Monday, March 16, 2026

Puasa dan Keberpihakan

 


Percobaan ketiga yang dialami Yesus pada saat berpuasa 40 hari di padang gurun oleh penulis Injil Matius dirumuskan demikian:

"Semua itu akan kuberikan kepadaMu, jika engkau bersujud menyembah aku. Maka jawab Yesus, enyahlah iblis, sebab ada tertulis, engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (Mat 4:8-11. - dalam versi Lukas, ini merupakan percobaan kedua, Luk 4:5-8)

Apa yang dinyatakan oleh penulis Injil adalah kesaksian iman bahwa Yesus adalah manusia unggul yang bertaqwa, berserah diri, dan tunduk hanya kepada Allah saja. Dalam Islam ini disebut sebagai sikap Tauhid, dan berserah diri kepada Tuhan itu disebut berislam karena Islam artinya berserah diri.

Tauhid di dalam Islam bukan semata-mata kesalehan religius-ritual melainkan sekaligus dan takndapat dipisahkan dari kesalehan sosial. Bertauhid kepada Tuhan menyatu dan harus menubuh ke dalam tindakan sosial, yakni keadilan sosial. Tanpa perwujudan keadilan, tauhid kehilangan seluruh maknanya. Oleh karena itu, di dalam Islam, ritual ibadah haji sebagai puncak sakramen tauhid memiliki banyak persyaratan sejak dari simbolisasi pakaian sampai kepada perilaku bahkan tak diperkenankan membunuh nyamuk. Ibadah haji musti diakhiri dengan berbagi utk keadilan, salah satunya melalui pengorbanan kambing domba dalam ritual Idul Adha. Ini adalah simbolisasi dari berbagi untuk keadilan.

Secara filosofis substansial, tauhid atau sikap tidak menuhankan siapapun selain Allah, dipahami dan dihayati bahwa di hadapan Allah, semua manusia apapun latar belakang dan kondisinya adalah bermartabat dan setara. Implikasinya, tauhid memiliki imperatif etik berupa menghormati martabat dan kedaulatan setiap manusia. Bahwa manusia adalah subyek merdeka yang memiliki hak untuk merumuskan dirinya sendiri dan memiliki kebebasan untuk senantiasa memilih cara baru untuk menjadi manusia. Oleh sebab itu, di dalam prinsip tauhid, ketidakadilan adalah skandal bagi kehidupan manusia. Salah satu wujud ketidakadilan adalah pemaksaan kehendak kepada sesama dan penindasan demi pemenuhan kepentingan sepihak.

Puasa adalah salah satu jalan spiritual untuk mengingatkan diri tentang tauhid dan sekaligus memperkuat prinsip tauhid itu. Dalam pengertian itu, puasa adalah jalan untuk meningkatkan kepekaan dan pilihan terhadap tindakan keadilan. Puasa adalah jalan utk mempertajam sikap kritis terhadap ketidakadilan. Dalam bahasa teologi pembebasan Gustavo Gutierrez, puasa merupakan jalan untuk meneguhkan keberlihakan kepada mereka yang tertindas, preferential option for the oppressed, agar kerajaan Allah, yakni keadilan itu benar-benar hadir dan terwujud dalam realitas sosial. Gutierrez bahkan menegaskan bahwa dalam situasi ketidakadilan yang nyata, sikap netral tidak dibutuhkan karena sikap ini juatru sama dengan menyetujui penindasan dan ketidakadilan, juatru sama dengan mendukung para penindas. Inilah spiritualitas dasar puasa. Maka berbuka baik sendiri amaupun bersama merupakan waktu jedha, epoche, untuk bersyukur atas pelampauan perjalanan rohani satu hari sambil mengevaluasi apakah konsistensi keadilan telah terwujud dan menubuh dalam hidup nyata.

Kondisi relasi negatif antara Israel-AS dan Iran secara substansial bukanlah perang. Dalam Islam, bulan ramadhan adalah bulan suci yang tidak mengijinkan pertumpahan darah. Bulan ramadhan adalah bulan tarbiyah, yakni bulan untuk mendidik diri memperkuat tauhid dan perilaku keadilan. Maka, sangat tidak masuk akal jika dalam bulan Ramadhan ini, Iran melancarkan serangan. Namun semua itu diijinkan ketika martabat hidup yang sangat dihormati dalam keadilan itu ternyata berada dalam ancaman dan sedang dipertaruhkan. Iran melakukan serangan karena terlebih dahulu diserang tanpa kesalahan apapun. Satu-satunya kesalahan Iran di mata Israel-AS swhingga ia diserang adalah karena ia menghormati martabat dan kesetaraan manusia dalam keadilan, serta tidak mau tunduk kepada kepentingan sepihak manapun. Ini merupakan konsistensi dari sikap tauhid, yakni tidak tunduk kepada siapapun selain kepada Allah, dan tidak menganggap diri sendiri sebagai pemegang kuasa seperti Allah sehingga memaksa pihak lain untuk tunduk kepadanya.

Dalam keterpaksaan yang sedemikian ini dan demi melindungi kehidupan yang dihormatinya, Iran terpaksa memperjuangkan kehormatan dirinya sebagai perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan yang diterimanya. Dalam konteks ini, perlawanan Iran bukanlah sebuah hasrat akan kekuasaan, karena ia menghormati perjanjian internasional, melainkan sebuah perlawanan terhadap pemaksaan kekuasaan yang dilakukan oleh Israel dan AS.

Dalam perjalanan waktu yang panjang, pantas diperhatikan bahwa perilaku Israel-AS terhadap negara-negara lain merupakan cerminan yang gamblang tentang apa yang oleh Slavoj Zizek disebut sebagai the theft of enjoyment, yakni ilusi tentang tercurinya kenikmatan oleh pihak lain dan menganggap bahwa kenikmatan itu bahkan tercuri secara berlebihan (surplus enjoyment). Ilusi ini memproduksi perasaan terancam yang berkelanjutan dan berlebihan serta menjadi ladang subur bagi tumbuhnya tindakan jahat. Tak mengherankan jika Israel-AS membangun banyak kebohongan sebagai upaya konstruksi diacriminatory discourse tentang pihak lain demi melegitimasi tindakan jahatnya. Dunia internasional, para aktivis HAM internasional, lembaga kemanusiaan sudah mengidentikasi dan menyuarakan hal ini secara jelas. Secara jelas, dalam tulisan lain, saya justru menyebut bahwa Israel-AS inilah yang sebenar-benarnya merupakan pelaku dari sustainable terorrism dan merupakan ancaman bagi banyak bangsa.

Yang lebih memprihatinkan lagi, Nurit Peled-Elhanan, profesor perempuan ahli pendidikan keturunan Yahudi, yang anaknya terbunuh oleh orang Palestina, melakukan kajian internal terhadap kurikulum pendidikan di semua jenjang sekolah Israel dan menyimpulkan bahwa secara siatematis dan terstruktur, melalui kurikulum resmi, semua sekolah Israel telah menanamkan kebencian nyata terhadap orang Palestina, dan menghapus kenyataan orang Palestina sebagai subyek manusia. Ia mengatakan bahwa dwngan demikian kurikulum sekolah Israel telah menyiapkan lahirnya monster-monster yang siap menghapuskan kemanusiaan orang Palestina dan menjadi tentara-tentara IDF yang sangat buas. (Ringkasan hasil penelitian ini telah menjadi salah satu artikel yang diterbitkan oleh penerbit Kanisius berjudul Anak-Anak Abraham, 2013). Dari hasil penelitian ini tampak jelas bahwa kejahatan brutal yang bisa bertahan puluhan tahun dan merambah ke berbagai wilayah adalah buah dari habitus. Selera, empati maupun kebencian adalah sebuah konstruksi.

Dalam konteks itu, puasa prapaskah dan puasa Ramadhan, adalah sebuah jalan rohani untuk memperkuat sikap Tauhid dan implikasi keadilan sosialnya. Dalam bahasa Islam, puasa adalah jalan untuk mempertajam sikap kritis terhadap ketidakadilan dan memilih keberpihakan. Dalam bahasa teologi pembebasan Kristen, puasa adalah jalan untuk mempertajam kepekaan terhadap semua bentuk skandal bagi hadirnya Kerajaan Allah dan memilih preferential option for the oppressed agar hidup kristiani benar-benar menjadi sakramen, yakni tanda dan sarana nyata kesatuan antara Allah dan manusia yang terwujud di dalam tindakan keadilan, melawan kesewenang-wenangan.

