Infeksi pikiran adalah sebuah
proses habituasi ide baik berupa mitos, propaganda, narasi kebencian,
prasangka, maupun stigma, yang terus-menerus menyebar seperti virus di dalam
pikiran sehingga membentuk keyakinan, cara berpikir, berperilaku yang bersifat
destruktif baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Ini merupakan mekanisme
linguistik maupun psikologis yang mampu mengubah orang biasa menjadi aktor,
peserta maupun pendukung kekejaman, termasuk kekejaman masal seperti genosida.
Genosida terhadap orang Palestina
merupakan contoh nyata dari beroperasinya infeksi pikiran ini. Bagaimana
infeksi pikiran ini dijalankan?
Sarjana Yahudi Israel, Nurit
Peled-Elhanan, pemenang hadiah Sakharov Parlemen Eropa untuk Kebebasan Berpikir
tahun 2001, telah melakukan riset panjang terhadap materi pendidikan di
sekolah-sekolah Israel yang resmi dalam kurikulum sekolah mereka. Hasil riset
itu menunjukkan bahwa infeksi pikiran ini telah dijalankan melalui pendidikan
di sekolah, melalui kurikulum negara, yang menanamkan pikiran dan keyakinan
bahwa orang Palestina adalah “liyan”, yang tak pantas terhitung, dan
dikategorikan sebagai sosok “nazi” yang pantas dibenci dan dihilangkan. Melalui
kurikulum sekolah ini, sejak kecil, anak-anak Israel dibiasakan sejak dalam
pikirn untuk merendahkan martabat manusia Palestina.
Infeksi pikiran melalui kurikulum
pendidikan negara, ini merupakan habituasi yang menyebabkan anak-anak Israel
sangat mudah untuk melegitimasi pembantaian terhadap orang Palestina dan
menganggapnya bukan manusia. Seluruh infeksi pikiran yang dijalankan secara
sistematis melalui kurikulum pendidikan sejak anak-anak ini telah menjadikan
anak-anak Israel sebagai tentara-tentara yang dengan penuh kebanggaan melakukan
kekejaman, tanpa rasa bersalah, bahkan merasa sangat terhormat sebagai bagian
dari mempertahankan negara Yahudi tanpa orang Palestina di dalamnya.
Infeksi pikiran yang berlangsung
sebagai habitus sejak kanak-kanak dan sistematis ini menjelaskan mengapa sampai
detik ini, kekejaman tentara dan para pemukim terhadap warga Palestina itu
tetap berlangsung dan mencapai titik kebrutalan kejahatan yang tak terbayangkan
oleh akal sehat manapun. Karena infeksi pikiran ini juga merusak diri sendiri,
maka tidak mengherankan jika melihat para tentara IDF dan para pemukim ini
menunjukkan perilaku yang hampir-hampir bukan manusia, melainkan lebih menyerupai
binatang buas yang tanpa pikiran sama sekali.
Dari sini tampak jelas bahwa
kekejaman itu juga merupakan buah dari habitus yang panjang yang disebut
infeksi pikiran.
Tulisan Nurid Peled-Elhanan yang
merupakan versi resume atau artikel atau chapter buku,
telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan bersama dengan tulisan dari
banyak penulis lain telah diterbitkan oleh penerbit Kanisius Yogyakarta dengan
judul “Anak-anak Abraham, Kebebasan dan Toleransi di Abad Konflik Agama”,
dengan editor Kelly James Clark.
Kekejaman genosida di tanah
Palestina tentu saja bukan persoalan agama karena yang menjadi korban bukan
hanya orang dengan satu agama tertentu. Tentara IDF dan para pemukim yang telah
mengalami infeksi pikiran itu akan melakukan kekejaman terhadap siapapun, tanpa
pandang bulu, baik itu muslim, kristen, bahkan Rabbi Yahudi pun mendapatkan
kekejaman asal mereka adalah pembela orang Palestina.
Pengalaman para Rabbi Yahudi yang
tergabung dalam Rabbi for Human Rights merupakan contoh nyata. Karena membela
warga Palestina yang dirampas hak-haknya dan mengalami penganiayaan, para rabbi
ini juga mendapatkan perlakuan kekerasan dan kekejaman yang sama oleh zionis.
Karena infeksi pikiran ini juga
telah menyebar ke berbagai wilayah, maka ini menjadi tantangan manusia seluruh
dunia untuk menghadapinya dengan beragam cara, terutama adalah edukasi.
Menghadapi infeksi pikiran, yang harus dilakukan adalah edukasi kritis dan
edukasi kritis dan edukasi kritis. Generasi muda di seluruh dunia telah
menunjukkan sikap kritis mereka. Ini harapan di tengah situasi kekejaman yang
sangat menyesakkan.
Dibutuhkan vaksin berupa
pendidikan kritis untuk melawan virus yang menginfeksi ini, agar generasi ke
depan semakin kebal menghadapinya.
No comments:
Post a Comment