Tuesday, January 13, 2026

MALIGU : Komunitas yang Melahirkan Multiplisitas

 

 “Yang penting untuk diperhatikan bukanlah apakah keinginan kita terpenuhi atau tidak, melainkan bagaimana kita mengetahui apa yang kita inginkan. Sebab keinginan kita itu tidak ada yang bersifat spontan dan alamiah. Keinginan kita bersifat buatan, yakni ada yang mengajari dan menuntun kita agar kita menginginkan sesuatu” (Slavoj Zizek, “The Pervert’s Guide to Cinema”, 2006).


APA yang dinyatakan oleh Slavoj Zizek, filsuf dan psikoanalis Slovenia dalam kutipan di atas merupakan hal yang sangat fundamental dan substansial, yang merupakan pokok dari apa yang disebut literasi. Pernyataan itu mengemukakan betapa pentingnya sikap kritis, yakni sikap mempertanyakan segala sesuatu secara serius dan mendalam, menunda seluruh persetujuan terhadap apa yang di permukaan tampaknya merupakan hal yang biasa saja, yang dianggap sebagai normalitas dan kebenaran.

Melalui hal yang tampaknya biasa dalam kehidupan sehari-hari, yakni keinginan, Zizek memberi peringatan kepada kita agar kita mewaspadai keinginan-keinginan kita. Ia mengingatkan bahwa seringkali keinginan kita itu bukanlah benar-benar merupakan keinginan kita, melainkan sesuatu yang diatur oleh orang lain agar kita menginginkan sesuatu.

Ketika kita menginginkan sesuatu itu, keinginan kita itu ternyata hanya menguntungkan orang lain yang mengatur keinginan kita itu. Bahkan seringkali, apa yang kita inginkan itu bukanlah sesuatu yang benar-benar kita butuhkan. Itulah yang disebut sebagai ideologi yang tersembunyi dalam keinginan.
Dengan demikian sebenarnya kita sedang menjadi budak bagi kepentingan orang lain.

Nah, kesanggupan untuk mempertanyakan secara mendalam apa yang tersembunyi di balik keinginan itu, dan apa yang tersembunyi di balik realitas sehari-hari, itulah yang menjadi ciri utama dari subyek yang terliterasi (literate subject), yakni subyek yang dapat mengambil keputusan secara otonom.

Melahirkan subyek yang memiliki literasi inilah tujuan fundamental yang hendak dicapai oleh Komunitas MALIGU (Majalah Literasi Guru) melalui beragam aktivitas yang dilakukannya, terutama aktivitas menulis. Untuk mewadahi aktivitas menulis itu, komunitas ini menerbitkan Majalah Literasi Guru setahun dua kali.

 POKOK PEMBELAJARAN

Pada hari Sabtu, 10 Januari 2026, dalam bincang-bincang dan refleksi MALIGU yang diselenggarakan bersama komunitas Sastra Bulan Purnama di Museum Sandi Yogyakarta, terungkap beberapa pokok pembelajaran.

Pertama, yang dapat menghidupkan komunitas selama 6 tahun dan secara konsisten terus-menerus beraktivitas adalah kemauan dan kerinduan untuk senantiasa berkarya dan membangun makna, yang hidup dalam diri anggota. Kemauan dan kerinduan untuk terus berkarya dan membangun makna ini direfleksikan sebagai ciri dari homo cogitans, yakni manusia yang berpikir, mengajukan pertanyaan dan menemukan jawaban.

Kemauan dan kerinduan untuk membangun makna melalui aktivitas menulis menjadi ciri dari homo cogitans karena menulis pada dasarnya adalah aktivitas berpikir, mengajukan pertanyaan terhadap realitas harian yang dihadapi, dan berupaya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Cogitare dalam bahasa Latin artinya berpikir, bertanya, merumuskan, menemukan dan membentuk pengetahuan dan kesadaran.

Kedua, kesanggupan dasar untuk membaca sebagai salah satu ciri literasi, dimaknai bukan hanya sebagai kesanggupan dan kebiasaan membaca buku melainkan juga membaca realitas harian. Dalam istilah yang digunakan oleh almarhun Dick Hartoko, kesanggupan membaca relitas harian ini dirumuskan dengan “membaca tanda-tanda zaman”.

Kesanggupan membaca tanda zaman atau realitas harian ini tentu saja tak dapat dipisahkan dari kesanggupan untuk membaca buku sebagai sebuah kebiasaan karena membaca buku akan memperluas wawasan dan perspektif serta menyediakan alat untuk membaca realitas harian secara lebih tajam.

Dalam ungkapan Slavoj Zizek, kesanggupan membaca ini dirumuskan sebagai kesanggupan untuk “mengetahui apa yang kita inginkan dan mengapa kita menginginkan sesuatu”. Kesanggupan membaca dan menuliskan “tanda-tanda zaman” yang dirumuskan oleh Dick Hartoko, dalam ungkapan Slavoj Zizek dirumuskan sebagai kesanggupan untuk membongkar ideologi yang tersembunyi di dalam realitas harian atau di balik pergerakan zaman.

