Dialog antara Paus Fransiskus dan pendiri La
Repubblica, Eugenio Scalfari: “Dimulai dari Konsili Vatikan Kedua, terbuka
kepada kebudayaan moderen”. Ini merupakan sebuah percakapan di Vatikan setelah
Paus mengirim surat kepada harian Repubblika berjudul: “Membuat Anda bertobat
(menjadi Katolik)? Memaksa orang berpindah agama (kristenisasi, islamisasi dsb,
-red) adalah sebuah omong kosong saja. Anda harus bertemu dengan orang lain dan
mendengarkan mereka.”
Paus Fransiskus
mengatakan kepada saya: “Kejahatan paling serius yang melanda dunia akhir-akhir
ini adalah pengangguran kaum muda dan kesepian para lansia. Para lansia
membutuhkan perhatian dan persahabatan; kaum muda membutuhkan pekerjaan dan
harapan namun keduanya tak didapatkan, dan persoalannya adalah bahwa mereka
bahkan tak mencarinya lagi. Mereka telah hancur oleh kekinian (atau mereka
telah hancur sekarang?). Anda mengatakan kepada saya: dapatkah Anda menanggung
kehancuran di dalam beratnya beban masa kini? Tanpa kenangan akan masa lalu dan
tanpa hasrat untuk memandang masa depan dengan membangun sesuatu, sebuah masa
depan, sebuah keluarga? bisakah Anda hidup dengan cara demikian? Bagi saya, ini
merupakan masalah yang paling penting yang sedang dihadapi oleh Gereja.”
Bapa Suci, saya katakan, itu merupakan persoalan politik dan ekonomi
bagi banyak negara, pemerintah, partai politik, dan persatuan dagang.
“Ya, Anda benar, namun itu
juga merupakan keprihatinan Gereja, sesungguhnya, secara khusus menjadi
keprihatinan Gereja karena situasi ini tidak hanya melukai tubuh tetapi juga
melukai jiwa. Gereja harus merasa bertanggung jawab atas jiwa maupun badan.”
Bapa Suci, Anda mengatakan bahwa Gereja harus merasa bertanggung jawab.
Bolehkah saya simpulkan bahwa Gereja tidak menyadari persoalan ini dan bahwa
Anda akan membawa Gereja ke arah ini?
“Untuk sebagian besar,
kesadaran itu ada, namun belum cukup. Saya ingin agar kesadaran itu lebih
besar. Ini memang bukan satu-satunya masalah yang kita hadapi, namun ini
merupakan masalah yang paling mendesak dan dramatis.”
Perjumpaan dengan Paus Fransiskus
itu terjadi pada hari Selasa yang lalu di kediaman beliau di Santa Marta, di
sebuah ruangan sederhana dengan sebuah meja dan lima atau enam kursi serta
sebuah lukisan yang terpasang di dinding. Hal itu diawali oleh sebuah panggilan
telepon yang tak pernah akan terlupakan sepanjang hidup saya.
Saat itu jam setengah tiga sore.
Telepon saya berdering dan dengan nada suara yang bergetar sekretaris saya
memberitahu saya: “Paus menelepon, saya akan menyambungkannya segera.”
Saya masih tertegun ketika
mendengar suara Bapa Suci di ujung telepon yang mengatakan,”Hallo, ini Paus
Fransiskus.” “Hallo Bapa Suci”, jawab saya lalu, “Saya kaget saya tidak mengira
Anda menelepon saya.” “Mengapa Anda kaget? Anda menulis surat untuk saya dan
menanyakan untuk bertemu langsung secara pribadi. Saya punya keinginan yang
sama, jadi saya menelpon untuk memastikan pertemuan itu. Sebentar
saya lihat agenda saya: Saya tidak bisa betemu pada hari Rabu, atau Senin,
apakah Anda bisa pada hari Selasa?”
Saya jawab, saya bisa.
“Waktunya sedikit tanggung, jam
tiga sore, apakah oke? Kalau tidak bisa, kita cari hari lain.” “Bapa Suci,
baiklah tentang waktu, saya setuju.” “Jadi kita sepakat ya: hari Selasa,
tanggal 24, jam 3 sore. Di Santa Marta. Anda harus melalui pintu di Santo Uffizio.”
Saya tidak tahu bagaimana harus
mengakhiri telepon ini dan membiarkan diri saya pergi, sambil mengatakan:
“Bolehkah saya memeluk Anda melalui telepon ini?” “Tentu saja, pelukan hangat dari
saya juga. lalu kita akan melakukannya secara pribadi nanti, sampai jumpa.”
Akhirnya saya di sini. Bapa Suci
datang dan menjabat tangan saya, lalu kami duduk bersama. Bapa Suci tersenyum
dan berkata: “Beberapa teman saya yang mengenal Anda mengatakan kepada saya
bahwa Anda akan berusaha untuk membuat saya bertobat.”
Ini hanya lelucon, saya berkata kepada Bapa Suci. Teman-teman saya
mengira bahwa Bapa Sucilah yang akan mempertobatkan saya.
