Saturday, June 10, 2017

Kesanggupan untuk Mendengarkan adalah Landasan Utama bagi Perdamaian


Seperti hari-hari Minggu biasanya, pada tengah hari sebelum menjalankan doa Malaikat Tuhan bersama dengan umat beriman yang hadir di lapangan Santo Petrus, Bapa Fransiskus menyampaikan refleksi atas bacaan Injil pada hari itu, yakni tentang kisah Yesus yang mengunjungi Maria dan Marta dan tentang bagaimana masing-masing perempuan itu memilih cara menyambut kehadiran Yesus. Maria memilih duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkan dia, sementara Marta sibuk dengan banyak urusan rumah tangga untuk menerima Yesus. Marta bertanya kepada Yesus,”Tuan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah ia membantu aku.” Tetapi Yesus menjawabnya,”Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu, Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Luk 10:38-42).

Dalam refleksinya, Bapa Fransiskus menjelaskan bahwa dengan menyibukkan dirinya, Marta telah menanggung resiko melupakan kehadiran tamunya, yakni Yesus sendiri. Menurut Bapa Fransiskus, inilah masalah utamanya. Yang paling utama dalam menyambut kehadiran tamu bukanlah melakukan banyak hal lain seperti melayani, memberi makan, merawat dan sebagainya, melainkan mendengarkan tamu itu. Ketika ada tamu yang hadir, ia perlu disambut sebagai pribadi, lengkap dengan seluruh sejarah dan keunikan dirinya sehingga tamu itu merasa betah berada di rumah itu di tengah-tengah keluarga. Ketika tamu itu diterima dengan sepenuh hati dan didengarkan, ia akan merasa diterima sebagai pribadi yang bermartabat. Dalam bahasa Jawa, istilah yang tepat adalah “diuwongke”. Namun jika tamu itu dibiarkan duduk sendirian sementara kita sibuk dengan banyak hal lain, maka satu sama lain kita akan berada dalam situasi diam, tanpa komunikasi. Bisa jadi sang tamu akan merasa tidak nyaman dan seolah-olah dianggap sebagai batu.

Jawaban yang diberikan oleh Yesus kepada Marta bahwa hanya ada satu hal saja yang perlu, mendapatkan maknanya yang paling penuh ketika mengacu kepada Sabda Yesus sendiri, yakni Firman yang mencerahkan dan menopang seluruh keberadaan kita serta semua yang kita kerjakan. Bapa Paus memberikan contoh,”apabila kita berdoa di hadapan salib, lalu kita berbicara dan terus menerus berbicara, lalu setelah itu kita segera pergi, dengan demikian kita sama sekali tidak mendengarkan Yesus. Kita tak memberikan kesempatan bagi Yesus sendiri untuk berbicara kepada hati kita. Kata kunci yang tidak boleh kita lupakan adalah bahwa sebelum menjadi Tuan dan Guru, Yesus yang hadir di rumah Maria dan Marta, pertama-tama adalah Yesus yang hadir sebagai peziarah dan tamu. Oleh karna itu, jawaban Yesus kepada Marta merupakan hal yang sangat penting. Ketika Yesus hadir sebagai tamu, tak ada hal lain yang lebih penting untuk dilakukan kecuali menerima dia dan mendengarkan dia. Janganlah terlalu sibuk dengan banyak hal lain sehingga kita justru melupakan kehadiran sang tamu. Mendengarkan Dia, merupakan sebuah wujud dari persaudaraan yang membuat sang tamu merasa nyaman serta menjadi bagian dari anggota keluarga, dan bukan hanya sebagai orang yang menginap sementara.

Dalam pemahaman demikian ini, keramahtamahan, yang merupakan salah satu karya belas kasih, dapat dimengerti sebagai sebuah kebajikan yang sungguh-sungguh manusiawi sekaligus kristiani. Dalam dunia sekarang ini, kebajikan semacam ini, sangat rentan untuk dikesampingkan begitu saja. Memang, ada banyak sekali rumah-rumah penginapan untuk menerima tamu, namun di tempat-tempat itu, orang tidak selalu dapat menemukan keramahtamahan yang sejati. Banyak lembaga didirikan untuk membantu beragam jenis penyakit, kesepian, dan keterpinggiran, namun semakin sedikit peluang bagi seorang asing atau orang yang terpinggirkan untuk menemukan orang yang sungguh-sungguh mau mendengarkan dia, mendengarkan kisah hidupnya yang penuh derita. Bahkan dalam sebuah keluarga, di antara anggota keluarga sendiripun, semakin sulit untuk menemukan pengalaman didengarkan dan diterima.

Dalam kehidupan saat ini, banyak orang terlalu sibuk dan terperangkap oleh banyak sekali urusan, bahkan seringkali urusan-urusan yang tidak penting. Kesibukan dan kekawatiran terhadap bayak hal seringkali membuat orang kehilangan ruang untuk sekedar diam, heniing, mendengarkan diri sendiri, mendengarkan orang lain, serta mendengarkan Tuhan. Kesiapsediaan dan kesanggupan untuk mendengarkan memang harus dilatihkan. Menyediakan waktu untuk “silentium” atau untuk hening setiap hari, merupakan latihan yang sangat berharga. Kebiasaan untuk hening, akan membantu orang untuk melatih diri menyediakan ruang bagi yang lain, menyediakan ruang untuk sanggup mendengarkan pasangan maupun anak-anak dalam keluarga, untuk mendengarkan pengalaman orang lain yang berbeda latar belakang dengan diri kita sendiri. Kesanggupan untuk mendengarkan, adalah kesanggupan untuk menerima orang lain apa adanya dengan segala keunikan dan sejarah hidupnya. Dengan demikian, kesanggupan untuk mendengarkan orang lain adalah kesanggupan untuk menciptakan perdamaian di dalam batin sehingga lebih mampu menerima orang lain dalam seluruh martabat hidup yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya.

Henry J.M. Nouwen dalam buku Menggapai Kematangan Hidup Rohani, menyatakan bahwa kesanggupan untuk mendengarkan adalah kesanggupan untuk menyediakan ruang yang ramah di dalam batin sehingga orang lain dapat hadir secara nyaman dan penuh damai. Dengan lain kata, kesanggupan untuk mendengarkan adalah sebuah hospitalitas atau keramahtamahan. Hanya dengan keramahtamahan, seorang pribadi dapat membangun perdamaian sejak di dalam batinnya. Di dalam batinnya tak ada ruang bagi sebuah perasaan terancam meskipun yang hadir itu adalah orang lain yang sangat berbeda dengan dirinya. Itulah tanda lahirnya perdamaian yang hakiki.


(Indro Suprobo)

Tuesday, June 06, 2017

Kita musti berdoa agar meraih kemenangan melalui perdamaian, bukan melalui peperangan

Dalam sebuah perayaan ekaristi untuk mengukuhkan (kanonisasi) tujuh orang suci baru di Basilika Santo Petrus, Bapa Fransiskus menyatakan,”Kita berdoa bukan untuk berlindung di sebuah dunia yang ideal, juga bukan untuk melarikan diri ke dalam ketenangan yang semu dan penuh cinta diri. Sebaliknya, kita berdoa untuk berjuang, dan juga untuk membiarkan Roh Kudus berdoa di dalam diri kita. Karena Roh Kuduslah yang mengajari kita untuk berdoa. Ia menuntun kita dalam doa dan membuat kita sanggup berdoa sebagai anak-anak Bapa”.

Menurut Bapa Fransiskus, santo dan santa adalah orang-orang yang sungguh-sungguh berani menyelami misteri doa. Mereka adalah laki-laki maupun perempuan yang berjuang dengan doa dan membiarkan Roh Kudus berdoa serta berjuang di dalam diri mereka. Mereka berjuang sampai titik akhir, dengan segala daya mereka, sampai akhirnyua mereka mencapai kemenangan. Namun kemenangan itu bukan karena usaha mereka sendiri, melainkan karena kemenangan Tuhan yang ada di dalam diri mereka dan bersama dengan mereka. Oleh karena itu, tujuh orang suci yang pada hari itu dikukuhkan sebagai santo dan santa, juga telah melaksanakan perjuangan iman dan cinta melalui doa-doa mereka. “Itulah sebabnya mengapa mereka tetap kuat di dalam iman, disertai dengan ketabahan dan kemurahan hati”. Melalui teladan para santo dan santa itu, Bapa Fransiskus juga berharap semoga Tuhan juga memberi daya dan kekuatan kepada kita agar menjadi pribadi-pribadi pendoa. Bapa Fransiskus mengajak kita semua untuk setiap saat berseru kepada Tuhan, baik siang maupun malam. Bapa Suci berharap kita semua sanggup menyediakan ruang dalam batin kita dan membiarkan Roh Kudus sendiri berdoa di dalam diri kita, saling mendukung satu sama lain di dalam doa, agar kita semua tetap tegar sampai pada akhirnya, rahmat dan belas kasih Allah sendiri mencapai kemenangan.

Menjadi manusia pendoa bukanlah sebuah kewajiban, melainkan sebuah gaya hidup yang dipilih dan ditekuni hari-demi hari, saat demi saat. Menjadi manusia pendoa membutuhkan latihan, ketekunan, pembiasaan dan disiplin. Dalam suatu kesempatan, Ibu Theresa pernah berpesan,”Berdoalah, justru pada saat dirimu merasa sulit untuk berdoa”. Ini merupakan pesan mendasar bagi kita untuk berlatih tegar dan tekun.

Karena berdoa bukanlah sebuah upaya untuk berlindung di sebuah dunia yang ideal, atau untuk melarikan diri ke dalam sebuah ketenangan yang semu, maka berdoa pada dasarnya dapat dilakukan kapanpun dan di manapun, serta dalam kondisi seperti apapun. Di antara kesibukan kerja, sekolah, di pasar, di tengah keramaian, dalam kerumunan, saat berdiri di depan teras rumah sambil memandang tanaman, di kebun, saat mengerjakan sawah, saat melakukan jogging, dalam perjalanan dan sebagainya. Yang paling utama dari sebuah doa adalah kehendak hati untuk hening lalu menyampaikan sesuatu kepada Tuhan serta, jangan lupa, membiarkan Roh Kudus berbicara dan berdoa dalam diri kita.
Meskipun demikian, dalam hidup kita, ada saat-saat yang dapat disebut sebagai waktu terbaik untuk membiarkan diri masuk ke dalam doa. Waktu-waktu terbaik itu telah dipilih sebagai kebiasaan oleh banyak agama. Saudara-saudari muslim memiliki lima waktu terbaik yang telah menjadi tradisi dan dikenal dengan shalat lima waktu. Tradisi kuno agama kristen dan sampai saat ini masih dijalankan di beberapa biara, memiliki kebiasaan doa brevir tujuh waktu dalam sehari dengan pilihan waktu yang hampir sama dengan tradisi saudara-saudari Muslim. Namun demikian, paling tidak ada tiga waktu terbaik yang sebaiknya dimanfaatkan sebagai waktu hening, supaya batin kita terlatih menjadi manusia pendoa. Tiga waktu hening itu adalah pagi hari sebelum matahari terbit (saat subuh dalam tradisi muslim), tengah hari (saat doa angelus dalam tradisi kristen atau saat dhuhur dalam tradisi muslim), serta sore hari setelah matahari terbenam (saat maghrib dalam tradisi muslim). Waktu-waktu itu akan membantu kita untuk melatih diri dan membiasakan diri menjadi manusia pendoa sehingga, tanpa harus diingat-ingat, diri kita akan memiliki kesadaran praktis (kesadaran yang spontan) untuk melakukan hening dan berdoa pada waktu-waktu itu, seumpama sebuah kebutuhan mendasar yang akhirnya menjadi gaya hidup. Melaluinya, kita akan terbiasa untuk senantiasa berjuang di dalam doa dan membiarkan Roh Kudus berdoa di dalam diri kita dan bersama kita, sehingga kita dapat mencapai kemenangan di dalam Tuhan.

Doa yang mengalir dari batin kita setiap saat, akan menjadi kekuatan untuk memilih cara-cara yang damai dalam mengupayakan kehidupan bersama. Manusia pendoa adalah manusia yang selalu berhasil meraih kedamaian di dalam batinnya dan kedamaian itu mengalir dalam seluruh pikiran, ucapan dan tindakan sehari-hari menyangkut banyak hal dalam kehidupan, tanpa kontradiksi. Seumpama sebuah bejana, manusia akan mencipratkan apapun yang di dalamnya. Jika bejana itu berisi air jernih, maka air jernih itulah yang akan terciprat dari dalamnya. Jika bejana itu berisi air keruh, maka air keruh itu pula yang terciprat dari dalamnya. Maka jika batin manusia itu berisi kedamaian, maka kedamaian itu pulalah yang terciprat dari dalamnya. Kedamaian itu akan mengalir ke dalam pikiran, ucapan maupun tindakan, baik dari sisi cara maupun isinya.  

