“Poverty means death. This death,
however, is not only physical
but mental and cultural as well.
It refers to the destruction of
individual persons, peoples,
cultures, and traditions.”
(Gustavo Gutiérrez, We Drink from
Our Own Wells:
The Spiritual Journey of a
People)
Gustavo Gutierrez-Merino Diaz
adalah seorang filsuf cum teolog pembebasan dari Peru, yang pada tahun 1971
menulis sebuah buku yang di kemudian hari sangat berpengaruh dalam analisis dan
gerakan sosial di kalangan Gereja Katolik, meskipun pada awalnya menimbulkan
banyak pertentangan, yakni Teologia de la Liberation, Perspectivas, yang pada
tahun 1973 diterbitkan oleh Orbis Book, Maryknoll dengan judul A Theology of
Liberation, History, Politics and Salvation. Tahun 1984, Orbis Book menerbitkan
bukunya yang lain yang berjudul We Drink from Our Own Wells: The Spiritual
Journey of a People. Keprihatinan utama dalam tulisan-tulisan dan gerakan
sosial yang dilakukannya adalah realitas sosial yang secara nyata dihadapinya
dan menantang kepeduliannya, yakni kemiskinan absolut yang mematikan, yang
dalam analisisnya ditemukannya sebagai kemiskinan struktural. Kemiskinan
absolut [1] adalah situasi di mana kebutuhan-kebutuhan pokok yang primer seperti
pangan, sandang, papan, kesehatan (kebutuhan terhadap air bersih dan sanitasi),
kerja yang wajar dan pendidikan dasar tak terpenuhi. Dalam situasi ini, tentu
saja kebutuhan-kebutuhan yang bersifat sekunder seperti rekreasi, partisipasi
atau lingkungan hidup yang menyenangkan dan sebagainya, sama sekali tak dapat
dipenuhi. Dalam situasi ini, bentuknya yang sangat ekstrem adalah situasi
kelaparan yang dapat mengakibatkan kematian. Inilah gambaran tentang kemiskinan
absolut dan orang miskin yang berada di dalam situasi ini.
Meskipun ada banyak bentuk dan
dimensi dari pengalaman kemiskinan, ada satu pengalaman yang sangat khas dan
paling berat dialami dalam semua bentuk kemiskinan, yakni apa yang disebut
sebagai pengalaman ketidakberdayaan dan ketergantungan. Orang miskin yang
berada dalam pengalaman mendalam dan paling berat ini, seringkali hampir tak
memiliki harapan untuk berubah, tak bisa keluar dari pengalaman kemiskinan
mereka. Bagi mereka tak ada pilihan atau referensi pengalaman lain selain
pengalaman kemiskinan dalam rupa ketidakberdayaan dan ketergantungan [2] itu
sendiri. Dalam konteks inilah, sebagaimana dikutip pada bagian awal dari
tulisan ini, Gustavo Gutierrez akhirnya menyatakan bahwa kemiskinan berarti
kematian. Namun, kematian ini tidak hanya bersifat fisik tetapi juga mental dan
budaya. Kemiskinan mengacu pada penghancuran individu, masyarakat, budaya, dan
tradisi.
Seekor Bajingan, Potret Kecil
Kemiskinan Absolut
Lakon karya Whani Darmawan
berjudul Seekor Bajingan di Mobil Slavee adalah sebuah potret kecil kemiskinan
absolut yang dinyatakan oleh Gustavo Gutierrez. Apa yang dilakonkan oleh Whani
Darmawan adalah dampak kemiskinan absolut yang berjangka panjang, yang
merupakan proses penghancuran individu atau kerusakan kepribadian (the
destruction of individual persons). Tokoh Slavee dan tokoh seekor Bajingan
dalam lakon ini sebenarnya adalah dua wajah dari satu tokoh kepribadian. Secara
paradoksal, lakon ini menunjukkan dua wajah dalam satu subyek kepribadian yakni
wajah real dan wajah imajiner dalam tahap cermin Lacanian. Tokoh Slavee,
meskipun digambarkan sebagai tokoh real, sejatinya ia mencerminkan wajah imajiner,
yakni wajah dalam cermin Lacanian. Sementara tokoh Bajingan, yang dalam lakon
ini tampak sebagai tak nyata, yang hadir begitu saja di dalam mobil Slavee, dan
menghilang begitu saja pada akhir lakon, justru mencerminkan wajah real, yakni
wajah real dari subyek Slavee itu sendiri, wajah di hadapan cermin Lacanian.