Bapa Suci tersenyum lagi dan
menjawab: “Memaksa orang berpindah agama adalah sungguh-sungguh sebuah omong
kosong., itu tidak masuk akal. Kita butuh untuk saling mengenal, saling
mendengarkan dan meningkatkan pemahaman kita terhadap dunia di sekitar kita.
Kadang-kadang setelah terjadi sebuah pertemuan, saya ingin bertemu sekali lagi
karena sebuah gagasan baru telah muncul dan saya menemukan kebutuhan yang baru.
Ini penting: mengenal orang lain, mendengarkan, memperluas lingkaran gagasan.
Dunia ini dipenuhi oleh persilangan jalan yang saling mendekat maupun saling
menjauh, namun hal yang penting adalah bahwa semua jalan itu mengarah kepada
Kebaikan.”
Bapa Suci, adakah visi tunggal tentang Kebaikan? Dan siapakah yang
memutuskan hal itu?
“Masing-masing dari kita
memiliki sebuah cara padang tentang yang baik dan yang jahat. Kita harus
mendorong semua orang untuk maju menuju apa yang mereka pandang sebagai Yang
Baik.”
Bapa Suci, Anda telah menulisnya dalam surat kepada saya. Hati nurani
itu otonom, kata Anda, dan setiap orang harus mengikuti hati nuraninya. Saya pikir
ini merupakan langkah paling berani yang dilakukan oleh seorang Paus.
“Dan saya mengulanginya lagi
sekarang. Setiap orang memiliki gagasan sendiri tentang yang baik dan yang
jahat dan harus memilih untuk mengikuti yang baik dan melawan yang jahat
sebagaimana ia mengerti. Itu sudah cukup untuk membuat dunia menjadi tempat
yang lebih baik.”
Apakah Gereja melakukannya?
“Ya, itu tujuan dari perutusan
kami: untuk mengetahui kebutuhan material dan immaterial manusia dan berusaha
untuk memenuhinya semampu kami. Apakah Anda tahu apa itu agape?”
Ya saya mengerti
“Yakni mencintai yang lain,
seperti diajarkan oleh Tuhan kita. Bukan memaksa orang berpindah agama,
melainkan mencintai. Mencintai sesama, itulah adonan (dari aneka macam cara
pandang) yang menjadi kebaikan bersama.
Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.
"Tepat,
begitu."
Yesus dalam kotbahnya mengatakan bahwa agape, mencintai yang lain,
merupakan satu-satunya jalan untuk mencintai Allah. Maaf jika saya keliru.
“Anda tidak keliru. Anak Allah
berinkarnasi untuk menumbuhkan rasa persaudaraan di dalam jiwa manusia.
Semuanya adalah saudara dan semuanya adalah anak Allah. Abba, begitu ia
menyebut Bapa. Aku akan menunjukkan kepadamu jalan, kata Yesus. Ikutilah Aku
dan kamu akan menemukan Bapa itu dan kamu semua akan menjadi anak-anakNya dan
Ia akan memberikan kegembiraan kepadamu. Agape, saling mencintai di antara
kita, dari yang paling dekat sampai yang paling jauh, sebenarnya merupakan
satu-satunya cara/jalan yang diberikan Yesus kepada kita untuk menemukan jalan keselamatan
dan jalan Kebahagiaan.”
Namun, seperti kita katakan, Yesus mengatakan kepada kita bahwa
mencintai sesama itu sama dengan apa yang harus kita lakukan bagi diri kita
sendiri. Kalau begitu, sebagaimana disebut oleh banyak orang sebagai narsisme dipahami
sebagai benar, positip, sebagaimana mencintai yang lain. kita telah banyak
membicarakan aspek ini.
“Saya tidak menyukai istilah
narsisme”, kata Paus,”ini menunjukkan sebuah cinta yang berlebihan terhadap
diri sendiri dan itu tidak baik, itu bisa menimbulkan kerusakan yang serius
bukan hanya bagi jiwa mereka yang menyandangnya melainkan juga bagi relasi
dengan orang lain, dengan masyarakat dimana orang itu hidup. Masalah yang
paling nyata adalah bahwa mereka yang mengalaminya – yang sebenarnya merupakan
sejenis kekacauan mental – adalah justru orang-orang yang memiliki banyak
kekuasaan. Seringkali, mereka yang menjadi bos justru orang-orang yang narsis”.
Banyak pemimpin Gereja justru demikian.
“Anda tahu apa yang saya pikirkan tentang hal
ini? Para pemimpin Gereja seringkali menjadi narsis, merasa tersanjung dan
senang dengan kedudukan/jabatan mereka. Jabatan adalah kusta bagi kepausan.”
Kusta bagi Kepausan, ini merupakan kata-kata beliau yang jelas. Tetapi
apa itu jabatan? Barangkali ia menyinggung soal kuria?
