Showing posts with label Religiositas. Show all posts
Showing posts with label Religiositas. Show all posts

Friday, May 06, 2022

Dua Jenis Kekosongan

 


Oleh Indro Suprobo

Dalam hidup ini paling tidak ada dua jenis kekosongan, yakni kekosongan yang melahirkan kemarahan dan kekosongan yang melahirkan keramahan.

Kekosongan yang seringkali melahirkan kemarahan adalah kekosongan yang dilandasi rasa berkekurangan (lackness), yakni kekosongan yang "menuntut" untuk selalu diisi. Tuntutan itu kadang-kadang disebut sebagai hasrat atau drive. Jika tak terisi atau tak terpenuhi, atau jika ada fantasi bhw kekosongan itu terjadi krn isinya direbut oleh orang lain, ia bisa melahirkan kemarahan, prasangka, kebencian, bahkan mungkin juga kekerasan.

Kekosongan yang melahirkan keramahan adalah kekosongan yang dilandasi oleh rasa aman dan kepenuhan meskipun dalam kesendirian. Kekosongan ini adalah akibat dari pengosongan diri (kenosis) yang justru dipenuhi oleh kesunyian (solitude) namun bukan kesepian (loneliness). Kekosongan yg demikian ini justru merupakan keikhlasan utk melepaskan apa yg tidak penting bagi diri, agar tersedia ruang yg lebih luas untuk dapat menyambut yang lain (termasuk Ia yang Mahalain) dalam keramahan (hospitality).

Yang terakhir inilah yang dihayati dalam Idul Fitri, kesediaan utk menyambut kehadiran yang lain dalam keramahan, karena menyadari bahwa Ia yang diseru sebagai Yang Mahabesar itu adalah Ia yang Maharamah.

Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita semua berlimpah anugerah.



Thursday, January 27, 2022

Amoris Laetitia dalam Perspektif Dialog Agama-Agama

 


oleh Indro Suprobo


Tantangan Semua Agama

Dokumen Amoris Laetitia merupakan dokumen yang berupaya menekankan perspektif dan prinsip-prinsip dasar kristiani tentang kehidupan keluarga di tengah tantangan hidup berkeluarga yang dihadapi pada jaman ini. Tantangan hidup berkeluarga sebagaimana digambarkan dalam Bab 2 dokumen ini, merupakan tantangan yang dihadapi bukan hanya oleh Gereja Katolik, melainkan juga dihadapi oleh semua komunitas agama. Dalam situasi krisis kehidupan keluarga itu, dokumen ini mengundang keluarga-keluarga untuk menghargai anugerah perkawinan dan keluarga, dan untuk bertekun dalam cinta kasih yang diperkuat oleh nilai-nilai kemurahan hati, komitmen, kesetiaan dan kesabaran. Dokumen ini juga mendorong setiap orang agar menjadi tanda kerahiman dan kedekatan ketika kehidupan keluarga tidak terwujud secara sempurna atau tidak berjalan dengan damai dan sukacita.

Selain tantangan umum, ada beberapa tantangan yang agak khu-sus yang digambarkan sekaligus ditanggapi secara agak khusus juga yakni relasi setara antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga (53-55), menghadapi difabilitas di dalam keluarga (47, 82, 195, 197), dan tantangan ideologi gender yang tampaknya mengarah kepada persoalan LGBT (56), yang dalam dokumen ini disebut sebagai ideologi yang membayangkan sebuah masyarakat tanpa perbedaan seksual dan merongrong dasar antropologi keluarga, yang mempromosikan identi-tas pribadi dan keintiman emosional, yang secara radikal terlepas dari perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Tentang relasi laki-laki dan perempuan serta difabilitas, tampak bahwa tanggapan positip sudah muncul dalam dokumen ini. Khusus berkaitan dengan LGBT, tampaknya ini masih merupakan pekerjaan rumah yang besar yang membutuhkan discernment lebih panjang dan pendekatan-pendekatan lintas disiplin yang masih harus terus digali di masa depan.

Berkaitan dengan relasi agama-agama dan perkawinan, secara agak khusus, dokumen ini juga menyinggung soal perkawinan beda agama atau disparitas cultus (248). 


Spiritualitas Hidup Berkeluarga Lintas Agama

Bab Empat dalam dokumen ini, yang berjudul Cinta Kasih dalam Perkawinan, adalah spiritualitas hidup berkeluarga yang dapat dihayati oleh semua orang dari beragam latar belakang agama. Nilai-nilai dasar yang dipaparkan dan dijelaskan dalam bab ini merupakan nilai-nilai dasar yang terdapat dalam semua agama dan dapat dihayati oleh semua orang dalam berbagai latar belakang agama. Ini merupakan spiritualitas lintas iman yang mendasar dalam kehidupan berkeluarga. Gambaran-gambaran spiritualitas hidup berkeluarga yang dalam dokumen ini secara khas dijelaskan dalam kerangka Trinitarian, tetap dapat dihayati oleh keluarga-keluarga dari berbagai agama dalam kerangka sufistik tentang "relasi kesatuan dan pengalaman akan Allah", yang menunjukkan cara berpikir tentang pengalaman ketunggalan antara manusia dalam kasih yang dihayati dalam relasi kesatuan dengan yang ilahi. Nilai-nilai kesabaran, kebaikan hati, tidak iri hati, tak memegahkan dan tak menyombongkan diri, sikap ramah, murah hati, tanpa kemarahan batiniah, pengampunan, bersukacita bersama orang lain, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, berharap, menanggung segala sesuatu, berbagi sepanjang hayat, dsb merupakan nilai-nilai dasar yang pantas dihayati oleh semua orang dalam hidup berkeluarga. Semuanya itu membawa kepada pertumbuhan pribadi, keindahan dan rasa hormat. 


Tantangan Disparitas Cultus di Indonesia

Sebagaimana dinyatakan sejak dalam pembukaan dokumen bahwa hidup berkeluarga bukanlah persoalan melainkan sebuah kesempatan (7), perkawinan disparitas cultus juga dipahami sebagai sebuah kesempatan istimewa untuk dialog antaragama dalam kehidupan sehari-hari.. [...].. yang melibatkan kesulitan-kesulitan khusus menyangkut baik identitas keluarga Kristiani maupun pendidikan agama bagi anak-anak...(248). Dalam konteks khusus Indonesia, perkawinan disparitas cultus, terutama antara komunitas Kristen dan Islam, pantaslah diperhatikan tantangan khas yang ada. Tantangan khas itu antara lain adalah tantangan soal tafsir hukum yang secara mainstream masih berlaku yakni bahwa lelaki non muslim tidak dapat menikah dengan perempuan muslim tanpa mengubah identitas agamanya. Sementara perempuan non muslim masih dapat menikah dengan lelaki muslim tanpa mengubah identitas agamanya. 

Mereka yang sudah terbiasa dengan studi agama-agama, apalagi terbiasa dengan kajian antropologi agama, barangkali akan lebih mudah memahami bahwa tafsir mainstream ini merupakan produk dari konteks sosio-kultural tertentu dengan tujuan-tujuan yang tertentu pula. Tafsir mainstream ini merupakan produk ideologis agama (supra-strukrur) yang sangat dipengaruhi oleh "pengalaman basis" tertentu. Masih berlakunya tafsir mainstream ini merupakan realitas yang menantang dan musti dihadapi oleh calon pasangan dan pasangan yang menjalani perkawinan disparitas cultus

Karena realitas yang menantang ini masih belum mengalami perubahan dan barangkali masih akan bertahan untuk beberapa waktu ke depan, maka sudah layak dan sepantasnya, calon pasangan perkawinan disparitas cultus dalam konteks khusus ini semestinya mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan ini secara matang. Realitas yang menantang ini dapat juga ditempatkan sebagai kesempatan yang musti dimaknai oleh pasangan disparitas cultus sebagai ruang yang tetap terbuka bagi pertumbuhan pribadi untuk mencapai kepenuhan. 

Pasangan perkawinan disparitas cultus memiliki tantangan yang lebih berat dan nyata untuk sanggup melampaui "keterbatasan agama-agama" yang bagaimanapun juga tetaplah merupakan produk kebudayaan yang dilekati oleh kontekstualitas dan partialitas yang tak tersangkal. Pasangan-pasangan ini dituntut untuk mampu melampaui "rasa lekat tak teratur emosional" terhadap masing-masing agamanya, membongkar bawah sadar relasi-kuasa antar agama yang bersemayam di dalam dirinya, melepaskan diri dari perasaan menang-kalah, dan musti berani menghadapi stigma sosial yang biasa dikenakan kepada pasangan yang menjalani perkawinan disparitas cultus.

Mereka juga merupakan pasangan yang secara nyata harus membongkar prasangka-prasangka antara agama karena yang dihadapinya setiap saat adalah pasangannya sendiri, yang sangat dikasihinya, yang berangkat dari latar belakang agama yang berbeda. 

Tidak ada rumus umum yang dapat diberikan kepada pasangan disparitas cultus, kecuali kematangan pribadi dan kedewasaan iman yang sanggup melampaui segala bentuk formalisme dan perkara teknis agama-agama. Selebihnya, tantangan yang dihadapi akan sangat unik dan khas tergantung kepada kondisi keluarga dan komunitas konkret kontekstual yang dihadapi. Semua yang lainnya, harus dicari, digali, digeluti, ditekuni sendiri sesuai dengan kondisi realnya. Ini sangat menuntut "kebijaksanaan" pribadi dengan segala risiko yang sanggup ditanggung. Seluruh pergulatan rohani yang diolahnya sesuai dengan konteks tantangan realnya yang khas itu akan menjadi bekal utama bagi pasangan untuk menghadapi seluruh "penilaian publik" yang mungkin akan dihadapi dan dikenakan kepadanya. 


Kesempatan Saling Mendidik dan Saling Belajar

Keluarga dalam perkawinan disparitas cultus memiliki tantangan lebih besar untuk menjalani proses saling mendidik dan saling belajar di dalam iman. Seluruh prinsip dasar dan spiritualitas hidup keluarga sebagaimana digambarkan dalam Bab Empat dokumen Amoris Laetitia, menjadi fondasi utama sekaligus indikator kesehatan iman. Yang paling utama adalah bertumbuhnya iman kepada Allah Pencipta meskipun berada dalam forma dan kerangka berpikir agama-agama yang berbeda. Pilihan tentang model pendidikan iman, terutama untuk anak-anak yang dilahirkan di dalamnya, sepantasnya diserahkan kepada kebijaksanaan pasangan sesuai dengan kesanggupan untuk menjalankan dan menanggung semua risiko yang muncul darinya. Yang paling utama dan terutama adalah tumbuhnya pribadi-pribadi beriman di dalam keluarga, yakni pribadi-pribadi yang sanggup untuk senantiasa tunduk kepada Allah, konsisten menjalani nilai-nilai religius dasar yang menumbuhkan hormat kepada kemanusiaan dan sanggup hidup bergembira penuh kedamaian di dalam perbedaan-perbedaan. 

Keluarga-keluarga dengan perkawinan disparitas cultus justru menjadi kesempatan istimewa untuk saling mendidik dan saling belajar dalam hal iman. Dalam keluarga ini ada banyak kesempatan dan ruang untuk saling berbagi pemahaman tentang perbedaan yang ada, termasuk perbedaan-perbedaan yang paling krusial tanpa kehilangan rasa hormat, kasih sayang dan pembelaan (pro-eksistensi). Keluarga-keluarga disparitas cultus mengundang pribadi-pribadi di dalamnya untuk terus-menerus mengasah kerendahan hati dan keterbukaan serta kesanggupan mendalam untuk mengagumi nilai-nilai yang tersembunyi di dalam setiap perbedaan, sanggup membaca (iqra) tanda-tanda kehadiran dan keagungan Tuhan di dalam diri setiap pribadi, yang pada gilirannya semakin menumbuhkan kasih dan sayang satu sama lain. 

Proses saling belajar dan saling mendidik diri ini, ketika sudah menjadi gaya hidup harian, pada gilirannya akan membawa setiap pribadi dalam keluarga itu kepada kerendahan hati dan keterbukaan religius bahwa setiap pribadi dan setiap manusia memiliki pengalaman yang unik tentang Tuhan. Oleh karena itu ia juga akan sampai kepada pemahaman bahwa setiap agama pun demikian juga, masing-masing memiliki pengalaman yang unik tentang Tuhan, dan tak ada satu pun yang dapat mengungkapkan keseluruhan misteri ketuhanan itu dalam kesempurnaan. Tak ada kebenaran obyektif dan sempurna tentang Tuhan yang musti dianut oleh semua manusia, karena Tuhan senantiasa transenden terhadap semua keterbatasan manusia dan semua kategori. Dengan demikian, pendakuan atau chauvinisme agama yang mengorbankan agama orang lain tak dapat diterima. Masing-masing orang dan agama-agama menyadari keterbatasan dan relativitas dirinya di hadapan Tuhan. 

Kerendahan hati dan keterbukaan religius (iman) ini justru akan berdampak kepada saling hormat, tak memegahkan diri dan tidak sombong, dan membawa kepada pertumbuhan rohani yang mendalam, mendamaikan dan membahagiakan. 


Patriarkhy, Tantangan Hidup Berkeluarga Lintas Agama

Pengalaman hidup berkeluarga di masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa tantangan nyata yang masih dihadapi oleh semua keluarga adalah patriarkhy, yakni kerangka berpikir bawah sadar yang memengaruhi seluruh jaringan hidup berkeluarga (pasangan suami-istri, mertua, keluarga dekat, keluarga besar, dan lingkungan tetangga). Dari hal-hal yang paling serius seperti menghadapi pilihan-pilihan sulit yang membutuhkan otonomi pribadi sampai kepada hal-hal remeh temeh soal penggunaan "kendhit" pasca melahirkan bagi perempuan, kerangka pikir patriarkhy senantiasa menyusup di dalamnya. Dalam kenyataan ini, perempuan cenderung menjadi prioritas korban. 

Kerangka berpikir patriarkhy juga menjadi penghalang utama bagi kebeneningan melihat atau menganalisis persoalan/krisis yang kadang-kadang dihadapi oleh pasangan. Dalam situasi-situasi krisis, perempuan cenderung menjadi subyek yang ditempatkan sebagai penyebab. Dalam situasi-situasi semacam itu, pihak laki-laki sebagai pihak yang cenderung diuntungkan, memiliki tantangan dan undangan untuk menghadirkan prinsip-prinsip pro-eksistensi bagi pasangannya, terutama ketika harus berhadapan dengan keluarga dekat pihak laki-laki (ibu, bibi, sepupu perempuan dan sebagainya). Tantangan patriarkhy ini menjadi lebih berat justru ketika kerangka berpikir patriarkhy itu justru dihidupi dan dihayati oleh kaum perempuan dalam jaringan keluarga. 

Dalam kenyataan semacam ini, hidup berkeluarga, terutama bagi pasangan jaman sekarang, semakin menjadi kesempatan untuk menjalankan edukasi baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi keluarga dekat dan keluarga besar di sekitarnya, maupun kepada keluarga-keluarga lain yang berelasi dengannya. Meskipun gerakan kesadaran tentang keadilan relasi gender sudah berkembang di banyak tempat, pada kenyataannya, nalar patriarkhy masih bersemayam di dalam bawah sadar keluarga-keluarga. Ini merupakan tantangan iman yang nyata bagi keluarga-keluarga. Disebut sebagai tantangan beriman dalam keluarga karena patriarkhy pada dirinya sendiri merupakan ketidakadilan. Karena keluarga adalah partnership atau kemitraan yang setara di hadapan Allah, yang dipanggil untuk bertumbuh dalam kebebasan dan kasih sayang, maka ketidakadilan merupakan halangan yang besar dan pantas diselesaikan. Patriarkhy di dalam hidup berkeluarga merupakan bagian dari struktur dosa yang mengancam pertumbuhan pribadi dan kasih sayang. 

Dokumen 153-157 yang berbicara tentang Kekerasan dan Manipulasi, yang secara agak sempit berbicara tentang seksualitas, jika diperdalam sampai kepada dasar kerangka berpikirnya, ia berbicara tentang kritik dan kewaaspadaan terhadap patriarkhy. Masih dibutuhkan konsistensi berpikir, bersikap dan bertindak yang lebih besar terkait persoalan ini baik dalam tubuh Gereja Katolik maupun Agama-Agama lain pada umumnya. 


Thursday, May 13, 2021

Kebesaran Hati dan Kasih Sayang

 Oleh Indro Suprobo

Orang-orang yang memiliki spiritualitas mendalam dan kualitas kedekatan dengan Allah, pada umumnya lebih sanggup mengambil jarak terhadap dirinya sendiri dan sanggup menghadirkan kebesaran hati serta kasih sayang dalam pikiran, ucapan maupun tindakannya.

Dalam tradisi kristen dikisahkan bahwa pada puncak kesengsaraan di kayu salib, Yesus memohonkan ampunan bagi orang-orang yang menganiayanya dengan mengatakan,"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."

Dalam tradisi Islam dikisahkan bahwa pada masa hidupnya, Muhammad Rasulullah setiap hari dengan setia menyuapi seseorang yang tuna netra, yang pada saat disuapi itu selalu saja mencela dan mencaci maki sehabis-habisnya, orang yang namanya Muhammad. Sampai suatu saat, ketika Muhammad SAW telah wafat, seorang sahabat Nabi menggantikan perannya, menyuapi orang yang tuna netra itu setiap hari. Karena ada yang dirasakan berbeda, si tuna netra itu berkata,"Tampaknya engkau bukan orang yang biasanya menyuapiku". Sahabat nabi menjawabnya,"Iya, dia yang biasa menyuapimu telah wafat".

"Siapakah dia yg biasa menyuapiku itu? Apakah engkau mengenalnya", tanya si tuna netra.

"Ya, saya mengenalnya, dialah Muhammad, orang yang senantiasa engkau caci maki itu".

Mendengar jawaban itu, runtuhlah seluruh langit-langit batin si tuna netra itu. Lalu ia melihat rembulan utuh yang bersinar lembut di dalam hatinya.

Itulah sebabnya mengapa Yesus disebut Anak Allah dan Muhammad SAW disebut kekasih Allah. Keduanya adalah orang yang dekat dengan Allah. "Anak" dan "kekasih" adalah bahasa puitis untuk menggambarkan kedekatan relasional itu. 

Dalam sebuah forum internasional yang disebut The Act for Happines, Karen Armstrong menyatakan bahwa "compassion" hanya dapat muncul dalam diri orang-orang yang sanggup menerima diri sendiri dengan segala derita terdalamnya shg ia sanggup menyelami derita terdalam yang dialami oleh orang lain sebagaimana deritanya sendiri. Oleh karena itu, orang-orang yang tak sanggup menghadirkan compassion kepada orang lain, pada umumnya adalah orang-orang yang tak sanggup menerima dirinya. Ujaran kebencian, stereotyping dan stigma terhadap orang lain bisa jadi merupakan cerminan dari kegagalan seseorang menerima realitas dirinya.

Yesus dan Muhammad adalah teladan nyata tentang mengambil jarak terhadap diri, menerima ketakpantasan diri, dan mengakui Dia yang kebesaran hati, pengampunan dan kasih sayangNya teramat luas dan tak terbayangkan.

Barangkali, di balik ujaran kebencian yang berseliweran di dunia kita, sebenarnya tersembunyi luka dan penderitaan yang perlu disembuhkan.

Namo Buddhaya....

Sunday, March 14, 2021

Tentang Penutup Kepala

 Oleh Indro Suprobo


Berdasarkan Kitab Suci Perjanjian Baru, salah satunya Surat Paulus kepada jemaat di Korinthus, yakni 1 Kor 11:3-15, Kitab Hukum Kanonik (KHK) Gereja Katolik edisi tahun 1917, Kanon 1262 artikel 2 menegaskan bahwa kaum perempuan diharuskan mengenakan penutup kepala (kerudung atau jilbab) pada saat menjalankan ibadah di gereja. Dengan demikian, mengenakan kerudung atau jilbab dg beragam modelnya merupakan bagian dari kebiasaan kaum perempuan kristen/katolik masa itu. Pada tahun 1983, Kitab Hukum Kanonik edisi pembaharuan sudah tidak mencantumkan lagi ketentuan tentang penutup kepala bagi perempuan itu. Namun demikian, kebiasaan itu masih tetap dilestarikan oleh sebagian besar perempuan biarawati dari berbagai macam ordo dan konggregasi. Beberapa ordo biarawati bahkan mengenakan kerudung lengkap dengan cadar penutup wajah sebagai simbol tentang pengikatan diri kepada Sang Mempelai, Yesus Kristus.




(Gambar para biarawati Kristen dengan penutup kepala dan cadar dalam beragam aktivitas)


Dari kenyataan ini kita dapat belajar bahwa penutup kepala dengan beragam modelnya, sebenarnya merupakan kebiasaan banyak perempuan dari beragam tradisi budaya dan dilestarikan serta diinstitusionalisasikan oleh agama-agama.

Sayangnya, dinamika relasi antar komunitas dan politik identitas kadang-kadang melahirkan sikap saling berprasangka terkait penutup kepala itu. Sebagian orang merasa tidak suka, tidak hormat, curiga, bahkan mungkin membenci ketika melihat perempuan yang mengenakan penutup kepala entah itu penutup kepala para biarawati, perempuan kristen ortodok atau kristen lainnya, maupun perempuan muslim. Sikap tidak suka itu kadang-kadang tidak rasional.

Apabila memahami secara lebih baik sejarah kebudayaan, relasi kontinuitas dan diskontinuitas antar budaya, inovasi pemaknaan dan spiritualitas di balik tradisi penutup kepala itu, barangkali prasangka-prasangka dan kebencian antar komunitas itu bisa berkurang banyak dan bersikap lebih santai terhadapnya.

Membongkar prasangka antar komunitas agama, memang membutuhkan keluasan wawasan lintas disiplin, namun yang paling utama adalah pendidikan kritis.

Sebagai catatan, akhir-akhir ini semakin sering dijumpai kaum perempuan kristen/katolik yang mengenakan penutup kepala ketika beribadah dan bertugas khusus di gereja, ketika melayat, atau menengok orang sakit. Ini menarik. Yang penting tidak ada pemaksaan atau larangan sewenang-wenang.

Semoga relasi antar komunitas agama semakin maju dan produktif, lebih santai dengan beragam perbedaan, dan lebih berkomitmen kepada upaya memajukan keadilan dalam semangat pro-eksisten, sebab itulah wujud nyata dari ketakwaan.



Tuesday, February 13, 2018

Belajar dari Muhammad Rasulullah dan Yesus

Setelah peristiwa penyerangan dan teror Gereja Katolik Bedog, Sleman, ada satu peristiwa yang mungkin pantas untuk direnung-renungkan ulang. Peristiwa itu adalah hadirnya Buya Safi’I Maarif. Sangat pantas untuk dicatat, bahwa Buya hadir dan menjumpai dua subyek yang berbeda, yakni menjumpai umat katolik yang sedang menerima musibah, dan menjumpai Suliono, pelaku penyerangan Gereja.

Saat menjumpai umat katolik yang tertimpa musibah dan saat menjumpai Suliono, Buya merasakan kesedihan mendalam. “Saya sangat sedih”, begitu ucap Buya sebagaimana dikutip oleh beberapa media. Ini adalah kesedihan mendalam yang mengalir dari hati dan pikiran seorang pecinta damai. Beliau merasakan kesedihan mendalam menghadapi kenyataan yang merobek-robek kasih sayang antar manusia.

Kehadiran Buya untuk mengunjungi umat katolik dan Suliono ini, mengingatkan saya kepada keteladanan Rasulullah dan Yesus sebagaimana dikisahkan oleh dua tradisi agama, Islam dan Kristen.

Teladan Muhammad
Tradisi Islam mengisahkan bahwa Rasulullah Muhammad, pada suatu saat merasakan ada yang tidak biasa setelah Beliau menjalankan shalat di masjid. Biasanya, setiap keluar dari masjid setelah selesai shalat, Beliau selalu berjumpa dengan seseorang yang meludahi Beliau karena ketidaksukaannya. Beliau lalu bertanya-tanya di manakah orang yang biasanya meludahinya? Maka dengan segera Beliau mendatangi rumah orang itu. Ternyata, orang yang biasa meludahinya itu sedang menderita sakit. Dengan segala kasih sayang, persahabatan, dan kemurahan hati, Rasullullah menjeunguknya, menyapanya, menanyakan keadaannya, dan mendoakannya.  Ini adalah teladan kemurahan hati dan kasih sayang yang tak dapat disangkal oleh siapapun, dari agama manapun. Ini sekaligus merupakan bukti nyata bahwa seseorang yang benar-benar dekat dan bersujud kepada Allah, akan dipenuhi oleh kasih sayang dan kemurahan hati yang tiada terkira. Menggetarkan jiwa siapapun juga. Subhanallah…!

Teladan Yesus
Tradisi Kristen mengisahkan bahwa Yesus, pada suatu saat menjumpai seorang perempuan yang dianggap telah berbuat asusila, dan dikerumuni oleh banyak orang untuk dihukum rajam, dilempari batu. Ketika berada di antara kerumunan itu, Yesus menghentikan mereka. Orang banyak itu protes dan dengan beragam ungkapan mengatakan kepada Yesus bahwa perempuan itu telah berbuat dosa dan harus dilempari batu sampai mati. Yesus tetap berupaya mencegah mereka sampai akhirnya Ia mengatakan,”Barangsiapa di antara kalian merasa tidak memiliki dosa, silakan melemparkan batu pertama kali”. Tak satupun dari antara mereka yang berani melakukannya. Satu demi satu, orang banyak itu pergi meninggalkan perempuan itu. Setelah semuanya pergi, hanya tinggal Yesus dan perempuan itu, Yesus berkata,”Lihatlah, tak ada satupun yang melempari engkau dengan batu. Sekarang, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi”.

Ini juga merupakan tanda kemurahan hati dari seorang manusia yang sangat dekat dengan Allah. Dalam kesempatan lain, Yesus menjelaskan alasan mengapa orang harus bermurah hati dan berkasih sayang kepada sesama. Itu karena “Bapamu yang di surga adalah murah hati”.

Dalam perasaan sedih yang sangat dalam atas robeknya kasih sayang antar manusia yang telah disaksikannya, Buya Syafi’i Maarif mengunjungi Suliyono di Rumah Sakit. Namun, sekaligus, ia juga mengunjunginya dalam kasih sayang dan kemurahan hati yang besar. Ia menyapa Suliyono, menanyakan keadaannya, duduk di dekatnya, barangkali ia juga menjabat tangannya atau menyentuh bahunya, dan “mendengarkannya”. Ia hadir di hadapan Suliyono sebagai bapak, sebagai orangtua yang murah hati dan penuh kasih sayang, meskipun hatinya tercabik-cabik oleh kesedihan mendalam. Ia hadir dalam kesedihan mendalam namun tanpa kemarahan dan dendam. Ini adalah pengalaman jiwa yang sangat sulit dan mendalam. Dengan kasih sayang dan kemurahan hatinya, Buya berupaya menggapai inti terdalam dari hati, pikiran dan kemanusiaan Suliyono sehingga ia bisa mengatakan,”Saya juga membaca tulisan-tulisan Buya”. Ini sebuah proses perjumpaan hati yang tidak mudah dan tidak sederhana.

Seseorang yang mengalami kesedihan mendalam ketika menyaksikan robeknya kasih sayang antar manusia, adalah seseorang yang memiliki ketegasan tentang nilai-nilai dasar dalam hidup. Kesedihan mendalam adalah perasaan tercabik-cabik oleh hancurnya nilai-nilai yang semestinya ditegakkan. Ketika seluruh tubuh dan jiwa menyatakan “saya sangat sedih”, pada saat itu pula ia sedang menyatakan sikap tegas tentang nilai dasar yang semestinya tidak dilanggar, salah satunya kasih sayang.

Dalam refleksi saya, kehadiran Buya Syafi’i ini adalah cerminan dari kehadiran “Bapa yang murah hati”, yang senantiasa mendambakan anaknya yang hilang, kembali lagi dalam pelukan kasih sayangnya. Melihat kehadiran dan kunjungan Buya, saya seperti melihat kehadiran Muhammad Rasulullah dan Yesus sekaligus, kehadiran orang-orang yang dekat kepada Allah, dan menjadi teladan bagi jiwa kemanusiaan kita.

Semoga peristiwa ini, mengingatkan kita untuk segera menghentikan seluruh proses reproduksi phobia (ketakutan tanpa alasan) dan prasangka terhadap kelompok lain yang berbeda. Phobia dan prasangka tak akan menyisakan apapun dalam diri kita kecuali hilangnya rasa hormat dan kasih sayang kepada sesama. Phobia dan prasangka hanya bisa disembuhkan dengan lima langkah: mengenali, mengenali, mengenali, mengenali, dan mengenali yang lain yang berbeda sehingga tumbuh rasa hormat dan kasih sayang.

Semoga Allah, Sang Bapa yang Murah Hati, senantiasa menganugerahkan kesehatan, kebahagiaan, dan rahmat-Nya kepada Buya. Semoga seluruh makhluk bertunduk sujud di hadapan yang Maha Besar dan Murah Hati……Semoga semakin banyak orang kembali ke pangkuan kasih sayang dan kemurahan hati satu sama lain.