Dalam kajian psikoanalisis Lacan, tokoh Slavee mencerminkan ketaksadaran
(unconsciousness) yang sama sekali tak diketahui dan tak dikenali (unkown).
Sementara tokoh Bajingan mencerminkan ketaksadaran yang menampakkan diri
(manifestation), yang pada moment tertentu menjadi pengalaman traumatik yang
dikenali dan menggugat diri sendiri.
Dua wajah paradoksal ini mewakili
satu subyek yang seluruh proses pembentukannya merupakan dampak traumatik dari
kemiskinan absolut yang mematikan. Baik Slavee maupun Bajingan, keduanya
merupakan satu subyek yakni subyek tak sadar yang seluruh proses pembentukannya
merupakan pengalaman traumatik atas kemiskinan absolut. Dialog antara keduanya
di dalam lakon ini adalah perwujudan dialog internal dua wajah ketaksadaran di
mana yang satu sungguh-sungguh tak dikenali (unknown) dan yang satunya lagi
adalah yang menampakkan diri (manifestation). Ketaksadaran ini menampakkan diri
dalam ketakutan, kecemasan, dalam keterpecahan, atau dalam kegagalan dan
ketergelinciran bahasa yang oleh Lacan disebut sebagai gap atau rupture dalam
rangkaian simbolik. [3]
Melalui dialog antara Slavee dan
Bajingan, Whani Darmawan sedang menggambarkan dinamika ketaksadaran subyek yang
dipenuhi oleh pengalaman-pengalaman traumatik kemiskinan absolut masa lalu,
yakni pengalaman tiadanya referensi lain kecuali kemiskinan itu sendiri,
ketidakberdayaan dan ketergantugan.
Subyek yang Teralienasi
Kemiskinan absolut yang
menghantam kehidupan, seringkali melahirkan keterasingan subyek. Ia tak
mengenali wajah dan keberadaannya sendiri karena kemiskinan absolut sebagai
cermin kehidupan justru melahirkan apa yang disebut sebagai imago, yakni
sesuatu yang lain, yang bukan diri sendiri, tetapi diidentifikasikan sebagai
dirinya. Kemiskinan absolut justru melahirkan gambaran-gambaran tentang
keutuhan diri imajiner yang dalam seluruh proses hidup selanjutnya, secara
simbolis dibentuk oleh seluruh hasrat yang lain, yakni hasrat tak sadar akan
sesuatu yang hilang yang tak dapat dijangkau yang akhirnya diproyeksikan juga
ke dalam imago. [4]
Meskipun tidak selalu, tidak
semuanya, dan bukan kepastian, sebagian dari subyek yang digerus oleh
kemiskinan absolut, dipenuhi oleh hasrat akan sesuatu yang hilang, yakni
pengakuan, kehormatan, kepastian, kepuasan, kemudahan, kekuasaan dan
sebagainya. Hasrat-hasrat ini merupakan pembalikan dari apa yang disebut
pengabaian, perasaan rendah diri, kecemasan atau kekhawatiran, kekecewaan,
kesulitan, dan ketakberdayaan atau ketergantungan. Itu semua merupakan hasrat
utama sekaligus penanda utama yang sangat berpengaruh di dalam seluruh proses
produksi makna. Itulah hasrat phallic [5] yang traumatik. Hasrat akan pengakuan
(recognition) seringkali dicapai dengan membangun citra, meraih apa yang dianggap
hebat oleh kebanyakan orang, apa yang dikagumi dan dihasrati oleh orang lain.
Hasrat akan kehormatan diraih dengan membangun citra, memiliki apa yang secara
permukaan menandakan kesuksesan atau keberhasilan meskipun secara substansial
seringkali tak pernah tergapai dan mengabaikan kualitas yang aseli. Pencapaian
gelar, kekayaan, jabatan dan sebagainya menjadi orientasi utama dan bukan
berorientasi kepada kebermanfaatan atau nilai kontributif fundamental. Hasrat
akan kepastian dicapai dengan penanda-penanda berupa kepemilikan uang atau
kekayaan serta fasilitas sebagai sesuatu yang memberikan jaminan dan
menjauhkannya dari segala bentuk kekhawatiran atau kecemasan. Hasrat akan
kepuasan diraih dengan cara menggapai apapun yang dapat diinginkan. Pencapaian
ini tidak dilandasi oleh kebutuhan melainkan oleh keinginan. Hasrat akan
kemudahan dicapai melalui kekayaan, kepemilikan dan semua fasilitas. Hasrat
akan kekuasaan dicapai dengan mengejar jabatan, kedudukan dan pengaruh dengan
menggunakan cara apapun meskipun seringkali bersifat manipulatif.
Karena bersifat permukaan,
semuanya itu mengakibatkan subyek kehilangan otentisitas dirinya dan menjadi
terasing dengan keberadaan dirinya sendiri. Ia terasing dengan cara bagaimana
ia mengada dan terasing dengan bagaimana ia “mewaktu“. Proses mewaktu dalam
pemikiran Martin Heidegger, saya tafsirkan dan saya pahami sebagai proses yang
dipilih secara sadar, penuh tanggung jawab dan otonom oleh manusia untuk
menghadirkan diri secara intensif, otentik, dan berkualitas di dalam waktu,
melalui segala kompetensi, potensi, passion, hobby, minat, dan bakat yang ada
di dalam dirinya, disertai pertimbangan rasional kontekstual. Proses ini akan
mengantar setiap subyek menjadi manusia-manusia yang sanggup menemukan makna di
dalam setiap situasi hidupnya, sehingga ia benar-benar dapat terlibat di dalam
waktu, dan tidak terlipat di dalamnya. [6]
Alienasi atau keterasingan dari
cara mewaktu dirinya sendiri itu melahirkan kecemasan dan kegelisahan yang
terus-menerus dan mendalam (continuous anxiety), melahirkan
kebohongan-kebohongan dan topeng demi menutupi substansi yang sejatinya tak
berkualitas, sehingga mengakibatkan kelelahan eksistensial. Alienasi atau
keterasingan ini juga melahirkan perasaan terancam bahwa semua yang menjadi
hasratnya itu sewaktu-waktu akan hilang atau tercuri oleh orang lain sehingga
dirinya akan mendapati yang sebaliknya. Perasaan terancam yang demikian ini
oleh Slavoj Zizek disebut dengan istilah teknis yakni the theft of enjoyment,
yakni ilusi tentang tercurinya kepenuhan atau kenikmatan oleh pihak lain.
Kepenuhan atau kenikmatan yang secara traumatik diilusikan tercuri oleh pihak
lain itu secara faktual dan substansial sebenarnya tak pernah diraih atau
dimilikinya. [7]
Dalam perspektif psikologi
spiritual, keterasingan (alienation) atau kesepian (lonelyness) dibedakan dari
kesendirian (solitude) dan keheningan (silence). Kesendirian (solitude) dapat
membawa subyek kepada dua arah, yakni keterasingan dan kesepian, atau kepada
keheningan. Henry JM. Nouwen memaknai kesepian sebagai tiadanya ruang batin
yang ramah untuk menerima kehadiran yang lain. Subyek yang kesepian adalah
subyek yang ruang batinnya dipenuhi oleh kebisingan kecemasan dan kegelisahan
serta ketakutan bahkan kemarahan sehingga tak ada ruang yang tersedia untuk
menerima kehadiran yang lain. Kesepian adalah sikap dasar berupa penolakan
terhadap kehadiran yang lain di dalam ruang batinnya. Dengan demikian setiap
subyek yang mengalami kesepian adalah subyek yang senantiasa berada dalam
kebisingan. Ia tak sanggup mendengarkan kehadiran yang lain sehingga ia pun tak
dapat mengalami anugerah kehadiran.
Karena diliputi oleh kebisingan,
kesepian ini pada dasarnya merupakan ruang batin yang kosong dalam arti hampa
dan senantiasa menuntut untuk diisi. Oleh karena itu subyek yang kesepian
adalah subyek yang senantiasa menuntut, yakni menuntut yang lain, dan selalu
berkepentingan (tanpa keikhlasan).
Sebaliknya, keheningan adalah
tersedianya ruang batin yang luas dan ramah untuk menerima kehadiran yang lain.
Ruang batin yang demikian ini siap untuk mendengarkan dan belajar dari siapapun
dan apapun yang hadir di dalamnya secara apa adanya. Sikap dasar dari
keheningan adalah penerimaan terhadap kehadiran yang lain, apapun bentuknya.
Oleh karena itu subyek yang hening tak pernah merasakan kebisingan meskipun ia
berada di dalam situasi yang penuh keramaian. Subyek yang memasuki keheningan
adalah subyek yang ruang batinnya luas dan senantiasa siap memberikan
keramahan, menerima kehadiran orang lain tanpa tuntutan apapun, tanpa
kepentingan, ikhlas.
Untuk dapat mencapai keheningan
dan mengatasi kesepian, setiap subyek dituntut untuk berani memasuki
kesendirian (solitude), yakni menghadapi realitas dirinya sendiri,
mengenalinya, menerimanya dan melampaui rasa sakit yang barangkali akan
dialaminya pada saat awal menerima realitas dirinya.
Slavee dalam lakon yang ditulis
oleh Whani Darmawan ini menggambarkan subyek yang teralienasi dan kesepian
dalam kebisingan. Ruang batinnya dipenuhi oleh hiruk-pikuk kecemasan dan
kegelisahan, penolakan dan amarah. Inilah yang melandasi sikap penolakannya
terhadap kehadiran ayah-ibunya ketika ia telah memiliki seluruh fasilitas dan
kemudahan, dengan dalih bahwa setiap orang memiliki hak atas kemandirian. Ini
adalah penolakan terhadap realitas diri, yakni penolakan terhadap faktisitas
bahwa ia dilahirkan oleh orangtua yang terjerat dalam kemiskinan absolut. Ini
merupakan penolakan terhadap realitas ketidakberdayaan dan rasa malu yang
mendalam. Penolakan batin ini sejatinya adalah sebuah tuntutan agar yang lain
itu hadir di dalam ruang batinnya sesuai dengan kepentingan dan hasratnya. Ini
adalah wujud dari puncak alienasi dan kesepian yang sangat mendalam yang
dialami oleh subyek Slavee. Dalam ketaksadarannya, penolakan ini dapat dibaca
sebagai penolakan atas figur ayahnya yang juga tidak hadir justru pada
masa-masa krisis mental dimana ia sebenarnya membutuhkan kehadiran role model yang
menunjukkan perlindungan dan tanggung jawab. Yang terjadi, ayahnya justru
melarikan diri dari tanggung jawab dan bersembunyi di dalam kenyamanan
permukaan yang ditemukannya di gardu ronda bersama kawan-kawannya. Dengan
demikian penolakan Slavee terhadap kehadiran orangtuanya di rumahnya pada saat
seluruh fasilitas dan kekayaan telah memungkinkannya, dapat dibaca sebagai
pengulangan atau buah peneladanan (implisit habitus) dari pelarian terhadap
tanggungjawab. Pada gilirannya, penolakan ini semakin memperdalam keterasingan
dan kesepiannya karena ia semakin kehilangan oase dasar dari seluruh
emosionalitasnya sebagai subyek, yakni rasa memiliki, kedekatan, kehangatan dan
relasi mendalam dengan orangtua yang melahirkan dan memperjuangkan hidupnya.
Alienasi dan kesepian adalah wujud nyata dari kemiskinan ruang batin yang
absolut, yang kehilangan kemandirian dan keberdayaan batin, serta tetap
terperosok ke dalam ketidakberdayaan dan ketergantungan batin meskipun secara
faktual ia memiliki segala hal. Ia tetap menjadi subyek yang berkubang di dalam
apa yang oleh St. Ignatius dari Loyola disebut sebagai attachment, rasa lekat
tak teratur.
Apa yang dapat dibaca?
Naskah lakon yang ditulis oleh
Whani Darmawan ini secara keseluruhan merupakan naskah yang menarik dan kaya
karena di dalam dialog-dialognya, secara implisit ia menyuguhkan beberapa hal
yang dapat dibaca sebagai pembelajaran bermakna.
Pertama, fakta bahwa seorang
subyek dilahirkan oleh orangtua yang terpaksa terjerembab di dalam kemiskinan
absolut adalah sebuah faktisitas atau keterlemparan dalam pengertian Heidegger,
yakni sebuah fakta atau realitas yang diterima begitu saja tanpa pernah diminta
dan tak dapat ditolak, hanya dapat diterima. Respon dan cara menghadapi
faktisitas ini akan sangat memengaruhi dan membedakan seluruh cara subyek
mengada dan menjalani proses mewaktu sepanjang hidupnya. Perbedaan cara
menjalani proses mewaktu ini akan memengaruhi perbedaan dampak dalam seluruh
kehidupan. Perbedaan ini ditampilkan dalam respon kedua tokoh dalam menghadapi
faktisitas. Slavee memberikan respon dengan pertanyaan gugatan “mengapa mesti
aku yang menjalaninya?”, sementara Reta memberikan respon dengan penegasan
“justru karena aku yang menjalaninya”. Sikap yang ditampilkan oleh tokoh Slavee
mewakili subyek yang kesepian, yang tak sanggup menyediakan ruang yang ramah
bagi realitas. Sementara sikap yang ditampilkan oleh tokoh Reta, mewakili
subyek keheningan, yakni subyek yang sanggup menyediakan ruang ramah bagi
realitas.
Kedua, kemiskinan absolut yang
dihadapi oleh manusia, bukanlah faktisitas. Ia merupakan kondisi yang
dihasilkan oleh suatu konstruksi struktural. Oleh karenanya kemiskinan absolut
tetap dapat diubah. Karena pengalaman dasar dari kemiskinan absolut adalah
pengalaman ketidakberdayaan dan ketergantungan, maka perubahan terhadapnya
hanya dapat dilakukan melalui apa yang disebut sebagai intervensi keberpihakan
atau kepedulian (option for the poor) sebagai satu-satunya cara untuk membuka
akses-akses yang dibutuhkan sehingga orang miskin dapat keluar dari
kemiskinannya.
Dalam naskah lakon ini,
keberpihakan atau solidaritas itu digambarkan dalam dua kategori yakni
keberpihakan karitatif dan keberpihakan edukatif-kritis. Keberpihakan karitatif
dicerminkan dalam pemberian peluang usaha oleh salah seorang “tante” kepada
Slavee. Sementara keberpihakan edukatif-kritis dicerminkan oleh tindakan
Yayasan Yatim Piatu Hati Suci yang mengadopsi dan mendidik Reta sampai dapat
menempuh pendidikan tinggi. Kedua model keberpihakan ini memiliki dampak yang
berbeda terhadap subyek. Keberpihakan karitatif yang tampaknya tak disertai
dengan pendidikan kritis hanya sanggup memberikan perubahan dalam aspek kapital
ekonomi dan kapital sosial. Keberpihakan edukatif-kritis memberikan dampak yang
signifikan selain dalam aspek kapital ekonomi dan sosial, juga berdampak pada
perubahan kapital budaya yakni perubahan di tingkat cara berpikir, cara
bersikap, dan cara melihat realitas. Pendidikan kritis yang diterima oleh Reta
mengakibatkannya dapat mengambil jarak terhadap realitas, bersikap kritis
terhadapnya, dan mengajukan pertanyaan untuk mengetahui mengapa realitas itu
terjadi. Reta pada akhirnya mengajukan pertanyaan mengapa ibunya menderita
skizofrenia, faktor-faktor apa saja yang memengaruhi munculnya gejala mental
semacam itu dan sebagainya.
Ketiga, kemiskinan absolut yang
oleh Gustavo Gutierrez disebut sebagai the destruction of individual persons,
peoples, cultures, and traditions, dapat dibenarkan sebagai sebuah
kecenderungan umum namun tidak selalu merupakan kepastian. Naskah lakon yang
ditulis oleh Whani Darmawan ini menunjukkannya. Meskipun sama-sama dihamtam
oleh kemiskinan absolut, kepribadian dan karakter yang terbentuk antara Reta
dan Slavee tidaklah sama. Mengapa ini bisa berbeda? Teks naskah sendiri secara
implisit sama sekali tak memberikan petunjuknya. Namun ada kemungkinan yang
dapat diajukan sebagai faktor pembedanya, yakni tingkat kedalaman dan durasi
trauma yang diterimanya, jaringan sosial yang melingkupinya, dan asupan
informasi serta wawasan yang diterimanya yang pada gilirannya memengaruhi
pembentukan tata nilai yang menjadi landasan dan kerangka untuk memandang
realitas. Ini semua dapat memengaruhi sikap subyek terhadap realitas.
Keempat, kesadaran kritis adalah
fakultas yang sangat penting dan dibutuhkan oleh subyek untuk dapat menghadapi
realitas secara lebih otentik, berkualitas, independen, bermakna dan
bertanggung jawab. Selain membutuhkan habituasi dan latihan terus-menerus,
sikap atau kesadaran kritis ini membutuhkan asupan informasi, wawasan dan pengetahuan
yang juga terus-menerus agar melengkapi proses-proses analisis, pengambilan
jarak dan pembacaan terhadap realitas yang dihadapi.
Sikap kritis adalah kemampuan
untuk mempertimbangkan, mempertanyakan, mengambil jarak, menunda persetujuan,
mengevaluasi dan meneliti suatu pengetahuan, informasi, cara berpikir, sikap,
maupun tindakan yang pada umumnya begitu saja diterima sebagai kebenaran (taken
for granted) sehingga menemukan kepentingan atau ideologi yang tersembunyi di
dalamnya. Informasi, bahasa, rumusan, pengetahuan, tuturan, pernyataan, cara
berpikir, penggunaan istilah, selalu merupakan sebuah konstruksi dari
produsennya dan mengonstruksi orang lain untuk memercayai dan menyetujuinya
serta menggunakannya. Bahasa itu tidak netral sehingga senantiasa perlu
disikapi secara kritis agar ditemukan unsur kepentingan dan kekuasaan yang
tersembunyi di dalamnya. [8] Sikap kritis adalah cara berpikir yang mampu
menyingkapkan fenomena-fenomena tersembunyi atau melampaui asumsi-asumsi yang
hanya berdasarkan “common sense” (anggapan umum) dalam istilah Antonio Gramsci
(1971). [9] Langkah pertama sikap kritis adalah “menunda persetujuan” terhadap
segala macam informasi, dan mempertanyakan asal-usul atau konteks sebagai
langkah verifikasi. Sikap kritis mengedepankan “proses berpikir rasional”,
mengutamakan informasi berbasis data, siap mempertanyakan setiap informasi dan
menunda keyakinan terhadapnya (constant self-questioning, move outside the
framework), dan berupaya membedakan antara constructed-fictional-reality dan
factual-reality.
Dalam naskah lakon ini, sikap
kritis yang terbangun dalam diri Reta tidak menjadikannya sebagai subyek yang
menerima begitu saja bahwa realitas kemiskinan absolut yang dihadapinya,
lengkap dengan seluruh pengalaman ketakberdayaan, ketergantungan dan rasa malu
yang mendalam yang menyertainya adalah sebuah nasib yang tak dapat diubah dan
akan menghancurkan hidupnya. Sikap kritis yang terbangun di dalam dirinya
menjadikan ia sanggup menerima realitas itu dan bertindak secara lebih bertanggungjawab
untuk menghadapinya, mempertanyakannya, dan mengenalinya. Sikap kritis ini
menjadikannya tak memiliki rasa dendam terhadap kemiskinan dan terbebas dari
segala jenis kelekatan tak teratur sehingga hidupnya menjadi lebih otonom,
seimbang, gembira, riang, penuh makna, bertanggung jawab, berkualitas, otentik,
kreatif dan produktif. Meskipun bertubi-tubi didera oleh kemiskinan dan rasa
malu yang luar biasa, karena sikap kritisnya, ia tetap dapat menerima ibunya
dan merawatnya sampai akhir hayat, tanpa penolakan, tanpa kebencian, tanpa
dendam.
Dalam pengertian ini, sikap
kritis sebenarnya merupakan landasan utama bagi setiap subyek untuk membebaskan
diri dari setiap kesepian, karena ia berani memasuki kesendirian (solitudo) dan
meraih keheningan (silence), sehingga ia dapat menyediakan ruang yang luas dan
ramah di dalam batinnya untuk menerima realitas dan kehadiran yang lain secara
apa adanya, tanpa tuntutan. Ia tetap mengambil jarak (distance) terhadap
realitas, menerimanya, mengambil keputusan untuk terlibat di dalamnya
(solidarity, empathy) namun tanpa pernah terlipat (being trapped) di dalamnya.
Dalam spiritualitas Ignatius de
Loyola, sikap kritis ini diwujudkan dalam laku spiritual discernment atau
pembedaan roh (discretio spirituum). Untuk dapat melakukan discernment secara
berkualitas dan terus-menerus, setiap saat, subyek harus senantiasa membekali
dirinya dengan kesanggupan untuk belajar, mendengarkan, memperkaya informasi
dan wawasan yang memungkinkannya untuk dapat melakukan proses menimbang secara
berkualitas. Discernment atau menimbang-nimbang yang berkualitas membutuhkan
kemampuan lain yang disebut kemampuan mendengarkan (to listen) yang juga
bermakna belajar (to learn). Maka menimbang (discernment), mendengarkan (to
listen), dan belajar (to learn) adalah satu nafas yang tak dapat dipisahkan
dalam satu laku. Semuanya ini akan menghasilkan cara pandang, sikap, keputusan,
dan tindakan yang lebih baik yang biasa disebut sebagai bersifat magis. Kata
“magis“ yang dimaksud di sini adalah sebuah istilah dalam bahasa Latin yang
memiliki arti “lebih” atau dalam bahasa Inggris “the more“. Kata magis adalah
istilah teknis untuk mengungkapkan sesuatu yang mengarah kepada substansi atau
kedalaman atau kualitas yang semakin baik, meningkat dan semakin melebihi apa
yang sudah dicapai pada masa sebelumnya. Oleh karena itu, kata magis di sini
dimaksudkan untuk menunjukkan sesuatu yang mengarah kepada proses untuk menjadi
lebih baik, lebih mendalam, lebih berkualitas, lebih jujur, lebih adil, lebih
konsisten, lebih berkomitmen, lebih berintegritas, lebih bermanfaat dan
transformatif. Figur Reta dalam naskah lakon ini, mencerminkan seluruh
rangkaian integral dari sikap kritis, keheningan, discernment, dan sifat magis
ini.
Subyek yang sanggup melengkapi
diri sendiri dengan fakultas-fakultas ini, sebagaimana dicerminkan oleh tokoh
Reta, pada umumnya akan menjadi “keajaiban” atau “mukjizat” dalam kehidupan
karena ia akan senantiasa menghadirkan otentisitas, dan lebih dari itu semua
adalah integritas, yakni perjumbuhan antara nilai atau tujuan dan praksis atau
tindakan. [10] Dengan seluruh fakultas ini, sikap kritis, discernment, keheningan,
sikap magis, subyek-subyek yang pada masa lalunya barangkali pernah dihantam
oleh pengalaman-pengalaman berat berupa kemiskinan absolut yang berisi
ketidakberdayaan, ketergantungan dan rasa malu, tetap dapat mengambil pilihan
tindakan yang otentik, berkualitas, bermakna, bermanfaat, transformatif dan
berintegritas. Ia tetap menjadi manusia yang bebas, tanpa dendam terhadap
kemiskinan, tanpa silau terhadap kepemilikan, kekayaan, jabatan, maupun
kekuasaan. Semuanya dapat dicapai bukan sebagai tujuan, melainkan hanya sarana
untuk dapat berkontribusi secama maksimal bagi kehidupan. Maka ia tidak menjadi
budak bagi semua itu, melainkan tetap menjadi subyek yang merdeka.
Seekor Bajingan di Mobil Slavee,
naskah lakon yang ditulis oleh Whani Darmawan, adalah sebuah karya sastra yang
menyuguhkan tawaran tentang bagaimana subyek menghadapi realitas dan faktisitas
dalam hidupnya. Ia bisa memilih menjadi subyek yang mewaktu, yakni subyek yang
secara sadar, penuh tanggung jawab dan otonom menghadirkan diri secara
intensif, otentik, dan berkualitas di dalam waktu, melalui segala kompetensi,
potensi, passion, hobby, minat, dan bakat yang ada di dalam dirinya, disertai
pertimbangan rasional kontekstual, sehingga sanggup menemukan makna di dalam
setiap situasi hidupnya, dan benar-benar dapat terlibat di dalam waktu, dan
tidak terlipat di dalamnya. Atau dapat pula memilih menjadi subyek yang
terus-menerus teralienasi dan menghadapi kesepian karena tak pernah sanggup
mengambil jarak terhadap realitas, kehilangan otentisitas, diperbudak oleh
hasrat yang tak pernah dikenali dan tersembunyi, sehingga tak sanggup berempati
dan terlibat di dalam realitas, melainkan justru senantiasa terjerat dan
terlipat.
Namun pantaslah dinyatakan di
sini bahwa wajah Reta maupun wajah Slavee, secara eksistensial merupakan wajah
dalam diri kita sebagai subyek. Bagaimana menjalani seni mencermati diri,
itulah yang akan menentukan wajah mana yang akan lebih aktual dalam tindakan
sehari-hari. Reta sebagai subyek cogitans dan Slavee sebagai subyek
uncounscious, senantiasa berdialektika di dalam diri kita masing-masing.
Akhirnya diucapkan terima kasih
kepada penulis naskah ini, Whani Darmawan, karena dialah yang tiba-tiba muncul
dan akan menghilang, setelah menjadikan ketidaksadaran yang ada di dalam setiap
subyek itu menampakkan diri, karena harus dinyatakan bahwa sesungguhnya ia
adalah……..seekor bajingan!!!
——–
1 Lih. J.B. Banawiratma, SJ dan
J. Muller, SJ, Berteologi Sosial Lintas Ilmu, Kemiskinan Sebagai Tantangan
Hidup Beriman, Kanisius Yogyakarta, Cetakan Ketiga 1995 (edisi yang
diperbaharui), hlm.126
2 Ibidem, hlm.128
3 Lih. Sean Homer, Jacques Lacan,
Routledge, 2005, hlm.67-68
4 Lih. Lisa Lukman, Proses
Pembentukan Subyek, Antropologi Filosofis Jacques Lacan, Kanisius 2011,
hlm.74-77.
5 Dalam pemikiran Lacan,
“phallus” tidak dimaknai sebagai penis atau organ genital manusia, melainkan
dimaknai secara simbolis sebagai penanda penting dalam proses pemaknaan. Dalam
pemikiran Lacan, “phallus” adalah objek hasrat utama yang telah hilang dan
selalu kita cari namun tidak pernah kita miliki sejak awal. Lih. Sean Homer,
Jacques Lacan, Routledge 2005, hlm.57
6 Lih. Indro Suprobo, Kehadiran
yang Menumbuhkan Harapan, Pembelajaran dari Penemanan Pengungsi dengan
Pendekatan Case Management, JRS Indonesia 2024, hlm.ix
7 Lih. Žižek, S. (1993) Tarrying
with the Negative, Durham, NC: Duke University Press, hlm.203-204, sebagaimana
dikutip oleh Jodi Dean, “Why Žižek for Political Theory?” dalam International
Journal of Zizek Studies, 2016, Vol.1, Number.1, Why Zizek, hlm. 18-32
8 Bdk. J. Haryatmoko, Critical
Discourse Analysis, Landasan Teori, Metodologi dan Penerapan, Rajawali Pers,
2016
9 Bdk. Agus Nuryatno, Mazhab
Pendidikan Kritis, Menyingkap Relasi Pengetahuan, Politik, dan Kekuasaan,
Resist Book 2008, hlm.2
10 Lih. Haryatmoko, Etika Publik
untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi, Kanisius, Yogyakarta 2015,
hlm.20, 98-103
Tulisan ini juga dimuat di www.borobudurwriters.id, 25 Januari 2026