Monday, February 02, 2026

Dewan Perdamaian dan Kegilaan Lacanian

 

Dalam buku kumpulan seminar dan ceramahnya yang berjudul “Ecrits”, terutama pada halaman 171, Jacques Lacan, psikoanalis Perancis menuliskan begini:

“Apabila seseorang yang menganggap dirinya raja akan disebut orang gila, apalagi seorang raja yang menganggap dirinya raja, itu lebih gila lagi.”

Kegilaan dalam konteks ini tidak dimaksudkan sebagai ketidakwarasan, melainkan untuk menunjukkan kondisi subyek yang terperangkap oleh identitas. Bagi Lacan, identitas itu dibentuk oleh tatanan simbolik, atau struktur, atau “yang lain” (other) yang berada di luar diri subyek dan berbeda darinya.

Ia disebut terperangkap karena menganggap identitas itu adalah realitas dirinya, padahal tidak demikian. Identitas itu bersifat imajiner dan bukan realitas dirinya. Ia bagaikan subyek dalam cermin, imago, yang bukan realitas dirinya.

Dalam konteks itu, pernyataan Lacan itu berlaku juga untuk mereka yang menganggap dirinya Dewan Perdamaian. Oleh Lacan, mereka disebut gila.

Kegilaannya itu menjadi lebih serius karena bahkan sama sekali tak ada “yang lain” atau struktur yang menentukan identitas itu. Mereka benar-benar mengira dan menyebut dirinya sendiri sebagai dewan perdamaian.

Persoalan menjadi lebih serius lagi ketika orang Palestina atau Gaza, yang atributnya disematkan dalam identitas dewan itu, sama sekali diabaikan, tak diakui, dianggap tak ada, atau jika dianggap ada, tak punya hak untuk merumuskan dan menentukan dirinya sendiri. Pada titik inilah kata perdamaian itu hancur tercerai berai kehilangan makna fundamentalnya.

Perdamaian itu hancur total secara radikal, mencerabut makna dari keseluruhan akar. Perdamaian hanya mungkin jika martabat dan kesetaraan diberi ruang dan dijunjung tinggi dalam kehormatan, di mana setiap subyek mendapatkan kebebasan fundamental untuk merumuskan dirinya sendiri dan terus-menerus secara bebas menciptakan cara baru untuk menjadi manusia, untuk menjadi dirinya sendiri.

Maka setiap orang yang menganggap dirinya sebagai dewan perdamaian, atau berbangga diri sebagai bagian dari dewan perdamaian, atau dengan gembira memberikan dukungan kepada orang lain yang menganggap dirinya sebagai dewan perdamaian, oleh Jacques Lacan akan disebut sebagai gila.

Ini sudah sangat serius.

 


Sunday, February 01, 2026

Genosida Palestina dan Infeksi Pikiran (Mind Infection)

 

Infeksi pikiran adalah sebuah proses habituasi ide baik berupa mitos, propaganda, narasi kebencian, prasangka, maupun stigma, yang terus-menerus menyebar seperti virus di dalam pikiran sehingga membentuk keyakinan, cara berpikir, berperilaku yang bersifat destruktif baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Ini merupakan mekanisme linguistik maupun psikologis yang mampu mengubah orang biasa menjadi aktor, peserta maupun pendukung kekejaman, termasuk kekejaman masal seperti genosida.

Genosida terhadap orang Palestina merupakan contoh nyata dari beroperasinya infeksi pikiran ini. Bagaimana infeksi pikiran ini dijalankan?

Sarjana Yahudi Israel, Nurit Peled-Elhanan, pemenang hadiah Sakharov Parlemen Eropa untuk Kebebasan Berpikir tahun 2001, telah melakukan riset panjang terhadap materi pendidikan di sekolah-sekolah Israel yang resmi dalam kurikulum sekolah mereka. Hasil riset itu menunjukkan bahwa infeksi pikiran ini telah dijalankan melalui pendidikan di sekolah, melalui kurikulum negara, yang menanamkan pikiran dan keyakinan bahwa orang Palestina adalah “liyan”, yang tak pantas terhitung, dan dikategorikan sebagai sosok “nazi” yang pantas dibenci dan dihilangkan. Melalui kurikulum sekolah ini, sejak kecil, anak-anak Israel dibiasakan sejak dalam pikirn untuk merendahkan martabat manusia Palestina.

Infeksi pikiran melalui kurikulum pendidikan negara, ini merupakan habituasi yang menyebabkan anak-anak Israel sangat mudah untuk melegitimasi pembantaian terhadap orang Palestina dan menganggapnya bukan manusia. Seluruh infeksi pikiran yang dijalankan secara sistematis melalui kurikulum pendidikan sejak anak-anak ini telah menjadikan anak-anak Israel sebagai tentara-tentara yang dengan penuh kebanggaan melakukan kekejaman, tanpa rasa bersalah, bahkan merasa sangat terhormat sebagai bagian dari mempertahankan negara Yahudi tanpa orang Palestina di dalamnya.

Infeksi pikiran yang berlangsung sebagai habitus sejak kanak-kanak dan sistematis ini menjelaskan mengapa sampai detik ini, kekejaman tentara dan para pemukim terhadap warga Palestina itu tetap berlangsung dan mencapai titik kebrutalan kejahatan yang tak terbayangkan oleh akal sehat manapun. Karena infeksi pikiran ini juga merusak diri sendiri, maka tidak mengherankan jika melihat para tentara IDF dan para pemukim ini menunjukkan perilaku yang hampir-hampir bukan manusia, melainkan lebih menyerupai binatang buas yang tanpa pikiran sama sekali.

Dari sini tampak jelas bahwa kekejaman itu juga merupakan buah dari habitus yang panjang yang disebut infeksi pikiran.

Tulisan Nurid Peled-Elhanan yang merupakan versi resume atau artikel atau chapter buku, telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan bersama dengan tulisan dari banyak penulis lain telah diterbitkan oleh penerbit Kanisius Yogyakarta dengan judul “Anak-anak Abraham, Kebebasan dan Toleransi di Abad Konflik Agama”, dengan editor Kelly James Clark.

Kekejaman genosida di tanah Palestina tentu saja bukan persoalan agama karena yang menjadi korban bukan hanya orang dengan satu agama tertentu. Tentara IDF dan para pemukim yang telah mengalami infeksi pikiran itu akan melakukan kekejaman terhadap siapapun, tanpa pandang bulu, baik itu muslim, kristen, bahkan Rabbi Yahudi pun mendapatkan kekejaman asal mereka adalah pembela orang Palestina.

Pengalaman para Rabbi Yahudi yang tergabung dalam Rabbi for Human Rights merupakan contoh nyata. Karena membela warga Palestina yang dirampas hak-haknya dan mengalami penganiayaan, para rabbi ini juga mendapatkan perlakuan kekerasan dan kekejaman yang sama oleh zionis.

Karena infeksi pikiran ini juga telah menyebar ke berbagai wilayah, maka ini menjadi tantangan manusia seluruh dunia untuk menghadapinya dengan beragam cara, terutama adalah edukasi. Menghadapi infeksi pikiran, yang harus dilakukan adalah edukasi kritis dan edukasi kritis dan edukasi kritis. Generasi muda di seluruh dunia telah menunjukkan sikap kritis mereka. Ini harapan di tengah situasi kekejaman yang sangat menyesakkan.

Dibutuhkan vaksin berupa pendidikan kritis untuk melawan virus yang menginfeksi ini, agar generasi ke depan semakin kebal menghadapinya.