Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Friday, July 01, 2016

Suatu Senja di Cleveland

Oleh Indro Suprobo


Bagi orang kampung yang sehari-harinya terbiasa berkain sarung seperti saya, mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke kota Cleveland di Negara bagian Ohio, Amerika Serikat, merupakan pengalaman yang langka. Ini terjadi karena sahabat saya, seorang Kyai muda pengasuh sebuah Pondok Pesantren mahasiswa di Surakarta mendapatkan dua undangan gratis untuk menghadiri workshop di sana. Satu undangan gratis itu ditawarkan kepada saya karena kebetulan tema workshop itu, Appreciative Inquiry, pernah menjadi bahan diskusi panjang kami berdua.
Workshop itu diselenggarakan oleh Weatherhead School of Management, Case Western Reserve University, sebuah universitas swasta yang memiliki keunggulan di bidang manajemen pengembangan organisasi. Kebetulan yang menjadi fasilitator utamanya adalah Profesor David L. Cooperrider, sang penemu dan pemikir kreatif metode pengembangan organisasi berbasis pikiran positif dan keunggulan nyata, sekaligus penulis buku Appreciative Inquiry: A Positive Revolution in Change.
“Appreciative Inquiry adalah sebuah pendekatan konstruksionis untuk merancang dan mengelola perubahan di masa depan berdasarkan kekuatan positif dan pengalaman terbaik di masa lalu yang telah dicapai oleh individu maupun kelompok,” kata Profesor Cooperrider dalam sessi workshop dengan penuh keyakinan dan persuasi.
“Dalam pendekatan ini, setiap individu mendapatkan ruang luas untuk mengeksplorasi pengalaman terbaiknya pada masa lalu dan menemukan kekuatan positif yang mempengaruhinya. Berdasarkan pengalaman terbaik dan kekuatan positif itu, individu diberi kesempatan untuk membangun mimpi dan imajinasi yang positf di masa depan serta merancang segala kemungkinan terbaik masa depan yang dapat dicapai dalam kehidupannya. Itulah perubahan positif yang mungkin dan dapat dikerjakan sejak sekarang,” lanjut Cooperrider. “Oleh karena itu, dalam pendekatan ini, penggunaan pertanyaan-pertanyaan yang positif untuk menuntun proses identifikasi pengalaman terbaik dan kekuatan positif masa lalu, menjadi sangat vital dan penting,” paparnya.
Dengan keingintahuan yang besar, sahabat saya yang Kyai Pondok Pesantren itu memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan,”Profesor, mengapa pertanyaan positif menjadi sangat vital dan penting? Apakah dengan demikian metode ini tidak mengakui kekurangan dan defisit dalam pengalaman masa lalu?”
“Pertanyaan Anda bagus sekali pak Kyai,” jawab sang Profesor apresiatif.
“Metode ini menghargai pertanyaan positif sebagai hal sangat penting karena meyakini prinsip simultansi dalam psikologi tentang perilaku. Pertanyaan positif yang diajukan sejak awal identifikasi tentang pengalaman terbaik dan kekuatan positif yang dialami seseorang, akan mengarahkan seluruh energi positif di dalam dirinya untuk berorientasi kepada perilaku yang positif di masa depan. Dengan demikian, sejak pertanyaan positif itu diajukan, ia sudah mengarahkan perubahan positif di masa depan. Itulah prinsip simultansi,” kata sang Profesor memberikan penjelasan.
“Dalam metode ini, pengalaman negatif tidak diabaikan. Pengalaman negatif dan kekurangan tetap diakui ada dalam kenyataan, namun hal itu tidak dijadikan sebagai fokus dalam metode ini, karena dari banyak pengalaman, identifikasi pengalaman negatif dan kekurangan cenderung melahirkan keputusasaan dan depresi serta menurunkan tingkat kreativitas. Sebaliknya, pertanyaan positif dan pengakuan atas pengalaman terbaik cenderung membangkitkan antusiasme dan kreativitas, serta keberanian untuk menciptakan kemungkinan di masa depan,” lanjut Profesor penuh keyakinan.
Workshop yang berlangsung tiga hari itu terasa sangat menyegarkan dan membangkitkan semangat para pesertanya. Tanya jawab, dialog dan proses berbagi pengalaman positif antar pribadi terasa memberikan nutrisi bagi setiap orang yang merasakan aura positif dan apresiatif dalam forum itu. Ruangan yang nyaman di kompleks Universitas itu juga membuat semua orang merasa betah.
Sore itu, setelah selesai workshop hari kedua, sambil berkain sarung dan berkaos oblong, saya berkesempatan menikmati obrolan pribadi bersama Profesor Cooperrider di bangku taman di halaman belakang penginapan. Penginapan kami terletak di dekat kampus universitas di pinggiran kota Cleveland. Tak jauh dari penginapan kami, ada Severance Hall, sebuah gedung orkestra yang terkemuka di Cleveland. Taman di belakang penginapan kami cukup luas dengan beraneka ragam tanaman dan hamparan rumput, serta jalan setapak. Ada kolam kecil dengan air mancur.
“Profesor, saya membaca bahwa selama dua puluh tahun belakangan ini, banyak lembaga, organisasi dan komunitas telah memberikan kesaksian bahwa mereka mengalami perubahan positif yang luar biasa setelah menerapkan metode Appreciative Inquiry ini,” celetuk saya memulai pembicaraan.
“Ya, Anda benar sekali. Hal itu telah mendorong kolega saya, Diana Whitney dan Amanda Trosten-Bloom melakukan penyelidikan tentang apa yang membuat pendekatan ini berhasil di berbagai tempat. Mereka menemukan enam faktor kunci yang mereka sebut sebagai enam kebebasan, yakni kebebasan untuk dikenali dan diakui di dalam relasi antar pribadi, kebebasan untuk didengarkan, kebebasan untuk membangun mimpi di dalam komunitas, kebebasan untuk memilih cara berkontribusi, kebebasan untuk bertindak dalam dukungan, dan kebebasan untuk bersikap positif ” jawab pak Profesor penuh keceriaan.
“Ya benar. Saya telah membaca hasil penelitian itu. Tetapi yang menarik bagi saya adalah bahwa sebelum Anda mencetuskan pendekatan Appreciative Inquiry ini pada tahun 1980an, saya dan semua siswa yang lain telah mengalami praksis enam kebebasan itu di sekolah kami, Seminari Menengah Mertoyudan. Praksis itu saya pikir sudah dimulai sejak lama sekali dan sudah mendarah daging dalam seluruh metode pendidikan Seminari Mertoyudan bahkan sudah melewati usia 100 tahun,” jawab saya penuh percaya diri.
“Oh ya? Wah menarik sekali sekolah Anda itu? Apakah anda bisa menceritakannya kepada saya?” kata pak Profesor penasaran. Wajahnya tampak cerah dan matanya berbinar ketika mendengar pernyataan saya.
“Ya, enam kebebasan yang dirumuskan oleh Diana Whitney itu telah benar-benar kami alami selama menjalani pendidikan di Seminari Mertoyudan,” dengan penuh semangat saya menjelaskan.
“Wah saya tertarik untuk mendengarkan bagaimana hal-hal itu secara konkret Anda alami. Bagaimana sekolah Anda memfasilitasi keenam kebebasan positif itu?” lanjut Profesor semakin penasaran.
“Berkaitan dengan kebebasan untuk dikenali, sekolah kami memfasilitasi beberapa model membangun relasi antar pribadi, antara lain dengan membentuk kelompok basis dan mekanisme menuliskan sumbangan rohani untuk teman-teman terdekat. Kelompok basis menjadi ruang bagi setiap individu untuk saling mengenali secara mendalam, untuk berbagi pengalaman personal bahkan untuk saling berkonsultasi dalam sikap saling percaya. Menulis sumbangan rohani menjadi cara untuk saling memberikan apresiasi, menunjukkan kekuatan dan kelebihan, serta memberikan rekomendasi tentang perubahan yang mungkin dilakukan di masa depan oleh masing-masing pribadi. Ada pula catatan tentang hal-hal yang sebaiknya diperhatikan secara serius oleh pribadi-pribadi. Semua itu disampaikan dalam sikap hormat dan doa agar apa yang dituliskan itu benar-benar menjadi rahmat bagi orang lain. Semua ini memberikan kebebasan kepada individu untuk dikenali sebagai pribadi yang menjadi dirinya sendiri. Setiap orang diberi kebebasan untuk menenun identitas dan keunikannya,” jelas saya.
“Wah, Anda sangat beruntung mendapatkan pengalaman semacam itu,” kata Profesor.