Karena bukan merupakan pelarian diri ke dalam ketenangan semu, maka doa sekaligus merupakan sebuah pergulatan batin manusia dalam keprihatinan-keprihatinan sosial. Tidak mengherankan jika, ketika melakukan doa angelus di siang hari, Bapa Fransikus mengajak seluruh umat beriman yang hadir untuk berdoa bagi upaya melawan kemiskinan dunia. “Marilah kita menyatukan segala kekuatan moral dan ekonomi untuk berjuang melawan kemiskinan, yang telah merendahkan dan membunuh begitu banyak saudara dan saudari kita, melalui pelaksanaan kebijakan yang serius tentang keluarga dan kaum pekerja”. Karena menurut Bapa Suci, setiap orang memiliki hak atas standard hidup  yang layak bagi kesehatan dan kebaikan dirinya maupun keluarganya. “Marilah kita mempercayakan seluruh intensi doa kepada Perawan Maria, terutama doa-doa tulus dan terus-menerus demi perdamaian”, kata Bapa Fransiskus menutup doanya.


(Indro Suprobo)

Thursday, March 09, 2017

Berteologi Sosial melalui Cerpen dan Narasi

 


Oleh Indro Suprobo

Kumpulan Cerpen dan Narasi Fiksional Historis yang diterbitkan dalam buku kecil dan sederhana ini sebenarnya merupakan media bagi penulis untuk menuangkan percikan-percikan gagasan, sikap, pilihan dan posisi pemikiran teologi sosial penulis sendiri. Percikan pemikiran teologi sosial dalam rupa cerita pendek dan narasi fiksional historis yang terbentang dari tahun 1999 sampai dengan 2017 ini merupakan keprihatinan dan komitmen penulis terhadap nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, dan keadilan. Memang tulisan-tulisan dalam buku kecil ini tidak diurutkan menurut usianya melainkan diurutkan secara acak saja. Jika ditelusur dari usia tulisan, tulisan paling tua adalah Cerita Pendek berjudul "Tuhan Agamamu Apa?" yang dimaksudkan sebagai upaya membongkar ketertutupan dan kemapaman cara beragama sebagian masyarakat, atau cara sebagian masyarakat memikirkan agama, yang cenderung mendaku bahwa kebenaran tunggal hanya ada di dalam keyakinan yang dimilikinya. Sementara, tulisan paling muda adalah narasi fiksional berjudul "Suatu Senja di Cleveland", yakni sebuah narasi fiksional reflektif tentang praksis tradisi pendidikan yang dianalisis dengan menggunakan prinsip-prinsip Appreciative Inquiry.

Yang dimaksud dengan Narasi Fiksional Historis dalam buku kecil ini adalah sebuah kisah ciptaan yang diproduksi dengan memanfaatkan informasi dan data yang real dan historis yang diperoleh dari beragam sumber. Narasi Fiksional Historis merupakan media yang dipilih untuk menyampaikan percikan gagasaan dan pemikiran penulis agar cara penyampaian itu menjadi lebih menarik, melibatkan pengalaman emosional, menghidupkan imajinasi, dan diharapkan menjadi cara yang efektif untuk memfasilitasi pembaca terlibat di dalam pengalaman. 

Penuangan gagasan dan percikan pemikiran teologi sosial dalam bentuk cerita pendek dan narasi fiksional historis ini sangat dilatarbelakangi oleh metode studi teologi yang dijalani oleh penulis sendiri, yakni sebuah metode teologi kontekstual yang berprinsip "berteologi melalui pengalaman nyata". Dalam metode teologi semacam itu, orang yang menjalankan teologi atau orang yang berteologi, harus benar-benar masuk dalam pengalaman, secara nyata "mengalami sendiri" situasi konkret yang dihadapi itu, mencermati seluruh kompleksitas persoalan yang ditemukan, menyusun peta dan analisis sosial, serta menjalankan refleksi teologis, dan akhirnya menyediakan alternatif tesis atau prinsip teologis dari pengalaman nyata itu untuk mendorong pilihan tindakan konkret. Cara berteologi semacam ini merupakan sebuah jalan teologi yang terlibat dan mau tidak mau, berpihak juga. Metode berteologi dari pengalaman pada gilirannya akan melahirkan jalan teologi keterlibatan.

Cerita pendek dan narasi fiksional historis, merupakan media yang menarik untuk dipilih sebagai media berteologi. Cerita dan narasi menyediakan ruang keterlibatan imajinatif yang dapat membantu melahirkan pertanyaan menghadapi situasi konkret, menantang setiap pribadi untuk memberikan jawaban dan sikap yang mandiri dan bertanggung jawab, mendorong setiap orang untuk bergumul secara serius dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai hidup yang mendasar yakni kemanusiaan, perdamaian, keadilan, kejujuran, hormat terhadap seluruh ciptaan, dan menjagai prinsip dan nilai tersebut dalam sebuah konsistensi yang bermartabat. 

Barangkali bolehlah dikatakan bahwa bagi penulis, menulis cerita pendek dan  narasi fiksional historis adalah sebuah cara alternatif untuk berteologi, terutama menjalankan teologi sosial kontekstual. Teologi sosial kontekstual menjadi prioritas pilihan karena merupakan jalan teologi yang dinamis, yang menantang, mengevaluasi dan mendorong teologi yang bersifat dogmatis, untuk selalu merumuskan kembali dirinya dan senantiasa terbuka kepada kehidupan yang jauh lebih luas daripada dogma-dogma itu sendiri. Mengapa demikian? Karena di dalam kehidupan yang dinamis itulah Tuhan bekerja. Maka pantaslah dikatakan bila Tuhan adalah Pekerja. Jika Tuhan adalah Pekerja, maka sepantasnya manusia tidak berdiam diri, melainkan terus bekerja dan berteologi!

Semoga cerita-cerita pendek sederhana dan narasi-narasi fiksional historis yang disajikan dalam buku kecil ini dapat menjadi teman dialog bagi para pembaca dan melahirkan gagasan serta pilihan tindakan produktif di tengah kenyataan kehidupan yang semakin tak memungkinkan untuk bersikap netral. Selamat membaca.


Tuesday, December 27, 2016

Damai Sejak dalam Pikiran:

Merayakan Natal dalam Kemajemukan

oleh Indro Suprobo


Sebuah perikop singkat dan padat yang memberikan landasan inspiratif dan produktif bagi upaya membangun perdamaian dalam keragaman dan perbedaan adalah kisah tentang seorang yang bukan pengikut Yesus mengusir setan (Luk 9:49-50 atau paralelnya Mrk 9:38-40). Perikop singkat itu berbunyi demikian:

Yohanes berkata:”Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi namaMu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya:”Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”

Pernyataan Yesus ini sangat mendasar dan dasyat. Di dalamnya terkandung sebuah cara berpikir positip tentang orang atau kelompok lain. Semua orang yang mendaku sebagai murid-Nya, semestinya berpikir secara positip dan meninggalkan segala bentuk prasangka maupun stigma terhadap orang lain yang berbeda. Secara sangat gamblang, Yesus menegaskan sebuah prinsip dasar dalam membangun relasi dengan kelompok yang berbeda, yakni damailah sejak dalam pikiran!

Damai yang bersemayam sejak dalam pikiran, akan mengalir ke dalam sikap dan tindakan relasional dengan siapapun, juga dengan mereka yang “bukan pengikut kita”. Damai sejak dalam pikiran, menandakan tersedianya ruang luas dan ramah di dalam batin seseorang, ruang yang siap untuk menerima kehadiran orang lain secara terhormat. Ini merupakan kesanggupan untuk menemukan sesuatu yang bernilai, yang terhormat, yang baik, yang suci dan yang membangkitkan syukur di dalam diri orang lain. Inilah prinsip dasar yang dasyat dan inspiratif yang dapat dipelajari dari pernyataan Yesus.

Dalam perjalanan sejarah Gereja, melalui Konsili Vatikan II, prinsip ini secara sangat bagus dirumuskan di dalam pernyataan Nostra Aetate, yakni pernyataan tentang hubungan Gereja dengan Agama-agama bukan Kristen.

....Gereja Katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar Kebenaran, yang menerangi semua orang....” (Nostra Aetate, Artikel 2).

Dalam prinsip dasar yang dasyat itu, pernyataan “mengusir setan demi nama-Mu” pantas dimaknai secara lebih luas dan esensial sebagai pernyataan tentang “beragam tindakan nyata mengupayakan kebaikan, keluhuran, kebenaran dan kesucian yang selaras dengan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Yesus”, meskipun dilakukan oleh mereka yang secara formal-institusional tergolong “bukan pengikut kita”. Pemaknaan ini akan lebih sanggup membantu dan mendorong setiap orang untuk masuk ke dalam inti spiritualitas “memperjuangkan kesucian dan keluhuran manusia serta seluruh ciptaan” yang dilakukan melalui beragam tradisi keagamaan dan kepercayaan.

Dengan demikian, semoga perayaan Natal dapat dimaknai sebagai ungkapan syukur atas anugerah kehadiran Yesus, sang Guru, Junjungan, Teladan, dan Jalan Kehidupan yang telah memberikan landasan inspiratif, tegas dan dasyat tentang prinsip berdamai sejak dalam pikiran. Semoga murid-murid Yesus semakin sanggup menghadirkan damai sejak dari dalam dirinya, dan meluber ke dalam sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan yang serba majemuk. ***

Artikel dimuat dalam Majalah Cor Unum Edisi Desember 2016

Friday, July 01, 2016

Kepemimpinan yang Menemani (Accompanying Leadership)*

Oleh Indro Suprobo




Tulisan kecil ini dimaksudkan sebagai upaya berbagi perspektif atas pengalaman menjadi Sub Pamong Medan Utama Seminari Menengah Mertoyudan. Judul tulisan dirumuskan demikian karena menurut hemat penulis, seluruh proses menjalani masa Orientasi Pastoral sebagai Sub Pamong itu merupakan proses kehadiran sebagai “sahabat” bagi para seminaris dan merupakan proses “saling menemani” dalam menapaki hidup panggilan.

Perjalanan persahabatan dengan para seminaris yang memiliki keunikan kepribadian, merupakan perjalanan yang sangat memperkaya. Persahabatan itu memperkaya ketika masing-masing membuka diri dan saling menerima yang lain sebagai anugerah dalam hidup. 

Ruang yang Ramah

Landasan utama dari Kepemimpinan yang Menemani (Accompanying Leadership) tiada lain kecuali ruang batin yang ramah, yang oleh Henry JM. Nouwen dinyatakan sebagai keheningan yang produktif. Ruang batin yang ramah adalah situasi batin yang memungkinkan orang lain dan Tuhan hadir secara penuh tanpa terhalangi oleh beragam kepentingan diri. Ruang yang ramah hanya dapat diciptakan oleh pribadi yang berani mengatasi rasa takut dan segala kecemasan dalam dirinya sehingga iapun sanggup memberikan ruang yang aman bagi orang lain, bahkan orang asing yang menjadi tamu.

Keramahtamahan Abraham yang menyambut kehadiran tamu (Kej 18:1-15) dan keramahtamahan para murid dalam perjalanan Emaus (Luk 24: 13-35) merupakan inspirasi penting dari kebajikan memberikan ruang yang ramah bagi orang lain. Ruang yang ramah menjadikan orang lain yang hadir itu sungguh-sungguh “menyatakan diri dan menyatakan otentisitas dirinya”. Di sisi lain, ruang yang ramah itu membuat si penyambut tamu itu sendiri mengalami “pernyataan berkat” (Kej 18: 10, 13-14) dan “pengenalan akan kehadiran Tuhan” (Luk 24: 31-32) sehingga mampu menyelami kenyataan “hati yang berkobar”. “Pernyataan berkat” dalam kisah Kejadian 18 itu dapat dipahami sebagai pernyataan kehadiran otentik Allah yang memberikan berkat. Otentisitas Allah yang memberikan berkat itu sungguh-sungguh terungkap karena keramahtamahan yang disediakan oleh Abraham. Demikian juga pengalaman “pengenalan akan kehadiran Tuhan” dalam kisah Emaus merupakan hasil dari otentisitas kehadiran Tuhan dalam diri para murid sehingga mereka sanggup “mengenali-Nya”. Otentisitas kehadiran Tuhan dalam pengalaman Emaus itu dilambangkan dengan semua “indikator” yang telah dikenali oleh para murid dan indikator itu menunjuk kepada pribadi Yesus. Indikator kepribadian Yesus yang paling kuat dalam kisah Emaus ditunjukkan oleh peristiwa memecah roti.

