Monday, March 16, 2026

Puasa dan Keberpihakan

 


Percobaan ketiga yang dialami Yesus pada saat berpuasa 40 hari di padang gurun oleh penulis Injil Matius dirumuskan demikian:

"Semua itu akan kuberikan kepadaMu, jika engkau bersujud menyembah aku. Maka jawab Yesus, enyahlah iblis, sebab ada tertulis, engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (Mat 4:8-11. - dalam versi Lukas, ini merupakan percobaan kedua, Luk 4:5-8)

Apa yang dinyatakan oleh penulis Injil adalah kesaksian iman bahwa Yesus adalah manusia unggul yang bertaqwa, berserah diri, dan tunduk hanya kepada Allah saja. Dalam Islam ini disebut sebagai sikap Tauhid, dan berserah diri kepada Tuhan itu disebut berislam karena Islam artinya berserah diri.

Tauhid di dalam Islam bukan semata-mata kesalehan religius-ritual melainkan sekaligus dan takndapat dipisahkan dari kesalehan sosial. Bertauhid kepada Tuhan menyatu dan harus menubuh ke dalam tindakan sosial, yakni keadilan sosial. Tanpa perwujudan keadilan, tauhid kehilangan seluruh maknanya. Oleh karena itu, di dalam Islam, ritual ibadah haji sebagai puncak sakramen tauhid memiliki banyak persyaratan sejak dari simbolisasi pakaian sampai kepada perilaku bahkan tak diperkenankan membunuh nyamuk. Ibadah haji musti diakhiri dengan berbagi utk keadilan, salah satunya melalui pengorbanan kambing domba dalam ritual Idul Adha. Ini adalah simbolisasi dari berbagi untuk keadilan.

Secara filosofis substansial, tauhid atau sikap tidak menuhankan siapapun selain Allah, dipahami dan dihayati bahwa di hadapan Allah, semua manusia apapun latar belakang dan kondisinya adalah bermartabat dan setara. Implikasinya, tauhid memiliki imperatif etik berupa menghormati martabat dan kedaulatan setiap manusia. Bahwa manusia adalah subyek merdeka yang memiliki hak untuk merumuskan dirinya sendiri dan memiliki kebebasan untuk senantiasa memilih cara baru untuk menjadi manusia. Oleh sebab itu, di dalam prinsip tauhid, ketidakadilan adalah skandal bagi kehidupan manusia. Salah satu wujud ketidakadilan adalah pemaksaan kehendak kepada sesama dan penindasan demi pemenuhan kepentingan sepihak.

Puasa adalah salah satu jalan spiritual untuk mengingatkan diri tentang tauhid dan sekaligus memperkuat prinsip tauhid itu. Dalam pengertian itu, puasa adalah jalan untuk meningkatkan kepekaan dan pilihan terhadap tindakan keadilan. Puasa adalah jalan utk mempertajam sikap kritis terhadap ketidakadilan. Dalam bahasa teologi pembebasan Gustavo Gutierrez, puasa merupakan jalan untuk meneguhkan keberlihakan kepada mereka yang tertindas, preferential option for the oppressed, agar kerajaan Allah, yakni keadilan itu benar-benar hadir dan terwujud dalam realitas sosial. Gutierrez bahkan menegaskan bahwa dalam situasi ketidakadilan yang nyata, sikap netral tidak dibutuhkan karena sikap ini juatru sama dengan menyetujui penindasan dan ketidakadilan, juatru sama dengan mendukung para penindas. Inilah spiritualitas dasar puasa. Maka berbuka baik sendiri amaupun bersama merupakan waktu jedha, epoche, untuk bersyukur atas pelampauan perjalanan rohani satu hari sambil mengevaluasi apakah konsistensi keadilan telah terwujud dan menubuh dalam hidup nyata.

Kondisi relasi negatif antara Israel-AS dan Iran secara substansial bukanlah perang. Dalam Islam, bulan ramadhan adalah bulan suci yang tidak mengijinkan pertumpahan darah. Bulan ramadhan adalah bulan tarbiyah, yakni bulan untuk mendidik diri memperkuat tauhid dan perilaku keadilan. Maka, sangat tidak masuk akal jika dalam bulan Ramadhan ini, Iran melancarkan serangan. Namun semua itu diijinkan ketika martabat hidup yang sangat dihormati dalam keadilan itu ternyata berada dalam ancaman dan sedang dipertaruhkan. Iran melakukan serangan karena terlebih dahulu diserang tanpa kesalahan apapun. Satu-satunya kesalahan Iran di mata Israel-AS swhingga ia diserang adalah karena ia menghormati martabat dan kesetaraan manusia dalam keadilan, serta tidak mau tunduk kepada kepentingan sepihak manapun. Ini merupakan konsistensi dari sikap tauhid, yakni tidak tunduk kepada siapapun selain kepada Allah, dan tidak menganggap diri sendiri sebagai pemegang kuasa seperti Allah sehingga memaksa pihak lain untuk tunduk kepadanya.