“Kelompok basis itu juga menyediakan kebebasan untuk didengarkan. Selain itu, para guru yang menemani proses belajar di dalam kelas juga menyediakan ruang bagi kami untuk didengarkan. Apalagi dalam proses belajar sastra. Setiap siswa diberi kesempatan untuk membaca satu buah karya sastra yang bermutu lalu diberi kesempatan untuk menyampaikan seluruh gagasan, komentar maupun analisis pribadinya tentang karya yang telah dibacanya. Semua siswa yang lain juga diberi ruang luas untuk mengajukan tanggapan dan pandangan tentang karya itu maupun tentang pandangan teman lain. Proses belajar semacam itu sungguh-sungguh membuat kami merasa berarti karena diberi ruang untuk didengarkan. Setiap orang belajar untuk mendengarkan secara jujur dan berempati,” lanjut saya.
“Saya perlu mengatakan secara jujur bahwa proses belajar semacam itu sangat apresiatif dan memberikan dampak positif yang luar biasa. Merasa berharga karena didengarkan itu sangat luar biasa. Para guru yang menemani proses itu pasti sangat profesional dan benar-benar memenuhi kriteria sebagai pendidik,” kata Profesor menanggapi.
“Benar sekali Profesor. Sampai saat ini kami merasakan bahwa para guru itu adalah sahabat-sahabat kami. Dengan penuh komitmen, mereka telah menemani dalam proses belajar. Mereka benar-benar menjadi teman dan sahabat untuk belajar. Kami juga mendapatkan kebebasan untuk membangun mimpi dan memilih cara berkontribusi dengan diberi banyak pilihan untuk mengembangkan keterampilan. Ada kesempatan untuk belajar menulis, mempelajari beragam alat musik, mempelajari keterampilan pertukangan, mempelajari seni dekorasi dan podium, ada sidang akademi di mana setiap orang diberi kesempatan belajar mempresentasikan karya ilmiah atau keterampilan debat, serta kesempatan belajar bertanggung jawab dalam tugas-tugas tertentu. Kesempatan ini membuat kami merasa diberi kebebasan untuk membangun mimpi, yakni mau menjadi pribadi seperti apa pada masa depan dan bagaimana berkontribusi bagi orang lain sesuai dengan keunikan dan kemampun terbaik yang kami miliki.”
“Dari pengamatan dan pengalaman Anda, apakah salah satu dari kesempatan belajar itu benar-benar memberikan daya hidup bagi Anda dan teman-teman Anda pada masa kemudian?” tanya Profesor menyelidik.
“Ya, masing-masing memetik buah yang memberdayakan hidup pribadi di masa depan. Ada yang membangun mimpi menjadi pribadi yang menikmati dunia tulis-menulis dan berkontribusi melalui tulisan. Ada yang menghidupkan mimpi dan berkontribusi dalam hidup melalui dunia musik. Ada pula yang membangun ketekunan dalam keterampilan-keterampilan tertentu. Kebebasan untuk memilih cara berkontribusi itu ternyata membangkitkan daya yang malahirkan komitmen dan kemauan untuk belajar, kreativitas, serta ketekunan. Ini melahirkan pribadi-pribadi yang positif dan produktif. Banyak dari antar kami, yang karena terdorong untuk berkomitmen dan terus-menerus belajar, akhirnya benar-benar memiliki keunggulan dan kualitas yang teruji dalam pilihan mereka, sehingga semakin dipercaya untuk mengemban tanggung jawab yang semakin besar di komunitas, di universitas, di tempat kerja, di lingkungan tempat tinggal dan sebagainya,” jawab saya mantab.
“Wah bagus sekali. Sungguh, itu pengalaman bagus. Begitulah prinsip-prinsip Appreciative Inquiry mempengaruhi pertumbuhan pribadi seseorang dan komunitas,” kata Profesor Cooperrider sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Kami terdiam sejenak. Lampu-lampu taman sudah mulai menyala di sana-sini. Suasana semakin terasa hening. Ada daun kering jatuh di atas kain sarung saya. Warnanya kekuningan dan berlobang kecil-kecil. Mungkin bekas dimakan ulat.
“Bagaimana kebebasan untuk bertindak dalam dukungan dan untuk bersikap positif diberi ruang oleh lingkungan sekolah Anda?” tanya Profesor melanjutkan obrolan.
“Ada banyak media sebenarnya. Beberapa yang saya ingat adalah kegiatan-kegiatan khusus yang diselengarakan secara rutin sebagai media mewujudkan ekspresi dan kreativitas pribadi. Misalnya beragam perlombaan dalam Malam Kreativitas. Ada lomba untuk menulis drama, menulis cerpen, membaca puisi, bermain teater, menulis artikel sastra dan sebagainya. Semua itu memberi ruang bagi individu untuk mengeksplorasikan kreativitas dan belajar berkarya dalam dukungan seluruh sistem. Ini benar-benar memberikan ruang kebebasan untuk bertindak dalam dukungan. Individu sungguh-sungguh diberi ruang belajar untuk melakukan tindakan produktif dan mendapatkan apresiasi. Namun demikian ada pula model yang bersifat spiritual yang disebut Bimbingan Rohani. Setiap individu diberi ruang belajar untuk menimbang dan mengambil pilihan atas situasi dan pengalaman hidupnya,” jawab saya.
“Dari pengalaman bertemu dengan banyak orang yang mampu menggali pengalaman terbaik masa lalu dan masa kini, saya menemukan bahwa orang-orang semacam ini cenderung memiliki kapasitas untuk menularkan hal positif kepada orang lain, menumbuhkan semangat, antusiasme, rasa gembira dan kreativitas. Bahkan ketika menghadapi masa sulit dan kesulitan, mereka cenderung memiliki ketenangan untuk tetap memilih yang positif bagi dirinya,” jelas pak Profesor.
“Nah, ada satu hal lagi yang tidak disebut oleh Diana Whitney namun difasilitasi oleh Seminari Mertoyudan, dan itu menjadi wadah serta landasan kokoh bagi semua kebebasan yang disebutkan itu,” tegas saya.
“Wah, apalagi itu?” tanya pak Profesor penasaran.
“Yang satu ini tertanan dan terinternalisasi sangat mendalam dalam hidup kami dan tak mudah hilang, yaitu kebiasaan untuk menjaga “silentium”. Ini merupakan praktik membangun keheningan batin setiap saat agar di dalam batin individu senantiasa tersedia ruang luas bagi kehadiran Yang Mahapositif dan Yang Mahaapresiatif. Ini semacam latihan sederhana namun berdaya bagi individu untuk senantiasa hening, membangun koneksi dengan Yang Mahapositif dan Mahaapresiatif itu. Secara sederhana, ini boleh disebut sebagai proses untuk selalu melakukan Inquiry, penelusuran atas kehadiran Yang Mahapositif dan Mahaapresiatif dalam setiap pengalaman hidup. Inilah pengalaman paling positif yang kami alami selama menjalani pendidikan di Seminari Mertoyudan. Keheningan yang dibangun setiap saat itu, mendorong energi spiritual yang positif dan mendasar, yakni energi syukur atas segala anugerah. Semakin mampu bersyukur, semakin besar pula energi positif untuk kreatif, produktif, dan membaca kemungkinan terbaik dalam segala situasi hidup. Itu semua membuat individu terus-menerus bertumbuh,” jawab saya penuh keyakinan.
“Wah, saya pikir itu kebiasaan yang sangat dibutuhkan. Semua pikiran positif dan energi positif yang menuntun perilaku individu sangat membutuhkan landasan keheningan. Hanya dalam keheningan, individu sanggup mengeksplorasi pengalaman positif yang paling dalam dan memilih tindakan-tindakan positif yang membawa kemungkinan besar bagi perubahan dan pertumbuhan,” kata Profesor.
“Wah terima kasih profesor, saya sangat beruntung Anda sudah berkenan ngobrol. Semoga suatu saat Profesor berkesempatan mengunjungi sekolah saya dan bertemu langsung dengan suasana aselinya. Pasti akan sangat menarik,” jawab saya.
“Iya, semoga saya berkesempatan untuk mengunjunginya dan berbagi pengalaman dengan semua yang terlibat di dalamnya. Itu pasti akan memberikan energi positif juga bagi saya,” kata Profesor.
Kami lalu saling berpamitan dan kembali ke kamar masing-masing untuk melanjutkan aktivitas. Setelah menulis sebentar di kamar, saya langsung berangkat tidur supaya esok hari tetap segar mengikuti workshop hari terakhir.
Esok hari ketika bangun, saya terkejut. Di luar jendela terdengar keramaian orang berkelakar dalam bahasa Jawa. Aneh, sejak kemarin tak satupun orang Jawa saya temui di sekitar penginapan, kecuali pak Kyai sahabat saya. Ketika membuka jendela, saya baru sadar. Saya melihat simbok-simbok petani sedang bergerombol menanam padi di persawahan samping rumah. Oh, ternyata saya bangun pagi di rumah sendiri. Ah, benar-benar tidur yang nyenyak dan mimpi yang produktif.***