Dalam analisis dan refleksi teologis inilah saya mengambil posisi pilihan keberpihakan pastoral edukatif dan tidak bersikap netral. Perjuangan dan perlawanan rakyat Palestina serta rakyat Iran dalam perspektif teologi pembebasan adalah jalan berat penuh risiko untuk tidak tunduk kepada kesewenang-wenangan agar benar-benar dapat menghadirkan kerajaan Allah, Allah yang merada dalam keadilan. Perlawanan dan perjuangan utk keadilan itu dapat disebut sebagai tindakan sosial yang bersifat sakramental.

Pilihan Iran untuk melakukan perlawanan dalam konteks yang sangat jelas ini adalah perwujudan dari jawaban Yesus dalam puasanya terhadap godaan di atas ketinggian. Melawan kesewenang-wenangan manusia atas manusia lain adalah penubuhan dari prinsip Tauhid.

 

Tuesday, March 10, 2026

Subyek yang Teralienasi dalam Kebisingan

 


“Poverty means death. This death, however, is not only physical
but mental and cultural as well. It refers to the destruction of
individual persons, peoples, cultures, and traditions.”

(Gustavo Gutiérrez, We Drink from Our Own Wells:
The Spiritual Journey of a People)


Gustavo Gutierrez-Merino Diaz adalah seorang filsuf cum teolog pembebasan dari Peru, yang pada tahun 1971 menulis sebuah buku yang di kemudian hari sangat berpengaruh dalam analisis dan gerakan sosial di kalangan Gereja Katolik, meskipun pada awalnya menimbulkan banyak pertentangan, yakni Teologia de la Liberation, Perspectivas, yang pada tahun 1973 diterbitkan oleh Orbis Book, Maryknoll dengan judul A Theology of Liberation, History, Politics and Salvation. Tahun 1984, Orbis Book menerbitkan bukunya yang lain yang berjudul We Drink from Our Own Wells: The Spiritual Journey of a People. Keprihatinan utama dalam tulisan-tulisan dan gerakan sosial yang dilakukannya adalah realitas sosial yang secara nyata dihadapinya dan menantang kepeduliannya, yakni kemiskinan absolut yang mematikan, yang dalam analisisnya ditemukannya sebagai kemiskinan struktural. Kemiskinan absolut [1] adalah situasi di mana kebutuhan-kebutuhan pokok yang primer seperti pangan, sandang, papan, kesehatan (kebutuhan terhadap air bersih dan sanitasi), kerja yang wajar dan pendidikan dasar tak terpenuhi. Dalam situasi ini, tentu saja kebutuhan-kebutuhan yang bersifat sekunder seperti rekreasi, partisipasi atau lingkungan hidup yang menyenangkan dan sebagainya, sama sekali tak dapat dipenuhi. Dalam situasi ini, bentuknya yang sangat ekstrem adalah situasi kelaparan yang dapat mengakibatkan kematian. Inilah gambaran tentang kemiskinan absolut dan orang miskin yang berada di dalam situasi ini.

Meskipun ada banyak bentuk dan dimensi dari pengalaman kemiskinan, ada satu pengalaman yang sangat khas dan paling berat dialami dalam semua bentuk kemiskinan, yakni apa yang disebut sebagai pengalaman ketidakberdayaan dan ketergantungan. Orang miskin yang berada dalam pengalaman mendalam dan paling berat ini, seringkali hampir tak memiliki harapan untuk berubah, tak bisa keluar dari pengalaman kemiskinan mereka. Bagi mereka tak ada pilihan atau referensi pengalaman lain selain pengalaman kemiskinan dalam rupa ketidakberdayaan dan ketergantungan [2] itu sendiri. Dalam konteks inilah, sebagaimana dikutip pada bagian awal dari tulisan ini, Gustavo Gutierrez akhirnya menyatakan bahwa kemiskinan berarti kematian. Namun, kematian ini tidak hanya bersifat fisik tetapi juga mental dan budaya. Kemiskinan mengacu pada penghancuran individu, masyarakat, budaya, dan tradisi.

Seekor Bajingan, Potret Kecil Kemiskinan Absolut

Lakon karya Whani Darmawan berjudul Seekor Bajingan di Mobil Slavee adalah sebuah potret kecil kemiskinan absolut yang dinyatakan oleh Gustavo Gutierrez. Apa yang dilakonkan oleh Whani Darmawan adalah dampak kemiskinan absolut yang berjangka panjang, yang merupakan proses penghancuran individu atau kerusakan kepribadian (the destruction of individual persons). Tokoh Slavee dan tokoh seekor Bajingan dalam lakon ini sebenarnya adalah dua wajah dari satu tokoh kepribadian. Secara paradoksal, lakon ini menunjukkan dua wajah dalam satu subyek kepribadian yakni wajah real dan wajah imajiner dalam tahap cermin Lacanian. Tokoh Slavee, meskipun digambarkan sebagai tokoh real, sejatinya ia mencerminkan wajah imajiner, yakni wajah dalam cermin Lacanian. Sementara tokoh Bajingan, yang dalam lakon ini tampak sebagai tak nyata, yang hadir begitu saja di dalam mobil Slavee, dan menghilang begitu saja pada akhir lakon, justru mencerminkan wajah real, yakni wajah real dari subyek Slavee itu sendiri, wajah di hadapan cermin Lacanian. Dalam kajian psikoanalisis Lacan, tokoh Slavee mencerminkan ketaksadaran (unconsciousness) yang sama sekali tak diketahui dan tak dikenali (unkown). Sementara tokoh Bajingan mencerminkan ketaksadaran yang menampakkan diri (manifestation), yang pada moment tertentu menjadi pengalaman traumatik yang dikenali dan menggugat diri sendiri.

Dua wajah paradoksal ini mewakili satu subyek yang seluruh proses pembentukannya merupakan dampak traumatik dari kemiskinan absolut yang mematikan. Baik Slavee maupun Bajingan, keduanya merupakan satu subyek yakni subyek tak sadar yang seluruh proses pembentukannya merupakan pengalaman traumatik atas kemiskinan absolut. Dialog antara keduanya di dalam lakon ini adalah perwujudan dialog internal dua wajah ketaksadaran di mana yang satu sungguh-sungguh tak dikenali (unknown) dan yang satunya lagi adalah yang menampakkan diri (manifestation). Ketaksadaran ini menampakkan diri dalam ketakutan, kecemasan, dalam keterpecahan, atau dalam kegagalan dan ketergelinciran bahasa yang oleh Lacan disebut sebagai gap atau rupture dalam rangkaian simbolik. [3]

Melalui dialog antara Slavee dan Bajingan, Whani Darmawan sedang menggambarkan dinamika ketaksadaran subyek yang dipenuhi oleh pengalaman-pengalaman traumatik kemiskinan absolut masa lalu, yakni pengalaman tiadanya referensi lain kecuali kemiskinan itu sendiri, ketidakberdayaan dan ketergantugan.

