“Yang penting untuk
diperhatikan bukanlah apakah keinginan kita terpenuhi atau tidak, melainkan
bagaimana kita mengetahui apa yang kita inginkan. Sebab keinginan kita itu
tidak ada yang bersifat spontan dan alamiah. Keinginan kita bersifat buatan,
yakni ada yang mengajari dan menuntun kita agar kita menginginkan sesuatu”
(Slavoj Zizek, “The Pervert’s Guide to Cinema”, 2006).
APA yang dinyatakan oleh Slavoj Zizek, filsuf dan psikoanalis Slovenia dalam kutipan di atas merupakan hal yang sangat fundamental dan substansial, yang merupakan pokok dari apa yang disebut literasi. Pernyataan itu mengemukakan betapa pentingnya sikap kritis, yakni sikap mempertanyakan segala sesuatu secara serius dan mendalam, menunda seluruh persetujuan terhadap apa yang di permukaan tampaknya merupakan hal yang biasa saja, yang dianggap sebagai normalitas dan kebenaran.
Melalui hal yang tampaknya biasa
dalam kehidupan sehari-hari, yakni keinginan, Zizek memberi peringatan kepada
kita agar kita mewaspadai keinginan-keinginan kita. Ia mengingatkan bahwa
seringkali keinginan kita itu bukanlah benar-benar merupakan keinginan kita,
melainkan sesuatu yang diatur oleh orang lain agar kita menginginkan sesuatu.
Ketika kita menginginkan sesuatu
itu, keinginan kita itu ternyata hanya menguntungkan orang lain yang mengatur
keinginan kita itu. Bahkan seringkali, apa yang kita inginkan itu bukanlah
sesuatu yang benar-benar kita butuhkan. Itulah yang disebut sebagai ideologi
yang tersembunyi dalam keinginan.
Dengan demikian sebenarnya kita sedang menjadi budak bagi kepentingan orang
lain.
Nah, kesanggupan untuk
mempertanyakan secara mendalam apa yang tersembunyi di balik keinginan itu, dan
apa yang tersembunyi di balik realitas sehari-hari, itulah yang menjadi ciri
utama dari subyek yang terliterasi (literate subject), yakni subyek yang dapat
mengambil keputusan secara otonom.
Melahirkan subyek yang memiliki
literasi inilah tujuan fundamental yang hendak dicapai oleh Komunitas MALIGU
(Majalah Literasi Guru) melalui beragam aktivitas yang dilakukannya, terutama
aktivitas menulis. Untuk mewadahi aktivitas menulis itu, komunitas ini
menerbitkan Majalah Literasi Guru setahun dua kali.
POKOK PEMBELAJARAN
Pada hari Sabtu, 10 Januari 2026, dalam bincang-bincang dan refleksi MALIGU
yang diselenggarakan bersama komunitas Sastra Bulan Purnama di Museum Sandi
Yogyakarta, terungkap beberapa pokok pembelajaran.
Pertama, yang dapat menghidupkan
komunitas selama 6 tahun dan secara konsisten terus-menerus beraktivitas adalah
kemauan dan kerinduan untuk senantiasa berkarya dan membangun makna, yang hidup
dalam diri anggota. Kemauan dan kerinduan untuk terus berkarya dan membangun
makna ini direfleksikan sebagai ciri dari homo cogitans, yakni manusia yang
berpikir, mengajukan pertanyaan dan menemukan jawaban.
Kemauan dan kerinduan untuk
membangun makna melalui aktivitas menulis menjadi ciri dari homo cogitans
karena menulis pada dasarnya adalah aktivitas berpikir, mengajukan pertanyaan
terhadap realitas harian yang dihadapi, dan berupaya mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan. Cogitare dalam bahasa Latin artinya berpikir, bertanya,
merumuskan, menemukan dan membentuk pengetahuan dan kesadaran.
Kedua, kesanggupan dasar untuk
membaca sebagai salah satu ciri literasi, dimaknai bukan hanya sebagai
kesanggupan dan kebiasaan membaca buku melainkan juga membaca realitas harian.
Dalam istilah yang digunakan oleh almarhun Dick Hartoko, kesanggupan membaca
relitas harian ini dirumuskan dengan “membaca tanda-tanda zaman”.
Kesanggupan membaca tanda zaman
atau realitas harian ini tentu saja tak dapat dipisahkan dari kesanggupan untuk
membaca buku sebagai sebuah kebiasaan karena membaca buku akan memperluas
wawasan dan perspektif serta menyediakan alat untuk membaca realitas harian
secara lebih tajam.
Dalam ungkapan Slavoj Zizek,
kesanggupan membaca ini dirumuskan sebagai kesanggupan untuk “mengetahui apa
yang kita inginkan dan mengapa kita menginginkan sesuatu”. Kesanggupan membaca
dan menuliskan “tanda-tanda zaman” yang dirumuskan oleh Dick Hartoko, dalam
ungkapan Slavoj Zizek dirumuskan sebagai kesanggupan untuk membongkar ideologi
yang tersembunyi di dalam realitas harian atau di balik pergerakan zaman.
