“The problem for us is not
whether our desires are satisfied or not. The problem is how do we know what we
desire? There is nothing spontaneous, nothing natural about human desires.
Our desires are artificial –
we have to be taught to desire”
Slavoj Zizek, The Pervert’s
Guide to Cinema, 2006
—–
The Pervert’s Guide to Cinema adalah
sebuah film dokumenter yang menyajikan paparan dan analisis Slavoj Zizek
tentang berbagai macam film dengan menggunakan perspektif psikoanaisis
Lacanian. Judul film dokumenter itu jika dialihbahasakan ke dalam bahasa
Indonesia kurang lebih berarti Sebuah Panduan bagi Mereka yang Terlena
untuk Memahami Film. Kata “pervert” memang memiliki beragam pillihan arti,
salah satunya adalah “orang mesum”. Dalam konteks ini, saya memilih untuk
mengartikannya dengan Orang yang Terlena dalam arti kurang
memiliki sikap kritis di dalam cara berpikir tentang realitas.
Pernyataan pokok Zizek
sebagaimana saya kutip di bagian awal ini hendak menegaskan bahwa yang paling
utama dalam kehidupan kita itu bukan soal apakah hasrat kita itu terpenuhi
ataukah tidak, melainkan bagaimana kita dapat mengetahui apa yang menjadi hasrat
kita sendiri, karena hasrat manusia itu tidak bersifat spontan dan alamiah,
melainkan bersifat artifisial dan merupakan buah dari sebuah konstruksi.
Manusia harus diajari, dilatih dan dididik untuk membangun hasratnya sendiri.
Pernyataan Zizek ini merupakan
pernyataan yang sangat kritis dan fundamental karena menghancurkan normalitas
pandangan dan cara berpikir tentang hasrat. Pernyataan serupa dapat ditemukan
dalam pemikiran Pierre Bourdieu tentang habitus di mana habitus dipahami bukan
hanya sebagai sebuah praktik pembiasaan melainkan juga merupakan praktik untuk
mewujudkan pembedaan (distinction) kelas, dan keunikan. Dalam
pemikiran ini, selera tentang berbagai macam hal, dipahami sebagai sebuah
produk dari habitus. Selera tentang makanan, model pakaian, bentuk dan
destinasi liburan, serta merek produk barang-barang yang dikenakan bukanlah
sesuatu yang bersifat spontan dan alamiah, melainkan sebuah hasil dari
konstruksi, pembiasaan yang di dalamnya mengandung upaya pembedaan (distinction).
Selera adalah buah dari habitus.
Dengan prinsip yang sama, pada
tahun 2013, Zizek memproduksi film dokumenter lain dengan judul The
Pervert’s Guide to Ideology, yang secara garis besar hendak menyatakan
bahwa yang paling utama dalam kehidupan kita itu bukan soal apakah ideologi
kita dapat diwujudkan ataukah tidak, melainkan bagaimana kita dapat mengetahui
apa yang menjadi ideologi kita sendiri, karena ideologi dalam kehidupan manusia
itu tidak bersifat spontan dan alamiah, melainkan bersifat artifisial dan
merupakan buah dari sebuah konstruksi. Manusia harus diajari, dilatih dan
dididik untuk membangun ideologinya sendiri.
Novel Warisan 3 Kerajaan yang
ditulis oleh Bud Murdono, dapat dibaca sebagai sebuah pembacaan tentang
jejak-jejak pembentukan hasrat dan ideologi di dalam figur-figur utama yang
dikisahkan di dalamnya, terutama di dalam dua figur yang memiliki manifestasi
berbeda di dalam praktik kekuasaannya, yakni raja Senna di kerajaan Galuh dan
Rakai Sanjaya di dua kerajaan yakni Sunda dan Bumi Mataran (Medang). Novel ini
menyuguhkan sebuah realitas bahwa hasrat dan ideologi yang dimanifestasikan
oleh para tokoh di dalam kehidupannya, sebenarnya bukanlah hasrat dan ideologi
yang lahir secara spontan dan alamiah, melainkan merupakan konstruksi yang
terjadi dalam ketaksadaran subyek. Hasrat dan ideologi itu merupakan buah dari
habitus panjang yang terinternalisasi serta menjadi kerangka dan tatanan
simbolis di dalam diri masing-masing, yang secara tak sadar memengaruhi seluruh
cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak di tengah realitas.
Dua Manifestasi Hasrat dan
Ideologi yang Berbeda
Meskipun ada beberapa subyek yang
dikisahkan di dalam novel ini, saya memilih dua subyek utama yang tampaknya
menonjol dalam narasi buku ini dan mendominasi dua dari tiga bagian besar buku
ini. Dua subyek itu adalah Senna dan Jambri (yang kemudian bergelar Rakai
Sanjaya). Senna adalah anak hasil perselingkuhan antara Pangeran Mandiminyak
dan saudari iparnya, yakni Puah Rababu (istri Sempakwaja, kakak tertua
Mandiminyak). Demi menjaga rahasia perselingkuhan ini, Senna dididik dan
dibesarkan oleh paman ayahnya, Sang Mangukuhan dan istrinya, Nyai Wangi di
wilayah Kulikuli. Seluruh lingkungan pendidikan dan pengasuhan di Kulikuli ini
pada gilirannya menjadi habitus dan membentuk tatanan simbolis di dalam diri
Senna, yang akan memengaruhi seluruh pembentuk dirinya sebagai subyek baik
dalam cara berpikir, cara bersikap, maupun cara bertindak di tengah realitas.
Jambri yang ketika dewasa
bergelar Rakai Sanjaya, adalah anak dari perkawinan Senna dengan Sanaha.
Sejatinya, Sanaha adalah adik kandung Senna yang merupakan satu ayah namun
berlainan ibu. Ini merupakan perkawinan incest yang sebeenarnya tak diijinkan
oleh nalar kebudayaan baik pada masa itu maupun saat ini. Perkawinan incest ini
dapat berlangsung karena seluruhnya dilakukan di dalam penjagaan terhadap
rahasia besar perselingkuhan. Pada masa pendidikan dan pengasuhannya, Jambri
atau Rakai Sanjaya merupakan anak didik dari Resi Wasista di wilayah Candrawati
di kaki gunung Merapi. Seluruh lingkungan pendidikan dan pengasuhan Resi
Wasista ini menjadi habitus dan membentuk tatanan simbolis dalam diri Sanjaya
dan memengaruhi seluruh pembentukan dirinya sebagai subyek.
Secara garis besar, pendidikan
dan pengasuhan yang dijalankan baik oleh Sang Mangukuhan di Kulikui maupun oleh
Resi Wasista di Candrawati memiliki substansi dan metode yang kurang lebih sama
dan fundamental yakni pendidikan nilai, pendidikan karakter, latihan-latihan
olah kanuragan baik fisik maupun mental yang semuanya mengarah kepada
pembentukan kepribadian integral yang menjunjung tinggi integritas,
pengendalian diri dan berorientasi kepada keadilan serta perdamaian. Secara
prinsip, kedua subyek, Senna maupun Sanjaya, memiliki pondasi pembentukan
karakter yang serupa. Namun dalam perjalanan waktu, lingkungan terdekat yang
turut mengintervensi pembentukan tatanan simbolis di dalam diri masing-masing
memberikan pengaruh yang berbeda di dalam proses berpikir, bersikap dan
bertindak di masa-masa kemudian.
Sebagai anak hasil perselingkuhan
yang dijagai dalam kerahasiaan, Senna sama sekali tak memiliki kesadaran bahwa
dirinya memiliki hak untuk mewarisi tahta, dan tak memiliki habitus yang
membangun hasratnya tentang perluasan kekuasaan. Pendidikan dan pengasuhan Sang
Mangukuhan di Kulikuli lebih memengaruhi pembentukan dirinya sebagai subyek
yang lebih berorientasi kepada filosofi kekuasaan sebagai pengabdian terhadap
kesejahteraan dan kedamaian hidupan warga kerajaan. Akibatnya, sebagai
penguasa, ia sama sekali tak memiliki perhatian utama kepada penguatan tentara
kerajaan dan perluasan wilayah melalui penundukan dan pemaksaan. Posisinya
sebagai penguasa dipahaminya bukan sebagai warisan dan hak karena keturunan,
melainkan dipahaminya sebagai anugerah dan pemberian, karena ia sama sekali tak
memahami siapa sebenarnya yang menjadi orangtuanya.
Sementara Jambri atau Sanjaya,
meskipun mendapatkan pendidikan dan pengasuhan karakter dari Resi Wasista di
Candrawati dan menjalani pendidikan kemiliteran di kesatrian dalam semangat
kesetaraan dan keadilan, tanpa previledge sebagai pangeran, dalam
ketaksadarannya, ia membangun hasrat tentang kekuasaan yang menaklukkan dalam
upaya memperluas wilayah dan dominasi, karena hasrat yang diwarisi dari ibunya,
ratu Sanaha, yang memiliki fantasi besar untuk mengembalikan kejayaan kerajaan
Kalingga seperti pada masa pemerintahan Ratu Shima (hlm.256-261). Hasrat ini
dibentuk pula oleh pengalaman traumatis, yakni pengalaman kekalahan yang
memaksanya untuk mengungsi ke Candrawati. Hasrat inilah yang kemudian di dalam
ketaksadaranya menjadi hasrat dalam diri Sanjaya. Dalam psikoanalisis Lacanian,
hasrat Sanjaya ini disebut sebagai hasrat dari Yang Lain (the Other).
Tentang hasrat dari Yang Lain, yang memengaruhi hasrat subyek ini
Sean Homer menyatakan:
Yang dimaksudkan dengan Yang
Lain ini adalah sesuatu yang secara absolut berbeda dan tidak dapat
diasimilasikan ke dalam subjektivitas kita. Yang Lain adalah tatanan simbolis,
yakni suatu bahasa asing di mana kita dilahirkan dan harus belajar berbicara
jika kita ingin mengartikulasikan keinginan kita sendiri. Ini juga merupakan
wacana dan keinginan orang-orang di sekitar kita, yang melaluinya kita
menginternalisasi dan memengaruhi keinginan kita sendiri. Apa yang diajarkan
psikoanalisis kepada kita adalah bahwa keinginan kita selalu terkait erat
dengan keinginan orang lain. Pertama-tama, ini adalah keinginan orang tua kita,
karena mereka meletakkan pada bayi yang baru lahir semua harapan dan keinginan
mereka untuk kehidupan yang sejahtera dan terpenuhi, tetapi juga dalam arti
bahwa mereka menginvestasikan pada anak-anak mereka semua impian dan aspirasi
mereka sendiri yang belum terpenuhi. Keinginan dan keinginan bawah sadar orang
lain ini mengalir ke dalam diri kita melalui bahasa – melalui wacana – dan oleh
karena itu keinginan selalu dibentuk dan dibentuk oleh bahasa.
Inilah dua manifestasi utama dari
hasrat dan ideologi yang secara dominan ditemukan di dalam narasi novel Warisan
3 Kerajaan ini. Dalam tatanan simbolisnya, yakni di dalam kerangka
ketaksadaran bahasa yang memengaruhi seluruh cara berpikir dan memproduksi
makna tentang realitas, subyek Senna tidak mengenali wacana atau bahasa tentang
penaklukan, perluasan wilayah, atau penundukan melalui peperangan. Yang dominan
di dalam tatanan simbolisnya adalah bahasa dan wacana tentang kekuasaan sebagai
penjaminan keadilan, kesejahteraan, kebahagiaan rakyat, dialog, diplomasi dan
perjanjian kerjasama. Tentu saja ini sangat dipengaruhi oleh seluruh pendidikan
dan pengasuhan padepokan Kulikuli yang memegang filososfi bahwa kekuasaan
sejati adalah kemampuan menanamkan kesadaran bahwa setiap orang memiliki
keinginan dan cita-cita yang sama. Kekuasaan bukanlah perang maupun pedang,
melainkan hati yang menyatu. Kekuasaan bertahan bukan karena mengasah senjata
melainkan karena mengasah kepercayaan (hlm.55)
Subyek-subyek lain, pada umumnya
berada dalam hasrat tentang kekuasaan sebagai hak dan warisan yang musti
direbut, dan dipertahankan. Hasrat ini memengaruhi pillihan-piihan tindakan
berupa peperangan dan penaklukan kerajaan-kerjaan lain meskipun sebenarnya
masih memiliki hubungan persaudaraan.