Subyek yang Teralienasi

Kemiskinan absolut yang menghantam kehidupan, seringkali melahirkan keterasingan subyek. Ia tak mengenali wajah dan keberadaannya sendiri karena kemiskinan absolut sebagai cermin kehidupan justru melahirkan apa yang disebut sebagai imago, yakni sesuatu yang lain, yang bukan diri sendiri, tetapi diidentifikasikan sebagai dirinya. Kemiskinan absolut justru melahirkan gambaran-gambaran tentang keutuhan diri imajiner yang dalam seluruh proses hidup selanjutnya, secara simbolis dibentuk oleh seluruh hasrat yang lain, yakni hasrat tak sadar akan sesuatu yang hilang yang tak dapat dijangkau yang akhirnya diproyeksikan juga ke dalam imago. [4]

Meskipun tidak selalu, tidak semuanya, dan bukan kepastian, sebagian dari subyek yang digerus oleh kemiskinan absolut, dipenuhi oleh hasrat akan sesuatu yang hilang, yakni pengakuan, kehormatan, kepastian, kepuasan, kemudahan, kekuasaan dan sebagainya. Hasrat-hasrat ini merupakan pembalikan dari apa yang disebut pengabaian, perasaan rendah diri, kecemasan atau kekhawatiran, kekecewaan, kesulitan, dan ketakberdayaan atau ketergantungan. Itu semua merupakan hasrat utama sekaligus penanda utama yang sangat berpengaruh di dalam seluruh proses produksi makna. Itulah hasrat phallic [5] yang traumatik. Hasrat akan pengakuan (recognition) seringkali dicapai dengan membangun citra, meraih apa yang dianggap hebat oleh kebanyakan orang, apa yang dikagumi dan dihasrati oleh orang lain. Hasrat akan kehormatan diraih dengan membangun citra, memiliki apa yang secara permukaan menandakan kesuksesan atau keberhasilan meskipun secara substansial seringkali tak pernah tergapai dan mengabaikan kualitas yang aseli. Pencapaian gelar, kekayaan, jabatan dan sebagainya menjadi orientasi utama dan bukan berorientasi kepada kebermanfaatan atau nilai kontributif fundamental. Hasrat akan kepastian dicapai dengan penanda-penanda berupa kepemilikan uang atau kekayaan serta fasilitas sebagai sesuatu yang memberikan jaminan dan menjauhkannya dari segala bentuk kekhawatiran atau kecemasan. Hasrat akan kepuasan diraih dengan cara menggapai apapun yang dapat diinginkan. Pencapaian ini tidak dilandasi oleh kebutuhan melainkan oleh keinginan. Hasrat akan kemudahan dicapai melalui kekayaan, kepemilikan dan semua fasilitas. Hasrat akan kekuasaan dicapai dengan mengejar jabatan, kedudukan dan pengaruh dengan menggunakan cara apapun meskipun seringkali bersifat manipulatif.

Karena bersifat permukaan, semuanya itu mengakibatkan subyek kehilangan otentisitas dirinya dan menjadi terasing dengan keberadaan dirinya sendiri. Ia terasing dengan cara bagaimana ia mengada dan terasing dengan bagaimana ia “mewaktu“. Proses mewaktu dalam pemikiran Martin Heidegger, saya tafsirkan dan saya pahami sebagai proses yang dipilih secara sadar, penuh tanggung jawab dan otonom oleh manusia untuk menghadirkan diri secara intensif, otentik, dan berkualitas di dalam waktu, melalui segala kompetensi, potensi, passion, hobby, minat, dan bakat yang ada di dalam dirinya, disertai pertimbangan rasional kontekstual. Proses ini akan mengantar setiap subyek menjadi manusia-manusia yang sanggup menemukan makna di dalam setiap situasi hidupnya, sehingga ia benar-benar dapat terlibat di dalam waktu, dan tidak terlipat di dalamnya. [6]

Alienasi atau keterasingan dari cara mewaktu dirinya sendiri itu melahirkan kecemasan dan kegelisahan yang terus-menerus dan mendalam (continuous anxiety), melahirkan kebohongan-kebohongan dan topeng demi menutupi substansi yang sejatinya tak berkualitas, sehingga mengakibatkan kelelahan eksistensial. Alienasi atau keterasingan ini juga melahirkan perasaan terancam bahwa semua yang menjadi hasratnya itu sewaktu-waktu akan hilang atau tercuri oleh orang lain sehingga dirinya akan mendapati yang sebaliknya. Perasaan terancam yang demikian ini oleh Slavoj Zizek disebut dengan istilah teknis yakni the theft of enjoyment, yakni ilusi tentang tercurinya kepenuhan atau kenikmatan oleh pihak lain. Kepenuhan atau kenikmatan yang secara traumatik diilusikan tercuri oleh pihak lain itu secara faktual dan substansial sebenarnya tak pernah diraih atau dimilikinya. [7]

Dalam perspektif psikologi spiritual, keterasingan (alienation) atau kesepian (lonelyness) dibedakan dari kesendirian (solitude) dan keheningan (silence). Kesendirian (solitude) dapat membawa subyek kepada dua arah, yakni keterasingan dan kesepian, atau kepada keheningan. Henry JM. Nouwen memaknai kesepian sebagai tiadanya ruang batin yang ramah untuk menerima kehadiran yang lain. Subyek yang kesepian adalah subyek yang ruang batinnya dipenuhi oleh kebisingan kecemasan dan kegelisahan serta ketakutan bahkan kemarahan sehingga tak ada ruang yang tersedia untuk menerima kehadiran yang lain. Kesepian adalah sikap dasar berupa penolakan terhadap kehadiran yang lain di dalam ruang batinnya. Dengan demikian setiap subyek yang mengalami kesepian adalah subyek yang senantiasa berada dalam kebisingan. Ia tak sanggup mendengarkan kehadiran yang lain sehingga ia pun tak dapat mengalami anugerah kehadiran.

Karena diliputi oleh kebisingan, kesepian ini pada dasarnya merupakan ruang batin yang kosong dalam arti hampa dan senantiasa menuntut untuk diisi. Oleh karena itu subyek yang kesepian adalah subyek yang senantiasa menuntut, yakni menuntut yang lain, dan selalu berkepentingan (tanpa keikhlasan).

Sebaliknya, keheningan adalah tersedianya ruang batin yang luas dan ramah untuk menerima kehadiran yang lain. Ruang batin yang demikian ini siap untuk mendengarkan dan belajar dari siapapun dan apapun yang hadir di dalamnya secara apa adanya. Sikap dasar dari keheningan adalah penerimaan terhadap kehadiran yang lain, apapun bentuknya. Oleh karena itu subyek yang hening tak pernah merasakan kebisingan meskipun ia berada di dalam situasi yang penuh keramaian. Subyek yang memasuki keheningan adalah subyek yang ruang batinnya luas dan senantiasa siap memberikan keramahan, menerima kehadiran orang lain tanpa tuntutan apapun, tanpa kepentingan, ikhlas.

Untuk dapat mencapai keheningan dan mengatasi kesepian, setiap subyek dituntut untuk berani memasuki kesendirian (solitude), yakni menghadapi realitas dirinya sendiri, mengenalinya, menerimanya dan melampaui rasa sakit yang barangkali akan dialaminya pada saat awal menerima realitas dirinya.

Slavee dalam lakon yang ditulis oleh Whani Darmawan ini menggambarkan subyek yang teralienasi dan kesepian dalam kebisingan. Ruang batinnya dipenuhi oleh hiruk-pikuk kecemasan dan kegelisahan, penolakan dan amarah. Inilah yang melandasi sikap penolakannya terhadap kehadiran ayah-ibunya ketika ia telah memiliki seluruh fasilitas dan kemudahan, dengan dalih bahwa setiap orang memiliki hak atas kemandirian. Ini adalah penolakan terhadap realitas diri, yakni penolakan terhadap faktisitas bahwa ia dilahirkan oleh orangtua yang terjerat dalam kemiskinan absolut. Ini merupakan penolakan terhadap realitas ketidakberdayaan dan rasa malu yang mendalam. Penolakan batin ini sejatinya adalah sebuah tuntutan agar yang lain itu hadir di dalam ruang batinnya sesuai dengan kepentingan dan hasratnya. Ini adalah wujud dari puncak alienasi dan kesepian yang sangat mendalam yang dialami oleh subyek Slavee. Dalam ketaksadarannya, penolakan ini dapat dibaca sebagai penolakan atas figur ayahnya yang juga tidak hadir justru pada masa-masa krisis mental dimana ia sebenarnya membutuhkan kehadiran role model yang menunjukkan perlindungan dan tanggung jawab. Yang terjadi, ayahnya justru melarikan diri dari tanggung jawab dan bersembunyi di dalam kenyamanan permukaan yang ditemukannya di gardu ronda bersama kawan-kawannya. Dengan demikian penolakan Slavee terhadap kehadiran orangtuanya di rumahnya pada saat seluruh fasilitas dan kekayaan telah memungkinkannya, dapat dibaca sebagai pengulangan atau buah peneladanan (implisit habitus) dari pelarian terhadap tanggungjawab. Pada gilirannya, penolakan ini semakin memperdalam keterasingan dan kesepiannya karena ia semakin kehilangan oase dasar dari seluruh emosionalitasnya sebagai subyek, yakni rasa memiliki, kedekatan, kehangatan dan relasi mendalam dengan orangtua yang melahirkan dan memperjuangkan hidupnya. Alienasi dan kesepian adalah wujud nyata dari kemiskinan ruang batin yang absolut, yang kehilangan kemandirian dan keberdayaan batin, serta tetap terperosok ke dalam ketidakberdayaan dan ketergantungan batin meskipun secara faktual ia memiliki segala hal. Ia tetap menjadi subyek yang berkubang di dalam apa yang oleh St. Ignatius dari Loyola disebut sebagai attachment, rasa lekat tak teratur.

