Percobaan ketiga yang dialami
Yesus pada saat berpuasa 40 hari di padang gurun oleh penulis Injil Matius
dirumuskan demikian:
"Semua itu akan kuberikan
kepadaMu, jika engkau bersujud menyembah aku. Maka jawab Yesus, enyahlah iblis,
sebab ada tertulis, engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia
sajalah engkau berbakti!" (Mat 4:8-11. - dalam versi Lukas, ini merupakan
percobaan kedua, Luk 4:5-8)
Apa yang dinyatakan oleh penulis
Injil adalah kesaksian iman bahwa Yesus adalah manusia unggul yang bertaqwa,
berserah diri, dan tunduk hanya kepada Allah saja. Dalam Islam ini disebut
sebagai sikap Tauhid, dan berserah diri kepada Tuhan itu disebut berislam
karena Islam artinya berserah diri.
Tauhid di dalam Islam bukan
semata-mata kesalehan religius-ritual melainkan sekaligus dan takndapat dipisahkan
dari kesalehan sosial. Bertauhid kepada Tuhan menyatu dan harus menubuh ke
dalam tindakan sosial, yakni keadilan sosial. Tanpa perwujudan keadilan, tauhid
kehilangan seluruh maknanya. Oleh karena itu, di dalam Islam, ritual ibadah
haji sebagai puncak sakramen tauhid memiliki banyak persyaratan sejak dari
simbolisasi pakaian sampai kepada perilaku bahkan tak diperkenankan membunuh
nyamuk. Ibadah haji musti diakhiri dengan berbagi utk keadilan, salah satunya
melalui pengorbanan kambing domba dalam ritual Idul Adha. Ini adalah
simbolisasi dari berbagi untuk keadilan.
Secara filosofis substansial,
tauhid atau sikap tidak menuhankan siapapun selain Allah, dipahami dan dihayati
bahwa di hadapan Allah, semua manusia apapun latar belakang dan kondisinya
adalah bermartabat dan setara. Implikasinya, tauhid memiliki imperatif etik
berupa menghormati martabat dan kedaulatan setiap manusia. Bahwa manusia adalah
subyek merdeka yang memiliki hak untuk merumuskan dirinya sendiri dan memiliki
kebebasan untuk senantiasa memilih cara baru untuk menjadi manusia. Oleh sebab
itu, di dalam prinsip tauhid, ketidakadilan adalah skandal bagi kehidupan
manusia. Salah satu wujud ketidakadilan adalah pemaksaan kehendak kepada sesama
dan penindasan demi pemenuhan kepentingan sepihak.
Puasa adalah salah satu jalan
spiritual untuk mengingatkan diri tentang tauhid dan sekaligus memperkuat
prinsip tauhid itu. Dalam pengertian itu, puasa adalah jalan untuk meningkatkan
kepekaan dan pilihan terhadap tindakan keadilan. Puasa adalah jalan utk mempertajam
sikap kritis terhadap ketidakadilan. Dalam bahasa teologi pembebasan Gustavo
Gutierrez, puasa merupakan jalan untuk meneguhkan keberlihakan kepada mereka
yang tertindas, preferential option for the oppressed, agar kerajaan Allah,
yakni keadilan itu benar-benar hadir dan terwujud dalam realitas sosial.
Gutierrez bahkan menegaskan bahwa dalam situasi ketidakadilan yang nyata, sikap
netral tidak dibutuhkan karena sikap ini juatru sama dengan menyetujui
penindasan dan ketidakadilan, juatru sama dengan mendukung para penindas.
Inilah spiritualitas dasar puasa. Maka berbuka baik sendiri amaupun bersama
merupakan waktu jedha, epoche, untuk bersyukur atas pelampauan perjalanan
rohani satu hari sambil mengevaluasi apakah konsistensi keadilan telah terwujud
dan menubuh dalam hidup nyata.
Kondisi relasi negatif antara
Israel-AS dan Iran secara substansial bukanlah perang. Dalam Islam, bulan
ramadhan adalah bulan suci yang tidak mengijinkan pertumpahan darah. Bulan
ramadhan adalah bulan tarbiyah, yakni bulan untuk mendidik diri memperkuat
tauhid dan perilaku keadilan. Maka, sangat tidak masuk akal jika dalam bulan
Ramadhan ini, Iran melancarkan serangan. Namun semua itu diijinkan ketika
martabat hidup yang sangat dihormati dalam keadilan itu ternyata berada dalam
ancaman dan sedang dipertaruhkan. Iran melakukan serangan karena terlebih
dahulu diserang tanpa kesalahan apapun. Satu-satunya kesalahan Iran di mata
Israel-AS swhingga ia diserang adalah karena ia menghormati martabat dan
kesetaraan manusia dalam keadilan, serta tidak mau tunduk kepada kepentingan
sepihak manapun. Ini merupakan konsistensi dari sikap tauhid, yakni tidak
tunduk kepada siapapun selain kepada Allah, dan tidak menganggap diri sendiri
sebagai pemegang kuasa seperti Allah sehingga memaksa pihak lain untuk tunduk
kepadanya.