(Indro Suprobo)

Wednesday, November 08, 2017

Janganlah berhenti berdoa – Paus Fransiskus

Pernyataan Bapa Fransiskus yang disampaikan melalui tweetter ini tampaknya merujuk kepada sebuah perikop dalam Injil Lukas, yakni Luk 18:1-8. Dalam perikop ini Yesus menegaskan kepada para muridnya untuk selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Melalui perumpamaan tentang hakim yang tidak baik, Yesus hendak mengatakan bahwa jika hakim yang tidak baik saja akhirnya memberikan pembenaran kepada janda yang terus-menerus datang meminta pembelaan haknya supaya ia tidak merasa terganggu, apalagi Bapa yang di surga, pasti akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepadaNya tanpa harus mengulur waktu untuk memberikan pertolongan.

Dalam kehidupan sehari-hari, lebih banyak orang berpandangan bahwa berdoa itu sama dengan menyampaikan permohonan kepada Tuhan dan berharap bahwa Tuhan mengabulkan permohonan itu. Jika permohonan itu dikabulkan, maka itulah yang disebut dengan doa yang berhasil. Sebaliknya, jika permohonan yang disampaikan dalam doa itu tidak dikabulkan atau belum dikabulkan padahal sudah selalu berdoa berkali-kali, lebih banyak orang merasa bahwa doa itu tidak lagi berguna. Dalam situasi yang sangat sulit, lebih-lebih jika situasi sulit itu berlangsung dalam waktu yang lama, di mana tampaknya tidak harapan, orang seringkali cenderung berpandangan bahwa doa itu tidak lagi berguna, karena tak ada harapan bahwa permohonan yang disampaikan itu akan dikabulkan oleh Tuhan.

Di kalangan para mistikus, yakni orang-orang yang secara serius dan tekun mendalami kehidupan spiritual, doa tidak semata-mata dipahami sebagai sarana untuk mengajukan permohonan kepada Tuhan sehingga permohonan yang disampaikan itu pada akhirnya dikabulkan. Bagi para mistikus, doa adalah sebuah latihan rohani, perjuangan dan laku spiritual yang terus-menerus dilakukan, dipelajari, dan dijalankan tanpa pernah berhenti pada apa yang disebut sebagai puncak keberhasilan. Doa adalah latihan rohani yang dinamis, selalu harus diperbaharui, selalu harus dilatihkan dalam ketekunan dan disiplin. Dalam latihan rohani itu, yang pertama-tama dilakukan adalah mengucapkan syukur kepada Tuhan atas seluruh anugerah yang telah diterima sampai dengan detik ini. Anugerah kesehatan, anugerah keindahan pagi, anugerah keluarga yang penuh kasih sayang, anugerah persahabatan, anugerah kesanggupan untuk berbagi dan banyak hal lain. Hal yang kedua yang dilakukan di dalam latihan rohani adalah memohon belas kasih Allah dan pengampunan. Dengan demikian, dua hal di dalam doa adalah syukur dan mohon belas kasih. Dari dua hal ini, sejatinya akan mengalir segala macam karunia dan anugerah dari Allah, termasuk kebeningan hati dan budi yang memungkinkan orang mengetahui apa yang sebaiknya disampaikan sebagai permohonan kepada Allah.

Oleh karena itu, ketika orang mengalami kesulitan untuk berdoa, atau merasa tidak melihat harapan dari sebuah doa, bahkan sama sekali tak memiliki keinginan untuk berdoa, sementara Yesus sendiri berpesan agar tidak kita berdoa tanpa jemu, maka satu-satunya hal penting yang harus dilakukan adalah berdiam diri dan mengucapkan dengan mulut, kata-kata ini: “Tuhan terima kasih…Tuhan terima kasih”. Atau, jika sangat sulit untuk mengucapkan kata terima kasih, maka ucapkanlah “Tuhan kasihanilah kami….Tuhan kasihanilah kami”.

Dalam pengalaman banyak orang yang berhasil mengatasi kesulitan dalam berdoa, doa singkat yang berisi “Tuhan kasihanilah kami” merupakan cara jitu yang sangat membantu agar orang akhirnya tetap dapat berdoa, bahkan dalam situasi paling sulit sekalipun. Lakukanlah doa singkat yang berisi ungkapan “Tuhan kasihanilah kami” itu secara berulang-ulang, terus-menerus dilakukan sepanjang waktu seperti orang yang melakukan dzikir. Pada akhirnya, doa singkat itu, akan mengalirkan daya rohani bagi orang yang melakukannya sehingga budi dan hatinya akan sedikit-demi sedikit terbuka dan sanggup mengalami kehadiran Tuhan yang lembut namun dasyat di dalam jiwanya.

Pesan Yesus agar para muridnya berdoa tanpa jemu, sebenarnya hendak menyatakan bahwa Allah yang adalah Bapa kita, sejatinya tak pernah meninggalkan kita, tak pernah tidak memperhatikan kita karena Ia senantiasa hadir dan dekat di dalam jiwa kita, namun kitalah yang seringkali tak sanggup menyingkapkan selubung yang menghalangi budi dan hati kita untuk merasakan dan mengalami kehadiran Allah Bapa yang sangat dekat itu. Kitalah yang merasa jauh, merasa tanpa kehadiran Allah, merasa putus harapan dan sebagainya.  Dalam latihan rohani, situasi seperti itu disebut sebagai desolasi, yakni situasi tanpa penghiburan.

Pesan Yesus agar kita senantiasa bertekun dalam doa, dengan demikian juga hendak menyatakan bahwa, dalam situasi desolasi, dalam situasi tanpa penghiburan, dalam situasi di mana kita merasa bahwa doa itu tak ada gunanya, hendaklah kita tidak melarikan diri dengan memutus doa, memutus komunikasi dan dialog batin dengan Tuhan. Dalam situasi itu, satu-satunya hal yang tetap harus dilakukan adalah membangun komunikasi terus-menerus dengan Tuhan. Sekali lagi, dalam situasi paling sulit, maka berdoalah “Tuhan kasihanilah kami” secara berulang-ulang, terus-menerus, tanpa kunjung putus. Niscaya, daya-daya rohani yang berupa keheningan batin, keterbukaan, ketundukan kepada Allah, kesadaran akan kebesaran Tuhan dan kekerdilan diri, kesadaran sebagai pribadi yang penuh dosa dan kekurangan namun senantiasa dicintai oleh Tuhan, akan mengalir di dalam diri kita, sehingga kita semakin dapat mendengarkan Tuhan yang berbicara di dalam hati kita dan menuntun kita untuk mengambil keputusan-keputusan yang penting dan perlu di dalam hidup kita.

Salah satu gerakan fisik yang dapat membantu jiwa kita untuk tetap terhubung dengan Tuhan pada saat desolasi atau dalam situasi tanpa penghiburan, adalah bersujud dengan dahi sampai menyentuh tanah, sambil berulang-ulang mengucapkan “Tuhan kasihanilah kami”.

Oleh karena itu, tetaplah bertekun di dalam doa, agar daya-daya rohani itu mengalir dalam diri kita, dan Allah sendiri yang memampukan kita untuk merasakan kehadiranNya, dan merasakan anugerah-anugerah yang dilimpahkan kepada kita secara tak terbatas. Hanya di dalam doa yang tak kunjung putuslah, seluruh pilihan tindakan sosial kita akan dijamin berada dalam berkat Tuhan, sehingga melalui pekerjaan-pekerjaan harian kita, kita dapat semakin dapat mengalirkan berkat Tuhan itu kepada sesama.***


(Indro Suprobo)

Wednesday, October 04, 2017

Kita Semua Memiliki Tanggung Jawab Untuk Melakukan Kebaikan – Paus Fransiskus

Dalam salah satu homilinya di Domus Santa Marta, Bapa Paus Fransiskus menyatakan secara tegas bahwa melakukan kebaikan merupakan prinsip dasar yang menyatukan seluruh manusia, mengatasi segala macam perbedaan ideologi, pandangan maupun agama. Prinsip dasar “melakukan kebaikan” ini akan menciptakan “budaya perjumpaan” yang menjadi pondasi paling kokoh bagi perdamaian.

Dalam kisah Injil Lukas 9:49-50 tertulis demikian:
Yohanes berkata,”Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi namaMu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya,”Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”

Sikap para murid yang menghalangi orang lain untuk berbuat baik dengan alasan bahwa mereka yang berbuat baik itu tidak berasal dari kelompok kita, oleh Bapa Fransiskus dikategorikan sebagai sikap “sedikit intoleran” dan sikap tertutup. Apabila seseorang tidak memiliki dan meyakini kebenaran sebagaimana kita miliki dan yakini, tidak berarti bahwa orang tersebut tidak dapat melakukan kebaikan. Ini adalah pandangan yang keliru. Bahkan orang yang tidak satu pandangan dengan kita, tidak hanya “dapat” melakukan kebaikan, melainkan juga “harus” melakukan kebaikan. Yesus sendiri telah memperluas cara pandang itu bahwa akar dari kesanggupan dan kemungkinan untuk melakukan kebenaran, yang dimiliki oleh semua manusia, adalah proses penciptaan kita sebagai manusia.

“Allah telah menciptakan kita sesuai dengan gambar dan citra-Nya. Kita semua adalah citra Allah, yang melakukan kebaikan. Oleh karena itu di dalam hati kita terdapat perintah dan mandat untuk melakukan kebaikan dan bukan kejahatan. Kita semua memiliki perintah dan mandat itu di dalam hati kita”, kata Bapa Fransiskus.

“Apabila ada seseorang yang mengatakan demikian,’Tetapi dia ini bukan orang Katolik, Bapa. Dia tidak dapat melakukan kebaikan’, maka saya akan menjawabnya,’Ya, dia dapat melakukan kebaikan. Bahkan bukan hanya dapat, melainkan bahwa ia harus melakukan kebaikan. Karena ia memiliki perintah dan mandat di dalam hatinya”, lanjut Bapa Fransiskus.

“Sikap tertutup yang menyatakan bahwa setiap orang yang berada di luar kelompok kita itu tidak dapat melakukan kebaikan, selain merupakan tembok yang membawa kita kepada peperangan, juga merupakan hal yang membawa kita kepada keyakinan keliru bahwa seseorang dapat membunuh orang lain atas nama Tuhan. Dan ini telah kita saksikan dalam perjalanan sejarah umat manusia. Keyakinan bahwa kita dapat membunuh seseorang dalam nama Tuhan adalah sebuah penghujatan kepada Allah sendiri”, lanjut Bapa Fransiskus.

Selanjutnya Bapa Fransiskus menyatakan bahwa Allah telah mengampuni dosa kita semua, setiap orang, tidak pandang bulu apakah ia katolik maupun bukan katolik, apakah ia percaya kepada Tuhan ataukah ia seorang atheis. Semua manusia telah dihapus dosanya oleh Allah tanpa pandang bulu, dan telah diangkat menjadi anak-anak Allah. “Dan kita semua memiliki tanggung jawab untuk melakukan kebaikan. Perintah dan mandat bagi setiap orang untuk melakukan kebaikan ini, saya pikir, merupakan jalan setapak yang indah menuju kepada perdamaian. Apabila kita, masing-masing orang melakukan tanggung jawab kita, jika kita melakukan kebaikan kepada orang lain, sedikit demi sedikit, tahap demi tahap, kita akan bertemu, sehingga kita menciptakan sebuah budaya perjumpaan, yakni sesuatu yang sangat kita butuhkan. Kita harus bertemu dalam upaya melakukan kebaikan. Mereka yang atheis maupun yang percaya, keetika sama-sama melakukan kebaikan sebagaimana diperintahkan dan dimandatkan dalam hati kita melalui proses penciptaan, pada akhirnya akan bertemu.” Kata Bapa Fransiskus.

Di dalam dunia yang semakin harus terbuka terhadap beragam perbedaan dan kemajemukan, orang memang harus percaya kepada prinsip bahwa setiap orang diundang oleh Allah untuk melakukan kebaikan bagi sesama, bagi lingkungan hidup, dan bagi alam raya. Apapun agamanya, apapun ideologinya, semuanya memiliki perintah dan mandat yang sama di dalam hati, yakni melakukan kebaikan. Oleh karena itu, di dalam hidup yang penuh keragaman dan kemajemukan itu, yang paling utama adalah berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan.

Melalui sebuah perikop yang sangat singkat dalam Injil Lukas di atas, kita dapat belajar bahwa Yesus sendiri menegaskan sebuah sikap terbuka dan inklusif bahwa setiap orang dapat melakukan kebaikan, bahkan harus melakukan kebaikan, tanpa harus dibedakan apakah ia merupakan bagian dari kelompok kita atau bukan. Yesus sendiri sudah sejak semula menegaskan penolakan terhadap sikap intoleran para muridnya itu, dan mengajak para murid untuk memperluas cara pandang bahwa setiap orang harus melakukan kebaikan. Seandainya setiap orang mengikuti apa yang ditegaskan oleh Yesus itu, apapun agama dan ideologinya, maka dapat dipastikan akan terciptalah budaya perjumpaan, yang membawa kita kepada cita-cita perdamaian.


(Indro Suprobo)

Wednesday, September 06, 2017

Mengkonsumsi Berita Palsu itu sama saja dengan Mengkonsumsi Kotoran Manusia

Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan sebuah Mingguan berita Katolik Belgia, “Tertio”, Bapa Fransiskus menyampaikan keprihatinannya berkaitan dengan peran media dalam menciptakan opini kepada masyarakat. Menurut Bapa Fransiskus, media komunikasi memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Peluang dan kapasitas untuk membangun sebuah opini di tengah masyarakat, saat ini berada di tangan media. Media dapat membangun opini yang baik maupun opini yang buruk.
Bapa Fransiskus mengatakan bahwa alat-alat komunikasi merupakan alat untuk membangun masyarakat. Di dalam dirinya, sarana komunikasi diciptakan untuk membangun (bukan menghancurkan), untuk saling bertukar dan berbagi (bukan saling merampas), untuk merajut persahabatan (bukan untuk bermusuhan), untuk merangsang kita semua berpikir menggunakan akal budi (bukan untuk menghasut), dan untuk mendidik (bukan untuk menghancurkan karakter). Pada dirinya sendiri, sarana komunikasi itu bersifat positif. Namun karena kita semua yang menggunakan media dan alat komunikasi itu memiliki kecnederungan terhadap dosa, maka media dan alat komunikasi yang kita gunakan itu juga sangat rentan untuk menjadi bahaya bagi kehidupan bersama.

Media memiliki bahaya untuk digunakan sebagai alat untuk membuat fitnah dan melecehkan orang lain, terutama dalam dunia politik. Media juga dapat digunakan sebagai sarana untuk penghinaan. Bapa Fransiskus mengingatkan bahwa setiap orang memiliki hak atas reputasi yang baik, tetapi barangkali di masa lalu, misalnya sepuluh tahun yang lalu, mereka pernah memiliki masalah dengan keadilan atau masalah dalam kehidupan keluarga. Mengungkit kembali persoalan masa lalu seseorang menjadi perbincangan publik merupakan persoalan yang sangat serius dan berbahaya karena hal itu dapat mengakibatkan kehancuran pribadi seseorang.

Di dalam sebuah fitnah, kita berbohong tentang seseorang. Dalam penghinaan, kita mengumbar dokumen masa lalu tentang keburukan orang lain yang memang benar adanya pada masa lalu, namun hal itu sudah dibayar melalui sebuah hukuman penjara atau denda, atau beragam bentuk hukuman lain. Oleh karena itu, tak ada hak sekalipun bagi orang lain untuk mengumbarnya ke hadapan publik. Ini merupakan perbuatan dosa dan berbahaya.

Bapa Fransiskus mengatakan bahwa salah satu hal yang dapat mengakibatkan sebuah kerusakan besar pada media informasi adalah apa yang disebut sebagai disinformasi, yakni sebuah upaya menghadapi situasi apapun namun hanya dengan mengatakan sebagian dari kebenaran, sementara sebagian kebenaran yang lain dihilangkan. Itulah yang disebut sebagai disinformasi. Karena media hanya memberikan separuh dari kebenaran saja dan mengabaikan kebenaran yang lain, maka informasi yang diberikan itu tidak dapat dijadikan sebagai landasan untuk mengambil keputusan serius apapun. Dalam produksi disinformasi itu, media mengarahkan opini masyarakat hanya kepada satu arah dengan mengabaikan bagian lain yang penting dari kebenaran.

Bapa Fransiskus juga menegaskan bahwa memang media itu harus sangat jelas dan transparan, namun jangan sampai media itu menjadi mangsa dari penyakit coprophilia, yakni sebuah penyakit yang intinya selalu ingin menyampaikan skandal atau menyampaikan hal-hal yang buruk, meskipun hal-hal buruk itu memang terjadi dan benar. Apabila orang sudah memiliki kecenderungan yang sedemikian hebat terhadap penyakit coprophagia, maka ini sudah sangat berbahaya dan seumpama orang yang cenderung mengonsumsi kotoran manusia.

Apa yang diprihatinkan oleh Bapa Fransiskus itu memang pantas mendapatkan perhatian serius. Dunia kita lebih membutuhkan kisah-kisah yang membangkitkan energi positif bagi pertumbuhan pribadi, berkembangnya kasih sayang, meluasnya persahabatan, tersebarnya semangat untuk saling berbagi dan saling mendukung, berseminya semangat perdamaian di antara manusia, terjaminnya rasa aman setiap orang untuk menghadirkan dirinya dengan seluruh latar belakang yang dimilikiinya, sehingga pada akhirnya menumbuhkan gaya hidup yang penuh semangat perdamaian dan keadilan. Media dan alat komunikasi memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan tanah subur bagi semua hal itu dengan menyajikan informasi, berita dan kisa-kisah yang positif dan sehat, serta meneguhkan kehidupan bersama.

Salah satu contoh yang baik dapat diteladani dari kaum remaja di Indonesia. Di tengah membanjirnya berita hoax dan ujaran kebencian melalui media sosial, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Sekolah Menengah Atas Kolese Kanisius Jakarta dan Sekolah Menengah Atas Al-Izhar Pondok Labu, Jakarta Selatan, bergandengan tangan untuk bersama-sama mengampanyekan sebuah gerakan di media sosial bertajuk Ragamuda Pluralisme. Para siswa dari SMA Kanisius yang merupakan Yayasan Pendidikan Katolik dan dari SMA Al-Izhar yang merupakan Yayasan Pendidikan Islam di Jakarta, bekerjasama mengajak seluruh anak muda agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu SARA dan sebaliknya justru berupaya menjadi agen yang menyampaikan pesan toleransi, keberagaman, pluralisme, perdamaian dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Kami ingin menunjukkan bahwa meskipun kami berbeda, kami bersama bisa menyuarakan semangat pluralisme,” kata Kevano, ketua OSIS SMA Kolese Kanisius Jakarta. Sementara Indratono dari SMA Al-Izhar menyatakan,”Bahwa kami berbeda itu sudah merupakan fakta, dan justru kami bisa saling memperkaya dalam kerjasama kami ini. Itulah juga yang kami harapkan dengan anak-anak muda yang lain untuk memperkukuh toleransi, menjaga persatuan bangsa di tengah banyaknya konflik di masyarakat.”

Pantas disyukuri bahwa masih ada banyak anak-anak muda yang memiliki pilihan nilai dan komitmen sebagaimana diharapkan oleh Bapa Fransiskus. Anak-anak muda ini memberikan teladan bahwa media komunikasi maupun media sosial perlu memperbesar peran dalam membangun opini yang positif di tengah masyarakat agar menumbuhkan perdamaian, belarasa, kasing sayang, saling hormat, dan solidaritas. Mengonsumsi dan memproduksi informasi yang sehat akan melahirkan pribadi-pribadi yang sehat dan penuh martabat. ***


(Indro Suprobo)

Thursday, August 24, 2017

Teruslah Berbuat Baik Kepada Siapapun – Paus Fransiskus

Pernyataan ini merupakan salah satu pernyataan yang disampaikan oleh Paus Fransiskus melalui tweetter. Tak ada keterangan lebih lanjut mengenai pernyataannya itu. Oleh karena itu, penulis berupaya menggali konteks yang melingkupinya dan membantu untuk memahami pernyataan itu secara lebih baik dan lebih mendalam.

Salah satu konteks yang tampaknya cocok dengan pernyataan Bapa Suci itu adalah sebuah perikop di dalam Kitab Suci, yakni Injil Lukas 6:27-36. Perikop ini diberi judul “Kasihilah Musuhmu”. Dalam perikop ini, Yesus menyampaikan pesan kepada para murid untuk bermurah hati, sama seperti Bapa adalah murah hati. Kemurahan hati itu diharapkan menjadi nilai fundamental dan karakter dasar bagi setiap orang yang mengikuti Yesus. Nilai fundamental dan karakter dasar ini ditegaskan oleh Yesus dalam pernyataan,”Jika kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jika kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.” (Luk 6:32-33).

Secara lebih positip dan apresiatif, Yesus mengajak para muridnya untuk menunjukkan kemurahan hati itu dalam tindakan nyata yang progresif dengan mengatakan,”Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu murah hati”. (Luk 6:35-36)

Kemurahan hati yang diajarkan oleh Yesus dalam wujudnya yang paling konkret dan progresif yaitu mengasihi musuh, kiranya merupakan langkah radikal untuk memutus rantai permusuhan dan pertentangan, memutus rantai konflik dan dendam, dan menjadi jembatan yang kokoh bagi upaya membangun perdamaian. Kemurahan hati akan mampu menjadi jalan untuk mengubah dunia, yakni perubahan dari dunia yang penuh konflik, peperangan, dan penderitaan menuju kepada dunia yang dipenuhi oleh kasih sayang, pemahaman, perdamaian dan kebahagiaan dalam syukur dan hormat antar manusia.

Di dalam konteks masyarakat Indonesia yang berbhinneka, majemuk dan sangat kaya dengan perbedaan, tidak jarang ditemukan gesekan, tidak sambungnya komunikasi, prasangka bahkan pertentangan yang menimbulkan trauma maupun stigma terhadap mereka yang berbeda. Salah satu cara memperbaiki relasi buruk itu adalah dengan terus-menerus membangun jembatan komunikasi dan dialog yang tiada putus. Nilai fundamental dan karakter dasar yang sangat dibutuhkan untuk memiliki kesanggupan membangun jembatan komunikasi dan dialog tanpa putus itu adalah kemurahan hati. Kemurahan hat, ketika telah menjadi pilihan tindakan yang konkret, akan jauh melampaui apa yang disebut sebagai toleransi. Kemurahan hati adalah sebuah langkah keluar, menjangkau orang lain yang barangkali sangat berbeda, bahkan yang secara nyata telah menunjukkan sikap dan perilaku memusuhi, yakni dengan mengampuni mereka, memahami segala faktor yang mempengaruhi mengapa mereka bertindak demikian, lalu dengan penuh kesabaran menghadirkan kebaikan-kebaikan tulus kepada mereka sambil terus-menerus membuka jembatan untuk saling memahami dan membongkar prasangka, dan lebih dari itu, sanggup, ikhlas dan berani untuk membela mereka ketika hak-hak dasar mereka sebagai manusia mengalami bahaya perampasan. Secara sosial-kultural, kemurahan hati itu terwujud dalam sikap pro-eksistensi.

Sejarah sosial agama-agama pada masa lalu telah mewariskan teladan yang luar biasa berkaitan dengan kemurahan hati ini. Kemurahan hati yang diajarkan dan diteladankan oleh Yesus dan menjadi inspirasi bagi Bapa Fransiskus, ternyata tidak ekslusif merupakan ajaran kristiani, melainkan merupakan ajaran dasar semua orang beriman yang merendahkan diri dan tunduk kepada Allah, Bapa semua orang. Kemurahan hati hanya dapat mengalir di dalam diri mereka yang sungguh-sungguh menundukkan diri di hadapan Allah dan mensyukuri seluruh anugerah Allah yang diberikan tanpa syarat dan tanpa batas, dan dengan ikhlas melakukan segala kebaikan kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan sebagaimana Allah sendiri telah memberikan kebaikan kepada dirinya dan kepada semua orang.

Semoga kemurahan hati itu tumbuh di dalam hati setiap orang di jaman ini, dan menjadi daya untuk mengubah dunia menuju kepada kehidupan yang lebih diwarnai oleh perdamaian, persahabatan dan saling hormat.***

August 24, 2017

(Indro Suprobo)

Saturday, July 01, 2017

Hidup adalah Perjalanan, Jika berhenti, kita akan menghadapi persoalan besar – Paus Fransiskus

Di hadapan para Kardinal di dalam kapel Sistina, Roma, dalam homilinya yang pertama kali setelah terpilih sebagai Paus, Bapa Fransiskus menegaskan bahwa hidup adalah perjalanan. Oleh karena itu, sebagai Umat Allah yang berada dalam perjalanan, Gereja perlu terus-menerus berubah dan memperbaharui diri. Homili Bapa Suci ini dilandasi oleh bacaan kitab suci dari Kisah Para Rasul 2:1-11 yang dibacakan pada Hari Raya Pentakosta.

Kisah Para Rasul 2;1-11 itu menceritakan bagaimana para murid dipenuhi oleh Roh Kudus dan sanggup berkata-kata dalam beragama bahasa namun semuanya dapat memahaminya dalam bahasa masing-masing. Penulis Kisah mengajak para pembaca untuk kembali ke Yerusalem di mana para murid sedang berkumpul. Hal pertama yang pantas diperhatikan adalah adanya suara yang tiba-tiba datang dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh ruangan di mana para murid sedang berkumpul. Hal kedua adalah lidah-lidah seperti nyala api yang hinggap pada diri para murid. Suara dan lidah seperti nyala api adalah tanda yang nyata dan jelas yang menyentuh diri para Rasul bukan hanya dari luar melainkan juga dari dalam hati dan pikiran mereka, sehingga mereka mengalami situasi penuh dengan Roh Kudus dan menimbulkan daya luar biasa dalam diri para murid serta menimbulkan konsekuensi yang tak bisa disangkal, yakni mereka semua dapat berbicara dalam banyak bahasa. Akibat lanjutnya, orang banyak yang berasal dari beragam daerah itu berkumpul di sekitar mereka dan dapat saling memahami bahasa yang mereka gunakan. Ini menunjukkan bahwa semua orang itu mengalami sesuatu yang baru dalam diri mereka, yang belum pernah mereka alami sebelumnya.

Dari kisah Para Rasul ini, Bapa Fransiskus merefleksikan tiga hal penting berkaitan dengan karya Roh Kudus, yaitu kebaharuan, harmoni, dan perutusan.

Sesuatu yang baru pada umumnya menimbulkan rasa takut dan khawatir dalam diri kita. Kebaharuan itu seolah memaksa kita untuk keluar dari zona nyaman yang telah terbangun dan berada dalam kontrol kita. Dalam hidup beriman, di mana kita mengikuti panggilan Tuhan, seringkali kita juga membatasi diri pada hal-hal yang sudah aman dan pasti. Kita takut untuk bersikap terbuka dan sungguh-sungguh percaya kepada tuntunan Tuhan, akibatnya seringkali kita tidak terbuka kepada kebaharuan yang ditunjukkan oleh Tuhan melalui Roh Kudus yang menuntun dan membimbing kita untuk mengambil pilihan dan keputusan baru dalam pejalanan hidup. Kita seringkali merasa takut ketika Tuhan mengajak kita untuk mengambil lintasan jalan baru yang berbeda dan meninggalkan jalan lama dengan segala perspektif kita yang sempit, tertutup dan mementingkan diri sendiri. Kita sering mengalami kesulitan dan ketakutan untuk senantiasa terbuka dan sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, serta mengandalkan pertolongan-Nya. Kita musti berani belajar dari sejarah iman kita bahwa pada saat Tuhan hadir dan menyatakan diri-Nya, Ia selalu membawa kebaharuan dan menuntut kepercayaan kita yang penuh kepada-Nya. Nabi Nuh telah berani meninggalkan semuanya, membangun bahtera dan percaya kepada Tuhan sehingga ia diselamatkan. Abraham berani meninggalkan tanah asalnya dan mengandalkan janji Tuhan. Musa berani meninggalkan Mesir dan bersama Tuhan menuju kepada pengalaman pembebasan. Dan para rasul sendiri yang berani meninggalkan ketakutan mereka untuk keluar dan memberikan kesaksian tentang kabar gembira kepada banyak orang. Kita tak perlu merasa takut karena kebaharuan yang dianugerahkan oleh Tuhan itu akan membawa kepenuhan dan kebahagiaan sejati bagi kita, sebab Tuhan sungguh-sungguh mengasihi kita.

Hal kedua, beragam karunia dan karisma yang berbeda dalam kehidupan Gereja, tak perlu menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan karena itu merupakan karya Roh Kudus, dan oleh Roh Kudus pula, segala macam karunia dan perbedaan itu disatukan dalam harmoni, karena Roh Kudus sendiri pada hakekatnya adalah harmoni, yang menyatukan. Harmoni dan kesatuan itu bukanlah penyeragaman. Karya Roh Kudus menghasilkan beragam karunia dan kharisma yang berbeda dalam Gereja, namun Roh Kudus pula yang menyatukan semuanya itu, namun tidak menyeragamkan dan tidak menciptakan standarisasi. Apabila kita sungguh-sungguh dipimpin dan dipenuhi oleh Roh Kudus, segala keanekaragaman, perbedaan, pluralitas, dan perbedaan, tak akan pernah menjadi sumber pertentangan. Jika kita dapat berjalan bersama sebagai komunio dalam seluruh perbedaan karunia dan kharisma yang sangat kaya itu, itu merupakan tanda nyata bahwa kita berjalan di dalam tuntunan Roh Kudus. Maka sangatlah penting bagi kita untuk senantiasa terbuka kepada Roh Kudus yang sanggup menyatukan kita dalam perbedaan.

Yang ketiga, Roh Kudus adalah jiwa dari perutusan kita. Pengalaman Pentakosta yang terjadi di Yerusalem adalah pengalaman awal yang terus-menerus terjadi sampai dengan hari ini di dalam pengalaman hidup kita. Pengalaman Pentakosta bukanlah pengalaman yang jauh di Yerusalem sana, melainkan pengalaman yang sangat dekat dan berada dalam hati dan budi kita. Yesus pernah berkata,Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya (Yoh 14:16). Ia, Penolong yang lain itu, yakni Roh Kebenaran, akan menganugerahkan keberanian kepada kita untuk terus berjalan di tengah dunia ini dan memberitakan kabar gembira.

Oleh karena itu, seluruh hidup kita adalah sebuah perjalanan, yang harus terus-menerus dilalui dalam keterbukaan dan keberanian, karena kita percaya bahwa Roh Kudus menyertai kita selamanya, menuntun kita, dan menyediakan kebaharuan. Di dalam dan bersama Roh Kudus, seluruh perjalanan kita akan menjadi perjalanan untuk memberikan kesaksian tentang kabar gembira, tentang perjumpaan kita dengan kristus, perjalanan yang selalu terbuka dan mengarah kepada kebaharuan, serta senantiasa ditandai oleh harmoni dan persatuan meskipun dipenuhi oleh begitu banyak perbedaan dan pluralitas.

Perjalanan adalah sebuah seni, maka janganlah terburu-buru supaya tidak mudah lelah. Perjalanan itu sendiri selalu mengandung resiko lelah dan sulit, maka hadapilah. Jangan takut jika suatu saat kita keliru atau terjatuh. Yang paling penting dalam seni perjalanan untuk bertemu Tuhan bukanlah tanpa bersalah atau tanpa jatuh, melainkan jangan pernah takut untuk senantiasa bangkit kembali dan melanjutkan perjalanan.***

(Indro Suprobo)

Saturday, June 10, 2017

Kesanggupan untuk Mendengarkan adalah Landasan Utama bagi Perdamaian


Seperti hari-hari Minggu biasanya, pada tengah hari sebelum menjalankan doa Malaikat Tuhan bersama dengan umat beriman yang hadir di lapangan Santo Petrus, Bapa Fransiskus menyampaikan refleksi atas bacaan Injil pada hari itu, yakni tentang kisah Yesus yang mengunjungi Maria dan Marta dan tentang bagaimana masing-masing perempuan itu memilih cara menyambut kehadiran Yesus. Maria memilih duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkan dia, sementara Marta sibuk dengan banyak urusan rumah tangga untuk menerima Yesus. Marta bertanya kepada Yesus,”Tuan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah ia membantu aku.” Tetapi Yesus menjawabnya,”Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu, Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Luk 10:38-42).

Dalam refleksinya, Bapa Fransiskus menjelaskan bahwa dengan menyibukkan dirinya, Marta telah menanggung resiko melupakan kehadiran tamunya, yakni Yesus sendiri. Menurut Bapa Fransiskus, inilah masalah utamanya. Yang paling utama dalam menyambut kehadiran tamu bukanlah melakukan banyak hal lain seperti melayani, memberi makan, merawat dan sebagainya, melainkan mendengarkan tamu itu. Ketika ada tamu yang hadir, ia perlu disambut sebagai pribadi, lengkap dengan seluruh sejarah dan keunikan dirinya sehingga tamu itu merasa betah berada di rumah itu di tengah-tengah keluarga. Ketika tamu itu diterima dengan sepenuh hati dan didengarkan, ia akan merasa diterima sebagai pribadi yang bermartabat. Dalam bahasa Jawa, istilah yang tepat adalah “diuwongke”. Namun jika tamu itu dibiarkan duduk sendirian sementara kita sibuk dengan banyak hal lain, maka satu sama lain kita akan berada dalam situasi diam, tanpa komunikasi. Bisa jadi sang tamu akan merasa tidak nyaman dan seolah-olah dianggap sebagai batu.

Jawaban yang diberikan oleh Yesus kepada Marta bahwa hanya ada satu hal saja yang perlu, mendapatkan maknanya yang paling penuh ketika mengacu kepada Sabda Yesus sendiri, yakni Firman yang mencerahkan dan menopang seluruh keberadaan kita serta semua yang kita kerjakan. Bapa Paus memberikan contoh,”apabila kita berdoa di hadapan salib, lalu kita berbicara dan terus menerus berbicara, lalu setelah itu kita segera pergi, dengan demikian kita sama sekali tidak mendengarkan Yesus. Kita tak memberikan kesempatan bagi Yesus sendiri untuk berbicara kepada hati kita. Kata kunci yang tidak boleh kita lupakan adalah bahwa sebelum menjadi Tuan dan Guru, Yesus yang hadir di rumah Maria dan Marta, pertama-tama adalah Yesus yang hadir sebagai peziarah dan tamu. Oleh karna itu, jawaban Yesus kepada Marta merupakan hal yang sangat penting. Ketika Yesus hadir sebagai tamu, tak ada hal lain yang lebih penting untuk dilakukan kecuali menerima dia dan mendengarkan dia. Janganlah terlalu sibuk dengan banyak hal lain sehingga kita justru melupakan kehadiran sang tamu. Mendengarkan Dia, merupakan sebuah wujud dari persaudaraan yang membuat sang tamu merasa nyaman serta menjadi bagian dari anggota keluarga, dan bukan hanya sebagai orang yang menginap sementara.

Dalam pemahaman demikian ini, keramahtamahan, yang merupakan salah satu karya belas kasih, dapat dimengerti sebagai sebuah kebajikan yang sungguh-sungguh manusiawi sekaligus kristiani. Dalam dunia sekarang ini, kebajikan semacam ini, sangat rentan untuk dikesampingkan begitu saja. Memang, ada banyak sekali rumah-rumah penginapan untuk menerima tamu, namun di tempat-tempat itu, orang tidak selalu dapat menemukan keramahtamahan yang sejati. Banyak lembaga didirikan untuk membantu beragam jenis penyakit, kesepian, dan keterpinggiran, namun semakin sedikit peluang bagi seorang asing atau orang yang terpinggirkan untuk menemukan orang yang sungguh-sungguh mau mendengarkan dia, mendengarkan kisah hidupnya yang penuh derita. Bahkan dalam sebuah keluarga, di antara anggota keluarga sendiripun, semakin sulit untuk menemukan pengalaman didengarkan dan diterima.

Dalam kehidupan saat ini, banyak orang terlalu sibuk dan terperangkap oleh banyak sekali urusan, bahkan seringkali urusan-urusan yang tidak penting. Kesibukan dan kekawatiran terhadap bayak hal seringkali membuat orang kehilangan ruang untuk sekedar diam, heniing, mendengarkan diri sendiri, mendengarkan orang lain, serta mendengarkan Tuhan. Kesiapsediaan dan kesanggupan untuk mendengarkan memang harus dilatihkan. Menyediakan waktu untuk “silentium” atau untuk hening setiap hari, merupakan latihan yang sangat berharga. Kebiasaan untuk hening, akan membantu orang untuk melatih diri menyediakan ruang bagi yang lain, menyediakan ruang untuk sanggup mendengarkan pasangan maupun anak-anak dalam keluarga, untuk mendengarkan pengalaman orang lain yang berbeda latar belakang dengan diri kita sendiri. Kesanggupan untuk mendengarkan, adalah kesanggupan untuk menerima orang lain apa adanya dengan segala keunikan dan sejarah hidupnya. Dengan demikian, kesanggupan untuk mendengarkan orang lain adalah kesanggupan untuk menciptakan perdamaian di dalam batin sehingga lebih mampu menerima orang lain dalam seluruh martabat hidup yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya.

Henry J.M. Nouwen dalam buku Menggapai Kematangan Hidup Rohani, menyatakan bahwa kesanggupan untuk mendengarkan adalah kesanggupan untuk menyediakan ruang yang ramah di dalam batin sehingga orang lain dapat hadir secara nyaman dan penuh damai. Dengan lain kata, kesanggupan untuk mendengarkan adalah sebuah hospitalitas atau keramahtamahan. Hanya dengan keramahtamahan, seorang pribadi dapat membangun perdamaian sejak di dalam batinnya. Di dalam batinnya tak ada ruang bagi sebuah perasaan terancam meskipun yang hadir itu adalah orang lain yang sangat berbeda dengan dirinya. Itulah tanda lahirnya perdamaian yang hakiki.


(Indro Suprobo)

Tuesday, June 06, 2017

Kita musti berdoa agar meraih kemenangan melalui perdamaian, bukan melalui peperangan

Dalam sebuah perayaan ekaristi untuk mengukuhkan (kanonisasi) tujuh orang suci baru di Basilika Santo Petrus, Bapa Fransiskus menyatakan,”Kita berdoa bukan untuk berlindung di sebuah dunia yang ideal, juga bukan untuk melarikan diri ke dalam ketenangan yang semu dan penuh cinta diri. Sebaliknya, kita berdoa untuk berjuang, dan juga untuk membiarkan Roh Kudus berdoa di dalam diri kita. Karena Roh Kuduslah yang mengajari kita untuk berdoa. Ia menuntun kita dalam doa dan membuat kita sanggup berdoa sebagai anak-anak Bapa”.

Menurut Bapa Fransiskus, santo dan santa adalah orang-orang yang sungguh-sungguh berani menyelami misteri doa. Mereka adalah laki-laki maupun perempuan yang berjuang dengan doa dan membiarkan Roh Kudus berdoa serta berjuang di dalam diri mereka. Mereka berjuang sampai titik akhir, dengan segala daya mereka, sampai akhirnyua mereka mencapai kemenangan. Namun kemenangan itu bukan karena usaha mereka sendiri, melainkan karena kemenangan Tuhan yang ada di dalam diri mereka dan bersama dengan mereka. Oleh karena itu, tujuh orang suci yang pada hari itu dikukuhkan sebagai santo dan santa, juga telah melaksanakan perjuangan iman dan cinta melalui doa-doa mereka. “Itulah sebabnya mengapa mereka tetap kuat di dalam iman, disertai dengan ketabahan dan kemurahan hati”. Melalui teladan para santo dan santa itu, Bapa Fransiskus juga berharap semoga Tuhan juga memberi daya dan kekuatan kepada kita agar menjadi pribadi-pribadi pendoa. Bapa Fransiskus mengajak kita semua untuk setiap saat berseru kepada Tuhan, baik siang maupun malam. Bapa Suci berharap kita semua sanggup menyediakan ruang dalam batin kita dan membiarkan Roh Kudus sendiri berdoa di dalam diri kita, saling mendukung satu sama lain di dalam doa, agar kita semua tetap tegar sampai pada akhirnya, rahmat dan belas kasih Allah sendiri mencapai kemenangan.

Menjadi manusia pendoa bukanlah sebuah kewajiban, melainkan sebuah gaya hidup yang dipilih dan ditekuni hari-demi hari, saat demi saat. Menjadi manusia pendoa membutuhkan latihan, ketekunan, pembiasaan dan disiplin. Dalam suatu kesempatan, Ibu Theresa pernah berpesan,”Berdoalah, justru pada saat dirimu merasa sulit untuk berdoa”. Ini merupakan pesan mendasar bagi kita untuk berlatih tegar dan tekun.

Karena berdoa bukanlah sebuah upaya untuk berlindung di sebuah dunia yang ideal, atau untuk melarikan diri ke dalam sebuah ketenangan yang semu, maka berdoa pada dasarnya dapat dilakukan kapanpun dan di manapun, serta dalam kondisi seperti apapun. Di antara kesibukan kerja, sekolah, di pasar, di tengah keramaian, dalam kerumunan, saat berdiri di depan teras rumah sambil memandang tanaman, di kebun, saat mengerjakan sawah, saat melakukan jogging, dalam perjalanan dan sebagainya. Yang paling utama dari sebuah doa adalah kehendak hati untuk hening lalu menyampaikan sesuatu kepada Tuhan serta, jangan lupa, membiarkan Roh Kudus berbicara dan berdoa dalam diri kita.
Meskipun demikian, dalam hidup kita, ada saat-saat yang dapat disebut sebagai waktu terbaik untuk membiarkan diri masuk ke dalam doa. Waktu-waktu terbaik itu telah dipilih sebagai kebiasaan oleh banyak agama. Saudara-saudari muslim memiliki lima waktu terbaik yang telah menjadi tradisi dan dikenal dengan shalat lima waktu. Tradisi kuno agama kristen dan sampai saat ini masih dijalankan di beberapa biara, memiliki kebiasaan doa brevir tujuh waktu dalam sehari dengan pilihan waktu yang hampir sama dengan tradisi saudara-saudari Muslim. Namun demikian, paling tidak ada tiga waktu terbaik yang sebaiknya dimanfaatkan sebagai waktu hening, supaya batin kita terlatih menjadi manusia pendoa. Tiga waktu hening itu adalah pagi hari sebelum matahari terbit (saat subuh dalam tradisi muslim), tengah hari (saat doa angelus dalam tradisi kristen atau saat dhuhur dalam tradisi muslim), serta sore hari setelah matahari terbenam (saat maghrib dalam tradisi muslim). Waktu-waktu itu akan membantu kita untuk melatih diri dan membiasakan diri menjadi manusia pendoa sehingga, tanpa harus diingat-ingat, diri kita akan memiliki kesadaran praktis (kesadaran yang spontan) untuk melakukan hening dan berdoa pada waktu-waktu itu, seumpama sebuah kebutuhan mendasar yang akhirnya menjadi gaya hidup. Melaluinya, kita akan terbiasa untuk senantiasa berjuang di dalam doa dan membiarkan Roh Kudus berdoa di dalam diri kita dan bersama kita, sehingga kita dapat mencapai kemenangan di dalam Tuhan.