Apa yang dapat dibaca?

Naskah lakon yang ditulis oleh Whani Darmawan ini secara keseluruhan merupakan naskah yang menarik dan kaya karena di dalam dialog-dialognya, secara implisit ia menyuguhkan beberapa hal yang dapat dibaca sebagai pembelajaran bermakna.

Pertama, fakta bahwa seorang subyek dilahirkan oleh orangtua yang terpaksa terjerembab di dalam kemiskinan absolut adalah sebuah faktisitas atau keterlemparan dalam pengertian Heidegger, yakni sebuah fakta atau realitas yang diterima begitu saja tanpa pernah diminta dan tak dapat ditolak, hanya dapat diterima. Respon dan cara menghadapi faktisitas ini akan sangat memengaruhi dan membedakan seluruh cara subyek mengada dan menjalani proses mewaktu sepanjang hidupnya. Perbedaan cara menjalani proses mewaktu ini akan memengaruhi perbedaan dampak dalam seluruh kehidupan. Perbedaan ini ditampilkan dalam respon kedua tokoh dalam menghadapi faktisitas. Slavee memberikan respon dengan pertanyaan gugatan “mengapa mesti aku yang menjalaninya?”, sementara Reta memberikan respon dengan penegasan “justru karena aku yang menjalaninya”. Sikap yang ditampilkan oleh tokoh Slavee mewakili subyek yang kesepian, yang tak sanggup menyediakan ruang yang ramah bagi realitas. Sementara sikap yang ditampilkan oleh tokoh Reta, mewakili subyek keheningan, yakni subyek yang sanggup menyediakan ruang ramah bagi realitas.

Kedua, kemiskinan absolut yang dihadapi oleh manusia, bukanlah faktisitas. Ia merupakan kondisi yang dihasilkan oleh suatu konstruksi struktural. Oleh karenanya kemiskinan absolut tetap dapat diubah. Karena pengalaman dasar dari kemiskinan absolut adalah pengalaman ketidakberdayaan dan ketergantungan, maka perubahan terhadapnya hanya dapat dilakukan melalui apa yang disebut sebagai intervensi keberpihakan atau kepedulian (option for the poor) sebagai satu-satunya cara untuk membuka akses-akses yang dibutuhkan sehingga orang miskin dapat keluar dari kemiskinannya.

Dalam naskah lakon ini, keberpihakan atau solidaritas itu digambarkan dalam dua kategori yakni keberpihakan karitatif dan keberpihakan edukatif-kritis. Keberpihakan karitatif dicerminkan dalam pemberian peluang usaha oleh salah seorang “tante” kepada Slavee. Sementara keberpihakan edukatif-kritis dicerminkan oleh tindakan Yayasan Yatim Piatu Hati Suci yang mengadopsi dan mendidik Reta sampai dapat menempuh pendidikan tinggi. Kedua model keberpihakan ini memiliki dampak yang berbeda terhadap subyek. Keberpihakan karitatif yang tampaknya tak disertai dengan pendidikan kritis hanya sanggup memberikan perubahan dalam aspek kapital ekonomi dan kapital sosial. Keberpihakan edukatif-kritis memberikan dampak yang signifikan selain dalam aspek kapital ekonomi dan sosial, juga berdampak pada perubahan kapital budaya yakni perubahan di tingkat cara berpikir, cara bersikap, dan cara melihat realitas. Pendidikan kritis yang diterima oleh Reta mengakibatkannya dapat mengambil jarak terhadap realitas, bersikap kritis terhadapnya, dan mengajukan pertanyaan untuk mengetahui mengapa realitas itu terjadi. Reta pada akhirnya mengajukan pertanyaan mengapa ibunya menderita skizofrenia, faktor-faktor apa saja yang memengaruhi munculnya gejala mental semacam itu dan sebagainya.

Ketiga, kemiskinan absolut yang oleh Gustavo Gutierrez disebut sebagai the destruction of individual persons, peoples, cultures, and traditions, dapat dibenarkan sebagai sebuah kecenderungan umum namun tidak selalu merupakan kepastian. Naskah lakon yang ditulis oleh Whani Darmawan ini menunjukkannya. Meskipun sama-sama dihamtam oleh kemiskinan absolut, kepribadian dan karakter yang terbentuk antara Reta dan Slavee tidaklah sama. Mengapa ini bisa berbeda? Teks naskah sendiri secara implisit sama sekali tak memberikan petunjuknya. Namun ada kemungkinan yang dapat diajukan sebagai faktor pembedanya, yakni tingkat kedalaman dan durasi trauma yang diterimanya, jaringan sosial yang melingkupinya, dan asupan informasi serta wawasan yang diterimanya yang pada gilirannya memengaruhi pembentukan tata nilai yang menjadi landasan dan kerangka untuk memandang realitas. Ini semua dapat memengaruhi sikap subyek terhadap realitas.

Keempat, kesadaran kritis adalah fakultas yang sangat penting dan dibutuhkan oleh subyek untuk dapat menghadapi realitas secara lebih otentik, berkualitas, independen, bermakna dan bertanggung jawab. Selain membutuhkan habituasi dan latihan terus-menerus, sikap atau kesadaran kritis ini membutuhkan asupan informasi, wawasan dan pengetahuan yang juga terus-menerus agar melengkapi proses-proses analisis, pengambilan jarak dan pembacaan terhadap realitas yang dihadapi.

Sikap kritis adalah kemampuan untuk mempertimbangkan, mempertanyakan, mengambil jarak, menunda persetujuan, mengevaluasi dan meneliti suatu pengetahuan, informasi, cara berpikir, sikap, maupun tindakan yang pada umumnya begitu saja diterima sebagai kebenaran (taken for granted) sehingga menemukan kepentingan atau ideologi yang tersembunyi di dalamnya. Informasi, bahasa, rumusan, pengetahuan, tuturan, pernyataan, cara berpikir, penggunaan istilah, selalu merupakan sebuah konstruksi dari produsennya dan mengonstruksi orang lain untuk memercayai dan menyetujuinya serta menggunakannya. Bahasa itu tidak netral sehingga senantiasa perlu disikapi secara kritis agar ditemukan unsur kepentingan dan kekuasaan yang tersembunyi di dalamnya. [8] Sikap kritis adalah cara berpikir yang mampu menyingkapkan fenomena-fenomena tersembunyi atau melampaui asumsi-asumsi yang hanya berdasarkan “common sense” (anggapan umum) dalam istilah Antonio Gramsci (1971). [9] Langkah pertama sikap kritis adalah “menunda persetujuan” terhadap segala macam informasi, dan mempertanyakan asal-usul atau konteks sebagai langkah verifikasi. Sikap kritis mengedepankan “proses berpikir rasional”, mengutamakan informasi berbasis data, siap mempertanyakan setiap informasi dan menunda keyakinan terhadapnya (constant self-questioning, move outside the framework), dan berupaya membedakan antara constructed-fictional-reality dan factual-reality.