Tulisan ini merupakan refleksi atas pendidikan Seminari Menengah Mertoyudan, dalam rangka Reuni Lintas Angkatan pada bulan Juni 2016. Terima kasih untuk para Pendidik.

Wednesday, February 07, 2007

Miyah

Indro Suprobo Pada mulanya ia masih bisa mengucapkan terima kasih. Itu terjadi beberapa bulan yang lalu ketika ia terima sebungkus roti kering dan jajanan pasar yang kuberikan kepadanya. Orang-orang di desaku memanggilnya Miyah. Itulah namanya. Tak kutahu pasti siapa nama lengkapnya sebenarnya, Rumiyah, Tumiyah, Jumiyah, Parmiyah, Umiyah atau yang lainnya. Ia tidur di pinggir jalanan desa di tepi sawah. Tenda yang terbuat dari kain dan sisa-sisa plastic telah menjadi rumahnya. Seutas tali yang ditambat di antara dua pohon pinggir jalan sudah cukup menyangga tendanya. Ketika panas maupun hujan angin, ia tetap tidur di situ. Barangkali bagor bekas menjadi semacam kasur saat ia mendengkur. Suatu saat, ketika kubawakan pakaian-pakaian bekas yang masih pantas dipakai, ia masih juga bisa mengucapkan terima kasih dan sedikit ngobrol meski tak banyak kata yang bisa nyambung. Sebuah kaos oblong bergambar Mahatma Gandhi kesukaanku, kuberikan juga kepadanya karena sudah tak cukup kupakai. Mahatma Gandhi…oh…manusia mulia sahabat duafa yang ikhlas hati meninggalkan harta dan kuasa. Gambar wajahmu akan tergantung di sekitar tenda di pinggir jalanan desa. Miyah, sang penghuni tenda, suatu kali pasti juga akan memakainya. Masih juga belum terlalu kupercaya bahwa ia adalah perempuan gila seperti kata orang-orang desa. Itulah sebabnya kusempatkan ngobrol atau sekedar bertanya menelusur masa lalu hidupnya. Meski tak sepenuhnya nyambung, bisa kuraba kira-kira sejarah yang telah dilaluinya. *** Dulu ia adalah perempuan pedagang nasi bungkus di kereta. Anak lelaki satu-satunya telah berhenti pada kelas tiga dari sebuah sekolah dasar desa. Setiap hari, anak lelakinya selalu bersama-sama berdagang rokok dan aqua. Itu dilakukan karena sudah tak ada lagi biaya untuk sekolahnya, meskipun ia terhitung di antara murid juara. Berjualan rokok dan aqua di kereta adalah cara supaya ia bisa membantu ibunya sekaligus menabung dari sedikit sisa yang ada. Suatu saat, dalam angan-angannya, ia masih ingin melanjutkan sekolah di desa. Setiap pagi kereta api selalu menjadi harapan hidupnya. Gerbong merah yang selalu penuh penumpang adalah ruangnya. Sekali dalam tiga hari, selalu ada penumpang yang membeli rokoknya satu bungkus penuh. Selebihnya membeli rokok eceran saja. Tapi itu lebih menguntungkannya karena labanya menjadi sedikit lebih banyak. Sore hari, sebagian uangnya diberikan kepada ibunya. Sisanya disimpan dalam celengan plastic berbentuk ayam. “Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit”, kata ibunya pelan sambil menghitung uang hasil jualan. “Kalau sudah banyak, kamu bisa sekolah lagi” Bagi Miyah, anak lelaki satu-satunya itu adalah yang paling berharga dalam hidupnya. Ia selalu menjadi pembangkit harapan, yang menyulut kegembiraan, Ia bagaikan nyala yang tak pernah pudar di antara seribu malam. Kadang-kadang ia menangis sendirian tanpa suara ketika memandangi anaknya tertidur sambil memeluk celengan ayam. Ada harapan dan keinginan besar terpendam dalam tubuh yang meringkuk itu. Ia sangat ingin agar harapan yang seperti akar itu, suatu saat membesar dan bertumbuh menjadi pohon segar. Ketika memandang pohon itu dalam lamunannya, ia merasakan kegembiraan yang merongga di dalam dadanya. Tak pernah terkira, hari itu semuanya berubah. Seperti biasa ia dan anaknya bergegas memasuki gerbong kereta memulai hidupnya. Penumpang yang terlalu padat membuat mereka tak leluasa untuk segera menyusuri lorong kereta. Karena kecil, anaknya bisa lebih dahulu berpindah ke gerbong lainnya. Tak seperti biasanya pula, hari ini banyak penumpang membeli nasi bungkusnya. Ia bergembira. Pasti nanti akan ada lebih banyak sisa yang bisa disimpan dalam celengan ayam anaknya. Sampai hari siang, nasi bungkusnya tak lagi tersisa. Ia berjongkok di teras di antara sambungan gerbong. Keringat yang mengalir di belakang telinga, dielapnya dengan selendang gendongan. Seorang penumpang memintanya bergeser karena mau kencing di kakus. Tiba-tiba gerbongnya bergetar kencang dan oleng tak karuan. Suaranya teramat kacau dan bergemuruh ditimpali jeritan dan kepanikan yang luar biasa. Ia masih sempat melihat gerbong di depannya terguling dan terseret. Ia menjerit memanggil-mangil nama anaknya. Tetapi semuanya terlalu kacau lalu menjadi gelap. *** Teramat sakit untuk dirasakan. Kini ia menjadi perempuan yang kehilangan anak karena kereta yang terguling ringsek di sungai. Tak ada yang tersisa. Hanya celengan ayam yang selalu dibawanya ke mana-mana dan menyulutkan amarah kepada entah berantah. Ia berjalan menuruti langkah kaki, menyusuri rasa sakit dan amarah yang mendalam. Matanya menatap jauh, memandang tanda tanya yang teramat angkuh. Di pinggiran jalan desa, di tepi sawah, perempuan yang kehilangan anak itu berhenti. Ia berusaha untuk memahami dan mengerti, tetapi selalu saja tak tercermati. Ia tak lagi berjualan nasi. Menyendiri dan sepi. Tak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi. Barangkali tak punya juga arti. Pada mulanya, ia masih bisa mengucapkan terima kasih. Tetapi belakangan ini, ia sudah lebih sering tertawa sendiri dan tak bisa diajak omong-omong lagi. Kemiskinan dan kehilangan telah membuatnya tak lagi mengerti artinya tertawa. Dan orang-orang desa sudah biasa memangilnya Miyah, si perempuan gila. Pagi ini, sepulang dari pasar, aku melihatnya duduk sendiri di tenda, menyanding celengan ayam milik anaknya, tertawa sambil mengikatkan seutas kain di kepala, dan mengenakan kaos oblong bergambar Mahatma Gandhi yang aku suka. Sesampai di rumah, kubaca berita. Orang-orang berdasi juga tertawa-tawa menerima rapelan tunjangan yang jumlahnya tiada terkira. Ah….aku tak tahu lagi apa artinya, ketika orang-orang desa menyebut kata gila. ***

Tuesday, November 28, 2006

"Tuhan Agamamu Apa?"