Dalam konteks relasi antarpribadi, pengalaman “pernyataan berkat” dan “pengenalan akan kehadiran Tuhan” itu dapat dipahami sebagai relasi resiproksitas. Dalam ruang yang ramah itu pribadi-pribadi yang hadir “saling menyatakan berkat” dan “saling mengenali kehadiran Tuhan” dalam otentisitas masing-masing. Dengan demikian, hadir secara otentik dalam relasi antarpribadi merupakan sebuah kehadiran yang saling menyatakan berkat dan saling memfasilitasi proses pengenalan akan kehadiran Tuhan.

Kehadiran Apresiatif

Kesanggupan untuk membangun ruang yang ramah bagi orang lain (dan bagi Tuhan sendiri) melalui beragam cara mengelola keheningan batin, pada gilirannya akan melahirkan kesanggupan untuk hadir secara apresiatif bagi orang lain. Hadir secara apresiatif bagi orang lain adalah sikap batin yang menempatkan orang lain sebagai sahabat dan pribadi apa adanya, untuk mendorong otentisitas pribadinya berekspresi secara bebas, sehingga seluruh daya dan kekuatan pribadinya yang tersembunyi dan tersamar semakin tampak, menyatakan diri, dan mewujud di dalam kehidupan sehari-hari.

Kehadiran apresiatif bagi orang lain adalah kehadiran yang tetap mengakui bahwa orang lain itu memiliki kelemahan-kelemahan dan kekurangan, namun kelemahan dan kekurangan itu tidak dijadikan sebagai fokus dalam relasi. Fokus utama dalam relasi kehadiran apresiatif adalah penemuan dan pengakuan terhadap daya-daya dan kekuatan pribadi yang telah terbukti nyata dimiliki dan terekspresi, sambil terus mendorong daya-daya dan kekuatan lain yang tersembunyi dan tersamar, semakin menyatakan diri.

Kehadiran apresiatif juga berfokus kepada upaya mendukung orientasi-orientasi positif orang lain tentang masa depan, serta menemaninya agar orientasi-orientasi positif itu menemukan cara perwujudannya melalui tahap-tahap yang mungkin untuk dijalankan.


Prinsip-prinsip Utama

Kepemimpinan yang menemani adalah kebajikan kepemimpinan yang menyambut orang lain sebagai sahabat dan teman, yang memberikan ruang ramah bagi kehadirannya, dan yang berorientasi kepada penemuan daya-daya dan kekuatan pribadi, serta berupaya mendukung perwujudan orientasi-orientasi positif orang lain. Kepemimpinan yang menenami memiliki 6 (enam) prinsip sebagai berikut:

1. Kebebasan untuk dikenali

Kepemimpinan yang menemani adalah kepemimpinan yang menciptakan suasana kebebasan untuk dikenali. Suasana yang diwarnai kebebasan untuk dikenali memungkinkan setiap pribadi yang terlibat di dalam relasi ini merasa nyaman dan dipanggil untuk menghadirkan keunikan dirinya. Dalam suasana ini setiap pribadi merasa nyaman untuk hadir secara apa adanya, tanpa merasa takut untuk dinilai. Dalam kebebasan ini, setiap pribadi merasa aman dan bergembira untuk dikenali sebagai dirinya yang khas, tanpa merasa takut bahwa orang lain akan mengenali kelemahan dan kekurangannya. Dalam konteks penemanan terhadap para seminaris yang dianggap “bermasalah”, yang pertama-tama dibangun adalah suasana yang membuat seminaris itu tidak merasa dirinya ditempatkan sebagai orang yang bermasalah, melainkan sebagai orang yang diberi ruang untuk dikenali siapa dirinya secara apa adanya.

Kebebasan untuk dikenali ini memungkinkan setiap pribadi untuk menyatakan dirinya secara otentik, ringan, tanpa beban, tanpa cemas dan takut. Tentu saja pantas diakui bahwa barangkali tidak seratus prosen ketakutan atau kekhawatiran itu absen dalam relasi ini. Dapat terjadi masih ada sekian prosen rasa takut atau khawatir, namun secara umum suasana yang terbangun adalah suasan yang jauh lebih positif dan aman, yang mendorong otentisitas pribadi itu lebih mengemuka. Penyediaan ruang kebebasan untuk dikenali ini semakin lama akan semakin mampu meminggirkan halangan-halangan untuk hadir secara otentik.

2. Kebebasan untuk didengarkan

Ruang yang memberikan rasa nyaman untuk dikenali pada gilirannya melahirkan ruang yang nyaman untuk didengarkan. Setiap pribadi merasa bebas untuk didengarkan sebagai pribadi yang unik. Ia akan merasa bebas dan nyaman untuk menghadirkan cara pandang, cara berpikir, pertimbangan, sikap dan pilihan terhadap beragam hal. Ia akan merasa nyaman untuk menghadapi kenyataan bahwa ia barangkali memiliki “sesuatu yang berbeda” dari orang-orang lain dan sanggup menerima bahwa perbedaan itu merupakan sesuatu yang sah dan aman untuk dinyatakan. Demikian juga setiap pribadi akan merasa nyaman untuk menghadapi kenyataan bahwa orang lain memiliki perbedaan yang sah untuk dinyatakan juga.

Terciptanya ruang yang bebas untuk didengarkan ini sekali lagi mendorong hadirnya otentisitas setiap pribadi. Suasana kebebasan ini akan melahirkan kekayaan cara pandang, keragaman pilihan sikap, dan alternatif pertimbangan. Namun hal paling mendasar yang tumbuh dari suasana kebebasan untuk didengarkan adalah keyakinan dan rasa bermartabat sebagai pribadi yang mendapatkan kehormatan dalam relasi. Tumbuhnya keyakinan akan martabat diri sebagai pribadi yang unik inilah yang memungkinkan segala hal yang positip di dalam dirinya terstimulasi untuk bertumbuh, berkembang dan semakin menyatakan diri. Daya-daya positip yang tersamar dan tersembunyi semakin memiliki ruang untuk terekspresikan dan mengalir secara spontan. Semakin besar pertumbuhan daya-daya positip dalam diri pribadi, pada gilirannya akan semakin memperkecil kecenderungan negatif yang ada di dalam diri, dan bahkan menggantikan kecenderungan negatif itu dengan daya-daya yang jauh lebih positip. Dengan demikian, kreativitas, optimisme, inovasi, perubahan, kritik atas diri sendiri, dan kesanggupan untuk memilih hal-hal yang jauh lebih positif menjadi lebih dominan. Dengan kata lain, perubahan-perubahan positif dan transformatif juga memiliki kemungkinan untuk berkembang.

Kisah Emaus memberikan penggambaran yang jelas tentang perubahan positif dan transformatif yang terjadi sebagai akibat dari kebebasan untuk didengarkan. Para murid yang diberi ruang untuk didengarkan dalam seluruh perjalanan, diberi ruang untuk menyatakan segala sesuatu yang mereka ketahui, mereka pikirkan dan mereka rasakan, pada akhirnya mengalami pertumbuhan daya positif di dalam dirinya, yakni daya pengenalan akan kehadiran Tuhan, sehingga mengalami perubahan positif dan transformatif. Daya dan kecenderungan negatif seperti rasa kecewa, putus asa, kehilangan keyakinan dan sebagainya, digantikan oleh pencerahan (satori), pengenalan, hati yang berkobar-kobar, keyakinan dan pilihan untuk segera mewartakan apa yang terjadi.

3. Kebebasan untuk membangun orientasi

Martabat diri dan otentisitas pribadi yang telah mulai dilahirkan melalui kebebasan untuk dikenali dan didengarkan, yang menumbuhkan daya-daya positif, kreatif dan penyembuhan dari dalam, selanjutnya diberi ruang yang ramah untuk mendorong dan membangun orientasi kepada masa depan yang lebih baik, transformatif dan menjadi harapan diri. Keyakinan akan martabat, keunikan dan kekuatan-kekuatan potensial yang ada di dalam diri, dalam suasana yang nyaman dan aman difasilitasi agar digunakan untuk membangun perubahan dan capaian di masa depan, baik capaian dalam jangka jauh maupun dalam jangka yang lebih pendek. Orientasi masa depan itu dapat pula dipraktikkan melalui tahapan-tahapan capaian dalam jangka yang paling terukur baik harian, mingguan, bulanan, maupun tahunan.

Kepemimpinan yang menemani merupakan kebajikan kepemimpinan yang memberi ruang kepada orang lain sebagai sahabat sehingga ia merasa bebas untuk membangun orientasi dirinya sendiri pada masa depan. Upaya menemani ini secara konkret dihadirkan dalam wujud senantiasa membangun ingatan akan apa yang hendak dicapai, memberi semangat untuk mencapainya, memberikan harapan akan kebahagiaan dan suka cita yang akan dialami ketika orientasi dalam jangka tertentu itu dapat dicapai, meneguhkan harapan bahwa akan ada kebahagiaan dan kebanggan dari dalam ketika sebuah perubahan yang digambarkan itu dapat diraih dan terjadi dalam jangka tertentu. Kepemimpinan yang menemani juga memberikan ruang yang ramah bagi sahabat untuk secara tekun dan disiplin melatih diri untuk terus-menerus setia dan berupaya melangkah menuju orientasi tentang masa depan.

Memberikan ruang kebebasan untuk membangun orientasi berarti menyediakan ruang yang ramah bagi setiap pribadi untuk menimbang, merumuskan, menggambarkan, dan mengambil pilihan-pilihan tentang masa depan yang positif yang sesuai dengan harapan dan seluruh kecenderungan daya kreatif dalam dirinya. Yang utama dalam prinsip ini adalah menumbuhkan keyakinan dan kemantaban bahwa orientasi dan pilihan-pilihan perubahan positif di masa depan itu merupakan sesuatu yang mungkin dan dapat dicapai dan diwujudkan.

Dalam beberapa kasus, para seminaris yang dikategorikan “membutuhkan penemanan khusus”, seringkali membutuhkan penemanan lebih intens dalam hal ini. Mereka yang menunjukkan perilaku “nakal” dalam beragam bentuknya, seringkali menyadari diri bahwa mereka merasa tidak bebas untuk menentukan orientasi hidupnya di masa depan. Dapat pula terjadi bahwa mereka merasa orientasi yang ingin dibangunnya dianggap sebagai orientasi yang tidak pada tempatnya, keliru, tidak pantas, tidak layak dan sebagainya. Dalam beberapa kasus, ada pula yang sebenarnya mengalami disorientasi atau tak mampu merumuskan gambaran orientasi dirinya tentang masa depan yang hendak dibangun.

Ketika mereka merasakan kebebasan untuk membangun orientasi, atau ketika merasakan bahwa orientasi positif masa depan yang hendak dibangunnya itu merupakan orientasi yang sah, pantas, layak dan bermartabat, pada umumnya mereka akan mengalami perubahan-perubahan perilaku dalam hidup sehari-hari. Rasa berharga dan bermartabat untuk dapat membangun orientasi positif masa depan, melahirkan daya-daya positif untuk menghadirkan perilaku-perilaku yang lebih positif pula dalam kehidupan harian.

4. Kebebasan memilih cara berkontribusi

Setiap pribadi itu unik dan memiliki daya-daya positif yang berbeda. Oleh karenanya setiap pribadi memiliki kesanggupan yang berbeda-beda untuk dapat berkontribusi dalam kehidupan bersama dengan orang lain. Kebebasan untuk memilih cara berkontribusi ini memberi ruang yang ramah bagi setiap pribadi untuk memberikan kontribusi dalam hidup bersama secara lebih berkualitas. Kebebasan, kegembiraan, rasa berharga, perasaan berguna dan bermanfaat, perasaan bermakna karena dapat memberikan kontribusi kepada hidup bersama, pada gilirannya justru melahirkan dorongan yang lebih kuat untuk meningkatkan kualitas kebermanfaatan diri atau kontribusi diri bagi hidup bersama.

Apresiasi terhadap cara berkontribusi yang dipilih akan semakin memberikan daya dorong yang melahirkan kreativitas dan kualitas kontribusi. Energi positif yang ditimbulkannya akan terus mengalir bagai spiral yang terus-menerus melahirkan daya dorong baru untuk semakin meningkatkan kualitas kontribusi. Dalam suasana kebebasan semacam ini, pribadi-pribadi akan bertumbuh secara sehat dan produktif.

Pantas dipahami bahwa kebebasan untuk memilih cara berkontribusi ini dilatarbelakangi oleh cara berpikir yang berorientasi kepada hasil. Yang menjadi utama adalah hasil atau perubahan positif yang hendak dicapai oleh sebuah komunitas hidup bersama. Perubahan positif atau hasil yang hendak dicapai itu menjadi orientasi utama dan komitmen utama masing-masing anggota komunitas. Karena orientasi utamanya adalah pencapaian perubahan positif atau hasil yang diharapkan, maka soal bagaimana cara memberikan kontribusi agar perubahan positif atau hasil yang diharapkan itu dapat dicapai merupakan hal yang tidak diseragamkan, melainkan disesuaikan dengan kesanggupan masing-masing pribadi untuk dapat berkontribusi secara berkualitas demi pencapaian hasil tersebut.

Kebebasan untuk berkontribusi memang akan sangat mempengaruhi kualitas kontribusi, yang pada umumnya justru melahirkan kualitas maksimal dalam kontribusi sehingga melahirkan kemungkinan yang jauh lebih besar untuk dapat mencapai hasil atau perubahan positif yang dicita-citakan dalam hidup bersama. Ini semua karena setiap pribadi merasa bergembira, bahagia, bermanfaat, bermakna, dan bermartabat untuk dapat memberikan kontribusi sesuai dengan kesanggupan dan caranya masing-masing. Sekali lagi, kebebasan untuk memilih cara berkontribusi memiliki kecenderungan yang besar untuk menghasilkan kualitas kontribusi yang jauh lebih baik. Pada gilirannya, setiap pribadi yang merasa bahagia dan bermakna karena dapat berkontribusi bagi hidup bersama, akan mengalami pertumbuhan pribadi dan kapasitas yang semakin besar serta semakin menciptakan produktivitas dan kreativitas.

Hal lain yang lahir dari kebebasan untuk memilih cara berkontribusi adalah munculnya semangat untuk belajar. Kebebasan untuk memilih cara berkontribusi mendorong setiap pribadi untuk belajar tentang bagaimana ia dapat memberikan kontribusi secara lebih berkualitas dan lebih baik demi perubahan positif yang dapat dicapai oleh hidup bersama. Semangat untuk belajar ini juga akan berimplikasi kepada semakin besarnya kapasitas untuk memberikan kontribusi. Dengan demikian pertumbuhan kapasitas pribadi akan semakin segar dan positif.

5. Kebebasan untuk bertindak dalam dukungan

Karena merasakan kebebasan untuk dikenal, didengarkan, untuk membangun orientasi, dan untuk memilih cara berkontribusi, setiap pribadi akan merasakan kebebasan untuk bertindak di dalam dukungan lingkungannya. Setiap pribadi merasakan bahwa pilihan-pilihan tindakannya mendapatkan ruang yang ramah dan mendapatkan dukungan. Ini berarti pribadi ini akan menemukan keyakinan diri untuk mengambil pilihan tindakan yang positif baik bagi dirinya sendiri maupun bagi komunitas.

Kebebasan untuk bertindak di dalam dukungan akan melahirkan tindakan-tindakan yang semakin produktif dan kreatif. Selain itu, ia akan merasakan bahwa ia tidak sendirian melainkan bertindak dalam kerangka sebuah tim atau komunitas dan demi perubahan-perubahan positif dalam hidup bersama. Kebebasan untuk bertindak dalam dukungan ini juga akan melahirkan tindakan-tindakan yang cenderung semakin berkualitas karena diorientasikan kepada perubahan positif di masa depan yang dibangunnya, dan dihayati sebagai sebuah cara berkontribusi yang positif, serta menumbuhkan perasaan gembira dan bermakna karena memiliki manfaat bagi kehidupan bersama.

Setiap pribadi akan merasakan bahwa orang-orang lain peduli dan memiliki perhatian terhadap tindakan-tindakan yang ia pilih dan memiliki keinginan untuk saling bekerja sama. Masing-masing pribadi merasakan nyaman dan aman serta mendapatkan dukungan untuk melakukan percobaan, inovasi, tindakan kreatif, dan terus-menerus belajar meningkatkan kualitas tindakan. Dengan demikian, dalam suasana kebebasan untuk bertindak dalam dukungan, setiap pribadi merasakan adaya sistem keseluruhan yang merangsang setiap pribadi untuk menghadapi tantangan dan berani mengambil resiko, serta mendorong setiap pribadi untuk bertindak dalam kerjasama demi mencapai perubahan paling positif bagi hidup mereka bersama.

6. Kebebasan untuk bersikap positif

Pada akhirnya, seluruh ruang yang ramah dan menyediakan kebebasan itu, akan melahirkan kebebasan untuk bersikap positif dan merasa bergembira dalam setiap pilihan dan tindakan. Masing-masing pribadi akan merasakan bergembira melakukan segala sesuatu baik secara pribadi maupun secara bersama-sama. Kegembiraan yang tumbuh di dalam diri akan mendorong lebih banyak hal positif lain yang tersembunyi dan tersamar. Ia akan menjadi pribadi-pribadi yang bergembira, bersuka-cita serta bersemangat untuk melakukan banyak hal: untuk terus-menerus belajar, untuk terus-menerus memberikan kontribusi, untuk terus-menerus memberikan manfaat bagi orang lain dan komunitas, untuk terus-menerus mencari pembaharuan dan inovasi, untuk terus-menerus meningkatkan kapasitas diri, untuk terus-menerus berani menghadapi tantangan baru, serta terus-menerus semakin berani belajar mengambil resiko demi sebesar-besar perubahan positif, yakni perubahan positif yang menjadi orientasi pribadi maupun yang menjadi orientasi hidup bersama dalam komunitas.

Pengalaman para murid yang telah berkobar-kobar hatinya setelah mengenali kehadiran Tuhan melalui seluruh proses dialog, persahabatan, pertemenan dan terutama melalui peristiwa pemecahan roti, melambangkan sikap positif dan kegembiraan yang tumbuh, yang mengakibatkan mereka berani untuk segera bergegas mengabarkan semua ini kepada yang lain, menghadapi tantangan baru dan mengambil resiko.


Menjadi Murid Tuhan dalam Beragam Pilihan

Seluruh proses kepemimpinan yang menemani ini pada akhirnya berujung kepada orientasi jangka panjang bahwa apapun pilihan yang akan diambil pada periode selanjutnya (menjadi imam maupun menjadi awam), masing-masing pribadi adalah orang-orang yang dipanggil untuk senantiasa menjadi murid-murid Tuhan (discipulorum Domini) yang begembira untuk selalu menghadirkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip hidup sebagaimana telah diajarkan dan diteladankan oleh Yesus sendiri: mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri, menghadirkan keadilan terutama bagi mereka yang ditindas dan tersingkir, menghadirkan kedamaian bagi semua, membangun kesetaraan antarmanusia dalam seluruh perbedaan dalam keyakinan akan kesatuan Bapa, dan senantiasa berani secara rendah hati memasuki hening-sunyi Getsemani dalam diri untuk membiarkan diri berada dalam tuntunan Allah. Pantas diakui bahwa hari-hari ini, seluruh tantangan yang dihadapi tidaklah mudah. ***


* Artikel kecil ini merupakan refleksi atas pengalaman sebagai Sub Pamong Medan Utama Seminari Menengah Mertoyudan periode 1996-1997 

Sub Pamong adalah staf pendidik di Seminari yang bertanggung jawab untuk menemani proses edukasi para calon imam/pastor.

Medan Utama Seminari Menengah Mertoyudan adalah jenjang pendidikan tahap akhir di Seminari Mertoyudan (tahun ke-empat bagi mereka yang masuk sejak lulus SMP dan kelas persiapan atas bagi mereka yang masuk seminari setelah lulus SMA).



Suatu Senja di Cleveland

Oleh Indro Suprobo


Bagi orang kampung yang sehari-harinya terbiasa berkain sarung seperti saya, mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke kota Cleveland di Negara bagian Ohio, Amerika Serikat, merupakan pengalaman yang langka. Ini terjadi karena sahabat saya, seorang Kyai muda pengasuh sebuah Pondok Pesantren mahasiswa di Surakarta mendapatkan dua undangan gratis untuk menghadiri workshop di sana. Satu undangan gratis itu ditawarkan kepada saya karena kebetulan tema workshop itu, Appreciative Inquiry, pernah menjadi bahan diskusi panjang kami berdua.
Workshop itu diselenggarakan oleh Weatherhead School of Management, Case Western Reserve University, sebuah universitas swasta yang memiliki keunggulan di bidang manajemen pengembangan organisasi. Kebetulan yang menjadi fasilitator utamanya adalah Profesor David L. Cooperrider, sang penemu dan pemikir kreatif metode pengembangan organisasi berbasis pikiran positif dan keunggulan nyata, sekaligus penulis buku Appreciative Inquiry: A Positive Revolution in Change.
“Appreciative Inquiry adalah sebuah pendekatan konstruksionis untuk merancang dan mengelola perubahan di masa depan berdasarkan kekuatan positif dan pengalaman terbaik di masa lalu yang telah dicapai oleh individu maupun kelompok,” kata Profesor Cooperrider dalam sessi workshop dengan penuh keyakinan dan persuasi.
“Dalam pendekatan ini, setiap individu mendapatkan ruang luas untuk mengeksplorasi pengalaman terbaiknya pada masa lalu dan menemukan kekuatan positif yang mempengaruhinya. Berdasarkan pengalaman terbaik dan kekuatan positif itu, individu diberi kesempatan untuk membangun mimpi dan imajinasi yang positf di masa depan serta merancang segala kemungkinan terbaik masa depan yang dapat dicapai dalam kehidupannya. Itulah perubahan positif yang mungkin dan dapat dikerjakan sejak sekarang,” lanjut Cooperrider. “Oleh karena itu, dalam pendekatan ini, penggunaan pertanyaan-pertanyaan yang positif untuk menuntun proses identifikasi pengalaman terbaik dan kekuatan positif masa lalu, menjadi sangat vital dan penting,” paparnya.
Dengan keingintahuan yang besar, sahabat saya yang Kyai Pondok Pesantren itu memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan,”Profesor, mengapa pertanyaan positif menjadi sangat vital dan penting? Apakah dengan demikian metode ini tidak mengakui kekurangan dan defisit dalam pengalaman masa lalu?”
“Pertanyaan Anda bagus sekali pak Kyai,” jawab sang Profesor apresiatif.
“Metode ini menghargai pertanyaan positif sebagai hal sangat penting karena meyakini prinsip simultansi dalam psikologi tentang perilaku. Pertanyaan positif yang diajukan sejak awal identifikasi tentang pengalaman terbaik dan kekuatan positif yang dialami seseorang, akan mengarahkan seluruh energi positif di dalam dirinya untuk berorientasi kepada perilaku yang positif di masa depan. Dengan demikian, sejak pertanyaan positif itu diajukan, ia sudah mengarahkan perubahan positif di masa depan. Itulah prinsip simultansi,” kata sang Profesor memberikan penjelasan.
“Dalam metode ini, pengalaman negatif tidak diabaikan. Pengalaman negatif dan kekurangan tetap diakui ada dalam kenyataan, namun hal itu tidak dijadikan sebagai fokus dalam metode ini, karena dari banyak pengalaman, identifikasi pengalaman negatif dan kekurangan cenderung melahirkan keputusasaan dan depresi serta menurunkan tingkat kreativitas. Sebaliknya, pertanyaan positif dan pengakuan atas pengalaman terbaik cenderung membangkitkan antusiasme dan kreativitas, serta keberanian untuk menciptakan kemungkinan di masa depan,” lanjut Profesor penuh keyakinan.
Workshop yang berlangsung tiga hari itu terasa sangat menyegarkan dan membangkitkan semangat para pesertanya. Tanya jawab, dialog dan proses berbagi pengalaman positif antar pribadi terasa memberikan nutrisi bagi setiap orang yang merasakan aura positif dan apresiatif dalam forum itu. Ruangan yang nyaman di kompleks Universitas itu juga membuat semua orang merasa betah.
Sore itu, setelah selesai workshop hari kedua, sambil berkain sarung dan berkaos oblong, saya berkesempatan menikmati obrolan pribadi bersama Profesor Cooperrider di bangku taman di halaman belakang penginapan. Penginapan kami terletak di dekat kampus universitas di pinggiran kota Cleveland. Tak jauh dari penginapan kami, ada Severance Hall, sebuah gedung orkestra yang terkemuka di Cleveland. Taman di belakang penginapan kami cukup luas dengan beraneka ragam tanaman dan hamparan rumput, serta jalan setapak. Ada kolam kecil dengan air mancur.
“Profesor, saya membaca bahwa selama dua puluh tahun belakangan ini, banyak lembaga, organisasi dan komunitas telah memberikan kesaksian bahwa mereka mengalami perubahan positif yang luar biasa setelah menerapkan metode Appreciative Inquiry ini,” celetuk saya memulai pembicaraan.
“Ya, Anda benar sekali. Hal itu telah mendorong kolega saya, Diana Whitney dan Amanda Trosten-Bloom melakukan penyelidikan tentang apa yang membuat pendekatan ini berhasil di berbagai tempat. Mereka menemukan enam faktor kunci yang mereka sebut sebagai enam kebebasan, yakni kebebasan untuk dikenali dan diakui di dalam relasi antar pribadi, kebebasan untuk didengarkan, kebebasan untuk membangun mimpi di dalam komunitas, kebebasan untuk memilih cara berkontribusi, kebebasan untuk bertindak dalam dukungan, dan kebebasan untuk bersikap positif ” jawab pak Profesor penuh keceriaan.
“Ya benar. Saya telah membaca hasil penelitian itu. Tetapi yang menarik bagi saya adalah bahwa sebelum Anda mencetuskan pendekatan Appreciative Inquiry ini pada tahun 1980an, saya dan semua siswa yang lain telah mengalami praksis enam kebebasan itu di sekolah kami, Seminari Menengah Mertoyudan. Praksis itu saya pikir sudah dimulai sejak lama sekali dan sudah mendarah daging dalam seluruh metode pendidikan Seminari Mertoyudan bahkan sudah melewati usia 100 tahun,” jawab saya penuh percaya diri.
“Oh ya? Wah menarik sekali sekolah Anda itu? Apakah anda bisa menceritakannya kepada saya?” kata pak Profesor penasaran. Wajahnya tampak cerah dan matanya berbinar ketika mendengar pernyataan saya.
“Ya, enam kebebasan yang dirumuskan oleh Diana Whitney itu telah benar-benar kami alami selama menjalani pendidikan di Seminari Mertoyudan,” dengan penuh semangat saya menjelaskan.
“Wah saya tertarik untuk mendengarkan bagaimana hal-hal itu secara konkret Anda alami. Bagaimana sekolah Anda memfasilitasi keenam kebebasan positif itu?” lanjut Profesor semakin penasaran.
“Berkaitan dengan kebebasan untuk dikenali, sekolah kami memfasilitasi beberapa model membangun relasi antar pribadi, antara lain dengan membentuk kelompok basis dan mekanisme menuliskan sumbangan rohani untuk teman-teman terdekat. Kelompok basis menjadi ruang bagi setiap individu untuk saling mengenali secara mendalam, untuk berbagi pengalaman personal bahkan untuk saling berkonsultasi dalam sikap saling percaya. Menulis sumbangan rohani menjadi cara untuk saling memberikan apresiasi, menunjukkan kekuatan dan kelebihan, serta memberikan rekomendasi tentang perubahan yang mungkin dilakukan di masa depan oleh masing-masing pribadi. Ada pula catatan tentang hal-hal yang sebaiknya diperhatikan secara serius oleh pribadi-pribadi. Semua itu disampaikan dalam sikap hormat dan doa agar apa yang dituliskan itu benar-benar menjadi rahmat bagi orang lain. Semua ini memberikan kebebasan kepada individu untuk dikenali sebagai pribadi yang menjadi dirinya sendiri. Setiap orang diberi kebebasan untuk menenun identitas dan keunikannya,” jelas saya.
“Wah, Anda sangat beruntung mendapatkan pengalaman semacam itu,” kata Profesor.
“Kelompok basis itu juga menyediakan kebebasan untuk didengarkan. Selain itu, para guru yang menemani proses belajar di dalam kelas juga menyediakan ruang bagi kami untuk didengarkan. Apalagi dalam proses belajar sastra. Setiap siswa diberi kesempatan untuk membaca satu buah karya sastra yang bermutu lalu diberi kesempatan untuk menyampaikan seluruh gagasan, komentar maupun analisis pribadinya tentang karya yang telah dibacanya. Semua siswa yang lain juga diberi ruang luas untuk mengajukan tanggapan dan pandangan tentang karya itu maupun tentang pandangan teman lain. Proses belajar semacam itu sungguh-sungguh membuat kami merasa berarti karena diberi ruang untuk didengarkan. Setiap orang belajar untuk mendengarkan secara jujur dan berempati,” lanjut saya.
“Saya perlu mengatakan secara jujur bahwa proses belajar semacam itu sangat apresiatif dan memberikan dampak positif yang luar biasa. Merasa berharga karena didengarkan itu sangat luar biasa. Para guru yang menemani proses itu pasti sangat profesional dan benar-benar memenuhi kriteria sebagai pendidik,” kata Profesor menanggapi.
“Benar sekali Profesor. Sampai saat ini kami merasakan bahwa para guru itu adalah sahabat-sahabat kami. Dengan penuh komitmen, mereka telah menemani dalam proses belajar. Mereka benar-benar menjadi teman dan sahabat untuk belajar. Kami juga mendapatkan kebebasan untuk membangun mimpi dan memilih cara berkontribusi dengan diberi banyak pilihan untuk mengembangkan keterampilan. Ada kesempatan untuk belajar menulis, mempelajari beragam alat musik, mempelajari keterampilan pertukangan, mempelajari seni dekorasi dan podium, ada sidang akademi di mana setiap orang diberi kesempatan belajar mempresentasikan karya ilmiah atau keterampilan debat, serta kesempatan belajar bertanggung jawab dalam tugas-tugas tertentu. Kesempatan ini membuat kami merasa diberi kebebasan untuk membangun mimpi, yakni mau menjadi pribadi seperti apa pada masa depan dan bagaimana berkontribusi bagi orang lain sesuai dengan keunikan dan kemampun terbaik yang kami miliki.”
“Dari pengamatan dan pengalaman Anda, apakah salah satu dari kesempatan belajar itu benar-benar memberikan daya hidup bagi Anda dan teman-teman Anda pada masa kemudian?” tanya Profesor menyelidik.
“Ya, masing-masing memetik buah yang memberdayakan hidup pribadi di masa depan. Ada yang membangun mimpi menjadi pribadi yang menikmati dunia tulis-menulis dan berkontribusi melalui tulisan. Ada yang menghidupkan mimpi dan berkontribusi dalam hidup melalui dunia musik. Ada pula yang membangun ketekunan dalam keterampilan-keterampilan tertentu. Kebebasan untuk memilih cara berkontribusi itu ternyata membangkitkan daya yang malahirkan komitmen dan kemauan untuk belajar, kreativitas, serta ketekunan. Ini melahirkan pribadi-pribadi yang positif dan produktif. Banyak dari antar kami, yang karena terdorong untuk berkomitmen dan terus-menerus belajar, akhirnya benar-benar memiliki keunggulan dan kualitas yang teruji dalam pilihan mereka, sehingga semakin dipercaya untuk mengemban tanggung jawab yang semakin besar di komunitas, di universitas, di tempat kerja, di lingkungan tempat tinggal dan sebagainya,” jawab saya mantab.
“Wah bagus sekali. Sungguh, itu pengalaman bagus. Begitulah prinsip-prinsip Appreciative Inquiry mempengaruhi pertumbuhan pribadi seseorang dan komunitas,” kata Profesor Cooperrider sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Kami terdiam sejenak. Lampu-lampu taman sudah mulai menyala di sana-sini. Suasana semakin terasa hening. Ada daun kering jatuh di atas kain sarung saya. Warnanya kekuningan dan berlobang kecil-kecil. Mungkin bekas dimakan ulat.
“Bagaimana kebebasan untuk bertindak dalam dukungan dan untuk bersikap positif diberi ruang oleh lingkungan sekolah Anda?” tanya Profesor melanjutkan obrolan.
“Ada banyak media sebenarnya. Beberapa yang saya ingat adalah kegiatan-kegiatan khusus yang diselengarakan secara rutin sebagai media mewujudkan ekspresi dan kreativitas pribadi. Misalnya beragam perlombaan dalam Malam Kreativitas. Ada lomba untuk menulis drama, menulis cerpen, membaca puisi, bermain teater, menulis artikel sastra dan sebagainya. Semua itu memberi ruang bagi individu untuk mengeksplorasikan kreativitas dan belajar berkarya dalam dukungan seluruh sistem. Ini benar-benar memberikan ruang kebebasan untuk bertindak dalam dukungan. Individu sungguh-sungguh diberi ruang belajar untuk melakukan tindakan produktif dan mendapatkan apresiasi. Namun demikian ada pula model yang bersifat spiritual yang disebut Bimbingan Rohani. Setiap individu diberi ruang belajar untuk menimbang dan mengambil pilihan atas situasi dan pengalaman hidupnya,” jawab saya.
“Dari pengalaman bertemu dengan banyak orang yang mampu menggali pengalaman terbaik masa lalu dan masa kini, saya menemukan bahwa orang-orang semacam ini cenderung memiliki kapasitas untuk menularkan hal positif kepada orang lain, menumbuhkan semangat, antusiasme, rasa gembira dan kreativitas. Bahkan ketika menghadapi masa sulit dan kesulitan, mereka cenderung memiliki ketenangan untuk tetap memilih yang positif bagi dirinya,” jelas pak Profesor.
“Nah, ada satu hal lagi yang tidak disebut oleh Diana Whitney namun difasilitasi oleh Seminari Mertoyudan, dan itu menjadi wadah serta landasan kokoh bagi semua kebebasan yang disebutkan itu,” tegas saya.
“Wah, apalagi itu?” tanya pak Profesor penasaran.
“Yang satu ini tertanan dan terinternalisasi sangat mendalam dalam hidup kami dan tak mudah hilang, yaitu kebiasaan untuk menjaga “silentium”. Ini merupakan praktik membangun keheningan batin setiap saat agar di dalam batin individu senantiasa tersedia ruang luas bagi kehadiran Yang Mahapositif dan Yang Mahaapresiatif. Ini semacam latihan sederhana namun berdaya bagi individu untuk senantiasa hening, membangun koneksi dengan Yang Mahapositif dan Mahaapresiatif itu. Secara sederhana, ini boleh disebut sebagai proses untuk selalu melakukan Inquiry, penelusuran atas kehadiran Yang Mahapositif dan Mahaapresiatif dalam setiap pengalaman hidup. Inilah pengalaman paling positif yang kami alami selama menjalani pendidikan di Seminari Mertoyudan. Keheningan yang dibangun setiap saat itu, mendorong energi spiritual yang positif dan mendasar, yakni energi syukur atas segala anugerah. Semakin mampu bersyukur, semakin besar pula energi positif untuk kreatif, produktif, dan membaca kemungkinan terbaik dalam segala situasi hidup. Itu semua membuat individu terus-menerus bertumbuh,” jawab saya penuh keyakinan.
“Wah, saya pikir itu kebiasaan yang sangat dibutuhkan. Semua pikiran positif dan energi positif yang menuntun perilaku individu sangat membutuhkan landasan keheningan. Hanya dalam keheningan, individu sanggup mengeksplorasi pengalaman positif yang paling dalam dan memilih tindakan-tindakan positif yang membawa kemungkinan besar bagi perubahan dan pertumbuhan,” kata Profesor.
“Wah terima kasih profesor, saya sangat beruntung Anda sudah berkenan ngobrol. Semoga suatu saat Profesor berkesempatan mengunjungi sekolah saya dan bertemu langsung dengan suasana aselinya. Pasti akan sangat menarik,” jawab saya.
“Iya, semoga saya berkesempatan untuk mengunjunginya dan berbagi pengalaman dengan semua yang terlibat di dalamnya. Itu pasti akan memberikan energi positif juga bagi saya,” kata Profesor.
Kami lalu saling berpamitan dan kembali ke kamar masing-masing untuk melanjutkan aktivitas. Setelah menulis sebentar di kamar, saya langsung berangkat tidur supaya esok hari tetap segar mengikuti workshop hari terakhir.
Esok hari ketika bangun, saya terkejut. Di luar jendela terdengar keramaian orang berkelakar dalam bahasa Jawa. Aneh, sejak kemarin tak satupun orang Jawa saya temui di sekitar penginapan, kecuali pak Kyai sahabat saya. Ketika membuka jendela, saya baru sadar. Saya melihat simbok-simbok petani sedang bergerombol menanam padi di persawahan samping rumah. Oh, ternyata saya bangun pagi di rumah sendiri. Ah, benar-benar tidur yang nyenyak dan mimpi yang produktif.***


Tulisan ini merupakan refleksi atas pendidikan Seminari Menengah Mertoyudan, dalam rangka Reuni Lintas Angkatan pada bulan Juni 2016. Terima kasih untuk para Pendidik.

Tuesday, May 26, 2015

Paus: bagaimana Gereja akan berubah



Dialog antara Paus Fransiskus dan pendiri La Repubblica, Eugenio Scalfari: “Dimulai dari Konsili Vatikan Kedua, terbuka kepada kebudayaan moderen”. Ini merupakan sebuah percakapan di Vatikan setelah Paus mengirim surat kepada harian Repubblika berjudul: “Membuat Anda bertobat (menjadi Katolik)? Memaksa orang berpindah agama (kristenisasi, islamisasi dsb, -red) adalah sebuah omong kosong saja. Anda harus bertemu dengan orang lain dan mendengarkan mereka.”  


