Dalam buku kumpulan seminar dan
ceramahnya yang berjudul “Ecrits”, terutama pada halaman 171, Jacques Lacan,
psikoanalis Perancis menuliskan begini:
“Apabila seseorang yang
menganggap dirinya raja akan disebut orang gila, apalagi seorang raja yang
menganggap dirinya raja, itu lebih gila lagi.”
Kegilaan dalam konteks ini tidak
dimaksudkan sebagai ketidakwarasan, melainkan untuk menunjukkan kondisi subyek
yang terperangkap oleh identitas. Bagi Lacan, identitas itu dibentuk oleh
tatanan simbolik, atau struktur, atau “yang lain” (other) yang berada di luar
diri subyek dan berbeda darinya.
Ia disebut terperangkap karena
menganggap identitas itu adalah realitas dirinya, padahal tidak demikian.
Identitas itu bersifat imajiner dan bukan realitas dirinya. Ia bagaikan subyek
dalam cermin, imago, yang bukan realitas dirinya.
Dalam konteks itu, pernyataan
Lacan itu berlaku juga untuk mereka yang menganggap dirinya Dewan Perdamaian.
Oleh Lacan, mereka disebut gila.
Kegilaannya itu menjadi lebih
serius karena bahkan sama sekali tak ada “yang lain” atau struktur yang
menentukan identitas itu. Mereka benar-benar mengira dan menyebut dirinya
sendiri sebagai dewan perdamaian.
Persoalan menjadi lebih serius
lagi ketika orang Palestina atau Gaza, yang atributnya disematkan dalam
identitas dewan itu, sama sekali diabaikan, tak diakui, dianggap tak ada, atau
jika dianggap ada, tak punya hak untuk merumuskan dan menentukan dirinya
sendiri. Pada titik inilah kata perdamaian itu hancur tercerai berai kehilangan
makna fundamentalnya.
Perdamaian itu hancur total
secara radikal, mencerabut makna dari keseluruhan akar. Perdamaian hanya
mungkin jika martabat dan kesetaraan diberi ruang dan dijunjung tinggi dalam
kehormatan, di mana setiap subyek mendapatkan kebebasan fundamental untuk
merumuskan dirinya sendiri dan terus-menerus secara bebas menciptakan cara baru
untuk menjadi manusia, untuk menjadi dirinya sendiri.
Maka setiap orang yang menganggap
dirinya sebagai dewan perdamaian, atau berbangga diri sebagai bagian dari dewan
perdamaian, atau dengan gembira memberikan dukungan kepada orang lain yang
menganggap dirinya sebagai dewan perdamaian, oleh Jacques Lacan akan disebut
sebagai gila.
Ini sudah sangat serius.