Dalam naskah lakon ini, sikap kritis yang terbangun dalam diri Reta tidak menjadikannya sebagai subyek yang menerima begitu saja bahwa realitas kemiskinan absolut yang dihadapinya, lengkap dengan seluruh pengalaman ketakberdayaan, ketergantungan dan rasa malu yang mendalam yang menyertainya adalah sebuah nasib yang tak dapat diubah dan akan menghancurkan hidupnya. Sikap kritis yang terbangun di dalam dirinya menjadikan ia sanggup menerima realitas itu dan bertindak secara lebih bertanggungjawab untuk menghadapinya, mempertanyakannya, dan mengenalinya. Sikap kritis ini menjadikannya tak memiliki rasa dendam terhadap kemiskinan dan terbebas dari segala jenis kelekatan tak teratur sehingga hidupnya menjadi lebih otonom, seimbang, gembira, riang, penuh makna, bertanggung jawab, berkualitas, otentik, kreatif dan produktif. Meskipun bertubi-tubi didera oleh kemiskinan dan rasa malu yang luar biasa, karena sikap kritisnya, ia tetap dapat menerima ibunya dan merawatnya sampai akhir hayat, tanpa penolakan, tanpa kebencian, tanpa dendam.

Dalam pengertian ini, sikap kritis sebenarnya merupakan landasan utama bagi setiap subyek untuk membebaskan diri dari setiap kesepian, karena ia berani memasuki kesendirian (solitudo) dan meraih keheningan (silence), sehingga ia dapat menyediakan ruang yang luas dan ramah di dalam batinnya untuk menerima realitas dan kehadiran yang lain secara apa adanya, tanpa tuntutan. Ia tetap mengambil jarak (distance) terhadap realitas, menerimanya, mengambil keputusan untuk terlibat di dalamnya (solidarity, empathy) namun tanpa pernah terlipat (being trapped) di dalamnya.

Dalam spiritualitas Ignatius de Loyola, sikap kritis ini diwujudkan dalam laku spiritual discernment atau pembedaan roh (discretio spirituum). Untuk dapat melakukan discernment secara berkualitas dan terus-menerus, setiap saat, subyek harus senantiasa membekali dirinya dengan kesanggupan untuk belajar, mendengarkan, memperkaya informasi dan wawasan yang memungkinkannya untuk dapat melakukan proses menimbang secara berkualitas. Discernment atau menimbang-nimbang yang berkualitas membutuhkan kemampuan lain yang disebut kemampuan mendengarkan (to listen) yang juga bermakna belajar (to learn). Maka menimbang (discernment), mendengarkan (to listen), dan belajar (to learn) adalah satu nafas yang tak dapat dipisahkan dalam satu laku. Semuanya ini akan menghasilkan cara pandang, sikap, keputusan, dan tindakan yang lebih baik yang biasa disebut sebagai bersifat magis. Kata “magis“ yang dimaksud di sini adalah sebuah istilah dalam bahasa Latin yang memiliki arti “lebih” atau dalam bahasa Inggris “the more“. Kata magis adalah istilah teknis untuk mengungkapkan sesuatu yang mengarah kepada substansi atau kedalaman atau kualitas yang semakin baik, meningkat dan semakin melebihi apa yang sudah dicapai pada masa sebelumnya. Oleh karena itu, kata magis di sini dimaksudkan untuk menunjukkan sesuatu yang mengarah kepada proses untuk menjadi lebih baik, lebih mendalam, lebih berkualitas, lebih jujur, lebih adil, lebih konsisten, lebih berkomitmen, lebih berintegritas, lebih bermanfaat dan transformatif. Figur Reta dalam naskah lakon ini, mencerminkan seluruh rangkaian integral dari sikap kritis, keheningan, discernment, dan sifat magis ini.

Subyek yang sanggup melengkapi diri sendiri dengan fakultas-fakultas ini, sebagaimana dicerminkan oleh tokoh Reta, pada umumnya akan menjadi “keajaiban” atau “mukjizat” dalam kehidupan karena ia akan senantiasa menghadirkan otentisitas, dan lebih dari itu semua adalah integritas, yakni perjumbuhan antara nilai atau tujuan dan praksis atau tindakan. [10] Dengan seluruh fakultas ini, sikap kritis, discernment, keheningan, sikap magis, subyek-subyek yang pada masa lalunya barangkali pernah dihantam oleh pengalaman-pengalaman berat berupa kemiskinan absolut yang berisi ketidakberdayaan, ketergantungan dan rasa malu, tetap dapat mengambil pilihan tindakan yang otentik, berkualitas, bermakna, bermanfaat, transformatif dan berintegritas. Ia tetap menjadi manusia yang bebas, tanpa dendam terhadap kemiskinan, tanpa silau terhadap kepemilikan, kekayaan, jabatan, maupun kekuasaan. Semuanya dapat dicapai bukan sebagai tujuan, melainkan hanya sarana untuk dapat berkontribusi secama maksimal bagi kehidupan. Maka ia tidak menjadi budak bagi semua itu, melainkan tetap menjadi subyek yang merdeka.

Seekor Bajingan di Mobil Slavee, naskah lakon yang ditulis oleh Whani Darmawan, adalah sebuah karya sastra yang menyuguhkan tawaran tentang bagaimana subyek menghadapi realitas dan faktisitas dalam hidupnya. Ia bisa memilih menjadi subyek yang mewaktu, yakni subyek yang secara sadar, penuh tanggung jawab dan otonom menghadirkan diri secara intensif, otentik, dan berkualitas di dalam waktu, melalui segala kompetensi, potensi, passion, hobby, minat, dan bakat yang ada di dalam dirinya, disertai pertimbangan rasional kontekstual, sehingga sanggup menemukan makna di dalam setiap situasi hidupnya, dan benar-benar dapat terlibat di dalam waktu, dan tidak terlipat di dalamnya. Atau dapat pula memilih menjadi subyek yang terus-menerus teralienasi dan menghadapi kesepian karena tak pernah sanggup mengambil jarak terhadap realitas, kehilangan otentisitas, diperbudak oleh hasrat yang tak pernah dikenali dan tersembunyi, sehingga tak sanggup berempati dan terlibat di dalam realitas, melainkan justru senantiasa terjerat dan terlipat.

Namun pantaslah dinyatakan di sini bahwa wajah Reta maupun wajah Slavee, secara eksistensial merupakan wajah dalam diri kita sebagai subyek. Bagaimana menjalani seni mencermati diri, itulah yang akan menentukan wajah mana yang akan lebih aktual dalam tindakan sehari-hari. Reta sebagai subyek cogitans dan Slavee sebagai subyek uncounscious, senantiasa berdialektika di dalam diri kita masing-masing.

Akhirnya diucapkan terima kasih kepada penulis naskah ini, Whani Darmawan, karena dialah yang tiba-tiba muncul dan akan menghilang, setelah menjadikan ketidaksadaran yang ada di dalam setiap subyek itu menampakkan diri, karena harus dinyatakan bahwa sesungguhnya ia adalah……..seekor bajingan!!!

——–

1 Lih. J.B. Banawiratma, SJ dan J. Muller, SJ, Berteologi Sosial Lintas Ilmu, Kemiskinan Sebagai Tantangan Hidup Beriman, Kanisius Yogyakarta, Cetakan Ketiga 1995 (edisi yang diperbaharui), hlm.126

2 Ibidem, hlm.128

3 Lih. Sean Homer, Jacques Lacan, Routledge, 2005, hlm.67-68

4 Lih. Lisa Lukman, Proses Pembentukan Subyek, Antropologi Filosofis Jacques Lacan, Kanisius 2011, hlm.74-77.

5 Dalam pemikiran Lacan, “phallus” tidak dimaknai sebagai penis atau organ genital manusia, melainkan dimaknai secara simbolis sebagai penanda penting dalam proses pemaknaan. Dalam pemikiran Lacan, “phallus” adalah objek hasrat utama yang telah hilang dan selalu kita cari namun tidak pernah kita miliki sejak awal. Lih. Sean Homer, Jacques Lacan, Routledge 2005, hlm.57

6 Lih. Indro Suprobo, Kehadiran yang Menumbuhkan Harapan, Pembelajaran dari Penemanan Pengungsi dengan Pendekatan Case Management, JRS Indonesia 2024, hlm.ix

7 Lih. Žižek, S. (1993) Tarrying with the Negative, Durham, NC: Duke University Press, hlm.203-204, sebagaimana dikutip oleh Jodi Dean, “Why Žižek for Political Theory?” dalam International Journal of Zizek Studies, 2016, Vol.1, Number.1, Why Zizek, hlm. 18-32

8 Bdk. J. Haryatmoko, Critical Discourse Analysis, Landasan Teori, Metodologi dan Penerapan, Rajawali Pers, 2016

9 Bdk. Agus Nuryatno, Mazhab Pendidikan Kritis, Menyingkap Relasi Pengetahuan, Politik, dan Kekuasaan, Resist Book 2008, hlm.2

10 Lih. Haryatmoko, Etika Publik untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi, Kanisius, Yogyakarta 2015, hlm.20, 98-103

 Tulisan ini juga dimuat di www.borobudurwriters.id, 25 Januari 2026


Wednesday, March 04, 2026

Serangan terhadap Iran dan Genosida Palestina adalah Penghinaan terhadap Seluruh Kemanusiaan

 

Serangan Israel-AS terhadap Iran dan Palestina bukan semata-mata penghancuran wilayah, melainkan merupakan penghancuran terhadap kemanusiaan Iran dan Palestina. Dan itu sama artinya dengan penghancuran terhadap seluruh prinsip nilai dan kehormatan kita sebagai manusia yang bermartabat dan menjunjung tinggi adab hidup bersama dalam kesetaraan dan keadilan.