Paus Fransiskus mengatakan kepada saya: “Kejahatan paling serius yang melanda dunia akhir-akhir ini adalah pengangguran kaum muda dan kesepian para lansia. Para lansia membutuhkan perhatian dan persahabatan; kaum muda membutuhkan pekerjaan dan harapan namun keduanya tak didapatkan, dan persoalannya adalah bahwa mereka bahkan tak mencarinya lagi. Mereka telah hancur oleh kekinian (atau mereka telah hancur sekarang?). Anda mengatakan kepada saya: dapatkah Anda menanggung kehancuran di dalam beratnya beban masa kini? Tanpa kenangan akan masa lalu dan tanpa hasrat untuk memandang masa depan dengan membangun sesuatu, sebuah masa depan, sebuah keluarga? bisakah Anda hidup dengan cara demikian? Bagi saya, ini merupakan masalah yang paling penting yang sedang dihadapi oleh Gereja.”

Bapa Suci, saya katakan, itu merupakan persoalan politik dan ekonomi bagi banyak negara, pemerintah, partai politik, dan persatuan dagang.
“Ya, Anda benar, namun itu juga merupakan keprihatinan Gereja, sesungguhnya, secara khusus menjadi keprihatinan Gereja karena situasi ini tidak hanya melukai tubuh tetapi juga melukai jiwa. Gereja harus merasa bertanggung jawab atas jiwa maupun badan.”

Bapa Suci, Anda mengatakan bahwa Gereja harus merasa bertanggung jawab. Bolehkah saya simpulkan bahwa Gereja tidak menyadari persoalan ini dan bahwa Anda akan membawa Gereja ke arah ini?
“Untuk sebagian besar, kesadaran itu ada, namun belum cukup. Saya ingin agar kesadaran itu lebih besar. Ini memang bukan satu-satunya masalah yang kita hadapi, namun ini merupakan masalah yang paling mendesak dan dramatis.”

Perjumpaan dengan Paus Fransiskus itu terjadi pada hari Selasa yang lalu di kediaman beliau di Santa Marta, di sebuah ruangan sederhana dengan sebuah meja dan lima atau enam kursi serta sebuah lukisan yang terpasang di dinding. Hal itu diawali oleh sebuah panggilan telepon yang tak pernah akan terlupakan sepanjang hidup saya.

Saat itu jam setengah tiga sore. Telepon saya berdering dan dengan nada suara yang bergetar sekretaris saya memberitahu saya: “Paus menelepon, saya akan menyambungkannya segera.”

Saya masih tertegun ketika mendengar suara Bapa Suci di ujung telepon yang mengatakan,”Hallo, ini Paus Fransiskus.” “Hallo Bapa Suci”, jawab saya lalu, “Saya kaget saya tidak mengira Anda menelepon saya.” “Mengapa Anda kaget? Anda menulis surat untuk saya dan menanyakan untuk bertemu langsung secara pribadi. Saya punya keinginan yang sama, jadi saya menelpon untuk memastikan pertemuan itu. Sebentar saya lihat agenda saya: Saya tidak bisa betemu pada hari Rabu, atau Senin, apakah Anda bisa pada hari Selasa?”

Saya jawab, saya bisa.

“Waktunya sedikit tanggung, jam tiga sore, apakah oke? Kalau tidak bisa, kita cari hari lain.” “Bapa Suci, baiklah tentang waktu, saya setuju.” “Jadi kita sepakat ya: hari Selasa, tanggal 24, jam 3 sore. Di Santa Marta. Anda harus melalui pintu di Santo Uffizio.”

Saya tidak tahu bagaimana harus mengakhiri telepon ini dan membiarkan diri saya pergi, sambil mengatakan: “Bolehkah saya memeluk Anda melalui telepon ini?” “Tentu saja, pelukan hangat dari saya juga. lalu kita akan melakukannya secara pribadi nanti, sampai jumpa.”

Akhirnya saya di sini. Bapa Suci datang dan menjabat tangan saya, lalu kami duduk bersama. Bapa Suci tersenyum dan berkata: “Beberapa teman saya yang mengenal Anda mengatakan kepada saya bahwa Anda akan berusaha untuk membuat saya bertobat.”

Ini hanya lelucon, saya berkata kepada Bapa Suci. Teman-teman saya mengira bahwa Bapa Sucilah yang akan mempertobatkan saya.
Bapa Suci tersenyum lagi dan menjawab: “Memaksa orang berpindah agama adalah sungguh-sungguh sebuah omong kosong., itu tidak masuk akal. Kita butuh untuk saling mengenal, saling mendengarkan dan meningkatkan pemahaman kita terhadap dunia di sekitar kita. Kadang-kadang setelah terjadi sebuah pertemuan, saya ingin bertemu sekali lagi karena sebuah gagasan baru telah muncul dan saya menemukan kebutuhan yang baru. Ini penting: mengenal orang lain, mendengarkan, memperluas lingkaran gagasan. Dunia ini dipenuhi oleh persilangan jalan yang saling mendekat maupun saling menjauh, namun hal yang penting adalah bahwa semua jalan itu mengarah kepada Kebaikan.”

Bapa Suci, adakah visi tunggal tentang Kebaikan? Dan siapakah yang memutuskan hal itu?
“Masing-masing dari kita memiliki sebuah cara padang tentang yang baik dan yang jahat. Kita harus mendorong semua orang untuk maju menuju apa yang mereka pandang sebagai Yang Baik.”

Bapa Suci, Anda telah menulisnya dalam surat kepada saya. Hati nurani itu otonom, kata Anda, dan setiap orang harus mengikuti hati nuraninya. Saya pikir ini merupakan langkah paling berani yang dilakukan oleh seorang Paus.
“Dan saya mengulanginya lagi sekarang. Setiap orang memiliki gagasan sendiri tentang yang baik dan yang jahat dan harus memilih untuk mengikuti yang baik dan melawan yang jahat sebagaimana ia mengerti. Itu sudah cukup untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.”

Apakah Gereja melakukannya?
“Ya, itu tujuan dari perutusan kami: untuk mengetahui kebutuhan material dan immaterial manusia dan berusaha untuk memenuhinya semampu kami. Apakah Anda tahu apa itu agape?”

Ya saya mengerti
“Yakni mencintai yang lain, seperti diajarkan oleh Tuhan kita. Bukan memaksa orang berpindah agama, melainkan mencintai. Mencintai sesama, itulah adonan (dari aneka macam cara pandang) yang menjadi kebaikan bersama.

Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.
"Tepat, begitu."

Yesus dalam kotbahnya mengatakan bahwa agape, mencintai yang lain, merupakan satu-satunya jalan untuk mencintai Allah. Maaf jika saya keliru.
“Anda tidak keliru. Anak Allah berinkarnasi untuk menumbuhkan rasa persaudaraan di dalam jiwa manusia. Semuanya adalah saudara dan semuanya adalah anak Allah. Abba, begitu ia menyebut Bapa. Aku akan menunjukkan kepadamu jalan, kata Yesus. Ikutilah Aku dan kamu akan menemukan Bapa itu dan kamu semua akan menjadi anak-anakNya dan Ia akan memberikan kegembiraan kepadamu. Agape, saling mencintai di antara kita, dari yang paling dekat sampai yang paling jauh, sebenarnya merupakan satu-satunya cara/jalan yang diberikan Yesus kepada kita untuk menemukan jalan keselamatan dan jalan Kebahagiaan.”

Namun, seperti kita katakan, Yesus mengatakan kepada kita bahwa mencintai sesama itu sama dengan apa yang harus kita lakukan bagi diri kita sendiri. Kalau begitu, sebagaimana disebut oleh banyak orang sebagai narsisme dipahami sebagai benar, positip, sebagaimana mencintai yang lain. kita telah banyak membicarakan aspek ini.
“Saya tidak menyukai istilah narsisme”, kata Paus,”ini menunjukkan sebuah cinta yang berlebihan terhadap diri sendiri dan itu tidak baik, itu bisa menimbulkan kerusakan yang serius bukan hanya bagi jiwa mereka yang menyandangnya melainkan juga bagi relasi dengan orang lain, dengan masyarakat dimana orang itu hidup. Masalah yang paling nyata adalah bahwa mereka yang mengalaminya – yang sebenarnya merupakan sejenis kekacauan mental – adalah justru orang-orang yang memiliki banyak kekuasaan. Seringkali, mereka yang menjadi bos justru orang-orang yang narsis”.

Banyak pemimpin Gereja justru demikian.
 “Anda tahu apa yang saya pikirkan tentang hal ini? Para pemimpin Gereja seringkali menjadi narsis, merasa tersanjung dan senang dengan kedudukan/jabatan mereka. Jabatan adalah kusta bagi kepausan.”

Kusta bagi Kepausan, ini merupakan kata-kata beliau yang jelas. Tetapi apa itu jabatan? Barangkali ia menyinggung soal kuria?
 “Tidak, kadang-kadang ada kedudukan/jabatan dalam kuria, tetapi kuria secara keseluruhan adalah hal yang lain. ini adalah apa yang di dalam dunia tentara disebut sebagai kantor Intendan (pusat komando), yang mengatur pelayanan yang melayani Tahta Suci. Namun ia mempunyai satu cacat: yakni Vatikan-sentris. Ia melihat dan mencari kepentingan Vatikan, yang untuk sebagian besar masih merupakan kepentingan temporal. Pandangan Vatikan-sentris ini mengabaikan dunia di sekitar kita. Saya tidak menggunakan cara pandang ini dan saya akan melakukan semua yang dapat saya lakukan untuk mengubahnya. Gereja harus kembali menjadi Gereja umat Allah, dan para imam, para pastor, dan para uskup yang merawat jiwa-jiwa, adalah para pelayan umat Allah itu. Inilah Gereja, istilah yang secara tak mengherankan berbeda dari Tahta Suci, yang memiliki fungsinya sendiri, penting tetapi merupakan pelayan Gereja. Saya tidak akan pernah memiliki iman yang lengkap kepada Allah dan kepada anak-Nya seandainya saya tidak pernah dididik di dalam Gereja, seandainya saya tidak mendapatkan nasib baik dengan hidup di Argentina, di sebuah komunitas yang tanpanya saya tak akan pernah mampu menyadari diri saya sendiri dan iman saya.”

Apakah anda mendapatkan panggilan pada usia muda?
 “Tidak, tidak terlalu muda. Keluarga saya mengharapkan saya memiliki profesi yang lain, bekerja, mendapatkan uang. Saya masuk universitas. Saya juga memiliki seorang guru yang sangat saya hormati dan saya bersahabat dengannya yang sekaligus merupakan seorang komunis yang taat. Dia sering membacakan teks Partai Komunis untuk saya dan memberikanya kepada saya agar saya membacanya. Maka saya juga memahami konsepsi yang sangat materialistik itu. Saya ingat bahwa ia juga memberi saya pernyataan dari seorang komunis amerika untuk membela Rosenbergs, yang telah dijatuhi hukuman mati. Perempuan yang sedang saya bicarakan ini kemudian ditangkap, disiksa dan dibunuh oleh kediktatoran yang kemudian berkuasa di Argentina.”

Pada bagian mana Anda tergoda oleh Komunisme?
“Materialismenya tidak mengungkung saya. Namun mempelajarinya melalui orang yang berani dan jujur sangatlah membantu. Saya menyadari bberapa hal, sebuah aspek dari dunia sosial yang kemudian saya temukan di dalam ajaran sosial Gereja.”

Teologi Pembebasan, yang diekskounikasi oleh Paus Yohanes Paulus II, tersebar luas di Amerika Latin.
 “Ya, kebanyakan anggotanya adalah orang-orang Argentina.”

Menurut Anda apakah benar bahwa Paus melawan mereka?
“Tentu itu memberikan aspek politis bagi teologi mereka, namun sebagian besar dari mereka adalah kaum beriman dan memiliki konsep yang unggul tentang kemanusiaan.”

Bapa Suci, bolehkan saya menceritakan tentang latar belakang kultural saya sendiri? Saya dibesarkan oleh seorang ibu yang sangat katolik. Pada umur 12 saya menjuarai lomba katekismus yang diselenggarakan oleh seluruh paroki di Roma dan saya mendapatkan hadiah dari Vikaris. Saya menerima komuni pada hari Jumat pertama setiap bulan, dengan kata lain, saya menjalankan kekatolikan dan sungguh-sungguh beriman. Namun semua itu berubah ketika saya masuk SMU. Di antara naskah-naskah filsafat yang kami pelajari, saya membaca tulisan Descartes “Discourse on Method” dan saya dikejutkan oleh sebuah frase, yang sekarang telah menjadi ikon,”Saya berpikir, maka saya ada.” Dengan demikian individu menjadi landasan bagi keberadaan manusia, tahta bagi pikiran bebas.
“Namun, Descartes tak pernah menolak iman terhadap Allah yang transenden.”