“Tidak, kadang-kadang ada kedudukan/jabatan
dalam kuria, tetapi kuria secara keseluruhan adalah hal yang lain. ini adalah
apa yang di dalam dunia tentara disebut sebagai kantor Intendan (pusat
komando), yang mengatur pelayanan yang melayani Tahta Suci. Namun ia mempunyai
satu cacat: yakni Vatikan-sentris. Ia melihat dan mencari kepentingan Vatikan,
yang untuk sebagian besar masih merupakan kepentingan temporal. Pandangan
Vatikan-sentris ini mengabaikan dunia di sekitar kita. Saya tidak menggunakan
cara pandang ini dan saya akan melakukan semua yang dapat saya lakukan untuk
mengubahnya. Gereja harus kembali menjadi Gereja umat Allah, dan para imam,
para pastor, dan para uskup yang merawat jiwa-jiwa, adalah para pelayan umat
Allah itu. Inilah Gereja, istilah yang secara tak mengherankan berbeda dari
Tahta Suci, yang memiliki fungsinya sendiri, penting tetapi merupakan pelayan
Gereja. Saya tidak akan pernah memiliki iman yang lengkap kepada Allah dan
kepada anak-Nya seandainya saya tidak pernah dididik di dalam Gereja,
seandainya saya tidak mendapatkan nasib baik dengan hidup di Argentina, di
sebuah komunitas yang tanpanya saya tak akan pernah mampu menyadari diri saya
sendiri dan iman saya.”
Apakah anda mendapatkan panggilan pada usia muda?
“Tidak, tidak terlalu muda. Keluarga saya
mengharapkan saya memiliki profesi yang lain, bekerja, mendapatkan uang. Saya
masuk universitas. Saya juga memiliki seorang guru yang sangat saya hormati dan
saya bersahabat dengannya yang sekaligus merupakan seorang komunis yang taat.
Dia sering membacakan teks Partai Komunis untuk saya dan memberikanya kepada
saya agar saya membacanya. Maka saya juga memahami konsepsi yang sangat
materialistik itu. Saya ingat bahwa ia juga memberi saya pernyataan dari
seorang komunis amerika untuk membela Rosenbergs, yang telah dijatuhi hukuman
mati. Perempuan yang sedang saya bicarakan ini kemudian ditangkap, disiksa dan
dibunuh oleh kediktatoran yang kemudian berkuasa di Argentina.”
Pada bagian mana Anda tergoda oleh Komunisme?
“Materialismenya tidak
mengungkung saya. Namun mempelajarinya melalui orang yang berani dan jujur
sangatlah membantu. Saya menyadari bberapa hal, sebuah aspek dari dunia sosial
yang kemudian saya temukan di dalam ajaran sosial Gereja.”
Teologi Pembebasan, yang diekskounikasi oleh Paus Yohanes Paulus II,
tersebar luas di Amerika Latin.
“Ya, kebanyakan anggotanya adalah orang-orang
Argentina.”
Menurut Anda apakah benar bahwa Paus melawan mereka?
“Tentu itu memberikan aspek
politis bagi teologi mereka, namun sebagian besar dari mereka adalah kaum
beriman dan memiliki konsep yang unggul tentang kemanusiaan.”
Bapa Suci, bolehkan saya menceritakan tentang latar belakang kultural
saya sendiri? Saya dibesarkan oleh seorang ibu yang sangat katolik. Pada umur
12 saya menjuarai lomba katekismus yang diselenggarakan oleh seluruh paroki di
Roma dan saya mendapatkan hadiah dari Vikaris. Saya menerima komuni pada hari
Jumat pertama setiap bulan, dengan kata lain, saya menjalankan kekatolikan dan
sungguh-sungguh beriman. Namun semua itu berubah ketika saya masuk SMU. Di
antara naskah-naskah filsafat yang kami pelajari, saya membaca tulisan
Descartes “Discourse on Method” dan saya dikejutkan oleh sebuah frase, yang
sekarang telah menjadi ikon,”Saya berpikir, maka saya ada.” Dengan demikian
individu menjadi landasan bagi keberadaan manusia, tahta bagi pikiran bebas.
“Namun, Descartes tak pernah
menolak iman terhadap Allah yang transenden.”
Memang benar, namun ia meletakkan dasar bagi sebuah cara pandang yang
sangat berbeda dan saya mengikuti jalan itu, yang kemudian, didukung oleh
hal-hal lain yang saya baca, yang mengantar saya ke tempat yang sangat berbeda.
“Sejauh saya pahami,
bagaimanapun Anda adalah bukan orang beriman namun bukan yang anti-klerikal. Dua
hal itu sangatlah berbeda.”
Memang benar, saya bukan anti-klirikal, namun saya menjadi begitu ketika
saya menjumpai seorang klerikalis.
Ia tersenyum dan
mengatakan,”Saya juga begitu, ketika bertemu dengan seorang yang klerikalis,
saya tiba-tiba berubah menjadi anti-klerikal. Klerikalisme sebaiknya tidak
dikaitkan dengan Kekristenan. Santo paulus, orang yang pertama kali berbicara
kepada bangsa-bangsa lain, kepada penganut keyakinan suku, kepada orang beriman
dari agama lain, adalah orang pertama yang mengajarkan hal itu.”
Bolehkah saya bertanya, Bapa Suci, siapakah orang suci yang Anda rasakan
paling dekat dengan jiwa Anda, yang membentuk pengalaman religius Anda?