Perilaku Israel-AS ini merupakan penghinaan sedalam-dalamnya terhadap martabat kita semua sebagai pribadi, karena hal itu merupakan kesewenang-wenangan yang brutal, kesombongan yang menggilas seluruh rasa hormat, pemaksaan kepentingan dan hasrat sepihak yang menghapus seluruh hak asasi kita, dan keserakahan yang melahap seluruh kesempatan kita untuk bertumbuh dan berkembang sebagai manusia, serta meruntuhkan seluruh jaminan dan kepercayaan antar manusia.

Israel-AS adalah wajah-wajah penuh seringai yang merusak seluruh tatanan yang telah dibangun bersama dalam susah payah karena secara gamblang dan konsisten mereka telah menunjukkan bahwa diri merekalah tatanan yang harus diikuti oleh siapapun tanpa bisa berunding secara setara dan adil.

Mereka telah memaksa merebut pena kita supaya kita tak dapat menuliskan kisah kita sendiri dalam catatan, lalu memaksa kita untuk membacakan narasi yang telah mereka siapkan dan mempercayainya seolah-olah merupakan kisah kita sendiri.

Kekejaman Israel-AS bukan hanya kekejaman terhadap Iran dan Palestina melainkan kekejaman terhadap kemanusiaan kita semua tanpa tersisa. Kekejaman mereka tampaknya akan berlangsung lama karena bagi mereka, kekejaman dan penghancuran liyan telah menjadi opium, yakni obat penghilang rasa sakit dalam diri mereka sendiri agar mereka tetap dapat terus-menerus bertahan menggapai kepentingan diri mereka sendiri namun sebenarnya tak pernah terpenuhi dan senantiasa melahirkan rasa berkekurangan.

Semakin besar rasa berkekurangan itu, semakin dalam rasa sakit mereka, dan semakin bertambahlah dosis opium yang mereka butuhkan. Maka akan senantiasa semakin luaslah kekejaman dan penghancuran mereka.

Di mata Israel-AS, satu-satunya kesalahan Iran dan Palestina yang membuat mereka diserang adalah bahwa Iran dan Palestina tak mau tunduk dan menjadi jongos bagi kepentingan mereka. Maka siapapun dan negara manapun yang demikian ini akan rentan menghadapi serangan. Sebaliknya, setiap orang atau negara yang dengan iklas tunduk dan dengan gembira menjadi jongos bagi kepentingan mereka, akan dipuji-puji sebagai orang atau bangsa yang cerdas, kuat dan hebat.

Menghadapi realitas yang menghancurkan ini, tak tersedia lagi ruang netral, selain pilihan untuk berpihak kepada semua yang mengalami kehancuran, ketidakadilan, dan penghinaan martabat. Itulah satu-satunya cara menyelamatkan kemanusiaan dengan segala prinsip dan kehormatan yang terkandung di dalamnya.

Dalam seluruh konteks itu, secara jelas Board of Peace adalah forum sampah yang hanya akan mengotori dan membusukkan seluruh kejernihan dan kebeningan komitmen kita terhadap keadilan dan kemanusiaan.

Memilih bergabung di dalamnya sama dengan memilih untuk menceburkan diri di dalam kebusukan. Maka sebelum terlanjur terjerembab terlalu jauh, keluarlah segera dari kubangan busuk itu dan cucilah mata agar dapat lebih jelas melihat ketidakadilan yang nyata.

Menghadapi kekejaman yang menghancurkan ini, seorang nabi dari wilayah Palestina pernah berkata kepada publik dan para pengikutnya demikian:

“Lebih baik batu kilangan dikalungkan pada lehernya, lalu dibuang ke laut”.

Pernyataan ini dapat dimaknai sebagai perintah tegas bahwa orang-orang yang terbukti selalu menghancurkan kemanusiaan itu musti dihukum oleh publik dengan suatu hukuman yang secara efektif dan permanen tidak memungkinkan lagi baginya untuk mengaktifkan daya penghancuran itu.

Semoga ini segera terwujud dan kita dapat meneguhkan lagi komitmen bersama untuk menghadirkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang memungkinkan saling bertumbuhnya kemanusiaan, saling menjalin dan merekah, menjalar kuat bagaikan rimpang.

 

Monday, February 02, 2026

Dewan Perdamaian dan Kegilaan Lacanian

 

Dalam buku kumpulan seminar dan ceramahnya yang berjudul “Ecrits”, terutama pada halaman 171, Jacques Lacan, psikoanalis Perancis menuliskan begini:

“Apabila seseorang yang menganggap dirinya raja akan disebut orang gila, apalagi seorang raja yang menganggap dirinya raja, itu lebih gila lagi.”

Kegilaan dalam konteks ini tidak dimaksudkan sebagai ketidakwarasan, melainkan untuk menunjukkan kondisi subyek yang terperangkap oleh identitas. Bagi Lacan, identitas itu dibentuk oleh tatanan simbolik, atau struktur, atau “yang lain” (other) yang berada di luar diri subyek dan berbeda darinya.

Ia disebut terperangkap karena menganggap identitas itu adalah realitas dirinya, padahal tidak demikian. Identitas itu bersifat imajiner dan bukan realitas dirinya. Ia bagaikan subyek dalam cermin, imago, yang bukan realitas dirinya.

Dalam konteks itu, pernyataan Lacan itu berlaku juga untuk mereka yang menganggap dirinya Dewan Perdamaian. Oleh Lacan, mereka disebut gila.

Kegilaannya itu menjadi lebih serius karena bahkan sama sekali tak ada “yang lain” atau struktur yang menentukan identitas itu. Mereka benar-benar mengira dan menyebut dirinya sendiri sebagai dewan perdamaian.

Persoalan menjadi lebih serius lagi ketika orang Palestina atau Gaza, yang atributnya disematkan dalam identitas dewan itu, sama sekali diabaikan, tak diakui, dianggap tak ada, atau jika dianggap ada, tak punya hak untuk merumuskan dan menentukan dirinya sendiri. Pada titik inilah kata perdamaian itu hancur tercerai berai kehilangan makna fundamentalnya.

Perdamaian itu hancur total secara radikal, mencerabut makna dari keseluruhan akar. Perdamaian hanya mungkin jika martabat dan kesetaraan diberi ruang dan dijunjung tinggi dalam kehormatan, di mana setiap subyek mendapatkan kebebasan fundamental untuk merumuskan dirinya sendiri dan terus-menerus secara bebas menciptakan cara baru untuk menjadi manusia, untuk menjadi dirinya sendiri.

Maka setiap orang yang menganggap dirinya sebagai dewan perdamaian, atau berbangga diri sebagai bagian dari dewan perdamaian, atau dengan gembira memberikan dukungan kepada orang lain yang menganggap dirinya sebagai dewan perdamaian, oleh Jacques Lacan akan disebut sebagai gila.

Ini sudah sangat serius.

 


Sunday, February 01, 2026

Genosida Palestina dan Infeksi Pikiran (Mind Infection)

 

Infeksi pikiran adalah sebuah proses habituasi ide baik berupa mitos, propaganda, narasi kebencian, prasangka, maupun stigma, yang terus-menerus menyebar seperti virus di dalam pikiran sehingga membentuk keyakinan, cara berpikir, berperilaku yang bersifat destruktif baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Ini merupakan mekanisme linguistik maupun psikologis yang mampu mengubah orang biasa menjadi aktor, peserta maupun pendukung kekejaman, termasuk kekejaman masal seperti genosida.