Indro Suprobo Ketika langit di atas rumah masih berwarna kuning kemerah-merahan, si No’e, gadis kecil yang belum genap 7 tahun umurnya itu, sedang menyirami anggrek di halaman rumah bersama embah putrinya, perempuan tua yang sudah genap 70 tahun umurnya. Si No’e kelihatan asyik sekali menikmati aktivitas menyirami bunga itu. Gerak geriknya memancarkan keriangan dan kemanjaan khas anak-anak. Sambil berdiri, tangan kanannya memegangi selang yang memercikkan air ke tanaman, sementara tangan kirinya methentheng di pinggang dan kepalanya agak oleng ke kiri. Bibirnya menyungging senyum sementara matanya memandangi anggrek yang ia sirami. “Cikicikicikicikicikicik……….” begitu bunyi air yang meloncat-loncat bergantian menyentuh tanaman dan jatuh ke tanah. “Airnya jangan banter-banter ya Nok, ya, supaya bunga anggreknya tidak rontok”, kata embah putri kepada cucunya. “Segini ini kebanteren nggak mbah, airnya?”, tanya si No’e minta pertimbangan. “Wo….kebanteren kuwi Nok, cah ayu. Dikurangi sedikit lagi” “Segini ya mbah?”, tanya si No’e lagi meyakinkan sambil mengurangi daya semprot air. “Nah, segitu itu pas”, kata simbah. Pembicaraan mereka terhenti karena masing-masing asyik dengan aktivitas mereka. “Cikicikicikicikicikicicikicikicikicik…..” bunyi air terdengar di antara kediaman simbah dan cucu ini. Embah putrinya si No’e ini tangannya terampil sekali mencabuti rumput-rumput kecil di dalam pot-pot bunga. Memang tangan yang sekarang keriput itu sejak muda telah terlatih melakukan aktivitas demikian karena sering membantu orangtuanya bekerja di sawah sepulang dari sekolah desa. Tangan itu juga sangat terampil merangkai bunga karena sering dimintai tolong menghias altar untuk keperluan misa di kampusnya ketika masih menjadi mahasiswi fakultas teologi. “Hi…hi…hi….”’ si No’e tertawa-tawa kecil ketika menyaksikan bunga anggrek yang disiraminya itu mengangguk-angguk lucu. “Mbah, mbah, lihat mbah, bunga anggreknya mengangguk-angguk!” kata si No’e kegirangan sambil menunjuk bunga yang sedang disiraminya. “Wah…iya..ya. Bunga anggreknya mengangguk-angguk”, kata embah putri menanggapi kegirangan cucunya. “Mbah, mbah, bunga anggreknya kok mengangguk-angguk itu kenapa sih mbah?”, tanya si No’e lugu. Si embah yang mantan guru agama desa itu tercenung sejenak memikirkan jawaban atas pertanyaan cucunya yang polos itu. Kecerdasannya yang dulu terbukti nyata saat mengikuti kuliah teologi selama sepuluh semester dan meraih gelar sarjana dengan predikat cum laude itu sekarang sedang diuji oleh pertanyaan cucunya. Wow, ia menemukan jawabannya! “Nok, cah ayu, bunga anggrek itu mengangguk-angguk karena mengucapkan terima kasih kepadamu. Ia merasa segar karena disirami air setiap hari. Jadi, ia berterima kasih.” Si No’e tersenyum senang sambil matanya memandangi bunga yang mengangguk-angguk kepadanya. “Mbah, mbah, kata bu guru ngaji, orang yang bisa mengucapkan terima kasih itu orang yang baik. Bener nggak mbah?” tanya si No’e lagi. “Iya dong” “Kata bu guru ngaji, orang yang baik itu disayangi Tuhan” tanya No’e lagi. “Iya dong” “Orang yang disayangi Tuhan itu besok masuk surga ya mbah?” “Iya dong” Si No’e diam sejenak, sementara wajahnya tiba-tiba berubah menjadi serius. Si embah putri memperhatikan perubahan wajah itu namun ia diam tanpa pertanyaan sedikitpun. “Cikicikicikicikicikicikicik…” suara air terdengan jelas lagi. Gadis kecil yang sudah sekolah di Taman Kanak-kanak Santa Maria itu sedang mempunyai pertanyaan agak sulit bagi dirinya. Ia disekolahkan di TK St. Maria oleh orangtuanya karena itulah satu-satunya sekolah TK terdekat. Setiap sore, biasanya ia belajar mengaji karena kedua orangtuanya adalah muslim yang saleh. Ibunya dulu beragama katholik, lalu menjadi Islam dan rajin sholat karena menikah dengan suaminya. Sore ini ia tidak mengaji karena libur, guru mengajinya sedang punya hajat menyunatkan anak laki-lakinya. “Mbah, teman-teman di sekolah bilang kalau orang yang masuk surga hanya orang yang mengikuti Tuhan Yesus. Katanya, tanpa Tuhan Yesus orang tidak bisa masuk surga. Betul nggak, mbah?” Mbah putri yang sarjana teologi itu agak bingung mencari jawaban pas untuk cucunya yang lugu. Lalu, kecerdasannya membantunya untuk menjawab. “Nok, cah ayu, Tuhan Yesus itu orang baik sekali. Dia suka menolong orang lain. Jadi dia masuk surga. Semua orang yang baik seperti Tuhan Yesus itu disayangi Tuhan dan masuk surga”. “Orang yang mengikuti Yesus namanya orang kristen ya mbah?” “Iya”, jawab embahnya singkat “Kalau orang Islam, masuk surga juga to mbah?” “Iya dong. Orang Islam khan berdoa kepada Tuhan dan berbuat baik kepada orang lain. Jadi disayangi Tuhan”. “No’e..! Mau ikut sholat sama ibu nggak?” tiba-tiba suara ibunya si No’e menghentikan pembicaraan mereka. “Ikut!” jawab No’e. “Mbah, No’e sholat dulu sama ibu ya mbah” “Ya, ya, sana sholat dulu biar disayangi Tuhan” jawab simbahnya sambil membereskan selang dan cethok. Pembicaraan sore itu sangat melekat pada ingatan si No’e, gadis kecil yang belum genap 7 tahun umurnya itu. Malam harinya, ia tertidur pulas karena senang. Wajahnya tenang dan nafasnya teratur sekali. Bintik-bintik keringat menempel di dahinya yang bersih. Ia bermimpi bertemu Tuhan. Dalam mimpinya, Tuhan seperti embah putrinya dan suka menyirami anggrek. “Tuhan, Tuhan, bunga anggreknya mengangguk-angguk berterima kasih kepada Tuhan karena disirami” kata si No’e cerah sambil menunjuk pada bunga. “Oh iya. Kamu pinter sekali. Siapa yang mengajari?” “Embah putri”, jawab si No’e. “Wah, embah putrimu baik sekali. Senang dong punya embah putri seperti itu” kata Tuhan penuh pengertian. “Iya, mbah putri baik sekali sama No’e. Tuhan, orang yang baik seperti embah putri besok masuk surga ya?” tanyanya polos. “Oh tentu. Orang baik seperti embah putrimu pasti masuk surga” kata Tuhan meyakinkan. “Orang baik seperti Tuhan Yesus juga masuk surga, Tuhan?’ “Oh ya, Tuhan Yesus masuk surga” “Orang kristen yang mengikuti Tuhan Yesus dan suka menolong orang lain masuk surga juga ya?” “Iya” “Orang Islam juga masuk surga?” “Iya” “Tuhan, Tuhan itu kristen apa Islam?” tanya si No’e polos sekali. “Ha…ha…Nok, cah ayu” jawab Tuhan sambil mengusapi kepala si No’e, gadis kecil yang belum genap 7 tahun umurnya itu. “Tuhan tidak punya agama, sayang”. “Tuhan tidak mengikuti Tuhan Yesus?” “Tidak” “Tuhan sholat seperti No’e tidak?” “Tidak” “Terus, besok Tuhan masuk surga tidak?” tanya si No’e makin penasaran. “Iya dong, sayang” jawab Tuhan sambil tersenyum. “Lho, kok bisa?” tanya si No’e penuh keheranan. Tuhan tertawa sambil asyik menyirami anggrek, sementara si No’e yang kecil itu terbangun dari mimpinya.*** Judul asli cerpen ini adalah "Lho kok bisa?" (judul dalam edisi teks). "Tuhan agamamu apa?" adalah judul dalam edisi kaos yang sudah dipopulerkan oleh Institut Dian/Interfidei Jogjakarta