Dalam keterpaksaan yang sedemikian ini dan demi melindungi kehidupan yang dihormatinya, Iran terpaksa memperjuangkan kehormatan dirinya sebagai perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan yang diterimanya. Dalam konteks ini, perlawanan Iran bukanlah sebuah hasrat akan kekuasaan, karena ia menghormati perjanjian internasional, melainkan sebuah perlawanan terhadap pemaksaan kekuasaan yang dilakukan oleh Israel dan AS.

Dalam perjalanan waktu yang panjang, pantas diperhatikan bahwa perilaku Israel-AS terhadap negara-negara lain merupakan cerminan yang gamblang tentang apa yang oleh Slavoj Zizek disebut sebagai the theft of enjoyment, yakni ilusi tentang tercurinya kenikmatan oleh pihak lain dan menganggap bahwa kenikmatan itu bahkan tercuri secara berlebihan (surplus enjoyment). Ilusi ini memproduksi perasaan terancam yang berkelanjutan dan berlebihan serta menjadi ladang subur bagi tumbuhnya tindakan jahat. Tak mengherankan jika Israel-AS membangun banyak kebohongan sebagai upaya konstruksi diacriminatory discourse tentang pihak lain demi melegitimasi tindakan jahatnya. Dunia internasional, para aktivis HAM internasional, lembaga kemanusiaan sudah mengidentikasi dan menyuarakan hal ini secara jelas. Secara jelas, dalam tulisan lain, saya justru menyebut bahwa Israel-AS inilah yang sebenar-benarnya merupakan pelaku dari sustainable terorrism dan merupakan ancaman bagi banyak bangsa.

Yang lebih memprihatinkan lagi, Nurit Peled-Elhanan, profesor perempuan ahli pendidikan keturunan Yahudi, yang anaknya terbunuh oleh orang Palestina, melakukan kajian internal terhadap kurikulum pendidikan di semua jenjang sekolah Israel dan menyimpulkan bahwa secara siatematis dan terstruktur, melalui kurikulum resmi, semua sekolah Israel telah menanamkan kebencian nyata terhadap orang Palestina, dan menghapus kenyataan orang Palestina sebagai subyek manusia. Ia mengatakan bahwa dwngan demikian kurikulum sekolah Israel telah menyiapkan lahirnya monster-monster yang siap menghapuskan kemanusiaan orang Palestina dan menjadi tentara-tentara IDF yang sangat buas. (Ringkasan hasil penelitian ini telah menjadi salah satu artikel yang diterbitkan oleh penerbit Kanisius berjudul Anak-Anak Abraham, 2013). Dari hasil penelitian ini tampak jelas bahwa kejahatan brutal yang bisa bertahan puluhan tahun dan merambah ke berbagai wilayah adalah buah dari habitus. Selera, empati maupun kebencian adalah sebuah konstruksi.

Dalam konteks itu, puasa prapaskah dan puasa Ramadhan, adalah sebuah jalan rohani untuk memperkuat sikap Tauhid dan implikasi keadilan sosialnya. Dalam bahasa Islam, puasa adalah jalan untuk mempertajam sikap kritis terhadap ketidakadilan dan memilih keberpihakan. Dalam bahasa teologi pembebasan Kristen, puasa adalah jalan untuk mempertajam kepekaan terhadap semua bentuk skandal bagi hadirnya Kerajaan Allah dan memilih preferential option for the oppressed agar hidup kristiani benar-benar menjadi sakramen, yakni tanda dan sarana nyata kesatuan antara Allah dan manusia yang terwujud di dalam tindakan keadilan, melawan kesewenang-wenangan.

Dalam analisis dan refleksi teologis inilah saya mengambil posisi pilihan keberpihakan pastoral edukatif dan tidak bersikap netral. Perjuangan dan perlawanan rakyat Palestina serta rakyat Iran dalam perspektif teologi pembebasan adalah jalan berat penuh risiko untuk tidak tunduk kepada kesewenang-wenangan agar benar-benar dapat menghadirkan kerajaan Allah, Allah yang merada dalam keadilan. Perlawanan dan perjuangan utk keadilan itu dapat disebut sebagai tindakan sosial yang bersifat sakramental.

Pilihan Iran untuk melakukan perlawanan dalam konteks yang sangat jelas ini adalah perwujudan dari jawaban Yesus dalam puasanya terhadap godaan di atas ketinggian. Melawan kesewenang-wenangan manusia atas manusia lain adalah penubuhan dari prinsip Tauhid.

 

No comments: