Tuesday, May 26, 2015

Paus: bagaimana Gereja akan berubah



Dialog antara Paus Fransiskus dan pendiri La Repubblica, Eugenio Scalfari: “Dimulai dari Konsili Vatikan Kedua, terbuka kepada kebudayaan moderen”. Ini merupakan sebuah percakapan di Vatikan setelah Paus mengirim surat kepada harian Repubblika berjudul: “Membuat Anda bertobat (menjadi Katolik)? Memaksa orang berpindah agama (kristenisasi, islamisasi dsb, -red) adalah sebuah omong kosong saja. Anda harus bertemu dengan orang lain dan mendengarkan mereka.”  


Paus Fransiskus mengatakan kepada saya: “Kejahatan paling serius yang melanda dunia akhir-akhir ini adalah pengangguran kaum muda dan kesepian para lansia. Para lansia membutuhkan perhatian dan persahabatan; kaum muda membutuhkan pekerjaan dan harapan namun keduanya tak didapatkan, dan persoalannya adalah bahwa mereka bahkan tak mencarinya lagi. Mereka telah hancur oleh kekinian (atau mereka telah hancur sekarang?). Anda mengatakan kepada saya: dapatkah Anda menanggung kehancuran di dalam beratnya beban masa kini? Tanpa kenangan akan masa lalu dan tanpa hasrat untuk memandang masa depan dengan membangun sesuatu, sebuah masa depan, sebuah keluarga? bisakah Anda hidup dengan cara demikian? Bagi saya, ini merupakan masalah yang paling penting yang sedang dihadapi oleh Gereja.”

Bapa Suci, saya katakan, itu merupakan persoalan politik dan ekonomi bagi banyak negara, pemerintah, partai politik, dan persatuan dagang.
“Ya, Anda benar, namun itu juga merupakan keprihatinan Gereja, sesungguhnya, secara khusus menjadi keprihatinan Gereja karena situasi ini tidak hanya melukai tubuh tetapi juga melukai jiwa. Gereja harus merasa bertanggung jawab atas jiwa maupun badan.”

Bapa Suci, Anda mengatakan bahwa Gereja harus merasa bertanggung jawab. Bolehkah saya simpulkan bahwa Gereja tidak menyadari persoalan ini dan bahwa Anda akan membawa Gereja ke arah ini?
“Untuk sebagian besar, kesadaran itu ada, namun belum cukup. Saya ingin agar kesadaran itu lebih besar. Ini memang bukan satu-satunya masalah yang kita hadapi, namun ini merupakan masalah yang paling mendesak dan dramatis.”

Perjumpaan dengan Paus Fransiskus itu terjadi pada hari Selasa yang lalu di kediaman beliau di Santa Marta, di sebuah ruangan sederhana dengan sebuah meja dan lima atau enam kursi serta sebuah lukisan yang terpasang di dinding. Hal itu diawali oleh sebuah panggilan telepon yang tak pernah akan terlupakan sepanjang hidup saya.

Saat itu jam setengah tiga sore. Telepon saya berdering dan dengan nada suara yang bergetar sekretaris saya memberitahu saya: “Paus menelepon, saya akan menyambungkannya segera.”

Saya masih tertegun ketika mendengar suara Bapa Suci di ujung telepon yang mengatakan,”Hallo, ini Paus Fransiskus.” “Hallo Bapa Suci”, jawab saya lalu, “Saya kaget saya tidak mengira Anda menelepon saya.” “Mengapa Anda kaget? Anda menulis surat untuk saya dan menanyakan untuk bertemu langsung secara pribadi. Saya punya keinginan yang sama, jadi saya menelpon untuk memastikan pertemuan itu. Sebentar saya lihat agenda saya: Saya tidak bisa betemu pada hari Rabu, atau Senin, apakah Anda bisa pada hari Selasa?”

Saya jawab, saya bisa.

“Waktunya sedikit tanggung, jam tiga sore, apakah oke? Kalau tidak bisa, kita cari hari lain.” “Bapa Suci, baiklah tentang waktu, saya setuju.” “Jadi kita sepakat ya: hari Selasa, tanggal 24, jam 3 sore. Di Santa Marta. Anda harus melalui pintu di Santo Uffizio.”

Saya tidak tahu bagaimana harus mengakhiri telepon ini dan membiarkan diri saya pergi, sambil mengatakan: “Bolehkah saya memeluk Anda melalui telepon ini?” “Tentu saja, pelukan hangat dari saya juga. lalu kita akan melakukannya secara pribadi nanti, sampai jumpa.”

Akhirnya saya di sini. Bapa Suci datang dan menjabat tangan saya, lalu kami duduk bersama. Bapa Suci tersenyum dan berkata: “Beberapa teman saya yang mengenal Anda mengatakan kepada saya bahwa Anda akan berusaha untuk membuat saya bertobat.”

Ini hanya lelucon, saya berkata kepada Bapa Suci. Teman-teman saya mengira bahwa Bapa Sucilah yang akan mempertobatkan saya.
Bapa Suci tersenyum lagi dan menjawab: “Memaksa orang berpindah agama adalah sungguh-sungguh sebuah omong kosong., itu tidak masuk akal. Kita butuh untuk saling mengenal, saling mendengarkan dan meningkatkan pemahaman kita terhadap dunia di sekitar kita. Kadang-kadang setelah terjadi sebuah pertemuan, saya ingin bertemu sekali lagi karena sebuah gagasan baru telah muncul dan saya menemukan kebutuhan yang baru. Ini penting: mengenal orang lain, mendengarkan, memperluas lingkaran gagasan. Dunia ini dipenuhi oleh persilangan jalan yang saling mendekat maupun saling menjauh, namun hal yang penting adalah bahwa semua jalan itu mengarah kepada Kebaikan.”

Bapa Suci, adakah visi tunggal tentang Kebaikan? Dan siapakah yang memutuskan hal itu?
“Masing-masing dari kita memiliki sebuah cara padang tentang yang baik dan yang jahat. Kita harus mendorong semua orang untuk maju menuju apa yang mereka pandang sebagai Yang Baik.”

Bapa Suci, Anda telah menulisnya dalam surat kepada saya. Hati nurani itu otonom, kata Anda, dan setiap orang harus mengikuti hati nuraninya. Saya pikir ini merupakan langkah paling berani yang dilakukan oleh seorang Paus.
“Dan saya mengulanginya lagi sekarang. Setiap orang memiliki gagasan sendiri tentang yang baik dan yang jahat dan harus memilih untuk mengikuti yang baik dan melawan yang jahat sebagaimana ia mengerti. Itu sudah cukup untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.”

Apakah Gereja melakukannya?
“Ya, itu tujuan dari perutusan kami: untuk mengetahui kebutuhan material dan immaterial manusia dan berusaha untuk memenuhinya semampu kami. Apakah Anda tahu apa itu agape?”

Ya saya mengerti
“Yakni mencintai yang lain, seperti diajarkan oleh Tuhan kita. Bukan memaksa orang berpindah agama, melainkan mencintai. Mencintai sesama, itulah adonan (dari aneka macam cara pandang) yang menjadi kebaikan bersama.

Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.
"Tepat, begitu."

Yesus dalam kotbahnya mengatakan bahwa agape, mencintai yang lain, merupakan satu-satunya jalan untuk mencintai Allah. Maaf jika saya keliru.
“Anda tidak keliru. Anak Allah berinkarnasi untuk menumbuhkan rasa persaudaraan di dalam jiwa manusia. Semuanya adalah saudara dan semuanya adalah anak Allah. Abba, begitu ia menyebut Bapa. Aku akan menunjukkan kepadamu jalan, kata Yesus. Ikutilah Aku dan kamu akan menemukan Bapa itu dan kamu semua akan menjadi anak-anakNya dan Ia akan memberikan kegembiraan kepadamu. Agape, saling mencintai di antara kita, dari yang paling dekat sampai yang paling jauh, sebenarnya merupakan satu-satunya cara/jalan yang diberikan Yesus kepada kita untuk menemukan jalan keselamatan dan jalan Kebahagiaan.”

Namun, seperti kita katakan, Yesus mengatakan kepada kita bahwa mencintai sesama itu sama dengan apa yang harus kita lakukan bagi diri kita sendiri. Kalau begitu, sebagaimana disebut oleh banyak orang sebagai narsisme dipahami sebagai benar, positip, sebagaimana mencintai yang lain. kita telah banyak membicarakan aspek ini.
“Saya tidak menyukai istilah narsisme”, kata Paus,”ini menunjukkan sebuah cinta yang berlebihan terhadap diri sendiri dan itu tidak baik, itu bisa menimbulkan kerusakan yang serius bukan hanya bagi jiwa mereka yang menyandangnya melainkan juga bagi relasi dengan orang lain, dengan masyarakat dimana orang itu hidup. Masalah yang paling nyata adalah bahwa mereka yang mengalaminya – yang sebenarnya merupakan sejenis kekacauan mental – adalah justru orang-orang yang memiliki banyak kekuasaan. Seringkali, mereka yang menjadi bos justru orang-orang yang narsis”.

Banyak pemimpin Gereja justru demikian.
 “Anda tahu apa yang saya pikirkan tentang hal ini? Para pemimpin Gereja seringkali menjadi narsis, merasa tersanjung dan senang dengan kedudukan/jabatan mereka. Jabatan adalah kusta bagi kepausan.”

Kusta bagi Kepausan, ini merupakan kata-kata beliau yang jelas. Tetapi apa itu jabatan? Barangkali ia menyinggung soal kuria?
 “Tidak, kadang-kadang ada kedudukan/jabatan dalam kuria, tetapi kuria secara keseluruhan adalah hal yang lain. ini adalah apa yang di dalam dunia tentara disebut sebagai kantor Intendan (pusat komando), yang mengatur pelayanan yang melayani Tahta Suci. Namun ia mempunyai satu cacat: yakni Vatikan-sentris. Ia melihat dan mencari kepentingan Vatikan, yang untuk sebagian besar masih merupakan kepentingan temporal. Pandangan Vatikan-sentris ini mengabaikan dunia di sekitar kita. Saya tidak menggunakan cara pandang ini dan saya akan melakukan semua yang dapat saya lakukan untuk mengubahnya. Gereja harus kembali menjadi Gereja umat Allah, dan para imam, para pastor, dan para uskup yang merawat jiwa-jiwa, adalah para pelayan umat Allah itu. Inilah Gereja, istilah yang secara tak mengherankan berbeda dari Tahta Suci, yang memiliki fungsinya sendiri, penting tetapi merupakan pelayan Gereja. Saya tidak akan pernah memiliki iman yang lengkap kepada Allah dan kepada anak-Nya seandainya saya tidak pernah dididik di dalam Gereja, seandainya saya tidak mendapatkan nasib baik dengan hidup di Argentina, di sebuah komunitas yang tanpanya saya tak akan pernah mampu menyadari diri saya sendiri dan iman saya.”

Apakah anda mendapatkan panggilan pada usia muda?
 “Tidak, tidak terlalu muda. Keluarga saya mengharapkan saya memiliki profesi yang lain, bekerja, mendapatkan uang. Saya masuk universitas. Saya juga memiliki seorang guru yang sangat saya hormati dan saya bersahabat dengannya yang sekaligus merupakan seorang komunis yang taat. Dia sering membacakan teks Partai Komunis untuk saya dan memberikanya kepada saya agar saya membacanya. Maka saya juga memahami konsepsi yang sangat materialistik itu. Saya ingat bahwa ia juga memberi saya pernyataan dari seorang komunis amerika untuk membela Rosenbergs, yang telah dijatuhi hukuman mati. Perempuan yang sedang saya bicarakan ini kemudian ditangkap, disiksa dan dibunuh oleh kediktatoran yang kemudian berkuasa di Argentina.”

Pada bagian mana Anda tergoda oleh Komunisme?
“Materialismenya tidak mengungkung saya. Namun mempelajarinya melalui orang yang berani dan jujur sangatlah membantu. Saya menyadari bberapa hal, sebuah aspek dari dunia sosial yang kemudian saya temukan di dalam ajaran sosial Gereja.”

Teologi Pembebasan, yang diekskounikasi oleh Paus Yohanes Paulus II, tersebar luas di Amerika Latin.
 “Ya, kebanyakan anggotanya adalah orang-orang Argentina.”

Menurut Anda apakah benar bahwa Paus melawan mereka?
“Tentu itu memberikan aspek politis bagi teologi mereka, namun sebagian besar dari mereka adalah kaum beriman dan memiliki konsep yang unggul tentang kemanusiaan.”

Bapa Suci, bolehkan saya menceritakan tentang latar belakang kultural saya sendiri? Saya dibesarkan oleh seorang ibu yang sangat katolik. Pada umur 12 saya menjuarai lomba katekismus yang diselenggarakan oleh seluruh paroki di Roma dan saya mendapatkan hadiah dari Vikaris. Saya menerima komuni pada hari Jumat pertama setiap bulan, dengan kata lain, saya menjalankan kekatolikan dan sungguh-sungguh beriman. Namun semua itu berubah ketika saya masuk SMU. Di antara naskah-naskah filsafat yang kami pelajari, saya membaca tulisan Descartes “Discourse on Method” dan saya dikejutkan oleh sebuah frase, yang sekarang telah menjadi ikon,”Saya berpikir, maka saya ada.” Dengan demikian individu menjadi landasan bagi keberadaan manusia, tahta bagi pikiran bebas.
“Namun, Descartes tak pernah menolak iman terhadap Allah yang transenden.”

Memang benar, namun ia meletakkan dasar bagi sebuah cara pandang yang sangat berbeda dan saya mengikuti jalan itu, yang kemudian, didukung oleh hal-hal lain yang saya baca, yang mengantar saya ke tempat yang sangat berbeda.
“Sejauh saya pahami, bagaimanapun Anda adalah bukan orang beriman namun bukan yang anti-klerikal. Dua hal itu sangatlah berbeda.”

Memang benar, saya bukan anti-klirikal, namun saya menjadi begitu ketika saya menjumpai seorang klerikalis.
Ia tersenyum dan mengatakan,”Saya juga begitu, ketika bertemu dengan seorang yang klerikalis, saya tiba-tiba berubah menjadi anti-klerikal. Klerikalisme sebaiknya tidak dikaitkan dengan Kekristenan. Santo paulus, orang yang pertama kali berbicara kepada bangsa-bangsa lain, kepada penganut keyakinan suku, kepada orang beriman dari agama lain, adalah orang pertama yang mengajarkan hal itu.”

Bolehkah saya bertanya, Bapa Suci, siapakah orang suci yang Anda rasakan paling dekat dengan jiwa Anda, yang membentuk pengalaman religius Anda?
“Santo Paulus adalah orang yang meletakkan batu penjuru bagi agama dan keyakinan kita. Anda tidak dapat menjadi orang Kristen yang sadar tanpa Santo Paulus. Ia menerjemahkan ajaran-ajaran Kristus ke dalam struktur ajaran yang, bahkan dengan tambahan sejumlah pemikir, teolog dan pastor, yang telah menolaknya dan masih terus bertahan sampai dua ribu tahun. Lalu muncullah Agustinus, Benediktus dan Thomas serta Ignasius. Dan Fransiskus tentu saja. Apakah saya perlu menjelaskan mengapa?”

Fransiskus – saya sengaja memanggilnya demikian karena Paus sendiri yang menyarankannya melalui cara bicaranya, senyumnya, dengan ungkapan-ungkapan terkejut dan pemahamannya – memandang saya seolah-olah mendorong saya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bahkan menghebohkan dan memalukan bagi mereka yang memimpin Gereja. Maka saya bertanya kepadanya: Anda telah menjelaskan pentingnya Paulus dan peran yang ia jalankan, namun saya ingin mengetahui dari antara yang Anda sebutkan itu mana yang lebih dekat dengan jiwa Anda?
 “Anda meminta saya untuk membuat ranking, tetapi klasifikasi itu cocok untuk dunia olah raga atau hal-hal lain semacam itu. Saya bisa menyebutkan nama dari pemain sepakbola terbaik di Argentina. Namun untuk orang kudus….”

Mereka menceritakan hal-hal lucu bersama para penjahat, Anda mengetahui peribahasa itu?
“Tepat sekali. Tetapi saya tidak sedang berusaha menghindari pertanyaan Anda, karena Anda tidak meminta saya untuk membuat ranking atas pentingnya pengaruh mereka secara kultural dan religius melainkan menyebutkan siapa yang paling dekat dengan jiwa saya. Maka saya akan mengatakan:
Agustinus dan Fransiskus.”

Bukan Ignasius, dari Ordo Anda?
“Untuk alasan yang dapat dipahami, Ignasius adalah santo yang saya kenal secara lebih baik daripada yang lain. Ia mendirikan Ordo kami. Saya ingin mengingatkan Anda bahwa Carlo Maria Martini juga berasal dari Ordo itu, seseorang yang sangat berharga bagi saya dan bagi Anda juga. Para Jesuit adalah dan masih merupakan ragi – memang bukan satu-satunya namun barangkali yang paling efektif – dalam Agama Katolik: kebudayaan, pengajaran, karya misioner, ketaatan kepada Paus. Namun Ignasius yang mendirikan Serikat, adalah juga seorang pembaharu dan seorang mistikus. Terutama ia adalah mistikus.”

Dan Anda berpendapat bahwa para mistikus telah menjadi hal yang penting bagi Gereja?
“Mereka sangat penting. Agama tanpa mistik hanyalah sebuah filsafat.”

Apakah Anda memiliki sebua panggilan mistik?
 “Menurutmu bagaimana?”

Saya tidak berpikir begitu
“Anda mungkin benar. Saya mencintai para mistikus; Fransiskus juga demikian dalam banyak aspek hidupnya, namun saya tidak menganggap bahwa saya memiliki panggilan, maka kita perlu memahami arti terdalam dari istilah itu. Seorang mistikus melepaskan dirinya dari tindakan, fakta, tujuan dan bahkan perutusan pastoral dan terus meningkat sampai ia mencapai kesatuan dengan Kebahagiaan. Saat yang singkat namun memenuhi seluruh hidup.”

Apakah itu pernah terjadi pada diri Anda?
“Jarang. Misalnya, ketika konklav memilih saya menjadi Paus. Sebelum saya menerimanya, saya meminta ijin untuk memanfaatkan waktu sebentar di ruang sebelah dengan balkon yang menghadap ke halaman. Kepala saya terasa kosong dan saya disergap oleh kecemasan yang besar. Untuk melepaskannya dan relaks saya menutup mata dan membiarkan semua pikiran hilang, bahkan pikiran tentang menolak posisi itu, sebagaimana dimugkinkan oleh prosedur liturgi. Saya menutup mata dan tak lagi merasakan kecemasan atau emosi tertentu. Pada saat tertentu saya dipenuhi oleh cahaya yang sangat terang. Itu berlangsung sekejap, namun bagi saya itu terasa sangat lama. Kemudian cahaya itu memudar, saya segera bangun dan berjalan menuju ruangan di mana para kardinal menunggu dan dimana terdapat meja untuk menyatakan penerimaan. Saya menandatanganinya, kardinal Camerlengo bersama-sama menandatanganinya dan kemudian di atas balkon terdengar “Kita memiliki Paus”.

Sesaat kami terdiam, lalu saya mengatakan: kita telah berbicara tentang orang kudus yang Anda rasakan paling dengan dengan jiwa Anda dan kita masih menyisakan Agustinus. Sudikah Anda bercerita mengapa Anda merasa sangat dekat dengannya?
“Bahkan bagi para pendahulu saya, Agustinus merupakan acuan penting. Santo ini telah melalui banyak perubahan di dalam hidupnya dan beberapa kali mengubah posisi ajarannya. Ia juga pernah berkata-kata kasar kepada kaum Yahudi, dan saya tidak mengikutinya. Ia menulis banyak buku dan apa yang saya pikir merupakan yang paling menonjol dari intimitas intelektual dan spiritualnya adalah buku “Pengakuan Agustinus”, yang juga berisi beberapa ungkapan mistik, namun sebagaimana banyak pendapat lain, ia bukanlah kelanjutan dari Paulus. Sungguh, dia melihat Gereja dan iman dengan cara yang sangat berbeda dengan Paulus, barangkali jaman mereka berdua berbeda kira-kira empat abad.

Apa yang menjadi perbedaan, Bapa Suci?
“Bagi saya perbedaan itu terletak pada dua aspek mendasar. Agustinus merasa tak berdaya di hadapan kebesaran Allah dan tugas-tugas yang harus diemban oleh seorang Kristen dan seorang Uskup.  Dalam kenyataannya itu tidak berarti bahwa dia lemah, namun dia merasa bahwa jiwanya selalu kekurangan dan menginginkan serta membutuhkan untuk seperti itu. Lalu rahmat itu dianugerahkan oleh Tuhan sebagai elemen paling dasar dari iman. Dari hidup. Dari arti kehidupan. Seseorang yang tak tak tersentuh oleh rahmat barangkali akan menjadi orang yang tak punya rasa tercela atau rasa takut, sebagaimana mereka katakan, namun ia tak akan pernah menjadi seseorang yang tersentuh rahmat. Inilah insight yang diberikan oleh Agustinus.”

Apakah Anda merasa tersentuh oleh rahmat?
“Tak seorangpun dapat mengetahuinya. Rahmat itu bukan bagian dari kesadaran, ini merupakan cahaya di dalam jiwa kita, bukan pengetahuan maupun akal. Bahkan Anda, tanpa mengetahuinya, mungkin saja tersentuh oleh rahmat.”

Tanpa iman? Meskipun bukan orang beriman?
“Rahmat itu berkaitan dengan jiwa.”

Saya tidak percaya akan jiwa
“Anda tidak mempercayainya tetapi Anda memilikinya.”

Bapa Suci, Anda mengatakan bahwa Anda tidak memiliki keinginan untuk berupaya mempertobatkan saya dan saya tidak berpikir bahwa Anda akan berhasil.
“Kita tak sanggup mengetahuinya, namun saya tak memiliki keinginan semacam itu.”

Dan bagaimana dengan Santo Fransiskus?
“Ia besar karena ia segala-galanya. Ia seorang yang ingin melakukan sesuatu, ingin membangun, ia mendirikan sebuah ordo dan peraturannya, ia seorang peziarah dan seorang misionaris, penyair dan nabi, ia mistikus. Ia menemukan kejahatan di dalam dirinya dan mencabutnya keluar. Ia mencintai alam, binatang, rerumputan di halaman dan burung-burung yang terbang di angkasa. Namun lebih dari semua itu, ia mencintai semua orang, anak-anak, orang lanjut usia, perempuan. Ia merupakan contoh yang paling berkilau dari agape yang kita bicarakan di awal tadi.”

Bapa Suci benar, penggambarannya sempurna. Namun mengapa tak satupun dari pendahulu Anda pernah memilih nama itu? Dan saya percaya tampaknya setelah Anda tak ada orang yang akan memilih nama itu lagi.
“Kita tidak tahu tentang hal itu, sebaiknya kita tidak berspekulasi tentang masa depan. Memang benar, tak seorangpun memilih nama itu sebelum saya. Di sini kita menghadapi persoalan dari persoalan. Apakah Anda ingin minum sesuatu?”
Terima kasih, mungkin air putih saja.
Ia bangun, membuka pintu dan meminta tolong seseorang di pintu masuk untuk membawakan dua gelas air putih. Ia bertanya kepada saya apakah saya menginginkan kopi, saya jawab tidak. Air minumnya tiba. Pada akhir perbincangan kami, gelas saya akan kosong, namun gelasnya akan tetap penuh. Ia berdehem lalu mulai bicara.
“Fransiskus menginginkan sebuah ordo pengemis dan pengembara. Para misionaris yang berkehendak untuk bertemu, mendengarkan, berbicara, menolong, untuk menyebarkan iman dan kasih. Terutama kasih. Dania memimpikan Gereja kaum miskin yang memperhatikan orang lain, menerima bantuan material dan menggunakannya untuk membantu yang lain, tanpa memikirkan dirinya sendiri. 800 tahun telah berlalu dan sejak itu waktu telah berubah, namun cita-cita tentang misionaris, Gereja yang miskin masih jauh dari kenyataan. Ini masih merupakan Gereja yang dikotbahkan oleh Yesus dan para muridnya.”

Anda umat Kristen saat ini merupakan minoritas. Bahkan di Italia, yang dikenal sebagai halaman belakang Paus. Yang menjalankan agama Katolik, menurut beberapa poling, berkisar antara 8 dan 15 persen. Mereka yang mengatakan diri sebagai Katolik namun  nyatanya tidak menjalankannya kira-kira 20%. Di dunia, ada satu triliun orang Katolik atau lebih, dan bersama dengan gereja Kristen lainnya hanya sebanyak satu setengah triliun, namun populasi seluruh dunia adalah 6 atau 7 triliun orang. Memang ada yang banyak jumlahnya, terutama di Afrika dan Amerika Latin, namun Anda adalah minoritas.
 “Memang demikian tetapi persoalannya saat ini bukanlah hal itu. Secara personal saya berpikir bahwa menjadi minoritas sesungguhnya merupakan sebuah kekuatan. Kita harus menjadi ragi bagi kehidupan dan kasih dan ragi semestinya lebih sedikit daripada keseluruhan buah, bunga dan pohon yang tumbuh dari situ. Saya percaya telah mengatakan bahwa tujuan kita bukanlah untuk membuat orang berpindah agama melainkan untuk mendengarkan kebutuhan, harapan dan kekecewaan, kecemasan dan harapan. Kita harus memperbaiki harapan bagi kaum muda, membantu kaum lansia, terbuka kepada masa depan, menyebarkan kasih. Menjadi miskin di antara kaum miskin. Kami harus merangkul mereka yang terbuang dan mewartakan perdamaian. Vatikan kedua, yang diinspirasi oleh Paus Paulus VI dan Paus Yohanes, memutuskan untuk melihat masa depan dengan roh moderen dan terbuka kepada kebudayaan modern. Para Bapa Konsili mengetahui bahwa menjadi terbuka kepada kebudayaan moderen berarti sebuah ekumenisme religius dan dialog dengan mereka yang bukan umat beriman. Namun setelah itu, baru sedikit yang sudah dilakukan dalam arah itu. Saya memiliki kerendahan hati dan keinginan untuk melakukan sesuatu.”