Wednesday, October 11, 2006

Penantian Sumarni

Indro Suprobo “Aku sehat walafiat. Sementara ini aku berpindah-pindah dari persembunyian yang satu menuju persembunyian yang lain karena situasinya tidak terlalu aman. Jangan kawatir. Ada banyak orang yang membantu. Moga-moga, lebaran nanti, aku bisa pulang untukmu dan anak-anak tersayang” Surat teramat pendek dan ditulis tangan itu masih terawat bagus dan selalu disimpan oleh Sumarni. Setiap malam menjelang lebaran, ketika takbir dilantunkan beribu-ribu orang, Sumarni selalu membaca ulang surat dari suaminya itu. Entah sudah berapa ribu kali Sumarni membacanya. Surat itu diterimanya pada suatu hari menjelang lebaran lima tahun yang lalu. Lebaran kali ini, untuk kesekian kalinya, Sumarni membacanya lagi. Suaminya belum juga pulang ke rumah. Tangisnya sudah kering. Yang tersisa hanyalah kesedihan dan kerinduan teramat dalam. Tenggorokannya selalu terasa sangat sakit setiap kali ia membacanya. Sebenarnya, suaminya adalah orang biasa-biasa saja, bukan orang penting dan terkenal. Bukan orang yang punya pengaruh. Ia juga bukan orang kuliahan. Setelah tamat SMA ia pernah bekerja sebagai kernet angkutan, lalu diajak pamannya membantu sebagai kuli bangunan kalau ada permintaan orang untuk membangun rumah. Dari hasil membantu pamannya itulah ia mencoba menabung dan bisa membuat warung kecil di dekat sekolahan. Warung itu berukuran 2 x 3 meter dan terbuat dari papan. Kebetulan tanah yang ditempati itu milik pakdhe Jumingin yang menawarinya untuk dimanfaatkan. Dulu, di warung itulah Sumarni dan suaminya berjualan makanan dan minuman. Ada nasi bungkus, tempe kemul, tahu kemul, bakwan, pisang goreng, bakmi goreng, arem-arem, jenang, wajik, kue corobikan, martabak, ondhe-ondhe, teluk bayur, dan kerupuk. Semuanya titipan orang. Dari setiap makanan, Sumarni dan suaminya mendapatkan laba 50 rupiah. Untuk minumannya, mereka membuat sendiri. Modalnya adalah teh, gula dan minyak tanah untuk kompor. Labanya lumayan juga. Setiap hari rata-rata habis tiga sampai lima ceret teh. Pembelinya kebanyakan anak-anak sekolah dan orang-orang yang lewat menuju ke pasar karena sekolahan itu kebetulan terletak di pinggir jalan menuju ke pasar. Sekarang ini, Sumarni berjualan sendirian. “Mbok tidak usah berangkat mas, kita jualan saja seperti biasanya”, kata Sumarni mengingatkan suaminya yang mau pergi bergabung dengan orang-orang kuliahan di kota untuk berdemonstrasi menuntut perbaikan situasi ekonomi dan politik yang semakin tidak peduli kepada orang-orang kesrakat seperti dia. “Nggak papa, wong cuma dua hari. Besoknya lagi aku sudah ikut jualan seperti biasanya”, jawab suaminya meyakinkan. “Aku sebenarnya kawatir kalau nanti ada apa-apa di sana mas”, kata Sumarni cemas. “Temannya banyak kok, nggak usah kawatir. Besoknya juga sudah pulang”, tegas suaminya. Itulah percakapan terakhir antara Sumarni dan suaminya, lima tahun yang lalu. Dua hari setelah suaminya berangkat, di koran-koran dan berita televisi dikabarkan bahwa telah terjadi kerusuhan yang menelan banyak korban jiwa. Toko-toko dibakar. Jalanan ditutup. Orang-orang ditangkap, dipukuli. Ada yang ditendangi dan diinjak-injak. Ada yang diculik dan tidak diketahui lagi nasibnya. Sejak itu, suaminya tak pernah pulang. Informasinya tidak pernah jelas. Beberapa orang yang sekolah di kota mengatakan pernah bertemu suaminya dan sering ikut kumpul-kumpul dalam beberapa pertemuan. “Suami sampeyan itu sering ikut pertemuan dan diskusi teman-teman. Dia disukai teman-teman karena suka ngomong yang konkret soal kesulitan masyarakat kecil”, kata salah seorang pemuda sedesa yang kuliah di kota. Informasi terakhir yang tersimpan hanyalah surat yang dititipkan lewat salah seorang anak sekampung yang sekolah di kota itu. Surat itulah yang selalu dibacanya pada saat ia mengharapkan kehadiran suaminya, terutama pada saat menjelang lebaran. Sumarni sudah tidak tahu lagi harus melacak ke mana. Semua hasilnya nol. Tak ada yang tahu. Nasibnya tak jelas. Hanya surat dan warung tempat ia berjualan sehari-hari itulah kenangan terakhir dari suaminya. Malam ini, suara takbir mengalun di mana-mana. Di televisi, di radio, di jalan-jalan, di masjid dan mushola. Beribu-ribu orang melantunkannya. Banyak orang kelihatan berwajah gembira. Banyak keluarga mengalami bahagia karena berkumpul dan bertemu semua saudara. Sumarni duduk di pinggir ranjang sambil melipat mukena seusai sembahyang. Ia membetulkan letak rambutnya ke belakang lalu mengikatnya dengan kain. Terdengar ia menarik nafas panjang dan berat. Surat yang baru saja dibacanya sebelum sembahyang, diletakkannya di atas kasur. Dua anaknya tertidur pulas di tempat tidur. Yang barep sudah hampir delapan tahun umurnya, sementara yang kedua baru enam tahun. Sumarni memandangi wajah kedua anaknya secara seksama. Keduanya memang lebih mirip ayahnya. Hidung si barep agak mancung seperti ayahnya. Tetapi mata dan bibirnya lebih mirip dia. Telinganya mirip ayahnya. Sementara anak kedua, hidungnya mirip dia tetapi alis dan bibirnya lebih mirip ayahnya. Ketika memandangi kedua anaknya, Sumarni merasakan kehadiran suaminya yang sangat dekat. *** “Wah, besok kalau sudah besar lengannya kekar seperti aku”, kata suaminya sambil mengusap-usap lengan si barep yang lagi tidur. “Yang paling mirip itu bentuk dagunya lho mas. Semua orang, begitu melihat dagunya langsung mengatakan kalau dia mirip ayahnya”, jawab Sumarni. Sumarni lalu memegang dagu suaminya sambil berkomentar “Ini lho mas, ada semacam garis dan lekukan di sini, persis khan? Lihat itu”. “Nah kalau adik ini tangannya mirip banget ibunya, bentek-bentek”, tanggap suaminya mengomentari anaknya yang kedua. “Yah, bentek-bentek tidak apa-apa ya dik ya. Yang penting suka bekerja keras biar tidak menjadi orang yang manja dan bergantung pada orang lain”, sergah Sumarni. Keduanya lalu terdiam sambil mengusap-usap kepala anaknya lalu memijat lembut kaki anaknya. Suasana malam lebaran itu terasa tenang dan membahagiakan. Lantunan takbir terus menggema. “Marni, malam ini aku ingin meminta maafmu”, kata suaminya tiba-tiba memecah ketenangan mereka. Sumarni kaget dengan kata-kata itu. “Memangnya kenapa?”, tanya Sumarni serius “Aku meminta maafmu secara khusus malam ini, karena aku merasa bahwa sampai dengan hari ini, aku belum dapat memberimu kebahagiaan sebagaimana kamu pikirkan pada waktu-waktu lalu sebelum kita menikah”, jawab suaminya. Sumarni bangkit dari tidurnya lalu bergeser melewati kedua anaknya yang tertidur dan berbaring mendekati tubuh suaminya. “Kenapa berkata begitu mas? Aku merasa bahagia. Memang ada beberapa keinginan yang tak tercapai dan situasi tidak menentu yang kita hadapi. Tapi aku merasa cukup bahagia meskipun kita tetap harus terus berusaha memperbaiki situasi kita”, kata Sumarni sambil perlahan-lahan memeluk suaminya. “Kita memang sering kekurangan dan kadang-kadang harus berhutang untuk menutupi kebutuhan mendesak. Aku merasa belum terlalu bekerja keras sehingga situasi ini kita hadapi. Laba yang kita peroleh dari warung kita memang lumayan, tetapi kita masih harus mengusahakan yang lain supaya ada tambahan karena kalau mengandalkan warung saja tentu tidak cukup. Mungkin kalau aku bekerja lebih keras, kamu tidak perlu mengalami situasi yang seperti ini. Aku meminta maafmu sungguh-sungguh”, kata suaminya, sementara matanya kelihatan menerawang ke langit-langit. “Mas, kamu sudah berusaha bekerja keras. Aku melihat sudah ada banyak perubahan dalam dirimu dan aku merasa bersyukur. Aku merasa bahagia bahwa kamu sudah berusaha membuat perubahan untuk situasi hidup kita meskipun mungkin masih bisa lebih keras lagi. Aku juga akan mencoba mencari tambahan usaha yang lain untuk mencukupi kebutuhan kita”, jawab Sumarni meyakinkan. “Aku merasa kamu orang yang bertanggung jawab dan mau berusaha mengatasi kesulitan-kesulitanmu sendiri untuk kebaikan kita”, lanjutnya. Keduanya lalu berpelukan dan menarik nafas panjang. Lantunan takbir terdengar lagi. *** Sumarni merasakan kakinya kesemutan, lalu meluruskannya sambil berbaring di samping kedua anaknya yang pulas. Surat dari suaminya dipegangnya dan dibacanya sekali lagi. Percakapan malam lebaran yang terakhir kali itu teringat kembali dan terasa sangat nyata baginya. Lelah. Dan akhirnya tertidur. Matanya terpejam dalam penantian dan pengharapan yang panjang. Esok paginya, lebaran berlalu seperti biasanya. “Aku telah memaafkanmu sebelum kau memintanya, dan kini aku merindukan kebesaran hati untuk menerima semua misteri yang belum kupahami ini. Aku tak tahu apakah masih mungkin mengharapkanmu pulang”, bisiknya dalam hati sambil menyusuri jalan pinggiran sawah yang luas bersama kedua anaknya selesai shalat Id di lapangan desa.*** (Sleman, 3 Desember 2002. Dipersembahkan kepada semua orang yang hilang di negeri ini, dan tak pernah ditemukan kembali)