Dalam keterpaksaan yang
sedemikian ini dan demi melindungi kehidupan yang dihormatinya, Iran terpaksa
memperjuangkan kehormatan dirinya sebagai perlawanan terhadap ketidakadilan dan
penindasan yang diterimanya. Dalam konteks ini, perlawanan Iran bukanlah sebuah
hasrat akan kekuasaan, karena ia menghormati perjanjian internasional,
melainkan sebuah perlawanan terhadap pemaksaan kekuasaan yang dilakukan oleh
Israel dan AS.
Dalam perjalanan waktu yang
panjang, pantas diperhatikan bahwa perilaku Israel-AS terhadap negara-negara
lain merupakan cerminan yang gamblang tentang apa yang oleh Slavoj Zizek
disebut sebagai the theft of enjoyment, yakni ilusi tentang tercurinya
kenikmatan oleh pihak lain dan menganggap bahwa kenikmatan itu bahkan tercuri
secara berlebihan (surplus enjoyment). Ilusi ini memproduksi perasaan terancam
yang berkelanjutan dan berlebihan serta menjadi ladang subur bagi tumbuhnya
tindakan jahat. Tak mengherankan jika Israel-AS membangun banyak kebohongan
sebagai upaya konstruksi diacriminatory discourse tentang pihak lain demi
melegitimasi tindakan jahatnya. Dunia internasional, para aktivis HAM
internasional, lembaga kemanusiaan sudah mengidentikasi dan menyuarakan hal ini
secara jelas. Secara jelas, dalam tulisan lain, saya justru menyebut bahwa
Israel-AS inilah yang sebenar-benarnya merupakan pelaku dari sustainable
terorrism dan merupakan ancaman bagi banyak bangsa.
Yang lebih memprihatinkan lagi,
Nurit Peled-Elhanan, profesor perempuan ahli pendidikan keturunan Yahudi, yang
anaknya terbunuh oleh orang Palestina, melakukan kajian internal terhadap
kurikulum pendidikan di semua jenjang sekolah Israel dan menyimpulkan bahwa
secara siatematis dan terstruktur, melalui kurikulum resmi, semua sekolah
Israel telah menanamkan kebencian nyata terhadap orang Palestina, dan menghapus
kenyataan orang Palestina sebagai subyek manusia. Ia mengatakan bahwa dwngan
demikian kurikulum sekolah Israel telah menyiapkan lahirnya monster-monster
yang siap menghapuskan kemanusiaan orang Palestina dan menjadi tentara-tentara
IDF yang sangat buas. (Ringkasan hasil penelitian ini telah menjadi salah satu
artikel yang diterbitkan oleh penerbit Kanisius berjudul Anak-Anak Abraham,
2013). Dari hasil penelitian ini tampak jelas bahwa kejahatan brutal yang bisa
bertahan puluhan tahun dan merambah ke berbagai wilayah adalah buah dari
habitus. Selera, empati maupun kebencian adalah sebuah konstruksi.
Dalam konteks itu, puasa
prapaskah dan puasa Ramadhan, adalah sebuah jalan rohani untuk memperkuat sikap
Tauhid dan implikasi keadilan sosialnya. Dalam bahasa Islam, puasa adalah jalan
untuk mempertajam sikap kritis terhadap ketidakadilan dan memilih keberpihakan.
Dalam bahasa teologi pembebasan Kristen, puasa adalah jalan untuk mempertajam
kepekaan terhadap semua bentuk skandal bagi hadirnya Kerajaan Allah dan memilih
preferential option for the oppressed agar hidup kristiani benar-benar menjadi
sakramen, yakni tanda dan sarana nyata kesatuan antara Allah dan manusia yang
terwujud di dalam tindakan keadilan, melawan kesewenang-wenangan.
Dalam analisis dan refleksi
teologis inilah saya mengambil posisi pilihan keberpihakan pastoral edukatif
dan tidak bersikap netral. Perjuangan dan perlawanan rakyat Palestina serta
rakyat Iran dalam perspektif teologi pembebasan adalah jalan berat penuh risiko
untuk tidak tunduk kepada kesewenang-wenangan agar benar-benar dapat
menghadirkan kerajaan Allah, Allah yang merada dalam keadilan. Perlawanan dan
perjuangan utk keadilan itu dapat disebut sebagai tindakan sosial yang bersifat
sakramental.
Pilihan Iran untuk melakukan
perlawanan dalam konteks yang sangat jelas ini adalah perwujudan dari jawaban
Yesus dalam puasanya terhadap godaan di atas ketinggian. Melawan
kesewenang-wenangan manusia atas manusia lain adalah penubuhan dari prinsip
Tauhid.

No comments:
Post a Comment