Genosida terhadap orang Palestina merupakan contoh nyata dari beroperasinya infeksi pikiran ini. Bagaimana infeksi pikiran ini dijalankan?

Sarjana Yahudi Israel, Nurit Peled-Elhanan, pemenang hadiah Sakharov Parlemen Eropa untuk Kebebasan Berpikir tahun 2001, telah melakukan riset panjang terhadap materi pendidikan di sekolah-sekolah Israel yang resmi dalam kurikulum sekolah mereka. Hasil riset itu menunjukkan bahwa infeksi pikiran ini telah dijalankan melalui pendidikan di sekolah, melalui kurikulum negara, yang menanamkan pikiran dan keyakinan bahwa orang Palestina adalah “liyan”, yang tak pantas terhitung, dan dikategorikan sebagai sosok “nazi” yang pantas dibenci dan dihilangkan. Melalui kurikulum sekolah ini, sejak kecil, anak-anak Israel dibiasakan sejak dalam pikirn untuk merendahkan martabat manusia Palestina.

Infeksi pikiran melalui kurikulum pendidikan negara, ini merupakan habituasi yang menyebabkan anak-anak Israel sangat mudah untuk melegitimasi pembantaian terhadap orang Palestina dan menganggapnya bukan manusia. Seluruh infeksi pikiran yang dijalankan secara sistematis melalui kurikulum pendidikan sejak anak-anak ini telah menjadikan anak-anak Israel sebagai tentara-tentara yang dengan penuh kebanggaan melakukan kekejaman, tanpa rasa bersalah, bahkan merasa sangat terhormat sebagai bagian dari mempertahankan negara Yahudi tanpa orang Palestina di dalamnya.

Infeksi pikiran yang berlangsung sebagai habitus sejak kanak-kanak dan sistematis ini menjelaskan mengapa sampai detik ini, kekejaman tentara dan para pemukim terhadap warga Palestina itu tetap berlangsung dan mencapai titik kebrutalan kejahatan yang tak terbayangkan oleh akal sehat manapun. Karena infeksi pikiran ini juga merusak diri sendiri, maka tidak mengherankan jika melihat para tentara IDF dan para pemukim ini menunjukkan perilaku yang hampir-hampir bukan manusia, melainkan lebih menyerupai binatang buas yang tanpa pikiran sama sekali.

Dari sini tampak jelas bahwa kekejaman itu juga merupakan buah dari habitus yang panjang yang disebut infeksi pikiran.

Tulisan Nurid Peled-Elhanan yang merupakan versi resume atau artikel atau chapter buku, telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan bersama dengan tulisan dari banyak penulis lain telah diterbitkan oleh penerbit Kanisius Yogyakarta dengan judul “Anak-anak Abraham, Kebebasan dan Toleransi di Abad Konflik Agama”, dengan editor Kelly James Clark.

Kekejaman genosida di tanah Palestina tentu saja bukan persoalan agama karena yang menjadi korban bukan hanya orang dengan satu agama tertentu. Tentara IDF dan para pemukim yang telah mengalami infeksi pikiran itu akan melakukan kekejaman terhadap siapapun, tanpa pandang bulu, baik itu muslim, kristen, bahkan Rabbi Yahudi pun mendapatkan kekejaman asal mereka adalah pembela orang Palestina.

Pengalaman para Rabbi Yahudi yang tergabung dalam Rabbi for Human Rights merupakan contoh nyata. Karena membela warga Palestina yang dirampas hak-haknya dan mengalami penganiayaan, para rabbi ini juga mendapatkan perlakuan kekerasan dan kekejaman yang sama oleh zionis.

Karena infeksi pikiran ini juga telah menyebar ke berbagai wilayah, maka ini menjadi tantangan manusia seluruh dunia untuk menghadapinya dengan beragam cara, terutama adalah edukasi. Menghadapi infeksi pikiran, yang harus dilakukan adalah edukasi kritis dan edukasi kritis dan edukasi kritis. Generasi muda di seluruh dunia telah menunjukkan sikap kritis mereka. Ini harapan di tengah situasi kekejaman yang sangat menyesakkan.

Dibutuhkan vaksin berupa pendidikan kritis untuk melawan virus yang menginfeksi ini, agar generasi ke depan semakin kebal menghadapinya.

 


Wednesday, January 28, 2026

Dewan Perdamaian, Newspeak dan Tergelincirnya Pengenalan diri (Meconnaissance)

 

Dewan Perdamaian Gaza adalah manipulasi bahasa yg oleh pemikir politik dan sejarah Yahudi, Illan Pappe, disebut “Newspeak”. Makna aslinya adalah Dewan Kolonialisme berkelanjutan untuk Gaza. Ini adalah proyek lanjutan jangka panjang yang oleh David Harvey disebut akumulasi keuntungan melalui perampasan (accumulation by dispossession).

Rasa bangga para pejabat negeri ini ketika menjadi bagian darinya adalah tergelincirnya pengenalan diri sebagai subyek utuh dan tangguh, padahal ia adalah subyek terpecah dan runtuh. Psikoanalisis menyebutnya dengan istilah “meconnaissance“. Subyek yang demikian ini sangat rakus akan pengakuan dan perasaan berkuasa.

Dampaknya, orang-orang semacam ini tak akan berani memandang realitas karena realitas dapat menghancurkan konstruksi imajinatif tentang dirinya yang utuh dan kokoh. Kenyataan dampak banjir dan longsor di mana kehidupan warga terampas, hanyut serta tertimbun dan belum mendapatkan penanganan memadai, akan menakutkan baginya karena menghancurkan imajinasi dirinya sebagai pemimpin dan pejabat yang hebat, berdaya dan tanggap.

Ia juga tak punya keberanian untuk sungguh-sungguh mendengarkan karena suara-suara yang asli akan meruntuhkan imajinasi dirinya sebagai pemimpin dan pejabat yang kukuh dan utuh.

Jika demikian, kita sebenarnya sudah berada dalam bahaya. Realitas akan selalu dibengkokkan, kritik akan dibungkam dengan beragam instrumen termasuk instrumen hukum (lawfare) karena semua itu baginya akan melahirkan perasaan “the teft of enjoyment”, yakni tercurinya kenikmatan imajinasi diri sebagai yang utuh dan kukuh, namun sebenarnya terpecah dan runtuh. Semua itu beroperasi di dalam ketaksadaran. Jadi, memang tidak rasional.

 


Tuesday, January 13, 2026

MALIGU : Komunitas yang Melahirkan Multiplisitas

 

 “Yang penting untuk diperhatikan bukanlah apakah keinginan kita terpenuhi atau tidak, melainkan bagaimana kita mengetahui apa yang kita inginkan. Sebab keinginan kita itu tidak ada yang bersifat spontan dan alamiah. Keinginan kita bersifat buatan, yakni ada yang mengajari dan menuntun kita agar kita menginginkan sesuatu” (Slavoj Zizek, “The Pervert’s Guide to Cinema”, 2006).


APA yang dinyatakan oleh Slavoj Zizek, filsuf dan psikoanalis Slovenia dalam kutipan di atas merupakan hal yang sangat fundamental dan substansial, yang merupakan pokok dari apa yang disebut literasi. Pernyataan itu mengemukakan betapa pentingnya sikap kritis, yakni sikap mempertanyakan segala sesuatu secara serius dan mendalam, menunda seluruh persetujuan terhadap apa yang di permukaan tampaknya merupakan hal yang biasa saja, yang dianggap sebagai normalitas dan kebenaran.

Melalui hal yang tampaknya biasa dalam kehidupan sehari-hari, yakni keinginan, Zizek memberi peringatan kepada kita agar kita mewaspadai keinginan-keinginan kita. Ia mengingatkan bahwa seringkali keinginan kita itu bukanlah benar-benar merupakan keinginan kita, melainkan sesuatu yang diatur oleh orang lain agar kita menginginkan sesuatu.