Membangun Tatanan Simbolis
Melalui Narasi Edukatif
Sebagaimana Sang Mangukuhan, Nyai
Wangi, Resi Wasista, dan Sanaha membangun tatanan simbolis dalam diri subyek
Senna dan Sanjaya, demikian juga melalui narasi Warisan 3 Kerajaan ini,
Bud Murdono sebagai penulis juga sedang menyuguhkan sebuah upaya membangun
tatanan simbolis di dalam diri para pembacanya. Secara sangat menyolok, di
dalam halaman-halaman novel ini tersebar beragam dialog dan narasi yang
menunjukkan nilai-nilai fundamental di dalam kehidupan sekaligus pendidikan
nilai dan karakter yang mendasar. Nilai-nilai fundamental itu antara terungkap
di dalam filosofi tentang kekuatan, kekuasaan atau kebesaran yang tidak hanya
ditentukan oleh aspek-aspek fisik melainkan terutama ditentukan oleh
aspek-aspek mental, pikiran, kebajikan, keutamaan, oleh hati yang menyatukan
dan membawa perdamaian, oleh kata-kata yang bagaikan benih, oleh pengendalian
diri dan sebagainya. Bahkan secara panjang lebar penulis memaparkan
prinsip-prinsip Niyama, yakni pedoman perilaku dan pengolahan diri
baik secara fisik maupun secara mental berupa disiplin diri, latihan rohani
(spiritual exercise – dalam terminologi St. Ignatius de Loyola, pendiri Ordo
Serikat Jesus), di mana praktik pokoknya disebut sebagai discernment atau
analisis dan pembedaan antara kebaikan dan kejahatan. Prinsip Niyama itu
(hlm. 233-240) meliputi kebersihan (fisik maupun mental), rasa berkecukupan
(sebagai anti tesis terhadap ketamakan), pengendalian diri, pengenalan diri
(sebagai anti tesis terhadap ketergelinciran dalam pengenalan diri atau meconnaisance),
dan berserah diri (atau providentia dei).
Nilai-nilai fundamental lain yang
terungkap dalam halaman-halaman novel ini adalah nilai tentang kepemimpinan
berdasarkan kompetensi, kemandirian atau otonomi dalam proses pendidikan
(hlm.52), kesetaraan dan keadilan jender (hlm. 83, 94), prinsip pro-eksistensi
atau membela dan menfasilitasi terpenuhinya hak-hak kelompok lain yang berbeda
terutama jika kelompok itu sedang mendapatkan ancaman (hlm.95), kekuasaan yang
dijalankan sebagai dharma dan terbuka terhadap kritik profetis (hlm.127),
keberpihakan kepada mereka yang tertindas atau preferential option for
the poor (hlm. 132), kesadaran akan kecenderungan kekuasaan yang
mengorbankan kelas bawah (hlm. 208), dan proses pendidikan yang berdasarkan
keadilan dan kesetaraan tanpa previledge (hlm. 242, 257).
Secara jelas, bagian epilog novel
ini menegaskan satu prinsip nilai yang fundamental di dalam praksis kekuasaan,
yakni bahwa kekuasaan itu sekali lagi semestinya dijalankan atas dasar
kebijaksanaan dan bukan atas dasar pedang atau kekerasan (hlm. 620). Nilai
terakhir yang pantas direfleksikan secara mendalam adalah bahwa seluruh praksis
perselingkuhan dan manipulasi yang dinormalisasi melalui penjagaan kerahasiaan,
yang berarti menutupi integritas dan kejujuran, akan melahirkan praktik-praktik
ketidakdilan, melahirkan ketidakpekaan, orientasi kepentingan sempit, egoisme
yang dibalut oleh konstruksi wacana tentang keluhuran dan kebajikan,
menumbuhkan serta mereproduksi prasangka dan kebencian, dan pada akhirnya sangat
rentan untuk tanpa rasa bersalah melakukan penghancuran terhadap kemanusiaan.
Secara tidak langsung, melalui
novel Warisan 3 Kerajaan ini, Bud Murdono sedang berupaya untuk menyediakan
jalan dalam membaca jejak-jejak pembentukan hasrat dan ideologi dari pengalaman
kerajaan-kerajaan Nusantara pada masa lalu, dan menegaskan sikap kritis bahwa
setiap orang musti selalu berani bertanya tentang konstruksi realitas yang
dihadapi di dalam kehidupan masa kini. Kembali menegaskan kutipan Zizek di
awal, melalui novel ini, para pembaca diajak untuk berani menyatakan
bahwa The problem for us is not whether our desires are satisfied or
not. The problem is how do we know what we desire?***