Juga karena -  saya tambahkan sendiri – masyarakat modern di seluruh dunia sedang menghadapi krisis mendalam, bukan hanya masalah ekonomis melainkan juga masalah sosial dan spiritual. Pada awal perjumpaan kita Anda menggambarkan sebuah generasi yang hancur di bawah beban masa kini. Bahkan kami yang bukan orang beriman merasakan bahwa ini hampir merupakan sebuah beban antropologis. Itulah sebabnya kami ingin berdialog dengan kaum beriman dan mereka yang secara paling baik mewakili umat beriman.
“Saya tidak tahu apakah saya meruakan yang terbaik yang mewaili mereka, namun penyelenggaraan ilahi telah menempatkan saya sebagai pimpinan Gereja dan Keuskupan St. Petrus. Saya akan melakukan semampu saya untuk memenuhi mandat  yang telah dipercayakan kepada saya.”

Yesus, sebagaimana Anda tunjukkan, berkata: Kamu harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri. Menurut Anda apakah ini telah terlaksana?
“Sayangnya, belum. Cinta diri telah berkembang pesat dan kasih terhadap sesama telah menurun drastis.”

Jadi ini merupakan tujuan kita bersama: sekurang-kurangnya menyeimbangkan intensitas kedua jenis cinta ini. Apakah Gereja Anda siap dan sudah dibekali untuk mengemban tugas ini?
“Menurut Anda bagaimana?”

Saya pikir cinta terhadap kekuasaan sementara masih sangat kuat di dalam benteng Vatikan dan di dalam struktur kelembagaan seluruh Gereja. Saya pikir lembaga itulah yang menguasai Gereja yang miskin dan misioner yang Anda inginkan.
“Sesungguhnya, begitulah yang terjadi, dan ini merupakan wilayah di mana Anda tak dapat melakukan mukjizat. Saya ingin mengingatkan Anda bahwa bahkan Fransiskus pada masanya harus bernegosiasi lama sekali dengan hierarki Roma dan Paus agar aturan-aturan ordonya dapat dijalankan. Akhirnya ia mendapatkan persetujuan namun dengan perubahan dan kompromi yang mendalam.”

Apakah Anda akan mengikuti langkah yang sama?
“Saya bukan Fransiskus dari Asisi dan saya tidak memiliki kekuatan dan kekudusan seperti dirinya. Namun saya adalah Uskup Roma dan Paus dari Gereja Katolik dunia. Hal pertama yang saya putuskan adalah menunjuk 8 kardinal untuk menjadi penasehat saya. Bukan para pejabat melainkan orang-orang bijak yang memiliki perasaan yang sama dengan saya. Ini merupakan awal dari sebuah Gereja dengan sebuah organisasi yang bukan hanya top-down melainkan juga horisontal. Ketika Kardinal Martini berbiara tentang fokus kepada konsili dan sinode ia tahu betapa lama dan sulitnya untuk mengarah ke sana. Lembut, tetapi tegas dan gigih.”

Dan politik?
“Mengapa Anda menanyakannya? Saya sudah mengatakan bahwa Gereja tidak berurusan dengan politik.”

Namun baru beberapa hari yang lalu Anda mendorong umat Katolik untuk terlibat secara sipil dan politik.
“Saya tidak hanya mendorong orang Katolik tetapi juga semua orang yang memiliki kehendak baik. Saya mengatakan bahwa politik adalah aktivitas sipil yang paling penting dan memiliki wilayah tindakannya sendiri, yang bukan wilayah agama. Lembaga-lembaga politik secara definisi bersifat sekuler dan bekerja dalam wilayah yang independen. Semua pendahulu saya telah mengatakan hal yang sama, sekurang-kurang selama sekian tahun, meskipun dengan penekanan yang berbeda-beda. Saya percaya bahwa orang Katolik yang terlibat di dalam politik membawa nilai-nilai agama di dalam diri mereka, namun memiliki kesadaran yang matang dan keahlian untuk menerapkannya. Gereja tidak akan pernah melampaui tugasnya yakni menyatakan dan menyebarkan nilai-nilainya, sekurang-kurangnya selama saya berada di sini.”

Tapi itu tidak pernah terjadi dengan Gereja
“Itu hampir tak pernah terjadi. Seringkali Gereja sebagai institusi telah didominasi oleh kepentingan temporal dan banyak anggota serta pemimpin senior Katolik masih merasakan hal itu. Namun sekarang ijinkan saya mengajukan pertanyaan kepada Anda: Anda, sebagai seorang sekuler yang tak percaya kepada Tuhan, apa yang Anda percayai? Anda seorang penulis dan pemikir. Anda percaya kepada sesuatu, Anda semestinya memiliki sebuah nilai utama. Janganlah menjawab pertanyaan saya dengan istilah seperti kejujuran, pencarian, visi tentang kebaikan umum, semua prinsip dan nilai yang penting karena itu bukanlah apa yang sedang saya tanyakan. Saya sedang bertanya menurut Anda apa yang yang paling mendasar dari dunia, bahkan alam semesta. Anda perlu menanyakan diri Anda sendiri, tentu saja, seperti halnya orang lain, siapakah kita ini, darimana kita berasal, ke mana kita akan pergi. Bahkan anak-anak mengajukan pertanyaan ini kepada diri mereka sendiri. Bagaimana dengan Anda?”

Terima kasih atas pertanyaan ini. Jawabannya adalah: saya percaya kepada Ada, yakni kepada jaringan dari mana forma-forma dan badan-badan berasal.
“Dan saya percaya kepada Allah, bukan kepada Allah yang katolik, tidak ada Allah yang katolik, yang ada adalah Allah dan saya percaya kepada Yesus Kristus, inkarnasinya. Yesus adalah guru saya dan gembala saya, tetapi Allah, Bapa, Abba, adalah cahaya dan Pencipta. Inilah Ada yang saya yakini. Apakah menurut Anda kita sangat jauh berbeda?”

Kita berbeda jauh dalam pemikiran, namun mirip sebagai manusia, yang secara taksadar didorong oleh insting-insting kita yang berubah menjadi impuls, perasaan dan kehendak, pikiran dan nalar. Dalam hal-hal ini kita serupa.
“Tetapi dapatkah Anda merumuskan apa yang Anda sebut sebagai Ada?”

Ada adalah sumber energi. Bersifat kaos (kacau) namun merupakan energi yang tak menghancurkan dan merupakan kaos abadi. Bentuk-bentuk muncul dari energi itu ketika ia mencapai titik ledak. Bentuk-betuk itu memiliki hukum-hukumnya sendiri, medan magnetnya sendiri, unsur kimianya sendiri, yang menyatu secara acak, berkembang, dan akhirnya padam namun energinya tidak hancur. Manusia barangkali merupakan satu-satunya binatang yang dianugerahi pikiran, sekurang-kurangnya di planet dan tata surya kita. Saya katakan bahwa ia didorong oleh insting dan hasrat namun sebaiknya saya tambahkan bahwa di dalam dirinya ia juga mengandung resonansi, gema, gaung dari kaos.
“Baiklah. Saya tidak ingin Anda memberikan ringkasan dari filsafat Anda dan apa yang sudah anda katakan tadi sudah cukup bagi saya. Dari sudut pandang saya, Allah adalah cahaya yang menyinari kegelapan, bahkan seandainya ia tidak melenyapkannya, dan berkas cahaya ilahi itu berada dalam diri kita masing-masing. Dalam surat saya menulis untuk Anda, anda tentu ingat ketika saya mengatakan bahwa spesies kita akan berakhir namun cahaya Allah tak akan berakhir dan pada titik itulah ia akan menyusup ke dalam seluruh jiwa dan ia seluruhnya akan berada di dalam setiap orang.”

Ya, saya mengingatnya dengan baik. Anda mengatakan,”Seluruh cahaya akan berada di dalam seluruh jiwa” yang – jika boleh saya katakan – lebih memberikan sebuah gambaran tentang imanensi daripada gambaran tentang transendensi.
"Transendensi tetap bertahan karena cahaya itu, semua di dalam segala, ia melampaui alam semesta dan spesies, ia tinggal pada ranah itu. Namun kembali kepada saat ini. Kita telah melangkah maju dalam dialog kita. Kita telah mengamati bahwa dalam masyarakat dan dunia di mana kita tinggal, cinta diri telah meningkat lebih besar daripada cinta kepada sesama, dan bahwa semua orang yang berkehendak baik harus bekerja, masing-masing dengan kekuatan dan keahliannya, untuk memastikan bahwa cinta kepada sesama itu meningkat sampai pada posisi yang setara dan jika mungkin melebihi cinta kepada diri sendiri.”

Sekali lagi, politik muncul di dalam gambar.
“Tentu saja. Secara pribadi saya pikir apa yang dikenal sebagai liberalisme yang tak terkendali itu hanya membuat mereka yang kuat menjadi semakin kuat dan yang lemah menjadi semakin lemah serta menyingkirkan mereka yang paling terbuang. Kita membutuhkan kebebasan yang besar, bukan diskriminasi, bukan hasutan dan banyak kasih. Kita membutuhkan pedoman tingkah laku dan juga jika perlu, campur tangan langsung dari negara untuk memperbaiki ketidakseimbangan (ketidakadilan) yang keterlaluan dan semakin besar.”

Bapa Suci, Anda sungguh-sungguh seorang pribadi yang beriman, tersentuh oleh rahmat, didorong oleh keinginan untuk menghidupkan kembali Gereja yang pastoral dan minioner yang diperbaharui dan tidak sementara. Namun dari cara Anda berbicara dan dari  apa yang saya pahami, Anda adalah Paus yang revolusioner dan akan menjadi Paus revolusioner. Setengah Jesuit, setengah manusia Fransiskus, sebuah gabungan yang barangkali belum pernah ada sebelumnya. Dan kemudian, Anda menyukai “The Betrothed” karya manzoni, Holderlin, Leopardi dan terutama Dostoevsky, film “La Strada” dan “Prova d’orchestra” karya Fellini, “Open City” karya Rossellini dan juga film karya Aldo Fabrizi.
“Saya menyukainya karena saya menontonnya bersama orangtua saya ketika saya masih kecil.”

Nah itulah Anda. Ijinkan saya menyarankan dua film yang baru saja dirilis? “Viva la liberta” da film tentang Fellini karya Ettore Scola. Saya yakin Anda akan menyukainya.
Kaitannya dengan kekuasaan, kata saya, Anda tahu bahwa ketika berusia 20 tahun saya menghabiskan waktu satu setengah bulan dalam sebuah retret spiritual bersama dengan para Jesuit? Kaum Nazi berada di Roma dan saya telah dipecat dari tugas ketentaraan. Itu bisa dihukum dengan hukuman mati. Para Jesuit menyembunyikan kami dengan syarat kami menjalankan latihan rohani sepanjang waktu sehingga mereka membuat kami tetap tersembunyi.
“Tetapi apakah tidak mungkin menghabiskan satu setengah bulan untuk latihan rohani?” tanya Paus, heran dan geli. Saya akan menceritakan hal itu kepada beliau lain waktu.

Kami berpelukan. Kami menaiki tangga kecil menuju ke pintu. Saya katakan kepada Paus bahwa ia tidak perlu menemani saya tetapi dia menolaknya dengan isyarat tangannya. “Kita juga akan mendiskusikan peran kaum perempuan di dalam Gereja. Ingatlah bahwa Gereja (la chiesa) adalah feminin.”
Dan jika Anda berminat, kita juga dapat berbicara tentang Pascal. Saya ingin mengetahui apa yang Anda pikirkan tentang jiwa besar itu.
“Berkat saya untuk seluruh keluarga Anda dan mintalah mereka untuk mendoakan saya. Ingatlah saya, ingatlah saya lebih sering.”

Kami berjabat tangan dan ia berdiri dengan kedua jarinya yang terangkat memberikan berkat. Saya melambaikan tangan dari jendela. Inilah Paus Fransiskus. Seandainya Gereja menjadi seperti dia dan menjadi seperti apa yang ia harapkan, itu akan menjadi sebuah perubahan pada jaman yang penting.

 (Translated from Italian to English by Kathryn Wallace, terjemahan dari English ke bahasa Indonesia oleh Indro Suprobo)

Sumber asli: http://www.repubblica.it/cultura/2013/10/01/news/pope_s_conversation_with_scalfari_english-67643118/

Friday, May 22, 2015

Kabar Duka Pesantren Desa



Oleh Indro Suprobo


Pada tahun 2013 lalu, Pondok Pesantren Al Fallah di desa Tinggarjaya, di wilayah Banyumas menyiarkan kabar duka. Sang ibu dari pengasuh Pondok tersebut wafat dalam usia senja. Seluruh keluarga besar sangat kehilangan dan berkabung duka. Uskup Purwokerto, Mgr. Julianus Sunarko, SJ, pemimpin tertinggi Gereja Katolik Keuskupan Sufragan Purwokerto, yang kebetulan memiliki hubungan dekat dengan keluarga Pondok tersebut, turut hadir untuk melayat, memberikan doa, dan peneguhan kepada keluarga besar Pondok. Dengan jubah resmi, Uskup tersebut duduk tenang di antara ratusan pelayat yang lain, sambil sesekali ikut melafalkan doa-doa dalam bahasa Arab yang ia hafal, atau dengan khusuk hanya ikut menjawab “Amin” ketika ia tak hafal doa-doa yang dilantunkan itu.

Kehadirannya dengan pakaian yang sangat khas tentu saja mengundang perhatian orang karena ia menjadi sangat berbeda di antara ratusan pelayat yang lain. Namun dengan tenang dan biasa, ia tetap duduk hening mengikuti lantunan doa yang didaraskan. Sesekali ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan orang-orang yang hadir dan mengajaknya bersalaman.

Yang lebih mengherankan dan mengejutkan banyak orang adalah peristiwa sesudah itu. Ketika tiba saatnya untuk secara bergiliran melakukan shalat jenazah di hadapan almarhumah yang disemayamkan di dalam Masjid, Uskup yang mengenakan pakaian resmi pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu, bangkit dari tempat duduknya dan berjalan khidmat memasuki Masjid. Dengan tenang ia berdiri di antara pelayat yang hendak melakukan shalat di hadapan almarhumah. Tak pernah terbayangkan oleh semua yang hadir saat itu bahwa seorang Uskup berkenan menyatukan diri di antara jamaah shalat jenazah, sementara sang pengasuh Pondok berdiri di depan sebagai imam, pemimpin shalat. “Allahu Akhbar....Allahu Akhbar.....Allahu Akhbar...”, terdengar khidmat ketika sang Uskup ikut melakukan shalat. Setelah usai, ia berjabat tangan dengan keluarga Pondok sambil mendoakan semoga almarhumah diterima di sisi Allah.

Tindakan Empatik

Apa yang dilakukan oleh sang Uskup di tengah suasana duka yang sedang dialami oleh keluarga Pesantren desa itu adalah pilihan tindakan yang sangat empatik dan rendah hati. Ia sangat memahami konteks dan situasi yang sedang ia hadapi. Melalui tindakan ini, Uskup sedang mengejawantahkan sikap “saya menjadi bagian dari Anda, berada di dalam pihak Anda, secara tulus dan jujur berdoa kepada Tuhan bagi almarhumah sesuai dengan cara dan kebiasaan Anda”. Semuanya itu tak lain dan tak bukan hanyalah untuk menghadirkan peneguhan dan kedamaian di tengah keluarga yang sedang dirundung duka.

Empati, sebagaimana diwujudkan dalam tindakan Uskup ini, adalah sikap yang sangat dibutuhkan dalam membangun perdamaian. Hanya melalui empati, seseorang dapat memasuki ruang terdalam sesamanya untuk menemukan sesuatu yang bernilai dan terhormat di dalam diri dan pengalaman sesamanya meskipun ia sangat berbeda. Kesanggupan untuk menemukan sesuatu yang bernilai, yang terhormat, yang baik, yang suci dan yang membangkitkan syukur di dalam diri orang lain inilah yang akan mendorong orang untuk mampu berdamai dengan orang lain.