Doa yang mengalir dari batin kita setiap saat, akan menjadi kekuatan untuk memilih cara-cara yang damai dalam mengupayakan kehidupan bersama. Manusia pendoa adalah manusia yang selalu berhasil meraih kedamaian di dalam batinnya dan kedamaian itu mengalir dalam seluruh pikiran, ucapan dan tindakan sehari-hari menyangkut banyak hal dalam kehidupan, tanpa kontradiksi. Seumpama sebuah bejana, manusia akan mencipratkan apapun yang di dalamnya. Jika bejana itu berisi air jernih, maka air jernih itulah yang akan terciprat dari dalamnya. Jika bejana itu berisi air keruh, maka air keruh itu pula yang terciprat dari dalamnya. Maka jika batin manusia itu berisi kedamaian, maka kedamaian itu pulalah yang terciprat dari dalamnya. Kedamaian itu akan mengalir ke dalam pikiran, ucapan maupun tindakan, baik dari sisi cara maupun isinya.  

Karena bukan merupakan pelarian diri ke dalam ketenangan semu, maka doa sekaligus merupakan sebuah pergulatan batin manusia dalam keprihatinan-keprihatinan sosial. Tidak mengherankan jika, ketika melakukan doa angelus di siang hari, Bapa Fransikus mengajak seluruh umat beriman yang hadir untuk berdoa bagi upaya melawan kemiskinan dunia. “Marilah kita menyatukan segala kekuatan moral dan ekonomi untuk berjuang melawan kemiskinan, yang telah merendahkan dan membunuh begitu banyak saudara dan saudari kita, melalui pelaksanaan kebijakan yang serius tentang keluarga dan kaum pekerja”. Karena menurut Bapa Suci, setiap orang memiliki hak atas standard hidup  yang layak bagi kesehatan dan kebaikan dirinya maupun keluarganya. “Marilah kita mempercayakan seluruh intensi doa kepada Perawan Maria, terutama doa-doa tulus dan terus-menerus demi perdamaian”, kata Bapa Fransiskus menutup doanya.


(Indro Suprobo)

Tuesday, December 27, 2016

Damai Sejak dalam Pikiran:

Merayakan Natal dalam Kemajemukan

oleh Indro Suprobo


Sebuah perikop singkat dan padat yang memberikan landasan inspiratif dan produktif bagi upaya membangun perdamaian dalam keragaman dan perbedaan adalah kisah tentang seorang yang bukan pengikut Yesus mengusir setan (Luk 9:49-50 atau paralelnya Mrk 9:38-40). Perikop singkat itu berbunyi demikian:

Yohanes berkata:”Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi namaMu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya:”Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”

Pernyataan Yesus ini sangat mendasar dan dasyat. Di dalamnya terkandung sebuah cara berpikir positip tentang orang atau kelompok lain. Semua orang yang mendaku sebagai murid-Nya, semestinya berpikir secara positip dan meninggalkan segala bentuk prasangka maupun stigma terhadap orang lain yang berbeda. Secara sangat gamblang, Yesus menegaskan sebuah prinsip dasar dalam membangun relasi dengan kelompok yang berbeda, yakni damailah sejak dalam pikiran!

Damai yang bersemayam sejak dalam pikiran, akan mengalir ke dalam sikap dan tindakan relasional dengan siapapun, juga dengan mereka yang “bukan pengikut kita”. Damai sejak dalam pikiran, menandakan tersedianya ruang luas dan ramah di dalam batin seseorang, ruang yang siap untuk menerima kehadiran orang lain secara terhormat. Ini merupakan kesanggupan untuk menemukan sesuatu yang bernilai, yang terhormat, yang baik, yang suci dan yang membangkitkan syukur di dalam diri orang lain. Inilah prinsip dasar yang dasyat dan inspiratif yang dapat dipelajari dari pernyataan Yesus.

Dalam perjalanan sejarah Gereja, melalui Konsili Vatikan II, prinsip ini secara sangat bagus dirumuskan di dalam pernyataan Nostra Aetate, yakni pernyataan tentang hubungan Gereja dengan Agama-agama bukan Kristen.

....Gereja Katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar Kebenaran, yang menerangi semua orang....” (Nostra Aetate, Artikel 2).

Dalam prinsip dasar yang dasyat itu, pernyataan “mengusir setan demi nama-Mu” pantas dimaknai secara lebih luas dan esensial sebagai pernyataan tentang “beragam tindakan nyata mengupayakan kebaikan, keluhuran, kebenaran dan kesucian yang selaras dengan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Yesus”, meskipun dilakukan oleh mereka yang secara formal-institusional tergolong “bukan pengikut kita”. Pemaknaan ini akan lebih sanggup membantu dan mendorong setiap orang untuk masuk ke dalam inti spiritualitas “memperjuangkan kesucian dan keluhuran manusia serta seluruh ciptaan” yang dilakukan melalui beragam tradisi keagamaan dan kepercayaan.

Dengan demikian, semoga perayaan Natal dapat dimaknai sebagai ungkapan syukur atas anugerah kehadiran Yesus, sang Guru, Junjungan, Teladan, dan Jalan Kehidupan yang telah memberikan landasan inspiratif, tegas dan dasyat tentang prinsip berdamai sejak dalam pikiran. Semoga murid-murid Yesus semakin sanggup menghadirkan damai sejak dari dalam dirinya, dan meluber ke dalam sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan yang serba majemuk. ***

Artikel dimuat dalam Majalah Cor Unum Edisi Desember 2016

Tuesday, May 26, 2015

Paus: bagaimana Gereja akan berubah



Dialog antara Paus Fransiskus dan pendiri La Repubblica, Eugenio Scalfari: “Dimulai dari Konsili Vatikan Kedua, terbuka kepada kebudayaan moderen”. Ini merupakan sebuah percakapan di Vatikan setelah Paus mengirim surat kepada harian Repubblika berjudul: “Membuat Anda bertobat (menjadi Katolik)? Memaksa orang berpindah agama (kristenisasi, islamisasi dsb, -red) adalah sebuah omong kosong saja. Anda harus bertemu dengan orang lain dan mendengarkan mereka.”  


Paus Fransiskus mengatakan kepada saya: “Kejahatan paling serius yang melanda dunia akhir-akhir ini adalah pengangguran kaum muda dan kesepian para lansia. Para lansia membutuhkan perhatian dan persahabatan; kaum muda membutuhkan pekerjaan dan harapan namun keduanya tak didapatkan, dan persoalannya adalah bahwa mereka bahkan tak mencarinya lagi. Mereka telah hancur oleh kekinian (atau mereka telah hancur sekarang?). Anda mengatakan kepada saya: dapatkah Anda menanggung kehancuran di dalam beratnya beban masa kini? Tanpa kenangan akan masa lalu dan tanpa hasrat untuk memandang masa depan dengan membangun sesuatu, sebuah masa depan, sebuah keluarga? bisakah Anda hidup dengan cara demikian? Bagi saya, ini merupakan masalah yang paling penting yang sedang dihadapi oleh Gereja.”

Bapa Suci, saya katakan, itu merupakan persoalan politik dan ekonomi bagi banyak negara, pemerintah, partai politik, dan persatuan dagang.
“Ya, Anda benar, namun itu juga merupakan keprihatinan Gereja, sesungguhnya, secara khusus menjadi keprihatinan Gereja karena situasi ini tidak hanya melukai tubuh tetapi juga melukai jiwa. Gereja harus merasa bertanggung jawab atas jiwa maupun badan.”

Bapa Suci, Anda mengatakan bahwa Gereja harus merasa bertanggung jawab. Bolehkah saya simpulkan bahwa Gereja tidak menyadari persoalan ini dan bahwa Anda akan membawa Gereja ke arah ini?
“Untuk sebagian besar, kesadaran itu ada, namun belum cukup. Saya ingin agar kesadaran itu lebih besar. Ini memang bukan satu-satunya masalah yang kita hadapi, namun ini merupakan masalah yang paling mendesak dan dramatis.”

Perjumpaan dengan Paus Fransiskus itu terjadi pada hari Selasa yang lalu di kediaman beliau di Santa Marta, di sebuah ruangan sederhana dengan sebuah meja dan lima atau enam kursi serta sebuah lukisan yang terpasang di dinding. Hal itu diawali oleh sebuah panggilan telepon yang tak pernah akan terlupakan sepanjang hidup saya.

Saat itu jam setengah tiga sore. Telepon saya berdering dan dengan nada suara yang bergetar sekretaris saya memberitahu saya: “Paus menelepon, saya akan menyambungkannya segera.”

Saya masih tertegun ketika mendengar suara Bapa Suci di ujung telepon yang mengatakan,”Hallo, ini Paus Fransiskus.” “Hallo Bapa Suci”, jawab saya lalu, “Saya kaget saya tidak mengira Anda menelepon saya.” “Mengapa Anda kaget? Anda menulis surat untuk saya dan menanyakan untuk bertemu langsung secara pribadi. Saya punya keinginan yang sama, jadi saya menelpon untuk memastikan pertemuan itu. Sebentar saya lihat agenda saya: Saya tidak bisa betemu pada hari Rabu, atau Senin, apakah Anda bisa pada hari Selasa?”

Saya jawab, saya bisa.

“Waktunya sedikit tanggung, jam tiga sore, apakah oke? Kalau tidak bisa, kita cari hari lain.” “Bapa Suci, baiklah tentang waktu, saya setuju.” “Jadi kita sepakat ya: hari Selasa, tanggal 24, jam 3 sore. Di Santa Marta. Anda harus melalui pintu di Santo Uffizio.”

Saya tidak tahu bagaimana harus mengakhiri telepon ini dan membiarkan diri saya pergi, sambil mengatakan: “Bolehkah saya memeluk Anda melalui telepon ini?” “Tentu saja, pelukan hangat dari saya juga. lalu kita akan melakukannya secara pribadi nanti, sampai jumpa.”

Akhirnya saya di sini. Bapa Suci datang dan menjabat tangan saya, lalu kami duduk bersama. Bapa Suci tersenyum dan berkata: “Beberapa teman saya yang mengenal Anda mengatakan kepada saya bahwa Anda akan berusaha untuk membuat saya bertobat.”

Ini hanya lelucon, saya berkata kepada Bapa Suci. Teman-teman saya mengira bahwa Bapa Sucilah yang akan mempertobatkan saya.
Bapa Suci tersenyum lagi dan menjawab: “Memaksa orang berpindah agama adalah sungguh-sungguh sebuah omong kosong., itu tidak masuk akal. Kita butuh untuk saling mengenal, saling mendengarkan dan meningkatkan pemahaman kita terhadap dunia di sekitar kita. Kadang-kadang setelah terjadi sebuah pertemuan, saya ingin bertemu sekali lagi karena sebuah gagasan baru telah muncul dan saya menemukan kebutuhan yang baru. Ini penting: mengenal orang lain, mendengarkan, memperluas lingkaran gagasan. Dunia ini dipenuhi oleh persilangan jalan yang saling mendekat maupun saling menjauh, namun hal yang penting adalah bahwa semua jalan itu mengarah kepada Kebaikan.”

Bapa Suci, adakah visi tunggal tentang Kebaikan? Dan siapakah yang memutuskan hal itu?
“Masing-masing dari kita memiliki sebuah cara padang tentang yang baik dan yang jahat. Kita harus mendorong semua orang untuk maju menuju apa yang mereka pandang sebagai Yang Baik.”

Bapa Suci, Anda telah menulisnya dalam surat kepada saya. Hati nurani itu otonom, kata Anda, dan setiap orang harus mengikuti hati nuraninya. Saya pikir ini merupakan langkah paling berani yang dilakukan oleh seorang Paus.
“Dan saya mengulanginya lagi sekarang. Setiap orang memiliki gagasan sendiri tentang yang baik dan yang jahat dan harus memilih untuk mengikuti yang baik dan melawan yang jahat sebagaimana ia mengerti. Itu sudah cukup untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.”

Apakah Gereja melakukannya?
“Ya, itu tujuan dari perutusan kami: untuk mengetahui kebutuhan material dan immaterial manusia dan berusaha untuk memenuhinya semampu kami. Apakah Anda tahu apa itu agape?”

Ya saya mengerti
“Yakni mencintai yang lain, seperti diajarkan oleh Tuhan kita. Bukan memaksa orang berpindah agama, melainkan mencintai. Mencintai sesama, itulah adonan (dari aneka macam cara pandang) yang menjadi kebaikan bersama.

Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.
"Tepat, begitu."

Yesus dalam kotbahnya mengatakan bahwa agape, mencintai yang lain, merupakan satu-satunya jalan untuk mencintai Allah. Maaf jika saya keliru.
“Anda tidak keliru. Anak Allah berinkarnasi untuk menumbuhkan rasa persaudaraan di dalam jiwa manusia. Semuanya adalah saudara dan semuanya adalah anak Allah. Abba, begitu ia menyebut Bapa. Aku akan menunjukkan kepadamu jalan, kata Yesus. Ikutilah Aku dan kamu akan menemukan Bapa itu dan kamu semua akan menjadi anak-anakNya dan Ia akan memberikan kegembiraan kepadamu. Agape, saling mencintai di antara kita, dari yang paling dekat sampai yang paling jauh, sebenarnya merupakan satu-satunya cara/jalan yang diberikan Yesus kepada kita untuk menemukan jalan keselamatan dan jalan Kebahagiaan.”

Namun, seperti kita katakan, Yesus mengatakan kepada kita bahwa mencintai sesama itu sama dengan apa yang harus kita lakukan bagi diri kita sendiri. Kalau begitu, sebagaimana disebut oleh banyak orang sebagai narsisme dipahami sebagai benar, positip, sebagaimana mencintai yang lain. kita telah banyak membicarakan aspek ini.
“Saya tidak menyukai istilah narsisme”, kata Paus,”ini menunjukkan sebuah cinta yang berlebihan terhadap diri sendiri dan itu tidak baik, itu bisa menimbulkan kerusakan yang serius bukan hanya bagi jiwa mereka yang menyandangnya melainkan juga bagi relasi dengan orang lain, dengan masyarakat dimana orang itu hidup. Masalah yang paling nyata adalah bahwa mereka yang mengalaminya – yang sebenarnya merupakan sejenis kekacauan mental – adalah justru orang-orang yang memiliki banyak kekuasaan. Seringkali, mereka yang menjadi bos justru orang-orang yang narsis”.

Banyak pemimpin Gereja justru demikian.
 “Anda tahu apa yang saya pikirkan tentang hal ini? Para pemimpin Gereja seringkali menjadi narsis, merasa tersanjung dan senang dengan kedudukan/jabatan mereka. Jabatan adalah kusta bagi kepausan.”