“Santo Paulus adalah orang
yang meletakkan batu penjuru bagi agama dan keyakinan kita. Anda tidak dapat
menjadi orang Kristen yang sadar tanpa Santo Paulus. Ia menerjemahkan
ajaran-ajaran Kristus ke dalam struktur ajaran yang, bahkan dengan tambahan
sejumlah pemikir, teolog dan pastor, yang telah menolaknya dan masih terus
bertahan sampai dua ribu tahun. Lalu muncullah Agustinus, Benediktus dan Thomas
serta Ignasius. Dan Fransiskus tentu saja. Apakah saya perlu menjelaskan
mengapa?”
Fransiskus – saya sengaja
memanggilnya demikian karena Paus sendiri yang menyarankannya melalui cara
bicaranya, senyumnya, dengan ungkapan-ungkapan terkejut dan pemahamannya –
memandang saya seolah-olah mendorong saya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan
yang bahkan menghebohkan dan memalukan bagi mereka yang memimpin Gereja. Maka
saya bertanya kepadanya: Anda telah
menjelaskan pentingnya Paulus dan peran yang ia jalankan, namun saya ingin
mengetahui dari antara yang Anda sebutkan itu mana yang lebih dekat dengan jiwa
Anda?
“Anda meminta saya untuk membuat ranking,
tetapi klasifikasi itu cocok untuk dunia olah raga atau hal-hal lain semacam
itu. Saya bisa menyebutkan nama dari pemain sepakbola terbaik di Argentina.
Namun untuk orang kudus….”
Mereka menceritakan hal-hal lucu bersama para penjahat, Anda mengetahui
peribahasa itu?
“Tepat sekali. Tetapi saya
tidak sedang berusaha menghindari pertanyaan Anda, karena Anda tidak meminta
saya untuk membuat ranking atas pentingnya pengaruh mereka secara kultural dan
religius melainkan menyebutkan siapa yang paling dekat dengan jiwa saya. Maka
saya akan mengatakan:
Agustinus dan
Fransiskus.”
Bukan Ignasius, dari Ordo Anda?
“Untuk alasan yang dapat
dipahami, Ignasius adalah santo yang saya kenal secara lebih baik daripada yang
lain. Ia mendirikan Ordo kami. Saya ingin mengingatkan Anda bahwa Carlo Maria
Martini juga berasal dari Ordo itu, seseorang yang sangat berharga bagi saya
dan bagi Anda juga. Para Jesuit adalah dan masih merupakan ragi – memang bukan
satu-satunya namun barangkali yang paling efektif – dalam Agama Katolik:
kebudayaan, pengajaran, karya misioner, ketaatan kepada Paus. Namun Ignasius
yang mendirikan Serikat, adalah juga seorang pembaharu dan seorang mistikus.
Terutama ia adalah mistikus.”
Dan Anda berpendapat bahwa para mistikus telah menjadi hal yang penting
bagi Gereja?
“Mereka sangat penting. Agama
tanpa mistik hanyalah sebuah filsafat.”
Apakah Anda memiliki sebua panggilan mistik?
“Menurutmu bagaimana?”
Saya tidak berpikir begitu
“Anda mungkin benar. Saya
mencintai para mistikus; Fransiskus juga demikian dalam banyak aspek hidupnya,
namun saya tidak menganggap bahwa saya memiliki panggilan, maka kita perlu
memahami arti terdalam dari istilah itu. Seorang mistikus melepaskan dirinya dari
tindakan, fakta, tujuan dan bahkan perutusan pastoral dan terus meningkat
sampai ia mencapai kesatuan dengan Kebahagiaan. Saat yang singkat namun
memenuhi seluruh hidup.”
Apakah itu pernah terjadi pada diri Anda?
“Jarang. Misalnya, ketika
konklav memilih saya menjadi Paus. Sebelum saya menerimanya, saya meminta ijin
untuk memanfaatkan waktu sebentar di ruang sebelah dengan balkon yang menghadap
ke halaman. Kepala saya terasa kosong dan saya disergap oleh kecemasan yang
besar. Untuk melepaskannya dan relaks saya menutup mata dan membiarkan semua
pikiran hilang, bahkan pikiran tentang menolak posisi itu, sebagaimana
dimugkinkan oleh prosedur liturgi. Saya menutup mata dan tak lagi merasakan
kecemasan atau emosi tertentu. Pada saat tertentu saya dipenuhi oleh cahaya
yang sangat terang. Itu berlangsung sekejap, namun bagi saya itu terasa sangat
lama. Kemudian cahaya itu memudar, saya segera bangun dan berjalan menuju
ruangan di mana para kardinal menunggu dan dimana terdapat meja untuk
menyatakan penerimaan. Saya menandatanganinya, kardinal Camerlengo bersama-sama
menandatanganinya dan kemudian di atas balkon terdengar “Kita memiliki Paus”.
Sesaat kami terdiam, lalu saya
mengatakan: kita telah berbicara tentang
orang kudus yang Anda rasakan paling dengan dengan jiwa Anda dan kita masih
menyisakan Agustinus. Sudikah Anda bercerita mengapa Anda merasa sangat dekat
dengannya?
“Bahkan bagi para
pendahulu saya, Agustinus merupakan acuan penting. Santo ini telah melalui
banyak perubahan di dalam hidupnya dan beberapa kali mengubah posisi ajarannya.
Ia juga pernah berkata-kata kasar kepada kaum Yahudi, dan saya tidak
mengikutinya. Ia menulis banyak buku dan apa yang saya pikir merupakan yang
paling menonjol dari intimitas intelektual dan spiritualnya adalah buku
“Pengakuan Agustinus”, yang juga berisi beberapa ungkapan mistik, namun
sebagaimana banyak pendapat lain, ia bukanlah kelanjutan dari Paulus. Sungguh,
dia melihat Gereja dan iman dengan cara yang sangat berbeda dengan Paulus,
barangkali jaman mereka berdua berbeda kira-kira empat abad.
Apa yang menjadi perbedaan, Bapa Suci?
“Bagi saya perbedaan itu
terletak pada dua aspek mendasar. Agustinus merasa tak berdaya di hadapan
kebesaran Allah dan tugas-tugas yang harus diemban oleh seorang Kristen dan
seorang Uskup. Dalam kenyataannya itu
tidak berarti bahwa dia lemah, namun dia merasa bahwa jiwanya selalu kekurangan
dan menginginkan serta membutuhkan untuk seperti itu. Lalu rahmat itu
dianugerahkan oleh Tuhan sebagai elemen paling dasar dari iman. Dari hidup.
Dari arti kehidupan. Seseorang yang tak tak tersentuh oleh rahmat barangkali
akan menjadi orang yang tak punya rasa tercela atau rasa takut, sebagaimana
mereka katakan, namun ia tak akan pernah menjadi seseorang yang tersentuh
rahmat. Inilah insight yang diberikan oleh Agustinus.”
Apakah Anda merasa tersentuh oleh rahmat?
“Tak seorangpun dapat
mengetahuinya. Rahmat itu bukan bagian dari kesadaran, ini merupakan cahaya di
dalam jiwa kita, bukan pengetahuan maupun akal. Bahkan Anda, tanpa
mengetahuinya, mungkin saja tersentuh oleh rahmat.”
Tanpa iman? Meskipun bukan orang beriman?
“Rahmat itu berkaitan dengan
jiwa.”
Saya tidak percaya akan jiwa
“Anda tidak mempercayainya
tetapi Anda memilikinya.”
Bapa Suci, Anda mengatakan bahwa Anda tidak memiliki keinginan untuk
berupaya mempertobatkan saya dan saya tidak berpikir bahwa Anda akan berhasil.
“Kita tak sanggup
mengetahuinya, namun saya tak memiliki keinginan semacam itu.”
Dan bagaimana dengan Santo Fransiskus?
“Ia besar karena ia
segala-galanya. Ia seorang yang ingin melakukan sesuatu, ingin membangun, ia
mendirikan sebuah ordo dan peraturannya, ia seorang peziarah dan seorang
misionaris, penyair dan nabi, ia mistikus. Ia menemukan kejahatan di dalam
dirinya dan mencabutnya keluar. Ia mencintai alam, binatang, rerumputan di
halaman dan burung-burung yang terbang di angkasa. Namun lebih dari semua itu,
ia mencintai semua orang, anak-anak, orang lanjut usia, perempuan. Ia merupakan
contoh yang paling berkilau dari agape yang kita bicarakan di awal tadi.”
Bapa Suci benar, penggambarannya sempurna. Namun mengapa tak satupun
dari pendahulu Anda pernah memilih nama itu? Dan saya percaya tampaknya setelah
Anda tak ada orang yang akan memilih nama itu lagi.
“Kita tidak tahu tentang hal
itu, sebaiknya kita tidak berspekulasi tentang masa depan. Memang benar, tak
seorangpun memilih nama itu sebelum saya. Di sini kita menghadapi persoalan
dari persoalan. Apakah Anda ingin minum sesuatu?”
Terima kasih,
mungkin air putih saja.
Ia bangun, membuka
pintu dan meminta tolong seseorang di pintu masuk untuk membawakan dua gelas
air putih. Ia bertanya kepada saya apakah saya menginginkan kopi, saya jawab
tidak. Air minumnya tiba. Pada akhir perbincangan kami, gelas saya akan kosong,
namun gelasnya akan tetap penuh. Ia berdehem lalu mulai bicara.
“Fransiskus
menginginkan sebuah ordo pengemis dan pengembara. Para misionaris yang
berkehendak untuk bertemu, mendengarkan, berbicara, menolong, untuk menyebarkan
iman dan kasih. Terutama kasih. Dania memimpikan Gereja kaum miskin yang
memperhatikan orang lain, menerima bantuan material dan menggunakannya untuk
membantu yang lain, tanpa memikirkan dirinya sendiri. 800 tahun telah berlalu
dan sejak itu waktu telah berubah, namun cita-cita tentang misionaris, Gereja
yang miskin masih jauh dari kenyataan. Ini masih merupakan Gereja yang
dikotbahkan oleh Yesus dan para muridnya.”