Friday, October 06, 2006

Senja Bersama Hatta

Indro Suprobo 

Dua cangkir kopi kental beraroma sedap, diletakkan di meja teras rumah yang terbuka. “Silakan dinikmati. Saya sendiri yang membuatnya, moga-moga rasanya pas”, kata lelaki tua yang masih kelihatan segar dan cerdas itu penuh keramahan. Mohammad Hatta namanya. Mantan proklamator dan perintis kemerdekaan Republik Indonesia. Orang lebih akrab memanggilnya dengan Bung Hatta. Suguhan kopi sedap membuka obrolan kami saat itu. Rambut di sekitar telinga dan jidatnya masih basah oleh sedikti air. Wajahnya kelihatan segar. Bung Hatta memang tak pernah lepas dari disiplin sholat. Baginya, sembahyang sholat bukan lagi kewajiban melainkan bagaikan tarian jiwa menyelami keheningan dan kedalaman hidup. 

Teras yang terbuka tempat kami ngobrol itu terasa nyaman dan segar karena dikelilingi oleh beragam tanaman hijau di halaman. Angin yang terhirup oleh hidung terasa bersih dan sehat, menyusup ke dalam tubuh dan membangkitkan energi positip. Sesekali wangi bunga tanaman kanthil menyusup lembut, menciptakan suasana relaks. 

“Ini adalah rumah yang pertama kali saya tempati setelah menikah sekitar bulan nopember tahun 1945. Sekarang menjadi tempat istirahat keluarga pada saat akhir pekan dan hari libur”, kata bung Hatta menjelaskan. 

“Nyaman sekali. Udaranya segar. Tampaknya sangat cocok untuk menenangkan hati”, kataku menimpali. 

“Betul sekali. Sangat tenang dan membantu saya memasuki ruang-ruang batin, mencermati peristiwa-peristiwa yang seringkali sangat susah dieja karena terlindas oleh kebisingan kesibukan”, jawabnya tenang menyiratkan kesadaran yang tak pupus oleh keramaian dunia. 

“Ketenangan semacam ini tentu menjauhkan kita dari beban pikiran yang berat, lalu menjadi lebih sehat”, sambungku mantab. 

“Memang ini bisa menjauhkan dari beban pikiran berat, tetapi tidak berarti menjadi kehilangan kegelisahan”, tegasnya. 

Dahiku tiba-tiba mengerut mendengar pernyataannya terakhir. Kegelisahan macam apa yang masih bisa menggelayuti hati orang besar seperti lelaki yang sedang aku hadapi ini? Bukankah kata orang, pengetahuan dan wawasan yang luas, pengalaman yang kaya dengan asam garam kehidupan mampu meminggirkan kegelisahan-kegelisahan yang mengganggu pikiran? 

“Maaf, anda masih mengalami kegelisahan?”, tanyaku tidak percaya. 

“Oh, tentu saja masih. Justru semakin sering saya memasuki ruang-ruang batin yang jernih dan tenang, semakin saya menemukan kegelisahan yang menggoncang-goncang pikiran saya. Apalagi jika saya melihat kenyataan hidup yang seringkali sangat susah untuk dipahami, susah untuk dieja, sehingga membutuhkan keseriusan tinggi untuk bisa membacanya”, jawabnya serius sekali. Ia menggaruk bagian belakang telinga kanannya sebentar, mungkin karena ada rasa gatal. Lalu melanjutkan penjelasannya. 

“Coba anda cermati. Bisakah anda tidak merasa gelisah ketika anda menghadapi kenyataan betapa praksis korupsi seperti sudah menjadi kebiasaan sehari-hari yang diamini tanpa sangsi? Bisakah tidak merasa gelisah ketika menghadapi kebingungan banyak orang untuk menyekolahkan anaknya karena biaya pendidikan yang melambung tinggi? Bisakah merasa tidak gelisah ketika melihat sekian banyaknya anak hidup dalam ketidakberdayaan kemiskinan, serba kekurangan dan terhimpit banyak kesulitan? Bisakah tidak merasa gelisah ketika kemakmuran dan beragam kemudahan hanya menumpuk pada dan dinikmati oleh segelintir orang sementara lebih banyak orang berada dalam situasi sebaliknya? Bisakah tidak merasa gelisah ketika usaha-usaha ekonomi bersama yang dicita-citakan untuk menjamin kesejahteraan sebanyak-banyak orang sudah terpelintir menjadi usaha milik kumpulan para majikan? Bagaimana mungkin tidak merasa gelisah ketika melihat kenyataan bahwa uang sekian miliar dollar harus dibayarkan untuk cicilan hutang luar negeri? Sementara uang sebanyak itu kalau dimanfaatkan untuk memfasilitasi biaya pendidikan anak-anak yang tidak mampu bayar sekolah pastilah sangat berarti. Bisakah tidak merasa geram ketika orang ingin memasang instalasi listrik di rumahnya harus bayar sekian kali lipat supaya bisa lebih cepat menyala, sementara kalau bayar biasa harus menunggu-nunggu waktu yang lama dan seringkali dengan beragam alasan yang tidak jelas? Lebih menggelisahkan lagi ketika melihat nasib kemanusiaan terjungkir balik tak karuan. Bagaimana mungkin perempuan pekerja yang memperjuangkan nasib dirinya dan teman-teman pekerja lainnya harus menderita kematian penuh siksaan tanpa diketahui siapa pelakunya. Bagaimana menjelaskan nasib orang yang tiba-tiba hilang tak diketahui rimbanya dan tak pernah ada jejak yang dapat menunjukkan jalan kepada pengungkapan hilangnya. Bagaimana mungkin tidak gelisah ketika mendengar jeritan sedih dan teriakan amarah tanpa daya dari orang-orang yang tergusur hidupnya tanpa bisa melawan? Bagaimana mungkin tidak gelisah melihat semua itu? Dan semuanya ada di depan mata. 

Bung Hatta mengusap rambut kepalanya, sementara matanya menerawang jauh menembus pepohonan hijau di halaman rumahnya. Kami sama-sama diam mencecapi kata-kata yang baru saja masuk dalam telinga, menembus dalam lubuk hati, menggoncang ketenangan pikiran, dan mengusik seluruh komitmen diri atas kehidupan. Lengang…… Kelengangan yang hadir di antara kami ini menciptakan kesunyian dalam diri masing-masing. Dan kesunyian adalah peristiwa yang sangat berharga menurut para sufi penyelam samudera rohani. Ketika manusia telah merasuki kesunyian, keramaian dan hiruk pikuk kecemasan bukan lagi sesuatu yang menganggu maupun melawan. Keramaian menjadi satu titik kecil yang bisa dilihat dengan jarak yang teramat jelas, lalu perlahan-lahan titik itu memecah dan melebur dalam daya hidup yang dinamakan bening. Ada daun kering yang jatuh di lantai teras rumah, tepat di sebelah telapak kakiku. Angin senja telah memutusnya dari ranting dan menerbangkannya. Suaranya terasa jelas. Mungkin memang begitulah hukum alam berlaku. Dalam kesunyian, segala sesuatu menjadi lebih jelas, berjarak, dan dapat dieja secara lebih cermat. Tanganku meraih cangkir kopi. Menempelkannya di bibirku, lalu menyeruput kopi kental yang masih hangat. Kehangatan perlahan-lahan menjalar dalam tubuhku. Melihat itu, bung Hatta menyilakan aku minum. 

“Oh ya, mari silakan dinikmati”, seraya meraih cangkir di depannya. 

“Semua peristiwa yang menimbulkan kegelisahan itu bukanlah takdir yang tak bisa ditolak”, lanjutnya. 

“Peristiwa-peristiwa semacam itu adalah hasil dari sebuah pilihan dan tindakan manusia yang sadar. Jadi itu adalah akibat dari pilihan tindakan manusia” 

“Sepakat”, jawabku singkat 

“Semua pilihan tindakan manusia tidak bisa dilepaskan dari cara berpikir tentang segala aspek kehidupan. Ketika manusia bisa membongkar cara berpikir yang mempengaruhi seluruh pilihan tindakannya, mencermatinya dan mengambil jarak terhadapnya, maka dia termasuk ke dalam golongan manusia merdeka. Pada gilirannya, manusia merdeka akan mengambil pilihan-pilihan tindakan yang juga memerdekakan sebanyak mungkin orang”, lanjutnya penuh ketegasan. 

Mendengar hal itu, aku tiba-tiba teringat akan masa muda bung Hatta. Jalan pikiran sebagaimana baru saja aku dengar itu pernah tercetus secara gamblang dalam tulisan-tulisannya di Hindia Poetra, sebuah majalah dua bulanan yang diterbitkan oleh perkumpulan mahasiswa Indonesia di Belanda yang bernama Perhimpoenan Indonesia. Tulisannya dalam edisi perdana menjadi buah bibir banyak orang karena tentu saja mengguncang kemapanan cara berpikir pada umumnya. Melalui judul “De economische positie van den Indonesischen grondverhuurder” (Kedudukan ekonomi orang Indonesia yang menyewakan tanah) dan “ Eenige aantekeningen betreffende de grondhuur-ordonnantie in Indonesie” (Beberapa catatan tentang ordonansi penyewaan tanah di Indonesia), Hatta mendukung tuntutan petani Indonesia agar para majikan penguasa perkebunan tebu dan pabrik gula di jawa menaikkan sewa tanah petani yang mereka pakai. Sewa tanah yang berjalan selama itu sangatlah tidak adil bagi para petani, apalagi dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh oleh para majikan perkebunan tebu dan pabrik gula. Pada masa mudanya, Hatta telah mengemukakan pikiran tentang memerdekakan kaum tani dari proses marginalisasi. 

“Ketika orang harus berada dalam kedudukan yang daripadanya dituntut pertanggungjawaban penuh atas cara bekerjanya sistem-sistem yang melekat dengan kedudukan itu, sementara ia tidak memiliki kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan pilihan atas cara bekerjanya sistem tertentu, karena menurut pertimbangannya cara bekerjanya sistem itu tidak membuat sebanyak mungkin orang mengalami kemerdekaan, kemakmuran yang selayaknya, dan harkat-martabat yang sepantasnya, maka sebaik-baiknyalah apabila orang itu melepaskan kedudukan tersebut demi pilihan yang lebih sanggup dipertanggungjawabkannya, dan menjalani pilihan baru dengan segala resikonya”, kata Hatta memecah lamunanku tentang masa mudanya. 

Aku tergagap oleh rangkaian prinsip-prinsip dasar berpikirnya yang beruntun menghujani kesadaranku tanpa memberi waktu jeda untuk memikirkannya ulang. Namun segera saja aku langsung teringat pada peristiwa pengunduran dirinya dari jabatan wakil presiden dengan segala jaminan yang melekat pada jabatan itu. Jantungku tak bisa lagi memendam sorak sorai gemuruh yang meluap karena rasa hormat dan kagum atas prinsip-prinsip yang baru saja kubaca wujudnya secara nyata. Dan di depan mataku, pada senja itu, kupandangi jiwa merdeka yang berkomitmen terhadap kemerdekaan sebanyak mungkin jiwa-jiwa yang lain. 

Aku meneguk tetes kopi terakhir yang diseduh sendiri oleh Hatta, berpamitan, dan mengucap terima kasih atas percakapan yang telah terjadi. Dia mengantar sampai di pagar halaman yang berupa tanaman perdu hijau. Sepanjang perjalanan pulang, aku mengurai semua percakapan senja itu dan memaklumi bahwa sebelum menjadi proklamator kemerdekaan, jauh-jauh hari sebelumnya, ia telah memerdekakan dirinya dari segala kebisingan dan hiruk pikuk kepentingan sesaat, dan senantiasa setia sampai di senja hidupnya. Moga-moga masih ada sedikit teman dalam kesunyiannya. *** 

(Resist-Info Agustus 2006)