Memang benar, namun ia meletakkan dasar bagi sebuah cara pandang yang sangat berbeda dan saya mengikuti jalan itu, yang kemudian, didukung oleh hal-hal lain yang saya baca, yang mengantar saya ke tempat yang sangat berbeda.
“Sejauh saya pahami, bagaimanapun Anda adalah bukan orang beriman namun bukan yang anti-klerikal. Dua hal itu sangatlah berbeda.”

Memang benar, saya bukan anti-klirikal, namun saya menjadi begitu ketika saya menjumpai seorang klerikalis.
Ia tersenyum dan mengatakan,”Saya juga begitu, ketika bertemu dengan seorang yang klerikalis, saya tiba-tiba berubah menjadi anti-klerikal. Klerikalisme sebaiknya tidak dikaitkan dengan Kekristenan. Santo paulus, orang yang pertama kali berbicara kepada bangsa-bangsa lain, kepada penganut keyakinan suku, kepada orang beriman dari agama lain, adalah orang pertama yang mengajarkan hal itu.”

Bolehkah saya bertanya, Bapa Suci, siapakah orang suci yang Anda rasakan paling dekat dengan jiwa Anda, yang membentuk pengalaman religius Anda?
“Santo Paulus adalah orang yang meletakkan batu penjuru bagi agama dan keyakinan kita. Anda tidak dapat menjadi orang Kristen yang sadar tanpa Santo Paulus. Ia menerjemahkan ajaran-ajaran Kristus ke dalam struktur ajaran yang, bahkan dengan tambahan sejumlah pemikir, teolog dan pastor, yang telah menolaknya dan masih terus bertahan sampai dua ribu tahun. Lalu muncullah Agustinus, Benediktus dan Thomas serta Ignasius. Dan Fransiskus tentu saja. Apakah saya perlu menjelaskan mengapa?”

Fransiskus – saya sengaja memanggilnya demikian karena Paus sendiri yang menyarankannya melalui cara bicaranya, senyumnya, dengan ungkapan-ungkapan terkejut dan pemahamannya – memandang saya seolah-olah mendorong saya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bahkan menghebohkan dan memalukan bagi mereka yang memimpin Gereja. Maka saya bertanya kepadanya: Anda telah menjelaskan pentingnya Paulus dan peran yang ia jalankan, namun saya ingin mengetahui dari antara yang Anda sebutkan itu mana yang lebih dekat dengan jiwa Anda?
 “Anda meminta saya untuk membuat ranking, tetapi klasifikasi itu cocok untuk dunia olah raga atau hal-hal lain semacam itu. Saya bisa menyebutkan nama dari pemain sepakbola terbaik di Argentina. Namun untuk orang kudus….”

Mereka menceritakan hal-hal lucu bersama para penjahat, Anda mengetahui peribahasa itu?
“Tepat sekali. Tetapi saya tidak sedang berusaha menghindari pertanyaan Anda, karena Anda tidak meminta saya untuk membuat ranking atas pentingnya pengaruh mereka secara kultural dan religius melainkan menyebutkan siapa yang paling dekat dengan jiwa saya. Maka saya akan mengatakan:
Agustinus dan Fransiskus.”

Bukan Ignasius, dari Ordo Anda?
“Untuk alasan yang dapat dipahami, Ignasius adalah santo yang saya kenal secara lebih baik daripada yang lain. Ia mendirikan Ordo kami. Saya ingin mengingatkan Anda bahwa Carlo Maria Martini juga berasal dari Ordo itu, seseorang yang sangat berharga bagi saya dan bagi Anda juga. Para Jesuit adalah dan masih merupakan ragi – memang bukan satu-satunya namun barangkali yang paling efektif – dalam Agama Katolik: kebudayaan, pengajaran, karya misioner, ketaatan kepada Paus. Namun Ignasius yang mendirikan Serikat, adalah juga seorang pembaharu dan seorang mistikus. Terutama ia adalah mistikus.”

Dan Anda berpendapat bahwa para mistikus telah menjadi hal yang penting bagi Gereja?
“Mereka sangat penting. Agama tanpa mistik hanyalah sebuah filsafat.”

Apakah Anda memiliki sebua panggilan mistik?
 “Menurutmu bagaimana?”

Saya tidak berpikir begitu
“Anda mungkin benar. Saya mencintai para mistikus; Fransiskus juga demikian dalam banyak aspek hidupnya, namun saya tidak menganggap bahwa saya memiliki panggilan, maka kita perlu memahami arti terdalam dari istilah itu. Seorang mistikus melepaskan dirinya dari tindakan, fakta, tujuan dan bahkan perutusan pastoral dan terus meningkat sampai ia mencapai kesatuan dengan Kebahagiaan. Saat yang singkat namun memenuhi seluruh hidup.”

Apakah itu pernah terjadi pada diri Anda?
“Jarang. Misalnya, ketika konklav memilih saya menjadi Paus. Sebelum saya menerimanya, saya meminta ijin untuk memanfaatkan waktu sebentar di ruang sebelah dengan balkon yang menghadap ke halaman. Kepala saya terasa kosong dan saya disergap oleh kecemasan yang besar. Untuk melepaskannya dan relaks saya menutup mata dan membiarkan semua pikiran hilang, bahkan pikiran tentang menolak posisi itu, sebagaimana dimugkinkan oleh prosedur liturgi. Saya menutup mata dan tak lagi merasakan kecemasan atau emosi tertentu. Pada saat tertentu saya dipenuhi oleh cahaya yang sangat terang. Itu berlangsung sekejap, namun bagi saya itu terasa sangat lama. Kemudian cahaya itu memudar, saya segera bangun dan berjalan menuju ruangan di mana para kardinal menunggu dan dimana terdapat meja untuk menyatakan penerimaan. Saya menandatanganinya, kardinal Camerlengo bersama-sama menandatanganinya dan kemudian di atas balkon terdengar “Kita memiliki Paus”.

Sesaat kami terdiam, lalu saya mengatakan: kita telah berbicara tentang orang kudus yang Anda rasakan paling dengan dengan jiwa Anda dan kita masih menyisakan Agustinus. Sudikah Anda bercerita mengapa Anda merasa sangat dekat dengannya?
“Bahkan bagi para pendahulu saya, Agustinus merupakan acuan penting. Santo ini telah melalui banyak perubahan di dalam hidupnya dan beberapa kali mengubah posisi ajarannya. Ia juga pernah berkata-kata kasar kepada kaum Yahudi, dan saya tidak mengikutinya. Ia menulis banyak buku dan apa yang saya pikir merupakan yang paling menonjol dari intimitas intelektual dan spiritualnya adalah buku “Pengakuan Agustinus”, yang juga berisi beberapa ungkapan mistik, namun sebagaimana banyak pendapat lain, ia bukanlah kelanjutan dari Paulus. Sungguh, dia melihat Gereja dan iman dengan cara yang sangat berbeda dengan Paulus, barangkali jaman mereka berdua berbeda kira-kira empat abad.

Apa yang menjadi perbedaan, Bapa Suci?
“Bagi saya perbedaan itu terletak pada dua aspek mendasar. Agustinus merasa tak berdaya di hadapan kebesaran Allah dan tugas-tugas yang harus diemban oleh seorang Kristen dan seorang Uskup.  Dalam kenyataannya itu tidak berarti bahwa dia lemah, namun dia merasa bahwa jiwanya selalu kekurangan dan menginginkan serta membutuhkan untuk seperti itu. Lalu rahmat itu dianugerahkan oleh Tuhan sebagai elemen paling dasar dari iman. Dari hidup. Dari arti kehidupan. Seseorang yang tak tak tersentuh oleh rahmat barangkali akan menjadi orang yang tak punya rasa tercela atau rasa takut, sebagaimana mereka katakan, namun ia tak akan pernah menjadi seseorang yang tersentuh rahmat. Inilah insight yang diberikan oleh Agustinus.”

Apakah Anda merasa tersentuh oleh rahmat?
“Tak seorangpun dapat mengetahuinya. Rahmat itu bukan bagian dari kesadaran, ini merupakan cahaya di dalam jiwa kita, bukan pengetahuan maupun akal. Bahkan Anda, tanpa mengetahuinya, mungkin saja tersentuh oleh rahmat.”

Tanpa iman? Meskipun bukan orang beriman?
“Rahmat itu berkaitan dengan jiwa.”

Saya tidak percaya akan jiwa
“Anda tidak mempercayainya tetapi Anda memilikinya.”

Bapa Suci, Anda mengatakan bahwa Anda tidak memiliki keinginan untuk berupaya mempertobatkan saya dan saya tidak berpikir bahwa Anda akan berhasil.
“Kita tak sanggup mengetahuinya, namun saya tak memiliki keinginan semacam itu.”

Dan bagaimana dengan Santo Fransiskus?
“Ia besar karena ia segala-galanya. Ia seorang yang ingin melakukan sesuatu, ingin membangun, ia mendirikan sebuah ordo dan peraturannya, ia seorang peziarah dan seorang misionaris, penyair dan nabi, ia mistikus. Ia menemukan kejahatan di dalam dirinya dan mencabutnya keluar. Ia mencintai alam, binatang, rerumputan di halaman dan burung-burung yang terbang di angkasa. Namun lebih dari semua itu, ia mencintai semua orang, anak-anak, orang lanjut usia, perempuan. Ia merupakan contoh yang paling berkilau dari agape yang kita bicarakan di awal tadi.”

Bapa Suci benar, penggambarannya sempurna. Namun mengapa tak satupun dari pendahulu Anda pernah memilih nama itu? Dan saya percaya tampaknya setelah Anda tak ada orang yang akan memilih nama itu lagi.
“Kita tidak tahu tentang hal itu, sebaiknya kita tidak berspekulasi tentang masa depan. Memang benar, tak seorangpun memilih nama itu sebelum saya. Di sini kita menghadapi persoalan dari persoalan. Apakah Anda ingin minum sesuatu?”
Terima kasih, mungkin air putih saja.
Ia bangun, membuka pintu dan meminta tolong seseorang di pintu masuk untuk membawakan dua gelas air putih. Ia bertanya kepada saya apakah saya menginginkan kopi, saya jawab tidak. Air minumnya tiba. Pada akhir perbincangan kami, gelas saya akan kosong, namun gelasnya akan tetap penuh. Ia berdehem lalu mulai bicara.
“Fransiskus menginginkan sebuah ordo pengemis dan pengembara. Para misionaris yang berkehendak untuk bertemu, mendengarkan, berbicara, menolong, untuk menyebarkan iman dan kasih. Terutama kasih. Dania memimpikan Gereja kaum miskin yang memperhatikan orang lain, menerima bantuan material dan menggunakannya untuk membantu yang lain, tanpa memikirkan dirinya sendiri. 800 tahun telah berlalu dan sejak itu waktu telah berubah, namun cita-cita tentang misionaris, Gereja yang miskin masih jauh dari kenyataan. Ini masih merupakan Gereja yang dikotbahkan oleh Yesus dan para muridnya.”

Anda umat Kristen saat ini merupakan minoritas. Bahkan di Italia, yang dikenal sebagai halaman belakang Paus. Yang menjalankan agama Katolik, menurut beberapa poling, berkisar antara 8 dan 15 persen. Mereka yang mengatakan diri sebagai Katolik namun  nyatanya tidak menjalankannya kira-kira 20%. Di dunia, ada satu triliun orang Katolik atau lebih, dan bersama dengan gereja Kristen lainnya hanya sebanyak satu setengah triliun, namun populasi seluruh dunia adalah 6 atau 7 triliun orang. Memang ada yang banyak jumlahnya, terutama di Afrika dan Amerika Latin, namun Anda adalah minoritas.
 “Memang demikian tetapi persoalannya saat ini bukanlah hal itu. Secara personal saya berpikir bahwa menjadi minoritas sesungguhnya merupakan sebuah kekuatan. Kita harus menjadi ragi bagi kehidupan dan kasih dan ragi semestinya lebih sedikit daripada keseluruhan buah, bunga dan pohon yang tumbuh dari situ. Saya percaya telah mengatakan bahwa tujuan kita bukanlah untuk membuat orang berpindah agama melainkan untuk mendengarkan kebutuhan, harapan dan kekecewaan, kecemasan dan harapan. Kita harus memperbaiki harapan bagi kaum muda, membantu kaum lansia, terbuka kepada masa depan, menyebarkan kasih. Menjadi miskin di antara kaum miskin. Kami harus merangkul mereka yang terbuang dan mewartakan perdamaian. Vatikan kedua, yang diinspirasi oleh Paus Paulus VI dan Paus Yohanes, memutuskan untuk melihat masa depan dengan roh moderen dan terbuka kepada kebudayaan modern. Para Bapa Konsili mengetahui bahwa menjadi terbuka kepada kebudayaan moderen berarti sebuah ekumenisme religius dan dialog dengan mereka yang bukan umat beriman. Namun setelah itu, baru sedikit yang sudah dilakukan dalam arah itu. Saya memiliki kerendahan hati dan keinginan untuk melakukan sesuatu.”