Di dalam konteks yang unik dan dengan caranya yang unik pula, sang Uskup sedang mengejawantahkan sikap empati sebagaimana diamanatkan oleh Konsili Vatikan II melalui pernyataan Nostra Aetate, yakni pernyataan tentang hubungan Gereja dengan Agama-agama bukan Kristen. “....Gereja Katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar Kebenaran, yang menerangi semua orang....” (Nostra Aetate, Artikel 2).

Dalam kajian teologi dan psikologi spiritual, empati adalah sebuah tindakan incarnatio (mengambil rupa daging – menjadi manusia – menjadi yang lain) dan kenosis (pengosongkan diri). Empati berarti masuk ke dalam dan mendarah daging dalam diri dan pengalaman orang lain sekaligus mengosongkan dirinya agar menjadi serupa dengan diri dan pengalaman orang lain itu. Tindakan pengosongan diri itu memiliki dua aspek. Pertama, tindakan ini berarti menanggalkan seluruh “kemuliaan identitas dirinya” beserta seluruh kecenderungan kepentingan egoisnya. Kedua, mengosongkan diri berarti menyediakan ruang yang luas di dalam batinnya sehingga leluasa menerima kehadiran orang lain dengan penuh keramahtamahan. Dalam tiadanya kecenderungan akan kepentingan identitas diri dan dalam ruang batin yang luas itulah seseorang dapat secara leluasa dan ramah menerima “yang lain” sehingga yang lain itu dapat menghadirkan diri dengan seluruh eksistensinya yang serba benar dan suci.

Melalui tindakan empatiknya yang unik, Uskup ini sebenarnya sedang mewujudkan tindakan “memuliakan” orang lain atau “menempatkan orang lain dan seluruh pengalamannya di tempat yang terhormat”. Kesaksian dalam bahasa Banyumasan sang pengasuh Pondok sebagai bagian dari keluarga yang berduka menguatkan hal ini.

Coba bayangna, nganti rama pastur bae kersa nyolati biyunge. Kaya ngapa rasa mongkoge inyong. Kiye tandha nek biyunge kuwe dihormati dening wong liya. Ya muga-muga shalate rama pastur mau ditampa dening Allah.” (Coba bayangkan, sampai seorang Pastor pun sudi melakukan shalat bagi ibu. Saya sungguh merasa tersanjung. Ini menjadi tanda bahwa ibu dihormati oleh orang lain. Semoga shalat yang dilakukan oleh Pastor itu diterima oleh Allah)

Tantangan Empati Global

Sayangnya, dunia kita sekarang ini sedang menghadapi kemerosotan empati yang luar biasa. Perang dan konflik disertai kekerasan menelan banyak korban dan menciptakan tragedi kemanusiaan. Situasi ini tampak nyata dari meningkatnya jumlah orang yang terpaksa mengungsi meninggalkan kampung halaman demi mencari keselamatan dan hidup yang lebih damai. Komisi Tinggi PBB urusan Pengungsi (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR) melaporkan bahwa sampai dengan akhir tahun 2013 jumlah total Pengungsi dan Pencari Suaka di seluruh dunia mencapai angka 51,2 juta orang (UNHCR Global Trend Report 2014). Mereka terpaksa mengungsi karena menghindari penganiayaan, konflik, kekerasan masal, maupun pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia. Jumlah itu cenderung meningkat setiap tahunnya. Pada bulan Juni 2015 yang akan datang, secara resmi akan dirilis jumlah Pengungsi sampai akhir tahun 2014. Tak dapat dibayangkan bahwa sementara ini, dalam setiap menit, 8 sampai 10 orang di seluruh dunia ini terpaksa mengungsi sebagai akibat dari konflik, penganiayaan dan kekerasan.

Dalam derajat yang berbeda, kemerosotan empati terjadi dalam penyempitan cara pandang terhadap orang atau kelompok lain, menguatnya prasangka, meningkatnya penolakan dan kecurigaan terhadap orang asing/imigran, semakin mudahnya orang menilai orang lain yang berbeda sebagai musuh yang mengancam atau sebagai kelompok yang sesat, semakin mudahnya orang untuk memberikan cap atau stigma negatif kepada orang lain, serta semakin abainya para pemimpin publik dan pengambil kebijakan terhadap hak-hak warga masyarakat.

Media, sebagai penyedia jasa informasi publik seringkali juga turut serta menjadi salah satu aktor yang justru menyuburkan kemerosotan itu. Contoh paling nyata dalam konteks Indonesia adalah begitu mudahnya media televisi maupun cetak menyebut para Pengungsi dan Pencari Suaka yang ada di Indonesia sebagai “imigran gelap”. Sebutan “imigran gelap” adalah sebutan yang bermakna negatip, yakni orang-orang yang memasuki wilayah negara lain secara illegal. Secara serampangan dan semena-mena, media di Indonesia menempatkan mereka sebagai “orang yang melanggar hukum”. Padahal, senyatanya, mereka adalah orang-orang yang “secara terpaksa” pergi mencari keselamatan jiwa dan kedamaian. Mereka terpaksa menempuh bahaya mengarungi lautan yang ganas dengan menumpang perahu sederhana yang tak layak tanpa sempat membawa serta dokumen keimigrasian yang dibutuhkan. Pada gilirannya, informasi yang tidak empatik ini diterima oleh masyarakat seolah-olah sebagai kebenaran sehingga menimbulkan sikap negatif terhadap para pencari damai yang terpaksa meninggalkan negeri mereka sendiri.

Dalam konteks relasi agama-agama, kecenderungan agama-agama besar untuk memandang dan menempatkan agama-agama serta keyakinan lokal dalam posisi yang lebih rendah, yang kurang sempurna, dan yang mengandung benih penyakit, juga merupakan contoh lain dari kemerosotan empati. Akibatnya agama-agama besar itu menganggap diri mereka memiliki otoritas lebih untuk mengangkat, menyempurnakan dan menyembuhkan agama atau keyakinan lokal itu seturut cara berpikirnya sendiri.

Mewujudkan Keadilan

Di tengah merosotnya empati dan solidaritas, kehadiran Uskup dengan pilihan tindakannya yang empatik dan rendah hati di antara keluarga pesantren desa yang sedang berduka, menjadi kritik, inspirasi sekaligus harapan. Berbagai upaya, kreativitas dan terobosan untuk menumbuhkan, mengembangkan, dan membiasakan empati dalam kehidupan bersama sangatlah dibutuhkan. Meskipun mengembangkan empati itu merupakan syarat sangat penting dalam menghadirkan perdamaian, mewujudkan keadilan merupakan pekerjaan yang jauh lebih penting lagi. Kesanggupan berempati akan mengakibatkan seseorang mampu melihat kebaikan, keluhuran dan martabat orang lain. Dari situlah seseorang melangkah kepada upaya menghadirkan keadilan dalam kehidupan bersama sehingga setiap orang sungguh-sungguh menemukan kedamaian.

Semoga tindakan unik dan sederhana di tengah suasana duka sebuah pesantren desa ini, membangkitkan inspirasi bagi semakin banyak hati untuk seturut kesanggupannya dan melalui berbagai macam cara, menghadirkan empati dan keadilan dalam kehidupan bersama. ***

Wednesday, October 01, 2014

Foto untuk Mengundang Keterlibatan

Oleh Indro Suprobo



“Rohingya adalah persoalan tentang negara, kemanusiaan dan demokrasi. Greg Constantine telah memanfaatkan teknologi untuk menyampaikan pesan lebih mendalam tentang kemanusiaan. Karya fotografi Greg Constantine merupakan gerbang bagi masyarakat Indonesia untuk menyadari persoalan ketidakadilan di Indonesia melalui persoalan ketidakadilan di dunia, yakni Rohingya,” kata Alissa Wahid, ketika membuka pameran foto “Exiled to Nowhere: Burma’s Rohingya” di Jogja Gallery pada Sabtu petang, 23 Agustus 2014. 

Pameran fotografi yang berlangsung dari tanggal 23 sampai dengan 30 Agustus 2014 ini, diperkaya dengan kegiatan diskusi dan seminar yang diselenggarakan dalam kerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia, Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Pusat Studi ASEAN Universitas Gadjah Mada, dan Pusat Studi Agama dan Lintas Budaya Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Diskusi juga diselenggarakan melalui siaran langsung di Radio Republik Indonesia dan Radio Sonora Yogyakarta. Perbincangan khusus tentang seni fotografi diselenggarakan di Jogja Gallery dalam kerjasama dengan Kelas Pagi Yogyakarta. 