Ketika kita menginginkan sesuatu itu, keinginan kita itu ternyata hanya menguntungkan orang lain yang mengatur keinginan kita itu. Bahkan seringkali, apa yang kita inginkan itu bukanlah sesuatu yang benar-benar kita butuhkan. Itulah yang disebut sebagai ideologi yang tersembunyi dalam keinginan.
Dengan demikian sebenarnya kita sedang menjadi budak bagi kepentingan orang lain.

Nah, kesanggupan untuk mempertanyakan secara mendalam apa yang tersembunyi di balik keinginan itu, dan apa yang tersembunyi di balik realitas sehari-hari, itulah yang menjadi ciri utama dari subyek yang terliterasi (literate subject), yakni subyek yang dapat mengambil keputusan secara otonom.

Melahirkan subyek yang memiliki literasi inilah tujuan fundamental yang hendak dicapai oleh Komunitas MALIGU (Majalah Literasi Guru) melalui beragam aktivitas yang dilakukannya, terutama aktivitas menulis. Untuk mewadahi aktivitas menulis itu, komunitas ini menerbitkan Majalah Literasi Guru setahun dua kali.

 POKOK PEMBELAJARAN

Pada hari Sabtu, 10 Januari 2026, dalam bincang-bincang dan refleksi MALIGU yang diselenggarakan bersama komunitas Sastra Bulan Purnama di Museum Sandi Yogyakarta, terungkap beberapa pokok pembelajaran.

Pertama, yang dapat menghidupkan komunitas selama 6 tahun dan secara konsisten terus-menerus beraktivitas adalah kemauan dan kerinduan untuk senantiasa berkarya dan membangun makna, yang hidup dalam diri anggota. Kemauan dan kerinduan untuk terus berkarya dan membangun makna ini direfleksikan sebagai ciri dari homo cogitans, yakni manusia yang berpikir, mengajukan pertanyaan dan menemukan jawaban.

Kemauan dan kerinduan untuk membangun makna melalui aktivitas menulis menjadi ciri dari homo cogitans karena menulis pada dasarnya adalah aktivitas berpikir, mengajukan pertanyaan terhadap realitas harian yang dihadapi, dan berupaya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Cogitare dalam bahasa Latin artinya berpikir, bertanya, merumuskan, menemukan dan membentuk pengetahuan dan kesadaran.

Kedua, kesanggupan dasar untuk membaca sebagai salah satu ciri literasi, dimaknai bukan hanya sebagai kesanggupan dan kebiasaan membaca buku melainkan juga membaca realitas harian. Dalam istilah yang digunakan oleh almarhun Dick Hartoko, kesanggupan membaca relitas harian ini dirumuskan dengan “membaca tanda-tanda zaman”.

Kesanggupan membaca tanda zaman atau realitas harian ini tentu saja tak dapat dipisahkan dari kesanggupan untuk membaca buku sebagai sebuah kebiasaan karena membaca buku akan memperluas wawasan dan perspektif serta menyediakan alat untuk membaca realitas harian secara lebih tajam.

Dalam ungkapan Slavoj Zizek, kesanggupan membaca ini dirumuskan sebagai kesanggupan untuk “mengetahui apa yang kita inginkan dan mengapa kita menginginkan sesuatu”. Kesanggupan membaca dan menuliskan “tanda-tanda zaman” yang dirumuskan oleh Dick Hartoko, dalam ungkapan Slavoj Zizek dirumuskan sebagai kesanggupan untuk membongkar ideologi yang tersembunyi di dalam realitas harian atau di balik pergerakan zaman.

Oleh karena itu, kesanggupan untuk menulis sudah semestinya mengarah kepada kesanggupan untuk membongkar ideologi yang tersembunyi di dalam peristiwa harian (di dalam perilaku, perkataan, trend, pernyataan pejabat, iklan produk, sinetron, drakor, konten media sosial, dan sebagainya).

Dalam konteks ini, ideologi dipahami sebagai keyakinan-keyakinan, pengetahuan, kebenaran, anggapan, asumsi, kepentingan, yang tidak disadari karena berada dalam wilayah ketaksadaran seseorang, dan tersembunyi di dalam diri, namun beroperasi secara sangat kuat dan sangat memengaruhi seluruh cara berpikir, cara pandang, sikap dan perilaku seseorang.

Ketiga, kemauan dan kerinduan untuk terus-menerus berkarya dan membangun makna, merupakan ciri dari subyek yang berhasrat, yakni subyek yang memiliki energi radikal untuk berproduksi, menciptakan kreativitas, membangun kebaruan (inovasi) dan terus-menerus berproses dan menjadi (becoming), tidak berhenti, serta meninggalkan kemapanan. Ini menjadi ciri dari subyek yang senantiasa berproses dan belajar tiada henti.

Dalam istilah yang berbeda, kemauan dan kerinduan untuk terus berkarya dan membangun makna adalah ciri dari subyek yang “mewaktu”, yakni subyek yang memiliki pilihan otonom untuk menghadirkan diri secara intensif, otentik dan berkualitas di dalam waktu. Ini merupakan pilihan untuk terlibat secara aktif, kreatif dan produktif di dalam setiap waktu keseharian, sehingga setiap saat dalam kehidupan menjadi momen yang bermakna.

Keempat, komunitas MALIGU yang pada awalnya merupakan sebuah “gerakan”, dalam perjalanan enam tahun telah berubah menjadi komunitas yang “menggerakkan”. Ini menunjukkan bahwa komunitas MALIGU telah melahirkan keteladanan atau implisit habitus, yakni suatu proses membangun kebiasaan terutama melalui tindakan nyata dan bukan melalui kata-kata, yang secara tidak sadar telah menarik orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Keteladanan yang melahirkan gerakan dalam diri subyek lain yang berbeda, di lingkungan yang berbeda atau dalam komunitas yang berbeda, menunjukkan bahwa MALIGU telah mengalirkan energi kreatif di dalam diri subyek dan komunitas yang berbeda. Lahirnya energi kreatif di berbagai tempat dan lingkungan lain ini disebut sebagai multiplisitas, yakni lahirnya jaringan dan relasi energi kreativitas dan inovasi yang tidak semata-mata meniru (imitasi) melainkan benar-benar melahirkan sesuatu yang baru sesuai dengan konteks dan caranya sendiri.

MENGGERAKKAN
Multiplisitas atau lahirnya kreativitas-kreativitas baru ini dikonfirmasi oleh lahirnya jurnalis cilik, lahirnya Majalah Pambudi, dan lahirnya buku Antologi Puisi yang ditulis oleh anak-anak sekolah di SD Negeri Jetis 1, Yogyakarta.

MALIGU juga telah menggerakkan para guru SMP BOPKRI 3 Yogyakarta untuk menulis dan menerbitkan buku bunga rampai pengalaman guru berjudul Pendidikan Karekter yang Mengubah Anak dengan Pohon Karakter, lahirnya buku Kumpulan Puisi yang ditulis oleh para guru, dan melahirkan anak-anak sekolah yang memiliki kemampuan menulis cerpen sehingga mendapatkan penghargaan di tingkat kota maupun propinsi.

Dengan demikian, komunitas MALIGU telah melahirkan pribadi-pribadi yang berprestasi, berkualitas, produktif dan kreatif.

Catatan pentingnya, literasi yang salah satunya ditandai oleh kesanggupan untuk membaca dan menulis itu, pada gilirannya tidak hanya berhenti pada membaca dan menulis apa yang ada di permukaan, melainkan sungguh-sungguh sampai pada kesanggupan fundamental untuk membaca apa yang tidak tertulis, mendengarkan apa yang tidak diucapkan.

Juga melihat apa yang tidak ditampakkan, merasakan apa yang tidak diekspresikan, merasakan arus-gerak dari sesuatu yang tampaknya tenang dan diam, mencermati ketidakwajaran dari apa yang tampaknya normal, sehingga menemukan apa yang tersembunyi di kedalaman, dan membongkar apa yang diselimuti oleh permukaan.

Literasi adalah sikap kritis yang radikal, yang sangat dibutuhkan untuk menghadirkan keadaban. 


Tulisan ini telah dimuat di www.bernasnews.com, 13 Januari 2026. Dimuat di sini sebagai dokumentasi.