Anda umat Kristen saat ini merupakan minoritas. Bahkan di Italia, yang
dikenal sebagai halaman belakang Paus. Yang menjalankan agama Katolik, menurut
beberapa poling, berkisar antara 8 dan 15 persen. Mereka yang mengatakan diri
sebagai Katolik namun nyatanya tidak
menjalankannya kira-kira 20%. Di dunia, ada satu triliun orang Katolik atau
lebih, dan bersama dengan gereja Kristen lainnya hanya sebanyak satu setengah
triliun, namun populasi seluruh dunia adalah 6 atau 7 triliun orang. Memang ada
yang banyak jumlahnya, terutama di Afrika dan Amerika Latin, namun Anda adalah
minoritas.
“Memang demikian tetapi persoalannya saat ini
bukanlah hal itu. Secara personal saya berpikir bahwa menjadi minoritas
sesungguhnya merupakan sebuah kekuatan. Kita harus menjadi ragi bagi kehidupan
dan kasih dan ragi semestinya lebih sedikit daripada keseluruhan buah, bunga
dan pohon yang tumbuh dari situ. Saya percaya telah mengatakan bahwa tujuan
kita bukanlah untuk membuat orang berpindah agama melainkan untuk mendengarkan
kebutuhan, harapan dan kekecewaan, kecemasan dan harapan. Kita harus
memperbaiki harapan bagi kaum muda, membantu kaum lansia, terbuka kepada masa
depan, menyebarkan kasih. Menjadi miskin di antara kaum miskin. Kami harus
merangkul mereka yang terbuang dan mewartakan perdamaian. Vatikan kedua, yang
diinspirasi oleh Paus Paulus VI dan Paus Yohanes, memutuskan untuk melihat masa
depan dengan roh moderen dan terbuka kepada kebudayaan modern. Para Bapa
Konsili mengetahui bahwa menjadi terbuka kepada kebudayaan moderen berarti
sebuah ekumenisme religius dan dialog dengan mereka yang bukan umat beriman.
Namun setelah itu, baru sedikit yang sudah dilakukan dalam arah itu. Saya
memiliki kerendahan hati dan keinginan untuk melakukan sesuatu.”
Juga karena - saya tambahkan
sendiri – masyarakat modern di seluruh dunia sedang menghadapi krisis mendalam,
bukan hanya masalah ekonomis melainkan juga masalah sosial dan spiritual. Pada
awal perjumpaan kita Anda menggambarkan sebuah generasi yang hancur di bawah
beban masa kini. Bahkan kami yang bukan orang beriman merasakan bahwa ini hampir
merupakan sebuah beban antropologis. Itulah sebabnya kami ingin berdialog
dengan kaum beriman dan mereka yang secara paling baik mewakili umat beriman.
“Saya tidak tahu apakah saya
meruakan yang terbaik yang mewaili mereka, namun penyelenggaraan ilahi telah
menempatkan saya sebagai pimpinan Gereja dan Keuskupan St. Petrus. Saya akan
melakukan semampu saya untuk memenuhi mandat
yang telah dipercayakan kepada saya.”
Yesus, sebagaimana Anda tunjukkan, berkata: Kamu harus mengasihi
sesamamu seperti dirimu sendiri. Menurut Anda apakah ini telah terlaksana?
“Sayangnya, belum. Cinta diri
telah berkembang pesat dan kasih terhadap sesama telah menurun drastis.”
Jadi ini merupakan tujuan kita bersama: sekurang-kurangnya
menyeimbangkan intensitas kedua jenis cinta ini. Apakah Gereja Anda siap dan
sudah dibekali untuk mengemban tugas ini?
“Menurut Anda bagaimana?”
Saya pikir cinta terhadap kekuasaan sementara masih sangat kuat di dalam
benteng Vatikan dan di dalam struktur kelembagaan seluruh Gereja. Saya pikir lembaga
itulah yang menguasai Gereja yang miskin dan misioner yang Anda inginkan.
“Sesungguhnya, begitulah yang
terjadi, dan ini merupakan wilayah di mana Anda tak dapat melakukan mukjizat.
Saya ingin mengingatkan Anda bahwa bahkan Fransiskus pada masanya harus
bernegosiasi lama sekali dengan hierarki Roma dan Paus agar aturan-aturan
ordonya dapat dijalankan. Akhirnya ia mendapatkan persetujuan namun dengan
perubahan dan kompromi yang mendalam.”
Apakah Anda akan mengikuti langkah yang sama?
“Saya bukan Fransiskus dari
Asisi dan saya tidak memiliki kekuatan dan kekudusan seperti dirinya. Namun
saya adalah Uskup Roma dan Paus dari Gereja Katolik dunia. Hal pertama yang
saya putuskan adalah menunjuk 8 kardinal untuk menjadi penasehat saya. Bukan
para pejabat melainkan orang-orang bijak yang memiliki perasaan yang sama
dengan saya. Ini merupakan awal dari sebuah Gereja dengan sebuah organisasi
yang bukan hanya top-down melainkan juga horisontal. Ketika Kardinal Martini
berbiara tentang fokus kepada konsili dan sinode ia tahu betapa lama dan
sulitnya untuk mengarah ke sana. Lembut, tetapi tegas dan gigih.”
Dan politik?
“Mengapa Anda menanyakannya?
Saya sudah mengatakan bahwa Gereja tidak berurusan dengan politik.”
Namun baru beberapa hari yang lalu Anda mendorong umat Katolik untuk
terlibat secara sipil dan politik.
“Saya tidak hanya mendorong
orang Katolik tetapi juga semua orang yang memiliki kehendak baik. Saya
mengatakan bahwa politik adalah aktivitas sipil yang paling penting dan
memiliki wilayah tindakannya sendiri, yang bukan wilayah agama. Lembaga-lembaga
politik secara definisi bersifat sekuler dan bekerja dalam wilayah yang
independen. Semua pendahulu saya telah mengatakan hal yang sama,
sekurang-kurang selama sekian tahun, meskipun dengan penekanan yang berbeda-beda.
Saya percaya bahwa orang Katolik yang terlibat di dalam politik membawa
nilai-nilai agama di dalam diri mereka, namun memiliki kesadaran yang matang
dan keahlian untuk menerapkannya. Gereja tidak akan pernah melampaui tugasnya
yakni menyatakan dan menyebarkan nilai-nilainya, sekurang-kurangnya selama saya
berada di sini.”
Tapi itu tidak pernah terjadi dengan Gereja
“Itu hampir tak pernah
terjadi. Seringkali Gereja sebagai institusi telah didominasi oleh kepentingan
temporal dan banyak anggota serta pemimpin senior Katolik masih merasakan hal
itu. Namun sekarang ijinkan saya mengajukan pertanyaan kepada Anda: Anda,
sebagai seorang sekuler yang tak percaya kepada Tuhan, apa yang Anda percayai?
Anda seorang penulis dan pemikir. Anda percaya kepada sesuatu, Anda semestinya
memiliki sebuah nilai utama. Janganlah menjawab pertanyaan saya dengan istilah
seperti kejujuran, pencarian, visi tentang kebaikan umum, semua prinsip dan
nilai yang penting karena itu bukanlah apa yang sedang saya tanyakan. Saya sedang
bertanya menurut Anda apa yang yang paling mendasar dari dunia, bahkan alam
semesta. Anda perlu menanyakan diri Anda sendiri, tentu saja, seperti halnya
orang lain, siapakah kita ini, darimana kita berasal, ke mana kita akan pergi. Bahkan
anak-anak mengajukan pertanyaan ini kepada diri mereka sendiri. Bagaimana
dengan Anda?”
Terima kasih atas pertanyaan ini. Jawabannya adalah: saya percaya kepada
Ada, yakni kepada jaringan dari mana forma-forma dan badan-badan berasal.
“Dan saya percaya kepada
Allah, bukan kepada Allah yang katolik, tidak ada Allah yang katolik, yang ada
adalah Allah dan saya percaya kepada Yesus Kristus, inkarnasinya. Yesus adalah
guru saya dan gembala saya, tetapi Allah, Bapa, Abba, adalah cahaya dan Pencipta.
Inilah Ada yang saya yakini. Apakah menurut Anda kita sangat jauh berbeda?”
Kita berbeda jauh dalam pemikiran, namun mirip sebagai manusia, yang
secara taksadar didorong oleh insting-insting kita yang berubah menjadi impuls,
perasaan dan kehendak, pikiran dan nalar. Dalam hal-hal ini kita serupa.
“Tetapi dapatkah Anda
merumuskan apa yang Anda sebut sebagai Ada?”
Ada adalah sumber energi. Bersifat kaos (kacau) namun merupakan energi
yang tak menghancurkan dan merupakan kaos abadi. Bentuk-bentuk muncul dari
energi itu ketika ia mencapai titik ledak. Bentuk-betuk itu memiliki
hukum-hukumnya sendiri, medan magnetnya sendiri, unsur kimianya sendiri, yang
menyatu secara acak, berkembang, dan akhirnya padam namun energinya tidak
hancur. Manusia barangkali merupakan satu-satunya binatang yang dianugerahi
pikiran, sekurang-kurangnya di planet dan tata surya kita. Saya katakan bahwa
ia didorong oleh insting dan hasrat namun sebaiknya saya tambahkan bahwa di
dalam dirinya ia juga mengandung resonansi, gema, gaung dari kaos.
“Baiklah. Saya tidak ingin
Anda memberikan ringkasan dari filsafat Anda dan apa yang sudah anda katakan
tadi sudah cukup bagi saya. Dari sudut pandang saya, Allah adalah cahaya yang
menyinari kegelapan, bahkan seandainya ia tidak melenyapkannya, dan berkas
cahaya ilahi itu berada dalam diri kita masing-masing. Dalam surat saya menulis
untuk Anda, anda tentu ingat ketika saya mengatakan bahwa spesies kita akan
berakhir namun cahaya Allah tak akan berakhir dan pada titik itulah ia akan
menyusup ke dalam seluruh jiwa dan ia seluruhnya akan berada di dalam setiap
orang.”