“Fotografi dan Pameran hanyalah merupakan jalan untuk dapat mendiskusikan persoalan orang Rohingya secara lebih detail dan luas karena persoalannya menyangkut hak asasi manusia, identitas, hukum internasional, pengungsian dan sebagainya. Apabila pameran ini dapat membawa perubahan bagi situasi Rohingya, ini merupakan hal yang luar biasa. Kisah tentang pelanggaran hak asasi manusia terjadi di mana-mana sehingga pameran fotografi menjadi salah satu cara untuk mengangkat situasi yang sangat memprihatinkan itu. Akibatnya, pameran ini bukanlah soal fotografi melainkan soal keterlibatan,” kata Greg Constantine. 

Situasi tanpa kewarganegaraan seperti dialami oleh orang Rohingya adalah kondisi bahwa orang tidak diakui sebagai warga negara oleh pemerintah negara manapun. Akibatnya, ia tidak memiliki kartu tanda penduduk, paspor, akta kelahiran, tidak punya akses pada pelayanan publik, dan kehilangan hak-hak dasarnya. Ada kurang lebih satu juta orang Rohingya yang tak memiliki kewarganegaraan dan mengalami keadaan yang paling buruk di seluruh dunia. Situasi orang Rohingya mewakili persoalan kemanusiaan di seluruh dunia, yakni diskriminasi dan pelanggaran berat hak asasi manusia terhadap warga negara sendiri. Persoalan tentang kewarganegaraan semestinya tidak dapat dijadikan alasan untuk melakukan diskriminasi terhadap hak-hak dasar yang melekat pada diri seorang manusia.  

Di Myanmar, orang Rohingya tidak termasuk dalam 135 etnis nasional yang diakui sebagai warga negara.  Mereka menghadapi kontrol yang sangat ketat oleh pemerintah. Kesulitan yang mereka alami misalnya berupa manipulasi dan pemerasan untuk mendapatkan izin menikah, ancaman hukuman dan pemenjaraan, perampasan tanah dan harta benda, kehilangan pekerjaan dan sumber penghidupan, serta ancaman kerja paksa. Kaum perempuan Rohingya seringkali mengalami penganiayaan dan pelecehan yang sangat tidak manusiawi. Situasi seperti ini memaksa mereka untuk mengungsi ke negeri-negeri tetangga, termasuk ke Indonesia.

Ketika mengungsi, mereka rentan mengalami pelecehan dan kekerasan. Mereka tidak  mendapatkan perlindungan dan seringkali akses mereka pada bantuan kemanusiaan dihambat. Mereka menghadapi penolakan dan hampir tak satu pun negara mau menerima mereka sebagai warga negara. 

Pada tahun 2014 ini, jumlah orang Rohingya di Indonesia mencapai 863 orang dengan status pengungsi dan 76 orang dengan status pencari suaka. Di Indonesia, mereka pun tidak dapat bekerja secara formal untuk menghidupi diri dan keluarga. Mereka juga belum memiliki solusi berdaya tahan untuk memutus pengungsian mereka, baik berupa integrasi ke dalam masyarakat Indonesia maupun penempatan ke negara ketiga. Ratusan orang di antara mereka ditahan di Rumah-rumah Detensi Imigrasi, termasuk perempuan dan anak-anak. Kondisi mereka tetap memprihatinkan.

“Meskipun tidak meratifikasi konvensi pengungsi, setiap negara termasuk Indonesia, memiliki kewajiban untuk melindungi pengungsi lintas batas. Ini merupakan prinsip standar dalam hukum internasional dan standar humanitarian. Pemerintah Indonesia juga wajib menghormati prinsip ‘non refoulement’, yakni tidak mengembalikan pengungsi ke negara asal yang masih tidak aman,” kata Gregorius Sri Nurhartanto, dekan Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Situasi tanpa kewarganegaraan dan pelanggar-an hak asasi manusia membutuhkan perhatian besar dari komunitas internasional. Diperlukan perumusan mekanisme hukum agar negara-negara dapat membantu orang tanpa kewarganegaraan di berbagai tempat.

“Komunitas tanpa kewarganegaraan sudah tidak relevan di dunia yang mengagungkan kemanusiaan saat ini. Desak ASEAN untuk menciptakan kebijakan perlindungan bagi mereka,” tulis seorang pengunjung pameran bernama Zulkhan dalam buku kesan dan pesan.

Dalam konteks ASEAN, Dr. Sefriani, S.H., M.Hum., dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia mengusulkan dua jalan yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan kasus Rohingya, yakni melalui ASEAN Way yang fleksible dan konstruktif atau melalui  mekanisme Responsibility to Protect. Melalui ASEAN Way, negara-negara ASEAN dapat melakukan diplomasi kemanusiaan terhadap pemerintah Myanmar dan mendorong mereka untuk mengamandemen Undang-undang Kewarganegaraan mereka yang diskriminatif dan menimbulkan persoalan kemanusiaan. Melalui mekanisme Responsibility to Protect, negara  lain dapat memberikan perlindungan atas dasar kemanusiaan ketika sebuah negara tidak berkehendak untuk melindungi manusia yang berada di dalam wilayah kedaulatannya dan justru melanggar hak asasi mereka. 


Bagi masyarakat Indonesia, terlibat secara serius dalam mengatasi situasi tanpa kewarganegaraan merupakan hal yang mendesak dan penting. Indonesia perlu mencari upaya hukum, sosial, ekonomi, kultural dan kemanusiaan agar dapat membantu orang tanpa kewarganegaraan yang berada di dalam wilayahnya. ***

Artikel diterbitkan pertama kali di situs JRS Indonesia

Monday, June 23, 2014

Pencari Suaka Anak di Indonesia Menghadapi Kerentanan

Oleh Indro Suprobo



Hamid baru berumur 16 tahun. Saat berumur 15 tahun, ia meninggalkan Afghanistan tanpa didampingi orang dewasa. Ia selalu dihantui rasa takut sejak ayahnya diculik oleh sekelompok orang bersenjata di rumahnya. Sampai saat ini ia tak tahu bagaimana nasib ayahnya. Ia masih sangat takut untuk bercerita tentang ayahnya.

Hanya dengan berbekal uang sejumlah tiga jutaan, agen mengatur perjalanannnya untuk meninggalkan Afghanistan melalui Pakistan menuju India dan tiba di Malaysia dengan pesawat. Dari Malaysia ia naik kapal menuju wilayah Indonesia. Dari suatu daerah yang tak diketahuinya, ia naik bus selama satu malam melalui daerah berhutan-hutan dan tiba di Jakarta. Setelah menginap semalam di Jakarta, ia diantar ke pinggiran Jakarta oleh seorang agen.

Tak seorang pun ia kenal. Untunglah, ada satu orang teman yang dikenalnya dalam perjalanan mau berbagi dengannya untuk menyewa sebuah kamar kos. Namun itu tidak berlangsung lama. Bulan berikutnya mereka harus berpisah karena Hamid tak mampu lagi ikut membayar iuran sewa kamar kos. Ia tak punya tempat tinggal.

“Selama empat hari saya tidur di teras rumah orang. Di teras rumah itu ada sofa tua yang sudah rusak. Lumayan, masih bisa buat tidur. Selama empat hari itu, saya hanya minum air dari keran karena sama sekali tak punya uang untuk membeli makanan sedikitpun. Saya terpaksa hanya minum air keran untuk bertahan hidup,” katanya.

Ternyata, karena hanya minum air keran selama empat hari demi bertahan hidup, Hamid menderita sakit diare tanpa henti. Tubuhnya menjadi semakin kurus dan kelihatan sangat lelah. 

Mengetahui hal itu, beberapa orang Afghanistan yang tinggal di daerah itu menampung Hamid di rumah kontrakan mereka. Karena tak memiliki uang untuk membayar iuran sewa rumah, Hamid terpaksa menggantinya dengan cara bekerja bagi orang-orang yang telah membantunya. Setiap hari ia bertugas mencuci baju, mengepel lantai, membuat makanan tiga kali sehari, dan menyiapkan teh jika ada tamu yang berkunjung. 

Bagi anak seumur dia, pekerjaan rutin seperti itu tentu sangat melelahkan dan terasa berat. Ia menjadi seperti pekerja rumah tangga, padahal usianya masih tergolong sebagai anak-anak. 

“Saya capek sekali. Karena itu kadang-kadang saya tidak bisa membantu mencuci baju. Akibatnya, saya akan dimarahi,” keluhnya. 

Setelah ditampung selama sebulan oleh orang-orang yang membantunya, ia terancam tak memiliki tempat tinggal lagi. Orang-orang yang membantunya terpaksa pindah dan mencari kamar kontrakan yang lebih kecil karena mereka juga mengalami kesulitan keuangan. 
“Sebenarnya kami tidak tega, tetapi kami juga tidak dapat berbuat banyak. Kami mengalami masalah keuangan yang sama. Kami akan pergi dan mencari tempat yang lebih murah,” kata mereka yang telah menampung Hamid selama ini. 

Sebagai anak yang hidup sendirian di negeri asing, ia sering merindukan ibu yang ditinggalkannya di sebuah desa di Afghanistan. Ketika ditanya tentang ibunya, ia hanya bisa menangis dan tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ia sebenarnya sangat ingin bisa berkomunikasi dengan ibunya, namun tak memiliki uang sedikit pun untuk membayar biaya telepon. Ketika JRS meminjaminya telepon seluler untuk menghubungi ibunya, ia menangis gembira meskipun ibunya tak mengangkat teleponnya.

“Saya senang meskipun ibu belum mengangkat telepon saya. Paling tidak saya tahu bahwa nomor telepon ibu masih aktif. Terima kasih,” katanya sambil berlinang air mata. Nada tunggu telepon ibunya, sudah cukup untuk membangkitkan harapannya. 

Kekeliruan pencatatan data kelahirannya di UNHCR menambah kesulitannya. Semestinya ia baru berusia 16 tahun saat ini, tetapi di UNHCR ia tercatat berusia 26 tahun sehingga tidak termasuk dalam kategori Pencari Suaka Anak-anak Tanpa Pendamping (Unaccompanied Minor) yang termasuk dalam kelompok rentan. Itu terjadi karena sesama Pencari Suaka yang membantunya di kantor UNHCR keliru menyebutkan tahun kelahirannya. 

Hamid adalah satu dari antara ratusan anak tanpa pendamping yang mencari suaka di Indonesia. Mereka menjadi rentan karena sewaktu-waktu dapat ditangkap dan ditahan di Rumah Detensi Imigrasi. Seperti Hamid, mereka bisa telantar dan hidup di jalanan tanpa ada lembaga negara yang bertanggung jawab atas perwalian bagi mereka. Selain itu, tidak ada yang dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Seringkali, mereka juga harus kehilangan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa pendidikan dan harapan bagi masa depan. 


Sementara ini, Hamid telah dibantu oleh JRS untuk mendapatkan tempat tinggal sementara bersama para Pencari Suaka rentan lainnya. Ia juga sudah mendapatkan perawatan kesehatan yang baik sehingga kondisinya sudah semakin sehat. Jaringan Suaka, yakni sebuah kelompok yang terdiri dari para individu maupun lembaga yang menyediakan bantuan hukum dan advokasi secara gratis kepada Pencari Suaka di Indonesia, sedang berusaha membantu Hamid agar segera mendapatkan perlindungan sesuai hukum internasional dalam proses bersama UNHCR di Indonesia. ***

Indro Suprobo
Publikasi awal di JRS Indonesia

Monday, May 05, 2014

Ratifikasi Konvensi Bom Curah: Upaya Mengubah Perilaku Negara

Sebelumnya, saya memiliki banyak mimpi. Namun setelah kecelakaan itu terjadi, saya kehilangan semua mimpi saya. Saat ini, saya memiliki mimpi yang lain, yakni tak ingin lagi menyaksikan orang lain menghadapi masalah yang sama seperti yang saya alami dalam hidup sehari-hari karena bom curah,” kata Berihu Mesele, Ethiopia.

Berihu Mesele adalah mantan tentara Ethiopia. Ketika menolong anak-anak di sebuah sekolah yang menjadi sasaran bom selama terjadi konflik perbatasan, sebuah bom curah meledak dan menghilangkan kedua belah kakinya. Kini ia terlibat aktif dalam kampanye anti bom curah.

Bom curah adalah bahan peledak yang bermuatan ratusan bom kecil. Bom ini dapat dijatuhkan dari pesawat atau ditembakkan dari darat, serta dirancang untuk terburai di udara, sehingga bom-bom kecil tersebut terjatuh di wilayah sasaran. Seperti ranjau darat, jutaan bom curah yang gagal meledak dan tersebar di berbagai wilayah konflik bersenjata, merupakan ancaman paling mematikan bagi warga sipil pascaperang karena dapat meledak sewaktu-waktu ketika tersentuh oleh orang yang sedang mengerjakan lahan atau anak-anak yang sedang bermain. Proses pembersihannya membutuhkan waktu yang lama, berbiaya mahal dan sangat berbahaya karena dapat membunuh petugas yang membersihkannya.

Konvensi Bom Curah (Convention on Cluster Munition) adalah sebuah perjanjian internasional yang melarang penggunaan, produksi, penimbunan, maupun transfer bom curah. Perjanjian tersebut mewajibkan penghancuran timbunan bom curah dalam waktu 8 tahun dan pembersihan wilayah yang terkontaminasi dalam waktu 10 tahun. Konvensi ini telah ditandatangani oleh 113 negara dan 84 negara di antaranya telah meratifikasinya. Pemerintah Indonesia telah ikut menandatangani Konvensi ini pada tanggal 3 Desember 2008, namun hingga kini belum meratifikasinya.

Dalam rangka memperingati “Hari Internasional tentang Kesadaran dan Aksi Bantuan atas Ranjau”, Institut International Studies (IIS) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menyelenggarakan rangkaian acara pemutaran film dan diskusi dengan tema Suara Indonesia untuk Ratifikasi Konvensi Bom Curah. Rangkaian kegiatan ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi halangan pemerintah Indonesia dalam meratifikasi konvensi, mendorong Pemerintah Indonesia untuk segera meratifikasinya, dan menggalang dukungan dari masyarakat luas untuk menandatangani petisi yang mendorong perlunya ratifikasi Konvensi Bom Curah oleh Pemerintah Indonesia.

Pemutaran film, diskusi, pameran foto dan penandatanganan petisi ini diselenggarakan di beberapa kampus di Yogyakarta. Pada tanggal 4 April 2014, kegiatan diselenggarakan di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Pada tanggal 11 April 2014, kegiatan diselenggarakan di kampus Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta. Pada 16 April 2014, kegiatan diselenggarakan di Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO). Dalam rangkaian kegiatan ini, JRS Indonesia terlibat sebagai salah satu narasumber diskusi.

Rochdi Mohan Nazala, M.S.A., M. Litt., dosen dan peneliti Jurusan Hubungan Internasional FISIPOL UGM menilai bahwa pemerintah dan DPR tidak serius dalam membahas ratifikasi Konvensi Bom Curah meskipun hal itu sudah masuk dalam program legislasi nasional (prolegnas).

Sebagai negara yang memiliki peran penting dalam menjaga perdamaian di kawasan ASEAN, ratifikasi Konvensi Bom Curah oleh pemerintah Indonesia akan mendorong negara-negara lain untuk ikut meratifikasi konvensi. June Cahyaningtyas, S.I.P., dosen Jurusan Hubungan Internasional FISIPOL UPN Yogyakarta menyatakan bahwa dalam rangka diplomasi internasional, tindakan ratifikasi konvensi oleh sebuah negara merupakan upaya nyata membangun kepercayaan antarnegara.

Sementara itu, dosen Jurusan Hubungan Internasional dan Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UNRIYO, Hartanto, S.I.P., M.A. menyatakan bahwa upaya-upaya mendorong ratifikasi konvensi oleh negara-negara yang sudah menandatanganinya itu merupakan upaya mengubah perilaku negara-negara agar menjadi lebih sesuai dengan nilai-nilai yang disepakati secara internasional. Konvensi Bom Curah adalah sebuah kesepakatan internasional tentang nilai-nilai yang harus dijalankan secara bersama-sama.

Penandatanganan Konvensi oleh Pemerintah Indonesia menunjukkan bahwa Pemerintah Indonesia sudah memiliki itikad baik yang perlu terus didukung meskipun membutuhkan waktu. Jika masyarakat Indonesia telah menunjukkan dukungan terhadap larangan bom curah, salah satunya melalui penandatanganan petisi, diharapkan Pemerintah merasa didukung dan akan segera meratifikasinya,” kata Hartanto.

Untuk meyakinkan masyarakat dan pemerintah Indonesia bahwa ratifikasi konvensi tersebut penting dan perlu, sosialisasi tentang dampak penggunaan bom curah perlu terus dilakukan. Sosialisasi dampak bom curah yang diderita oleh masyarakat sipil membantu masyarakat untuk menyelami pengalaman derita dan kehilangan yang dialami oleh para korban dan penyintas bom curah, serta menumbuhkan empati terhadap mereka. Empati ini pada gilirannya akan mendorong proses ratifikasi Konvensi Bom Curah secara lebih efektif. Semoga impian Berihu Mesele yang tidak mau lagi menyaksikan korban bom curah berikutnya, semakin menjadi kenyataan. ***

Indro Suprobo
Publikasi awal di JRS Indonesia