Juga karena -  saya tambahkan sendiri – masyarakat modern di seluruh dunia sedang menghadapi krisis mendalam, bukan hanya masalah ekonomis melainkan juga masalah sosial dan spiritual. Pada awal perjumpaan kita Anda menggambarkan sebuah generasi yang hancur di bawah beban masa kini. Bahkan kami yang bukan orang beriman merasakan bahwa ini hampir merupakan sebuah beban antropologis. Itulah sebabnya kami ingin berdialog dengan kaum beriman dan mereka yang secara paling baik mewakili umat beriman.
“Saya tidak tahu apakah saya meruakan yang terbaik yang mewaili mereka, namun penyelenggaraan ilahi telah menempatkan saya sebagai pimpinan Gereja dan Keuskupan St. Petrus. Saya akan melakukan semampu saya untuk memenuhi mandat  yang telah dipercayakan kepada saya.”

Yesus, sebagaimana Anda tunjukkan, berkata: Kamu harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri. Menurut Anda apakah ini telah terlaksana?
“Sayangnya, belum. Cinta diri telah berkembang pesat dan kasih terhadap sesama telah menurun drastis.”

Jadi ini merupakan tujuan kita bersama: sekurang-kurangnya menyeimbangkan intensitas kedua jenis cinta ini. Apakah Gereja Anda siap dan sudah dibekali untuk mengemban tugas ini?
“Menurut Anda bagaimana?”

Saya pikir cinta terhadap kekuasaan sementara masih sangat kuat di dalam benteng Vatikan dan di dalam struktur kelembagaan seluruh Gereja. Saya pikir lembaga itulah yang menguasai Gereja yang miskin dan misioner yang Anda inginkan.
“Sesungguhnya, begitulah yang terjadi, dan ini merupakan wilayah di mana Anda tak dapat melakukan mukjizat. Saya ingin mengingatkan Anda bahwa bahkan Fransiskus pada masanya harus bernegosiasi lama sekali dengan hierarki Roma dan Paus agar aturan-aturan ordonya dapat dijalankan. Akhirnya ia mendapatkan persetujuan namun dengan perubahan dan kompromi yang mendalam.”

Apakah Anda akan mengikuti langkah yang sama?
“Saya bukan Fransiskus dari Asisi dan saya tidak memiliki kekuatan dan kekudusan seperti dirinya. Namun saya adalah Uskup Roma dan Paus dari Gereja Katolik dunia. Hal pertama yang saya putuskan adalah menunjuk 8 kardinal untuk menjadi penasehat saya. Bukan para pejabat melainkan orang-orang bijak yang memiliki perasaan yang sama dengan saya. Ini merupakan awal dari sebuah Gereja dengan sebuah organisasi yang bukan hanya top-down melainkan juga horisontal. Ketika Kardinal Martini berbiara tentang fokus kepada konsili dan sinode ia tahu betapa lama dan sulitnya untuk mengarah ke sana. Lembut, tetapi tegas dan gigih.”

Dan politik?
“Mengapa Anda menanyakannya? Saya sudah mengatakan bahwa Gereja tidak berurusan dengan politik.”

Namun baru beberapa hari yang lalu Anda mendorong umat Katolik untuk terlibat secara sipil dan politik.
“Saya tidak hanya mendorong orang Katolik tetapi juga semua orang yang memiliki kehendak baik. Saya mengatakan bahwa politik adalah aktivitas sipil yang paling penting dan memiliki wilayah tindakannya sendiri, yang bukan wilayah agama. Lembaga-lembaga politik secara definisi bersifat sekuler dan bekerja dalam wilayah yang independen. Semua pendahulu saya telah mengatakan hal yang sama, sekurang-kurang selama sekian tahun, meskipun dengan penekanan yang berbeda-beda. Saya percaya bahwa orang Katolik yang terlibat di dalam politik membawa nilai-nilai agama di dalam diri mereka, namun memiliki kesadaran yang matang dan keahlian untuk menerapkannya. Gereja tidak akan pernah melampaui tugasnya yakni menyatakan dan menyebarkan nilai-nilainya, sekurang-kurangnya selama saya berada di sini.”

Tapi itu tidak pernah terjadi dengan Gereja
“Itu hampir tak pernah terjadi. Seringkali Gereja sebagai institusi telah didominasi oleh kepentingan temporal dan banyak anggota serta pemimpin senior Katolik masih merasakan hal itu. Namun sekarang ijinkan saya mengajukan pertanyaan kepada Anda: Anda, sebagai seorang sekuler yang tak percaya kepada Tuhan, apa yang Anda percayai? Anda seorang penulis dan pemikir. Anda percaya kepada sesuatu, Anda semestinya memiliki sebuah nilai utama. Janganlah menjawab pertanyaan saya dengan istilah seperti kejujuran, pencarian, visi tentang kebaikan umum, semua prinsip dan nilai yang penting karena itu bukanlah apa yang sedang saya tanyakan. Saya sedang bertanya menurut Anda apa yang yang paling mendasar dari dunia, bahkan alam semesta. Anda perlu menanyakan diri Anda sendiri, tentu saja, seperti halnya orang lain, siapakah kita ini, darimana kita berasal, ke mana kita akan pergi. Bahkan anak-anak mengajukan pertanyaan ini kepada diri mereka sendiri. Bagaimana dengan Anda?”

Terima kasih atas pertanyaan ini. Jawabannya adalah: saya percaya kepada Ada, yakni kepada jaringan dari mana forma-forma dan badan-badan berasal.
“Dan saya percaya kepada Allah, bukan kepada Allah yang katolik, tidak ada Allah yang katolik, yang ada adalah Allah dan saya percaya kepada Yesus Kristus, inkarnasinya. Yesus adalah guru saya dan gembala saya, tetapi Allah, Bapa, Abba, adalah cahaya dan Pencipta. Inilah Ada yang saya yakini. Apakah menurut Anda kita sangat jauh berbeda?”

Kita berbeda jauh dalam pemikiran, namun mirip sebagai manusia, yang secara taksadar didorong oleh insting-insting kita yang berubah menjadi impuls, perasaan dan kehendak, pikiran dan nalar. Dalam hal-hal ini kita serupa.
“Tetapi dapatkah Anda merumuskan apa yang Anda sebut sebagai Ada?”

Ada adalah sumber energi. Bersifat kaos (kacau) namun merupakan energi yang tak menghancurkan dan merupakan kaos abadi. Bentuk-bentuk muncul dari energi itu ketika ia mencapai titik ledak. Bentuk-betuk itu memiliki hukum-hukumnya sendiri, medan magnetnya sendiri, unsur kimianya sendiri, yang menyatu secara acak, berkembang, dan akhirnya padam namun energinya tidak hancur. Manusia barangkali merupakan satu-satunya binatang yang dianugerahi pikiran, sekurang-kurangnya di planet dan tata surya kita. Saya katakan bahwa ia didorong oleh insting dan hasrat namun sebaiknya saya tambahkan bahwa di dalam dirinya ia juga mengandung resonansi, gema, gaung dari kaos.
“Baiklah. Saya tidak ingin Anda memberikan ringkasan dari filsafat Anda dan apa yang sudah anda katakan tadi sudah cukup bagi saya. Dari sudut pandang saya, Allah adalah cahaya yang menyinari kegelapan, bahkan seandainya ia tidak melenyapkannya, dan berkas cahaya ilahi itu berada dalam diri kita masing-masing. Dalam surat saya menulis untuk Anda, anda tentu ingat ketika saya mengatakan bahwa spesies kita akan berakhir namun cahaya Allah tak akan berakhir dan pada titik itulah ia akan menyusup ke dalam seluruh jiwa dan ia seluruhnya akan berada di dalam setiap orang.”

Ya, saya mengingatnya dengan baik. Anda mengatakan,”Seluruh cahaya akan berada di dalam seluruh jiwa” yang – jika boleh saya katakan – lebih memberikan sebuah gambaran tentang imanensi daripada gambaran tentang transendensi.
"Transendensi tetap bertahan karena cahaya itu, semua di dalam segala, ia melampaui alam semesta dan spesies, ia tinggal pada ranah itu. Namun kembali kepada saat ini. Kita telah melangkah maju dalam dialog kita. Kita telah mengamati bahwa dalam masyarakat dan dunia di mana kita tinggal, cinta diri telah meningkat lebih besar daripada cinta kepada sesama, dan bahwa semua orang yang berkehendak baik harus bekerja, masing-masing dengan kekuatan dan keahliannya, untuk memastikan bahwa cinta kepada sesama itu meningkat sampai pada posisi yang setara dan jika mungkin melebihi cinta kepada diri sendiri.”

Sekali lagi, politik muncul di dalam gambar.
“Tentu saja. Secara pribadi saya pikir apa yang dikenal sebagai liberalisme yang tak terkendali itu hanya membuat mereka yang kuat menjadi semakin kuat dan yang lemah menjadi semakin lemah serta menyingkirkan mereka yang paling terbuang. Kita membutuhkan kebebasan yang besar, bukan diskriminasi, bukan hasutan dan banyak kasih. Kita membutuhkan pedoman tingkah laku dan juga jika perlu, campur tangan langsung dari negara untuk memperbaiki ketidakseimbangan (ketidakadilan) yang keterlaluan dan semakin besar.”

Bapa Suci, Anda sungguh-sungguh seorang pribadi yang beriman, tersentuh oleh rahmat, didorong oleh keinginan untuk menghidupkan kembali Gereja yang pastoral dan minioner yang diperbaharui dan tidak sementara. Namun dari cara Anda berbicara dan dari  apa yang saya pahami, Anda adalah Paus yang revolusioner dan akan menjadi Paus revolusioner. Setengah Jesuit, setengah manusia Fransiskus, sebuah gabungan yang barangkali belum pernah ada sebelumnya. Dan kemudian, Anda menyukai “The Betrothed” karya manzoni, Holderlin, Leopardi dan terutama Dostoevsky, film “La Strada” dan “Prova d’orchestra” karya Fellini, “Open City” karya Rossellini dan juga film karya Aldo Fabrizi.
“Saya menyukainya karena saya menontonnya bersama orangtua saya ketika saya masih kecil.”

Nah itulah Anda. Ijinkan saya menyarankan dua film yang baru saja dirilis? “Viva la liberta” da film tentang Fellini karya Ettore Scola. Saya yakin Anda akan menyukainya.
Kaitannya dengan kekuasaan, kata saya, Anda tahu bahwa ketika berusia 20 tahun saya menghabiskan waktu satu setengah bulan dalam sebuah retret spiritual bersama dengan para Jesuit? Kaum Nazi berada di Roma dan saya telah dipecat dari tugas ketentaraan. Itu bisa dihukum dengan hukuman mati. Para Jesuit menyembunyikan kami dengan syarat kami menjalankan latihan rohani sepanjang waktu sehingga mereka membuat kami tetap tersembunyi.
“Tetapi apakah tidak mungkin menghabiskan satu setengah bulan untuk latihan rohani?” tanya Paus, heran dan geli. Saya akan menceritakan hal itu kepada beliau lain waktu.

Kami berpelukan. Kami menaiki tangga kecil menuju ke pintu. Saya katakan kepada Paus bahwa ia tidak perlu menemani saya tetapi dia menolaknya dengan isyarat tangannya. “Kita juga akan mendiskusikan peran kaum perempuan di dalam Gereja. Ingatlah bahwa Gereja (la chiesa) adalah feminin.”
Dan jika Anda berminat, kita juga dapat berbicara tentang Pascal. Saya ingin mengetahui apa yang Anda pikirkan tentang jiwa besar itu.
“Berkat saya untuk seluruh keluarga Anda dan mintalah mereka untuk mendoakan saya. Ingatlah saya, ingatlah saya lebih sering.”

Kami berjabat tangan dan ia berdiri dengan kedua jarinya yang terangkat memberikan berkat. Saya melambaikan tangan dari jendela. Inilah Paus Fransiskus. Seandainya Gereja menjadi seperti dia dan menjadi seperti apa yang ia harapkan, itu akan menjadi sebuah perubahan pada jaman yang penting.

 (Translated from Italian to English by Kathryn Wallace, terjemahan dari English ke bahasa Indonesia oleh Indro Suprobo)

Sumber asli: http://www.repubblica.it/cultura/2013/10/01/news/pope_s_conversation_with_scalfari_english-67643118/