Thursday, October 05, 2006

Selembar Kertas

Indro Suprobo Adzan subuh membangunkan Jumari dari tidur lelapnya. Bergegas ia menuju ke padasan untuk mengambil air wudlu. Dingin air yang menyentuh daun telinga semakin membuatnya lepas dari sisa kantuk yang ada. Mushala kecil tak seberapa jauh dari rumahnya. Di sanalah ia biasa berjamaah bersama dengan warga kampung yang umumnya sudah lanjut usia. Kang Midin telah sekian lama dipercaya menjadi imam shalat meskipun usianya relatif lebih muda. Jumlah anak mudanya bisa dihitung dengan jari. “Rika sida budhal maring Ambarawa, Jum?” (kamu jadi berangkat ke Ambarawa Jum?), tanya kang Midin selepas shalat. “Iya kang, inyong wis sewulan ora tilik ramane. Melasi. Sewulan bae rasane kaya wis lawas temen” (Iya kang, saya sudah sebulan tidak menjenguk ayah saya. Kasihan. Satu bulan saja terasa sudah terlalu lama). Sebulan sekali Jumari memang menjenguk ayahnya yang dipenjara di Ambarawa meskipun tak ada yang tahu apa sebabnya. Ia sudah berkali-kali meminta keterangan dari teman-teman ayahnya di kantor koramil, tetapi tak pernah ada jawaban yang memuaskan. Ketika mencari keterangan itu ia selalu dilempar dari satu petugas kepada petugas yang lain. Tapi yang jelas, banyak orang yang selenthang-selenthing mengatakan kalau ayahnya terlibat sebuah gerakan yang membahayakan keselamatan Negara. Ayah Jumari dianggap terlibat gerakan partai komunis Indonesia. Sembilan tahun sudah ayahnya mendekam di penjara. Jumari bisa bertemu ayahnya terakhir kali empat tahun yang lalu ketika masih berada di penjara Banyumas, sebelum dipindahkan ke Ambarawa. Ketika dipindah, tak ada kabar untuk keluarga. Setelah itu keluarganya tak mendapatkan ijin untuk bertemu langsung dengan ayahnya. Setiap kali menjenguk ayahnya, Jumari akan berdiri di pinggir pagar dekat sawah yang mengelilingi penjara. Dari kejauhan ia akan melambai-lambaikan daun pisang sebagai bahasa komunikasi dengan ayahnya. Dari kejauhan pula, dari tingkat atas penjara, ayahnya akan melambai-lambaikan bajunya. Setelah itu Jumari akan membuat bentuk-bentuk huruf dari lambaian daun pisang yang bisa dibaca dari jauh oleh ayahnya: “Kiye inyong, pak” (Ini aku pak). Lalu ayahnya akan membalas dengan cara yang sama menggunakan lambaian bajunya: “Iya, biyung waras?” (Iya, ibumu sehat?). “Waras, bapak kepriwe?” (Sehat, bapak sendiri bagaimana?) “Inyong waras. Sinau sregep ya. Jaga biyunge” (Saya sehat. Rajinlah belajar. Jagalah ibumu) “Siki Sumi wis bongsor ndeyan?” (Sekarang Sumi tentu sudah besar ya?) “Sumi kelas telu SD pak, durung tau weruh bapak. Melasi.” (Sumi kelas tiga SD pak, belum pernah melihat bapak. Kasihan) Sumi adalah adik Jumari yang paling kecil. Ia belum pernah melihat wajah ayahnya karena ketika ayahnya dipenjara, ia masih dalam kandungan. Sambil menangis dalam kesedihan, rindu dan perut lapar, Jumari biasanya berkomunikasi dengan cara demikian selama kurang lebih satu jam. Ia baru akan sampai di rumah biasanya lepas maghrib. Di akhir percakapan itu, ayahnya selalu berpesan: “Anake inyong sing padha tabah ya. Sedhela maning inyong bali ngumah” (Anak-anakku semoga selalu tabah. Sebentar lagi aku pulang ke rumah) *** Sudah sekian lama, gaji bulanan dan beras jatah ayah Jumari tak diterima lagi oleh keluarga. Rumah dinas yang telah lunas cicilannya dari potongan gaji juga telah disita oleh kantor koramil. Semuanya tak disertai alasan jelas, dihentikan dan dirampas begitu saja. Kemelaratan, kesedihan, amarah dan ketakberdayaan sungguh telah merenggut hidup mereka. Semua yang dimiliki telah dijual oleh biyung Jumari untuk membiayai hidup sehari-hari dengan sembilan orang anak. Meja, kursi, almari, tempat tidur, gelas dan piring, semuanya telah terjual. Makan sehari-hari juga seadanya saja. Belum tentu dalam seminggu bisa makan telor sekali. Kalau kebetulan bisa makan dengan lauk telor, adik-adik Jumari biasanya tidak mau mencuci tangan supaya ketika saat makan lagi, bau telor di tangan masih tersisa sehingga terasa makan dengan lauk telor. Dalam kemelaratan yang demikian, makan telor adalah peristiwa yang sangat istimewa. Suatu hari di waktu lebaran, terjadilah peristiwa yang tak akan pernah terlupakan sepanjang hidup Jumari dan adik-adiknya. Biyung Jumari sudah sama sekali tak memiliki uang lagi untuk membelikan sekedar baju baru bagi anak-anaknya. Karena tidak ingin melihat anak-anaknya merasa minder kepada teman-teman sebayanya yang semuanya memakai baju baru saat lebaran, biyung Jumari membuat sendiri baju untuk anak-anaknya dari kain jarit yang masih dimilikinya. Ia memotong kain jarit itu sesuai dengan ukuran badan anak-anak lalu menjahitnya dengan tangan, tanpa mesin karena tentu saja tak punya mesin dan tak mampu bayar ongkos tukang jahit. Lebaran pagi, ketika semua anak kampung mengenakan baju baru, Jumari dan adik-adiknya mengenakan baju dari kain jarit bikinan biyung. Tetapi, apa yang terjadi? Baju itu pas sekali dengan badan dan bagian lengannya tak bisa buat bergerak nyaman. Jadi seperti wayang. Kain jarit yang dimiliki biyung tak mencukupi untuk membuat baju yang lebih longgar. Kali lain, ketika biyung Jumari mendapat sedikit rejeki dan bisa membeli ikan, Jumari sangat berharap hari itu ia bisa menikmati ikan. Selesai menggoreng ikan, semua adik Jumari kebagian makan dengan lauk ikan. Karena harus bekerja di toko besi selepas sekolah, Jumari baru akan makan di rumah sore harinya menjelang maghrib. Jatah makanan berlauk ikan buat Jumari itu diletakkan di atas tungku, ditutupi jengkok kayu yang berat. Ketika Jumari pulang, jengkok itu sudah terguling di tanah, sementara nasi dan ikannya hanya tersisa sedikit saja. Tanpa ada yang tahu, jatah makanan Jumari telah menjadi santapan kucing. Terpaksa, sore itu Jumari makan nasi yang diurapi sedikit garam. Kesulitan demi kesulitan silih berganti dihadapi oleh Jumari dan adik-adiknya. Selesai sekolah, tak satupun dari antara adik-adiknya yang bisa bekerja sebagai pegawai negeri karena selalu dicap sebagai anak tapol. Setelah lulus sekolah, Jumari sendiri merantau ke Jakarta sebagai kuli bangunan, sementara adik-adiknya yang lain tersebar ke berbagai kota mencari pekerjaan apa saja yang penting bisa buat bertahan hidup. Hanya si bungsu Sumi yang masih tetap di rumah karena dia belum lulus sekolah dan menemani biyung. Suatu hari menjelang maghrib, ketika Sumi sedang menyapu halaman dan biyung sedang di dapur, seorang lelaki tua berdiri di dekat pohon depan rumah. Lelaki itu kurus kering, mengenakan baju hijau bertambal-tambal di sana sini, menjinjing tas plastik hitam dan bersandal jepit. Sumi memperhatikan lelaki itu sekilas saja karena mengiranya sebagai pengemis yang kebetulan lewat. Tetapi lelaki itu berhenti di dekat pohon dan memperhatikan Sumi lama sekali. “Kula nuwun dik” (Permisi dik), sapa lelaki itu. “Mangga pak. Wonten napa?” (Silakan pak. Ada apa), jawab Sumi balik bertanya. “Nuwun sewu, griyanipun bu Surati niku sing pundi nggih?” (Maaf, rumahnya bu Surati itu yang mana?) “Lha niki griyanipun. Sekedhap nggih pak” (Ini rumahnya. Sebentar ya pak), jawab Sumi sambil bergegas masuk ke rumah karena lelaki tua itu menanyakan nama ibunya. “Yung, kae ana wong kaya wong ngemis nggoleti biyunge” (Ibu itu ada lelaki seperti pengemis mencari ibu), kata Sumi kepada ibunya. Ibunya segera keluar rumah. Sumi mengikuti ibunya. Sesampai di luar ibunya mengamati lelaki itu. Maghrib membuat wajah oarng itu samara-samar. Ibunya hampir tak mengenali lelaki itu sampai ketika lelaki itu menyapanya. “Kiye inyong” (Ini aku), kata lelaki itu tetap berdiri di dekat pohon sambil menjing tas plastik hitam. Selanjutnya adalah tangisan dan pelukan. Entahlah apa yang dirasakan oleh keduanya, kesedihan, kebahagiaan, keharuan? Hanya kedalaman yang mengetahuinya. Maghrib itulah, untuk pertama kalinya Sumi melihat wajah bapaknya. Di dalam tas plastik hitam yang dibawa ayahnya, hanya ada satu stel pakaian yang dibawa dan amplop berisi selembar kertas pernyataan yang bertuliskan: “ Orang yang namanya tercantum di bawah ini, tidak terbukti memiliki keterlibatan dengan organisasi terlarang dan menyetujui untuk tidak melakukan tuntutan” Setelah tiga belas tahun dipenjara, kehilangan segala hak dan harta benda, menanggung segala kepedihan dan kemelaratan, ia hanya diberi selembar kertas dan tak boleh melakukan tuntutan.*** (Resist-Info September 2006)