Oleh karena itu, kesanggupan
untuk menulis sudah semestinya mengarah kepada kesanggupan untuk membongkar
ideologi yang tersembunyi di dalam peristiwa harian (di dalam perilaku,
perkataan, trend, pernyataan pejabat, iklan produk, sinetron, drakor, konten
media sosial, dan sebagainya).
Dalam konteks ini, ideologi
dipahami sebagai keyakinan-keyakinan, pengetahuan, kebenaran, anggapan, asumsi,
kepentingan, yang tidak disadari karena berada dalam wilayah ketaksadaran
seseorang, dan tersembunyi di dalam diri, namun beroperasi secara sangat kuat
dan sangat memengaruhi seluruh cara berpikir, cara pandang, sikap dan perilaku
seseorang.
Ketiga, kemauan dan kerinduan
untuk terus-menerus berkarya dan membangun makna, merupakan ciri dari subyek
yang berhasrat, yakni subyek yang memiliki energi radikal untuk berproduksi,
menciptakan kreativitas, membangun kebaruan (inovasi) dan terus-menerus
berproses dan menjadi (becoming), tidak berhenti, serta meninggalkan kemapanan.
Ini menjadi ciri dari subyek yang senantiasa berproses dan belajar tiada henti.
Dalam istilah yang berbeda,
kemauan dan kerinduan untuk terus berkarya dan membangun makna adalah ciri dari
subyek yang “mewaktu”, yakni subyek yang memiliki pilihan otonom untuk
menghadirkan diri secara intensif, otentik dan berkualitas di dalam waktu. Ini
merupakan pilihan untuk terlibat secara aktif, kreatif dan produktif di dalam
setiap waktu keseharian, sehingga setiap saat dalam kehidupan menjadi momen
yang bermakna.
Keempat, komunitas MALIGU yang
pada awalnya merupakan sebuah “gerakan”, dalam perjalanan enam tahun telah
berubah menjadi komunitas yang “menggerakkan”. Ini menunjukkan bahwa komunitas
MALIGU telah melahirkan keteladanan atau implisit habitus, yakni suatu proses
membangun kebiasaan terutama melalui tindakan nyata dan bukan melalui
kata-kata, yang secara tidak sadar telah menarik orang lain untuk melakukan hal
yang sama.
Keteladanan yang melahirkan
gerakan dalam diri subyek lain yang berbeda, di lingkungan yang berbeda atau
dalam komunitas yang berbeda, menunjukkan bahwa MALIGU telah mengalirkan energi
kreatif di dalam diri subyek dan komunitas yang berbeda. Lahirnya energi
kreatif di berbagai tempat dan lingkungan lain ini disebut sebagai
multiplisitas, yakni lahirnya jaringan dan relasi energi kreativitas dan
inovasi yang tidak semata-mata meniru (imitasi) melainkan benar-benar
melahirkan sesuatu yang baru sesuai dengan konteks dan caranya sendiri.
MENGGERAKKAN
Multiplisitas atau lahirnya kreativitas-kreativitas baru ini dikonfirmasi oleh
lahirnya jurnalis cilik, lahirnya Majalah Pambudi, dan lahirnya buku Antologi
Puisi yang ditulis oleh anak-anak sekolah di SD Negeri Jetis 1, Yogyakarta.
MALIGU juga telah menggerakkan
para guru SMP BOPKRI 3 Yogyakarta untuk menulis dan menerbitkan buku bunga
rampai pengalaman guru berjudul Pendidikan Karekter yang Mengubah Anak dengan
Pohon Karakter, lahirnya buku Kumpulan Puisi yang ditulis oleh para guru, dan
melahirkan anak-anak sekolah yang memiliki kemampuan menulis cerpen sehingga
mendapatkan penghargaan di tingkat kota maupun propinsi.
Dengan demikian, komunitas MALIGU
telah melahirkan pribadi-pribadi yang berprestasi, berkualitas, produktif dan
kreatif.
Catatan pentingnya, literasi yang
salah satunya ditandai oleh kesanggupan untuk membaca dan menulis itu, pada
gilirannya tidak hanya berhenti pada membaca dan menulis apa yang ada di
permukaan, melainkan sungguh-sungguh sampai pada kesanggupan fundamental untuk
membaca apa yang tidak tertulis, mendengarkan apa yang tidak diucapkan.
Juga melihat apa yang tidak
ditampakkan, merasakan apa yang tidak diekspresikan, merasakan arus-gerak dari
sesuatu yang tampaknya tenang dan diam, mencermati ketidakwajaran dari apa yang
tampaknya normal, sehingga menemukan apa yang tersembunyi di kedalaman, dan
membongkar apa yang diselimuti oleh permukaan.
Literasi adalah sikap kritis yang
radikal, yang sangat dibutuhkan untuk menghadirkan keadaban.
No comments:
Post a Comment