Oleh karena itu, kesanggupan untuk menulis sudah semestinya mengarah kepada kesanggupan untuk membongkar ideologi yang tersembunyi di dalam peristiwa harian (di dalam perilaku, perkataan, trend, pernyataan pejabat, iklan produk, sinetron, drakor, konten media sosial, dan sebagainya).

Dalam konteks ini, ideologi dipahami sebagai keyakinan-keyakinan, pengetahuan, kebenaran, anggapan, asumsi, kepentingan, yang tidak disadari karena berada dalam wilayah ketaksadaran seseorang, dan tersembunyi di dalam diri, namun beroperasi secara sangat kuat dan sangat memengaruhi seluruh cara berpikir, cara pandang, sikap dan perilaku seseorang.

Ketiga, kemauan dan kerinduan untuk terus-menerus berkarya dan membangun makna, merupakan ciri dari subyek yang berhasrat, yakni subyek yang memiliki energi radikal untuk berproduksi, menciptakan kreativitas, membangun kebaruan (inovasi) dan terus-menerus berproses dan menjadi (becoming), tidak berhenti, serta meninggalkan kemapanan. Ini menjadi ciri dari subyek yang senantiasa berproses dan belajar tiada henti.

Dalam istilah yang berbeda, kemauan dan kerinduan untuk terus berkarya dan membangun makna adalah ciri dari subyek yang “mewaktu”, yakni subyek yang memiliki pilihan otonom untuk menghadirkan diri secara intensif, otentik dan berkualitas di dalam waktu. Ini merupakan pilihan untuk terlibat secara aktif, kreatif dan produktif di dalam setiap waktu keseharian, sehingga setiap saat dalam kehidupan menjadi momen yang bermakna.

Keempat, komunitas MALIGU yang pada awalnya merupakan sebuah “gerakan”, dalam perjalanan enam tahun telah berubah menjadi komunitas yang “menggerakkan”. Ini menunjukkan bahwa komunitas MALIGU telah melahirkan keteladanan atau implisit habitus, yakni suatu proses membangun kebiasaan terutama melalui tindakan nyata dan bukan melalui kata-kata, yang secara tidak sadar telah menarik orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Keteladanan yang melahirkan gerakan dalam diri subyek lain yang berbeda, di lingkungan yang berbeda atau dalam komunitas yang berbeda, menunjukkan bahwa MALIGU telah mengalirkan energi kreatif di dalam diri subyek dan komunitas yang berbeda. Lahirnya energi kreatif di berbagai tempat dan lingkungan lain ini disebut sebagai multiplisitas, yakni lahirnya jaringan dan relasi energi kreativitas dan inovasi yang tidak semata-mata meniru (imitasi) melainkan benar-benar melahirkan sesuatu yang baru sesuai dengan konteks dan caranya sendiri.

MENGGERAKKAN
Multiplisitas atau lahirnya kreativitas-kreativitas baru ini dikonfirmasi oleh lahirnya jurnalis cilik, lahirnya Majalah Pambudi, dan lahirnya buku Antologi Puisi yang ditulis oleh anak-anak sekolah di SD Negeri Jetis 1, Yogyakarta.

MALIGU juga telah menggerakkan para guru SMP BOPKRI 3 Yogyakarta untuk menulis dan menerbitkan buku bunga rampai pengalaman guru berjudul Pendidikan Karekter yang Mengubah Anak dengan Pohon Karakter, lahirnya buku Kumpulan Puisi yang ditulis oleh para guru, dan melahirkan anak-anak sekolah yang memiliki kemampuan menulis cerpen sehingga mendapatkan penghargaan di tingkat kota maupun propinsi.

Dengan demikian, komunitas MALIGU telah melahirkan pribadi-pribadi yang berprestasi, berkualitas, produktif dan kreatif.

Catatan pentingnya, literasi yang salah satunya ditandai oleh kesanggupan untuk membaca dan menulis itu, pada gilirannya tidak hanya berhenti pada membaca dan menulis apa yang ada di permukaan, melainkan sungguh-sungguh sampai pada kesanggupan fundamental untuk membaca apa yang tidak tertulis, mendengarkan apa yang tidak diucapkan.

Juga melihat apa yang tidak ditampakkan, merasakan apa yang tidak diekspresikan, merasakan arus-gerak dari sesuatu yang tampaknya tenang dan diam, mencermati ketidakwajaran dari apa yang tampaknya normal, sehingga menemukan apa yang tersembunyi di kedalaman, dan membongkar apa yang diselimuti oleh permukaan.

Literasi adalah sikap kritis yang radikal, yang sangat dibutuhkan untuk menghadirkan keadaban. 


Tulisan ini telah dimuat di www.bernasnews.com, 13 Januari 2026. Dimuat di sini sebagai dokumentasi.


No comments: