistik ternama, melalui narasi-narasi pendek yang ada di dalamnya, buku ini menawarkan cara menghadapi realitas harian dengan apa yang disebut sebagai Being-Cognition atau disingkat B-cognition, yakni memahami, mengenali, menyelami dan memaknai realitas harian dengan being, menjadi, terlibat secara mendalam dan partisipatif, menyatu di dalamnya secara keseluruhan, sehingga realitas harian itu menjadi terbuka, menyingkapkan dirinya, menawarkan kesatuan utuh dengan keseluruhan, dan melepaskan ikatannya dengan waktu linear, menjadi sebuah momen yang tak terbatas waktu, yang tersingkap dan terbuka senantiasa, ....menjadi timeless moment. Ia menjadi saat yang tak lekang oleh pembatasan waktu, menyatukan masa lalu dan masa depan dalam saat sekarang yang agung dan mendalam. 

Melalui being-cognition, buku ini mengajak setiap orang yang membacanya untuk menghadapi realitas harian bukan semata-mata sebagai realitas instrumental yang menjadi alat untuk mencapai tujuan yang lainnya,  melainkan sebagai realitas yang menarik setiap orang untuk masuk ke dalam makna terdalam, mengalami kepenuhan, merasakan kesatuan dengan segala sesuatu yang berada di luar dirinya dan yang lebih besar dari dirinya. Dengan demikian Timeless Moment ini menjadi peak experience, sebuah pengalaman puncak yang membawa setiap orang kepada kepenuhan makna dan keutuhan dalam kesatuan dengan semesta. 

Dalam tradisi Kitab Suci Kristen, cara menghadapi realitas harian seperti ini tercermin dalam pilihan Maria untuk duduk di dekat kaki Yesus, mendengarkan dan belajar dari-Nya. (Luk 10:38-42). Ini sebuah pilihan yang berbeda dengan pilihan Marta yang bersifat instrumental. Kedua cara menghadapi realitas harian ini, sebagaimana dipilih oleh Maria dan Marta, bukanlah pilihan yang beroposisi biner, bukan pilihan mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk, melainkan sebuah pilihan dalam keseimbangan. Keduanya penting. Realitas harian musti dihadapi secara instrumental demi tujuan tertentu, namun sekaligus perlu dihadapi seba-gai sabbath, saat hening dan saat kepenuhan. 

Ruy Pamadiken dalam buku ini sedang menunjukkan dan mengajak para pembaca untuk menyelami proses keseimbangan itu. Kisah-kisah yang ditawarkan di dalam buku ini, dari dalam dirinya juga menarik pembaca untuk terlibat, menyelami,  berparti-sipasi, meresapi dan mencecap seluruh elemen pengalaman yang dikisahkan itu. Melalui cara ini, pembaca diajak untuk menjadi Maria yang mendekati sebanyak mungkin realitas harian sebagai timeless moment, dan pengalaman puncak yang menyediakan mak-na keseluruhan dan kepenuhan. Realitas harian yang dihadapi oleh penulis, ketika dibaca dan dinikmati, membuka dirinya menjadi pengalaman pembaca, menjadi peristiwa atau moment yang senantiasa terbuka bagi siapapun yang mau terlibat dan berpartisipasi di dalamnya, sehingga pembaca merasakan dan mengalami, serta menemukan semua yang berharga yang dapat ditemukan di dalamnya. Kegembiraan, air mata, ketakjuban, mukjizat yang bekerja secara tak dinyana-nyana, keterbatasan diri, kelemahan yang dibentuk oleh pembiasaan, semuanya dapat ikut ditemukan dan dialami sebagai pengalaman diri dan memasuki peak experience yang menyediakan "aha!".

Timeless Moment menjadi saat di mana realitas dan pengalaman harian dihayati dalam aktualisasi diri yang paling dalam, sehingga seluruh kekayaan yang tersembunyi di dalamnya, memancar, memenuhi seluruh kesadaran, berbicara dalam denting keheningannya yang paling sempurna, menyatakan dirinya, membiarkan diri ditemukan, dan pada gilirannya, menyediakan kebaharuan. 

Timeless moment adalah undangan dan kesempatan yang senantiasa tersedia di dalam setiap realitas harian kita. Jika seseorang tak merasa terpanggil untuk menjawab undangan dan kesempatan itu, segala sesuatu yang tersedia di dalamnya, akan hilang lenyap. Ia hanya dapat dicecapi dan diselami oleh mereka yang memiliki kecintaan dan kemauan untuk memasukinya. Ia akan diselami oleh mereka yang senantiasa ikhlas untuk melangkah dalam perjalanan jauh ke dalam. Duc in altum.