Kusta bagi Kepausan, ini merupakan kata-kata beliau yang jelas. Tetapi apa itu jabatan? Barangkali ia menyinggung soal kuria?
 “Tidak, kadang-kadang ada kedudukan/jabatan dalam kuria, tetapi kuria secara keseluruhan adalah hal yang lain. ini adalah apa yang di dalam dunia tentara disebut sebagai kantor Intendan (pusat komando), yang mengatur pelayanan yang melayani Tahta Suci. Namun ia mempunyai satu cacat: yakni Vatikan-sentris. Ia melihat dan mencari kepentingan Vatikan, yang untuk sebagian besar masih merupakan kepentingan temporal. Pandangan Vatikan-sentris ini mengabaikan dunia di sekitar kita. Saya tidak menggunakan cara pandang ini dan saya akan melakukan semua yang dapat saya lakukan untuk mengubahnya. Gereja harus kembali menjadi Gereja umat Allah, dan para imam, para pastor, dan para uskup yang merawat jiwa-jiwa, adalah para pelayan umat Allah itu. Inilah Gereja, istilah yang secara tak mengherankan berbeda dari Tahta Suci, yang memiliki fungsinya sendiri, penting tetapi merupakan pelayan Gereja. Saya tidak akan pernah memiliki iman yang lengkap kepada Allah dan kepada anak-Nya seandainya saya tidak pernah dididik di dalam Gereja, seandainya saya tidak mendapatkan nasib baik dengan hidup di Argentina, di sebuah komunitas yang tanpanya saya tak akan pernah mampu menyadari diri saya sendiri dan iman saya.”

Apakah anda mendapatkan panggilan pada usia muda?
 “Tidak, tidak terlalu muda. Keluarga saya mengharapkan saya memiliki profesi yang lain, bekerja, mendapatkan uang. Saya masuk universitas. Saya juga memiliki seorang guru yang sangat saya hormati dan saya bersahabat dengannya yang sekaligus merupakan seorang komunis yang taat. Dia sering membacakan teks Partai Komunis untuk saya dan memberikanya kepada saya agar saya membacanya. Maka saya juga memahami konsepsi yang sangat materialistik itu. Saya ingat bahwa ia juga memberi saya pernyataan dari seorang komunis amerika untuk membela Rosenbergs, yang telah dijatuhi hukuman mati. Perempuan yang sedang saya bicarakan ini kemudian ditangkap, disiksa dan dibunuh oleh kediktatoran yang kemudian berkuasa di Argentina.”

Pada bagian mana Anda tergoda oleh Komunisme?
“Materialismenya tidak mengungkung saya. Namun mempelajarinya melalui orang yang berani dan jujur sangatlah membantu. Saya menyadari bberapa hal, sebuah aspek dari dunia sosial yang kemudian saya temukan di dalam ajaran sosial Gereja.”

Teologi Pembebasan, yang diekskounikasi oleh Paus Yohanes Paulus II, tersebar luas di Amerika Latin.
 “Ya, kebanyakan anggotanya adalah orang-orang Argentina.”

Menurut Anda apakah benar bahwa Paus melawan mereka?
“Tentu itu memberikan aspek politis bagi teologi mereka, namun sebagian besar dari mereka adalah kaum beriman dan memiliki konsep yang unggul tentang kemanusiaan.”

Bapa Suci, bolehkan saya menceritakan tentang latar belakang kultural saya sendiri? Saya dibesarkan oleh seorang ibu yang sangat katolik. Pada umur 12 saya menjuarai lomba katekismus yang diselenggarakan oleh seluruh paroki di Roma dan saya mendapatkan hadiah dari Vikaris. Saya menerima komuni pada hari Jumat pertama setiap bulan, dengan kata lain, saya menjalankan kekatolikan dan sungguh-sungguh beriman. Namun semua itu berubah ketika saya masuk SMU. Di antara naskah-naskah filsafat yang kami pelajari, saya membaca tulisan Descartes “Discourse on Method” dan saya dikejutkan oleh sebuah frase, yang sekarang telah menjadi ikon,”Saya berpikir, maka saya ada.” Dengan demikian individu menjadi landasan bagi keberadaan manusia, tahta bagi pikiran bebas.
“Namun, Descartes tak pernah menolak iman terhadap Allah yang transenden.”

Memang benar, namun ia meletakkan dasar bagi sebuah cara pandang yang sangat berbeda dan saya mengikuti jalan itu, yang kemudian, didukung oleh hal-hal lain yang saya baca, yang mengantar saya ke tempat yang sangat berbeda.
“Sejauh saya pahami, bagaimanapun Anda adalah bukan orang beriman namun bukan yang anti-klerikal. Dua hal itu sangatlah berbeda.”

Memang benar, saya bukan anti-klirikal, namun saya menjadi begitu ketika saya menjumpai seorang klerikalis.
Ia tersenyum dan mengatakan,”Saya juga begitu, ketika bertemu dengan seorang yang klerikalis, saya tiba-tiba berubah menjadi anti-klerikal. Klerikalisme sebaiknya tidak dikaitkan dengan Kekristenan. Santo paulus, orang yang pertama kali berbicara kepada bangsa-bangsa lain, kepada penganut keyakinan suku, kepada orang beriman dari agama lain, adalah orang pertama yang mengajarkan hal itu.”

Bolehkah saya bertanya, Bapa Suci, siapakah orang suci yang Anda rasakan paling dekat dengan jiwa Anda, yang membentuk pengalaman religius Anda?
“Santo Paulus adalah orang yang meletakkan batu penjuru bagi agama dan keyakinan kita. Anda tidak dapat menjadi orang Kristen yang sadar tanpa Santo Paulus. Ia menerjemahkan ajaran-ajaran Kristus ke dalam struktur ajaran yang, bahkan dengan tambahan sejumlah pemikir, teolog dan pastor, yang telah menolaknya dan masih terus bertahan sampai dua ribu tahun. Lalu muncullah Agustinus, Benediktus dan Thomas serta Ignasius. Dan Fransiskus tentu saja. Apakah saya perlu menjelaskan mengapa?”

Fransiskus – saya sengaja memanggilnya demikian karena Paus sendiri yang menyarankannya melalui cara bicaranya, senyumnya, dengan ungkapan-ungkapan terkejut dan pemahamannya – memandang saya seolah-olah mendorong saya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bahkan menghebohkan dan memalukan bagi mereka yang memimpin Gereja. Maka saya bertanya kepadanya: Anda telah menjelaskan pentingnya Paulus dan peran yang ia jalankan, namun saya ingin mengetahui dari antara yang Anda sebutkan itu mana yang lebih dekat dengan jiwa Anda?
 “Anda meminta saya untuk membuat ranking, tetapi klasifikasi itu cocok untuk dunia olah raga atau hal-hal lain semacam itu. Saya bisa menyebutkan nama dari pemain sepakbola terbaik di Argentina. Namun untuk orang kudus….”

Mereka menceritakan hal-hal lucu bersama para penjahat, Anda mengetahui peribahasa itu?
“Tepat sekali. Tetapi saya tidak sedang berusaha menghindari pertanyaan Anda, karena Anda tidak meminta saya untuk membuat ranking atas pentingnya pengaruh mereka secara kultural dan religius melainkan menyebutkan siapa yang paling dekat dengan jiwa saya. Maka saya akan mengatakan:
Agustinus dan Fransiskus.”

Bukan Ignasius, dari Ordo Anda?
“Untuk alasan yang dapat dipahami, Ignasius adalah santo yang saya kenal secara lebih baik daripada yang lain. Ia mendirikan Ordo kami. Saya ingin mengingatkan Anda bahwa Carlo Maria Martini juga berasal dari Ordo itu, seseorang yang sangat berharga bagi saya dan bagi Anda juga. Para Jesuit adalah dan masih merupakan ragi – memang bukan satu-satunya namun barangkali yang paling efektif – dalam Agama Katolik: kebudayaan, pengajaran, karya misioner, ketaatan kepada Paus. Namun Ignasius yang mendirikan Serikat, adalah juga seorang pembaharu dan seorang mistikus. Terutama ia adalah mistikus.”

Dan Anda berpendapat bahwa para mistikus telah menjadi hal yang penting bagi Gereja?
“Mereka sangat penting. Agama tanpa mistik hanyalah sebuah filsafat.”

Apakah Anda memiliki sebua panggilan mistik?
 “Menurutmu bagaimana?”

Saya tidak berpikir begitu
“Anda mungkin benar. Saya mencintai para mistikus; Fransiskus juga demikian dalam banyak aspek hidupnya, namun saya tidak menganggap bahwa saya memiliki panggilan, maka kita perlu memahami arti terdalam dari istilah itu. Seorang mistikus melepaskan dirinya dari tindakan, fakta, tujuan dan bahkan perutusan pastoral dan terus meningkat sampai ia mencapai kesatuan dengan Kebahagiaan. Saat yang singkat namun memenuhi seluruh hidup.”

Apakah itu pernah terjadi pada diri Anda?
“Jarang. Misalnya, ketika konklav memilih saya menjadi Paus. Sebelum saya menerimanya, saya meminta ijin untuk memanfaatkan waktu sebentar di ruang sebelah dengan balkon yang menghadap ke halaman. Kepala saya terasa kosong dan saya disergap oleh kecemasan yang besar. Untuk melepaskannya dan relaks saya menutup mata dan membiarkan semua pikiran hilang, bahkan pikiran tentang menolak posisi itu, sebagaimana dimugkinkan oleh prosedur liturgi. Saya menutup mata dan tak lagi merasakan kecemasan atau emosi tertentu. Pada saat tertentu saya dipenuhi oleh cahaya yang sangat terang. Itu berlangsung sekejap, namun bagi saya itu terasa sangat lama. Kemudian cahaya itu memudar, saya segera bangun dan berjalan menuju ruangan di mana para kardinal menunggu dan dimana terdapat meja untuk menyatakan penerimaan. Saya menandatanganinya, kardinal Camerlengo bersama-sama menandatanganinya dan kemudian di atas balkon terdengar “Kita memiliki Paus”.

Sesaat kami terdiam, lalu saya mengatakan: kita telah berbicara tentang orang kudus yang Anda rasakan paling dengan dengan jiwa Anda dan kita masih menyisakan Agustinus. Sudikah Anda bercerita mengapa Anda merasa sangat dekat dengannya?
“Bahkan bagi para pendahulu saya, Agustinus merupakan acuan penting. Santo ini telah melalui banyak perubahan di dalam hidupnya dan beberapa kali mengubah posisi ajarannya. Ia juga pernah berkata-kata kasar kepada kaum Yahudi, dan saya tidak mengikutinya. Ia menulis banyak buku dan apa yang saya pikir merupakan yang paling menonjol dari intimitas intelektual dan spiritualnya adalah buku “Pengakuan Agustinus”, yang juga berisi beberapa ungkapan mistik, namun sebagaimana banyak pendapat lain, ia bukanlah kelanjutan dari Paulus. Sungguh, dia melihat Gereja dan iman dengan cara yang sangat berbeda dengan Paulus, barangkali jaman mereka berdua berbeda kira-kira empat abad.

Apa yang menjadi perbedaan, Bapa Suci?
“Bagi saya perbedaan itu terletak pada dua aspek mendasar. Agustinus merasa tak berdaya di hadapan kebesaran Allah dan tugas-tugas yang harus diemban oleh seorang Kristen dan seorang Uskup.  Dalam kenyataannya itu tidak berarti bahwa dia lemah, namun dia merasa bahwa jiwanya selalu kekurangan dan menginginkan serta membutuhkan untuk seperti itu. Lalu rahmat itu dianugerahkan oleh Tuhan sebagai elemen paling dasar dari iman. Dari hidup. Dari arti kehidupan. Seseorang yang tak tak tersentuh oleh rahmat barangkali akan menjadi orang yang tak punya rasa tercela atau rasa takut, sebagaimana mereka katakan, namun ia tak akan pernah menjadi seseorang yang tersentuh rahmat. Inilah insight yang diberikan oleh Agustinus.”

Apakah Anda merasa tersentuh oleh rahmat?
“Tak seorangpun dapat mengetahuinya. Rahmat itu bukan bagian dari kesadaran, ini merupakan cahaya di dalam jiwa kita, bukan pengetahuan maupun akal. Bahkan Anda, tanpa mengetahuinya, mungkin saja tersentuh oleh rahmat.”

Tanpa iman? Meskipun bukan orang beriman?
“Rahmat itu berkaitan dengan jiwa.”

Saya tidak percaya akan jiwa
“Anda tidak mempercayainya tetapi Anda memilikinya.”

Bapa Suci, Anda mengatakan bahwa Anda tidak memiliki keinginan untuk berupaya mempertobatkan saya dan saya tidak berpikir bahwa Anda akan berhasil.
“Kita tak sanggup mengetahuinya, namun saya tak memiliki keinginan semacam itu.”

Dan bagaimana dengan Santo Fransiskus?
“Ia besar karena ia segala-galanya. Ia seorang yang ingin melakukan sesuatu, ingin membangun, ia mendirikan sebuah ordo dan peraturannya, ia seorang peziarah dan seorang misionaris, penyair dan nabi, ia mistikus. Ia menemukan kejahatan di dalam dirinya dan mencabutnya keluar. Ia mencintai alam, binatang, rerumputan di halaman dan burung-burung yang terbang di angkasa. Namun lebih dari semua itu, ia mencintai semua orang, anak-anak, orang lanjut usia, perempuan. Ia merupakan contoh yang paling berkilau dari agape yang kita bicarakan di awal tadi.”

Bapa Suci benar, penggambarannya sempurna. Namun mengapa tak satupun dari pendahulu Anda pernah memilih nama itu? Dan saya percaya tampaknya setelah Anda tak ada orang yang akan memilih nama itu lagi.
“Kita tidak tahu tentang hal itu, sebaiknya kita tidak berspekulasi tentang masa depan. Memang benar, tak seorangpun memilih nama itu sebelum saya. Di sini kita menghadapi persoalan dari persoalan. Apakah Anda ingin minum sesuatu?”
Terima kasih, mungkin air putih saja.
Ia bangun, membuka pintu dan meminta tolong seseorang di pintu masuk untuk membawakan dua gelas air putih. Ia bertanya kepada saya apakah saya menginginkan kopi, saya jawab tidak. Air minumnya tiba. Pada akhir perbincangan kami, gelas saya akan kosong, namun gelasnya akan tetap penuh. Ia berdehem lalu mulai bicara.
“Fransiskus menginginkan sebuah ordo pengemis dan pengembara. Para misionaris yang berkehendak untuk bertemu, mendengarkan, berbicara, menolong, untuk menyebarkan iman dan kasih. Terutama kasih. Dania memimpikan Gereja kaum miskin yang memperhatikan orang lain, menerima bantuan material dan menggunakannya untuk membantu yang lain, tanpa memikirkan dirinya sendiri. 800 tahun telah berlalu dan sejak itu waktu telah berubah, namun cita-cita tentang misionaris, Gereja yang miskin masih jauh dari kenyataan. Ini masih merupakan Gereja yang dikotbahkan oleh Yesus dan para muridnya.”