Ya, saya mengingatnya dengan baik. Anda mengatakan,”Seluruh cahaya akan
berada di dalam seluruh jiwa” yang – jika boleh saya katakan – lebih memberikan
sebuah gambaran tentang imanensi daripada gambaran tentang transendensi.
"Transendensi
tetap bertahan karena cahaya itu, semua di dalam segala, ia melampaui alam
semesta dan spesies, ia tinggal pada ranah itu. Namun kembali kepada saat ini. Kita
telah melangkah maju dalam dialog kita. Kita telah mengamati bahwa dalam
masyarakat dan dunia di mana kita tinggal, cinta diri telah meningkat lebih
besar daripada cinta kepada sesama, dan bahwa semua orang yang berkehendak baik
harus bekerja, masing-masing dengan kekuatan dan keahliannya, untuk memastikan
bahwa cinta kepada sesama itu meningkat sampai pada posisi yang setara dan jika
mungkin melebihi cinta kepada diri sendiri.”
Sekali lagi, politik muncul di dalam gambar.
“Tentu saja. Secara pribadi
saya pikir apa yang dikenal sebagai liberalisme yang tak terkendali itu hanya
membuat mereka yang kuat menjadi semakin kuat dan yang lemah menjadi semakin
lemah serta menyingkirkan mereka yang paling terbuang. Kita membutuhkan
kebebasan yang besar, bukan diskriminasi, bukan hasutan dan banyak kasih. Kita membutuhkan
pedoman tingkah laku dan juga jika perlu, campur tangan langsung dari negara
untuk memperbaiki ketidakseimbangan (ketidakadilan) yang keterlaluan dan
semakin besar.”
Bapa Suci, Anda sungguh-sungguh seorang pribadi yang beriman, tersentuh
oleh rahmat, didorong oleh keinginan untuk menghidupkan kembali Gereja yang
pastoral dan minioner yang diperbaharui dan tidak sementara. Namun dari cara
Anda berbicara dan dari apa yang saya
pahami, Anda adalah Paus yang revolusioner dan akan menjadi Paus revolusioner. Setengah
Jesuit, setengah manusia Fransiskus, sebuah gabungan yang barangkali belum
pernah ada sebelumnya. Dan kemudian, Anda menyukai “The Betrothed” karya
manzoni, Holderlin, Leopardi dan terutama Dostoevsky, film “La Strada” dan “Prova
d’orchestra” karya Fellini, “Open City” karya Rossellini dan juga film karya
Aldo Fabrizi.
“Saya menyukainya karena saya
menontonnya bersama orangtua saya ketika saya masih kecil.”
Nah itulah Anda. Ijinkan saya menyarankan dua film
yang baru saja dirilis? “Viva la liberta” da film tentang Fellini karya Ettore
Scola. Saya yakin Anda akan menyukainya.
Kaitannya dengan kekuasaan, kata saya, Anda tahu bahwa ketika berusia 20
tahun saya menghabiskan waktu satu setengah bulan dalam sebuah retret spiritual
bersama dengan para Jesuit? Kaum Nazi berada di Roma dan saya telah dipecat
dari tugas ketentaraan. Itu bisa dihukum dengan hukuman mati. Para Jesuit
menyembunyikan kami dengan syarat kami menjalankan latihan rohani sepanjang
waktu sehingga mereka membuat kami tetap tersembunyi.
“Tetapi apakah tidak mungkin
menghabiskan satu setengah bulan untuk latihan rohani?” tanya Paus, heran dan
geli. Saya akan menceritakan hal itu kepada beliau lain waktu.
Kami berpelukan. Kami menaiki
tangga kecil menuju ke pintu. Saya katakan kepada Paus bahwa ia tidak perlu
menemani saya tetapi dia menolaknya dengan isyarat tangannya. “Kita juga akan
mendiskusikan peran kaum perempuan di dalam Gereja. Ingatlah bahwa Gereja (la
chiesa) adalah feminin.”
Dan jika Anda
berminat, kita juga dapat berbicara tentang Pascal. Saya ingin mengetahui apa
yang Anda pikirkan tentang jiwa besar itu.
“Berkat saya untuk
seluruh keluarga Anda dan mintalah mereka untuk mendoakan saya. Ingatlah saya,
ingatlah saya lebih sering.”
Kami berjabat tangan dan ia
berdiri dengan kedua jarinya yang terangkat memberikan berkat. Saya melambaikan
tangan dari jendela. Inilah Paus Fransiskus. Seandainya Gereja menjadi seperti
dia dan menjadi seperti apa yang ia harapkan, itu akan menjadi sebuah perubahan
pada jaman yang penting.
(Translated from Italian to English by Kathryn Wallace, terjemahan
dari English ke bahasa Indonesia oleh Indro Suprobo)
Sumber asli: http://www.repubblica.it/cultura/2013/10/01/news/pope_s_conversation_with_scalfari_english-67643118/