Anda umat Kristen saat ini merupakan minoritas. Bahkan di Italia, yang dikenal sebagai halaman belakang Paus. Yang menjalankan agama Katolik, menurut beberapa poling, berkisar antara 8 dan 15 persen. Mereka yang mengatakan diri sebagai Katolik namun  nyatanya tidak menjalankannya kira-kira 20%. Di dunia, ada satu triliun orang Katolik atau lebih, dan bersama dengan gereja Kristen lainnya hanya sebanyak satu setengah triliun, namun populasi seluruh dunia adalah 6 atau 7 triliun orang. Memang ada yang banyak jumlahnya, terutama di Afrika dan Amerika Latin, namun Anda adalah minoritas.
 “Memang demikian tetapi persoalannya saat ini bukanlah hal itu. Secara personal saya berpikir bahwa menjadi minoritas sesungguhnya merupakan sebuah kekuatan. Kita harus menjadi ragi bagi kehidupan dan kasih dan ragi semestinya lebih sedikit daripada keseluruhan buah, bunga dan pohon yang tumbuh dari situ. Saya percaya telah mengatakan bahwa tujuan kita bukanlah untuk membuat orang berpindah agama melainkan untuk mendengarkan kebutuhan, harapan dan kekecewaan, kecemasan dan harapan. Kita harus memperbaiki harapan bagi kaum muda, membantu kaum lansia, terbuka kepada masa depan, menyebarkan kasih. Menjadi miskin di antara kaum miskin. Kami harus merangkul mereka yang terbuang dan mewartakan perdamaian. Vatikan kedua, yang diinspirasi oleh Paus Paulus VI dan Paus Yohanes, memutuskan untuk melihat masa depan dengan roh moderen dan terbuka kepada kebudayaan modern. Para Bapa Konsili mengetahui bahwa menjadi terbuka kepada kebudayaan moderen berarti sebuah ekumenisme religius dan dialog dengan mereka yang bukan umat beriman. Namun setelah itu, baru sedikit yang sudah dilakukan dalam arah itu. Saya memiliki kerendahan hati dan keinginan untuk melakukan sesuatu.”

Juga karena -  saya tambahkan sendiri – masyarakat modern di seluruh dunia sedang menghadapi krisis mendalam, bukan hanya masalah ekonomis melainkan juga masalah sosial dan spiritual. Pada awal perjumpaan kita Anda menggambarkan sebuah generasi yang hancur di bawah beban masa kini. Bahkan kami yang bukan orang beriman merasakan bahwa ini hampir merupakan sebuah beban antropologis. Itulah sebabnya kami ingin berdialog dengan kaum beriman dan mereka yang secara paling baik mewakili umat beriman.
“Saya tidak tahu apakah saya meruakan yang terbaik yang mewaili mereka, namun penyelenggaraan ilahi telah menempatkan saya sebagai pimpinan Gereja dan Keuskupan St. Petrus. Saya akan melakukan semampu saya untuk memenuhi mandat  yang telah dipercayakan kepada saya.”

Yesus, sebagaimana Anda tunjukkan, berkata: Kamu harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri. Menurut Anda apakah ini telah terlaksana?
“Sayangnya, belum. Cinta diri telah berkembang pesat dan kasih terhadap sesama telah menurun drastis.”

Jadi ini merupakan tujuan kita bersama: sekurang-kurangnya menyeimbangkan intensitas kedua jenis cinta ini. Apakah Gereja Anda siap dan sudah dibekali untuk mengemban tugas ini?
“Menurut Anda bagaimana?”

Saya pikir cinta terhadap kekuasaan sementara masih sangat kuat di dalam benteng Vatikan dan di dalam struktur kelembagaan seluruh Gereja. Saya pikir lembaga itulah yang menguasai Gereja yang miskin dan misioner yang Anda inginkan.
“Sesungguhnya, begitulah yang terjadi, dan ini merupakan wilayah di mana Anda tak dapat melakukan mukjizat. Saya ingin mengingatkan Anda bahwa bahkan Fransiskus pada masanya harus bernegosiasi lama sekali dengan hierarki Roma dan Paus agar aturan-aturan ordonya dapat dijalankan. Akhirnya ia mendapatkan persetujuan namun dengan perubahan dan kompromi yang mendalam.”

Apakah Anda akan mengikuti langkah yang sama?
“Saya bukan Fransiskus dari Asisi dan saya tidak memiliki kekuatan dan kekudusan seperti dirinya. Namun saya adalah Uskup Roma dan Paus dari Gereja Katolik dunia. Hal pertama yang saya putuskan adalah menunjuk 8 kardinal untuk menjadi penasehat saya. Bukan para pejabat melainkan orang-orang bijak yang memiliki perasaan yang sama dengan saya. Ini merupakan awal dari sebuah Gereja dengan sebuah organisasi yang bukan hanya top-down melainkan juga horisontal. Ketika Kardinal Martini berbiara tentang fokus kepada konsili dan sinode ia tahu betapa lama dan sulitnya untuk mengarah ke sana. Lembut, tetapi tegas dan gigih.”

Dan politik?
“Mengapa Anda menanyakannya? Saya sudah mengatakan bahwa Gereja tidak berurusan dengan politik.”

Namun baru beberapa hari yang lalu Anda mendorong umat Katolik untuk terlibat secara sipil dan politik.
“Saya tidak hanya mendorong orang Katolik tetapi juga semua orang yang memiliki kehendak baik. Saya mengatakan bahwa politik adalah aktivitas sipil yang paling penting dan memiliki wilayah tindakannya sendiri, yang bukan wilayah agama. Lembaga-lembaga politik secara definisi bersifat sekuler dan bekerja dalam wilayah yang independen. Semua pendahulu saya telah mengatakan hal yang sama, sekurang-kurang selama sekian tahun, meskipun dengan penekanan yang berbeda-beda. Saya percaya bahwa orang Katolik yang terlibat di dalam politik membawa nilai-nilai agama di dalam diri mereka, namun memiliki kesadaran yang matang dan keahlian untuk menerapkannya. Gereja tidak akan pernah melampaui tugasnya yakni menyatakan dan menyebarkan nilai-nilainya, sekurang-kurangnya selama saya berada di sini.”

Tapi itu tidak pernah terjadi dengan Gereja
“Itu hampir tak pernah terjadi. Seringkali Gereja sebagai institusi telah didominasi oleh kepentingan temporal dan banyak anggota serta pemimpin senior Katolik masih merasakan hal itu. Namun sekarang ijinkan saya mengajukan pertanyaan kepada Anda: Anda, sebagai seorang sekuler yang tak percaya kepada Tuhan, apa yang Anda percayai? Anda seorang penulis dan pemikir. Anda percaya kepada sesuatu, Anda semestinya memiliki sebuah nilai utama. Janganlah menjawab pertanyaan saya dengan istilah seperti kejujuran, pencarian, visi tentang kebaikan umum, semua prinsip dan nilai yang penting karena itu bukanlah apa yang sedang saya tanyakan. Saya sedang bertanya menurut Anda apa yang yang paling mendasar dari dunia, bahkan alam semesta. Anda perlu menanyakan diri Anda sendiri, tentu saja, seperti halnya orang lain, siapakah kita ini, darimana kita berasal, ke mana kita akan pergi. Bahkan anak-anak mengajukan pertanyaan ini kepada diri mereka sendiri. Bagaimana dengan Anda?”

Terima kasih atas pertanyaan ini. Jawabannya adalah: saya percaya kepada Ada, yakni kepada jaringan dari mana forma-forma dan badan-badan berasal.
“Dan saya percaya kepada Allah, bukan kepada Allah yang katolik, tidak ada Allah yang katolik, yang ada adalah Allah dan saya percaya kepada Yesus Kristus, inkarnasinya. Yesus adalah guru saya dan gembala saya, tetapi Allah, Bapa, Abba, adalah cahaya dan Pencipta. Inilah Ada yang saya yakini. Apakah menurut Anda kita sangat jauh berbeda?”

Kita berbeda jauh dalam pemikiran, namun mirip sebagai manusia, yang secara taksadar didorong oleh insting-insting kita yang berubah menjadi impuls, perasaan dan kehendak, pikiran dan nalar. Dalam hal-hal ini kita serupa.
“Tetapi dapatkah Anda merumuskan apa yang Anda sebut sebagai Ada?”

Ada adalah sumber energi. Bersifat kaos (kacau) namun merupakan energi yang tak menghancurkan dan merupakan kaos abadi. Bentuk-bentuk muncul dari energi itu ketika ia mencapai titik ledak. Bentuk-betuk itu memiliki hukum-hukumnya sendiri, medan magnetnya sendiri, unsur kimianya sendiri, yang menyatu secara acak, berkembang, dan akhirnya padam namun energinya tidak hancur. Manusia barangkali merupakan satu-satunya binatang yang dianugerahi pikiran, sekurang-kurangnya di planet dan tata surya kita. Saya katakan bahwa ia didorong oleh insting dan hasrat namun sebaiknya saya tambahkan bahwa di dalam dirinya ia juga mengandung resonansi, gema, gaung dari kaos.
“Baiklah. Saya tidak ingin Anda memberikan ringkasan dari filsafat Anda dan apa yang sudah anda katakan tadi sudah cukup bagi saya. Dari sudut pandang saya, Allah adalah cahaya yang menyinari kegelapan, bahkan seandainya ia tidak melenyapkannya, dan berkas cahaya ilahi itu berada dalam diri kita masing-masing. Dalam surat saya menulis untuk Anda, anda tentu ingat ketika saya mengatakan bahwa spesies kita akan berakhir namun cahaya Allah tak akan berakhir dan pada titik itulah ia akan menyusup ke dalam seluruh jiwa dan ia seluruhnya akan berada di dalam setiap orang.”

Ya, saya mengingatnya dengan baik. Anda mengatakan,”Seluruh cahaya akan berada di dalam seluruh jiwa” yang – jika boleh saya katakan – lebih memberikan sebuah gambaran tentang imanensi daripada gambaran tentang transendensi.
"Transendensi tetap bertahan karena cahaya itu, semua di dalam segala, ia melampaui alam semesta dan spesies, ia tinggal pada ranah itu. Namun kembali kepada saat ini. Kita telah melangkah maju dalam dialog kita. Kita telah mengamati bahwa dalam masyarakat dan dunia di mana kita tinggal, cinta diri telah meningkat lebih besar daripada cinta kepada sesama, dan bahwa semua orang yang berkehendak baik harus bekerja, masing-masing dengan kekuatan dan keahliannya, untuk memastikan bahwa cinta kepada sesama itu meningkat sampai pada posisi yang setara dan jika mungkin melebihi cinta kepada diri sendiri.”

Sekali lagi, politik muncul di dalam gambar.
“Tentu saja. Secara pribadi saya pikir apa yang dikenal sebagai liberalisme yang tak terkendali itu hanya membuat mereka yang kuat menjadi semakin kuat dan yang lemah menjadi semakin lemah serta menyingkirkan mereka yang paling terbuang. Kita membutuhkan kebebasan yang besar, bukan diskriminasi, bukan hasutan dan banyak kasih. Kita membutuhkan pedoman tingkah laku dan juga jika perlu, campur tangan langsung dari negara untuk memperbaiki ketidakseimbangan (ketidakadilan) yang keterlaluan dan semakin besar.”

Bapa Suci, Anda sungguh-sungguh seorang pribadi yang beriman, tersentuh oleh rahmat, didorong oleh keinginan untuk menghidupkan kembali Gereja yang pastoral dan minioner yang diperbaharui dan tidak sementara. Namun dari cara Anda berbicara dan dari  apa yang saya pahami, Anda adalah Paus yang revolusioner dan akan menjadi Paus revolusioner. Setengah Jesuit, setengah manusia Fransiskus, sebuah gabungan yang barangkali belum pernah ada sebelumnya. Dan kemudian, Anda menyukai “The Betrothed” karya manzoni, Holderlin, Leopardi dan terutama Dostoevsky, film “La Strada” dan “Prova d’orchestra” karya Fellini, “Open City” karya Rossellini dan juga film karya Aldo Fabrizi.
“Saya menyukainya karena saya menontonnya bersama orangtua saya ketika saya masih kecil.”

Nah itulah Anda. Ijinkan saya menyarankan dua film yang baru saja dirilis? “Viva la liberta” da film tentang Fellini karya Ettore Scola. Saya yakin Anda akan menyukainya.
Kaitannya dengan kekuasaan, kata saya, Anda tahu bahwa ketika berusia 20 tahun saya menghabiskan waktu satu setengah bulan dalam sebuah retret spiritual bersama dengan para Jesuit? Kaum Nazi berada di Roma dan saya telah dipecat dari tugas ketentaraan. Itu bisa dihukum dengan hukuman mati. Para Jesuit menyembunyikan kami dengan syarat kami menjalankan latihan rohani sepanjang waktu sehingga mereka membuat kami tetap tersembunyi.
“Tetapi apakah tidak mungkin menghabiskan satu setengah bulan untuk latihan rohani?” tanya Paus, heran dan geli. Saya akan menceritakan hal itu kepada beliau lain waktu.

Kami berpelukan. Kami menaiki tangga kecil menuju ke pintu. Saya katakan kepada Paus bahwa ia tidak perlu menemani saya tetapi dia menolaknya dengan isyarat tangannya. “Kita juga akan mendiskusikan peran kaum perempuan di dalam Gereja. Ingatlah bahwa Gereja (la chiesa) adalah feminin.”
Dan jika Anda berminat, kita juga dapat berbicara tentang Pascal. Saya ingin mengetahui apa yang Anda pikirkan tentang jiwa besar itu.
“Berkat saya untuk seluruh keluarga Anda dan mintalah mereka untuk mendoakan saya. Ingatlah saya, ingatlah saya lebih sering.”

Kami berjabat tangan dan ia berdiri dengan kedua jarinya yang terangkat memberikan berkat. Saya melambaikan tangan dari jendela. Inilah Paus Fransiskus. Seandainya Gereja menjadi seperti dia dan menjadi seperti apa yang ia harapkan, itu akan menjadi sebuah perubahan pada jaman yang penting.

 (Translated from Italian to English by Kathryn Wallace, terjemahan dari English ke bahasa Indonesia oleh Indro Suprobo)

Sumber asli: http://www.repubblica.it/cultura/2013/10/01/news/pope_s_conversation_with_scalfari_english-67643118/