Sunday, November 19, 2023

Pendudukan Palestina sebagai Sustainable Terrorism

 




Oleh Indro Suprobo


World Food Program yang beroperasi di Gaza melaporkan bahwa sebagian besar warga Palestina berada di jalanan. Mereka hidup tanpa air, tanpa listrik, tanpa bahan makanan. Akses mereka terhadap bantuan tertutup total. Kesaksian para dokter dan tenaga kesehatan menggambarkan tingkat bahaya yang luar biasa bagi keselamatan orang-orang yang sakit, membutuhkan penanganan medis, korban terluka, kaum ibu yang akan melahirkan, anak-anak dan orang-orang yang harus dioperasi, dan para lansia yang membutuhkan perawatan dan penanganan serius.

Pemandangan yang menyentak rasa kemanusiaan, adalah ketika seorang ayah berjalan di antara kerumunan sambil membawa tas plastik yang diangkat di atas tubuhnya. Tas plastik itu tidak berisi roti atau bahan makanan lainnya, melainkan potongan tubuh anaknya yang hancur karena pengeboman dan tertimpa reruntuhan bangunan. Ini adalah sebuah kepedihan yang melukai hati siapapun yang masih memiliki kasih sayang. Ini adalah kenyataan kekejian, kepedihan dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang tak dapat disangkal. 

Hanya ada satu cara untuk menangani semua ini, yakni menghentikan serangan dan membiarkan seluruh elemen kekuatan bantuan dari seluruh penjuru dunia untuk hadir dan menjalankan semua yang dibutuhkan oleh warga Palestina. Namun, satu-satunya cara ini tampaknya menghadapi jalan buntu karena kerasnya sikap elit dan pemegang kebijakan Israel beserta kroni-kroninya, bahwa mereka tak akan pernah menghentikan semua ini sampai terorisme Hamas berakhir dan habis. Dan gempuran bom yang menghancurkan fasilitas kesehatan, tempat mereka yang berada dalam kondisi lemah harus dilindungi, tetap dijalankan dengan dalih bahwa di bawah rumah sakit itu terdapat bunker-bunker persembunyian Hamas dan menjadi pusat operasi terorisme.

Jika mau menelusur secara jujur dan terbuka, kenyataannya sangatlah gamblang dan seluruh dunia telah menyaksikan, bahwa sesungguhnya, kekejian pendudukan dan penindasan terhadap warga Palestina yang terus-menerus dilakukan oleh Israel selama berpuluh-puluh tahun itulah yang sebenar-benarnya lebih pantas disebut sebagai sustainable terrorism, sebuah laku teror yang berkelanjutan tanpa henti. 

Sesungguhnya juga, kekejian pendudukan terhadap Palestina yang merupakan praktik paling nyata dari sustainable terrorism ini merupakan teladan paling kentara dari perilaku teror yang pada akhirnya melahirkan resistensi Hamas. Apa yang dilakukan Hamas adalah hasil dari keteladanan Israel sendiri dalam perilaku teror. Namun bedanya, apa yang dilakukan Hamas, meskipun tak pernah dapat diterima karena juga menghancurkan kemanusiaan, adalah sebuah jeritan dari luka paling dalam dan paling lama sebagai akibat dari kekejian pendudukan, yang merupakan sustainable terrorism itu. Itulah yang sebenarnya disebut sebagai pembelaan diri terhadap semua upaya orang lain yang terus-menerus menghancurkan martabat liyan. 

Oleh karena itu, jika elit Israel dan kroni-kroninya menyatakan bahwa untuk menghancurkan terorisme Hamas mereka harus terus menggempur bunker-bunker yang tersembunyi di bawah tanah-tanah rumah sakit, dengan mengorbankan jiwa warga sipil yang tak berdosa, itu adalah sebuah proyeksi yang semestinya justru menjadi refleksi. Yang paling tepat untuk dinyatakan, untuk menghentikan terorisme, satu-satunya hal yang harus dilakukan adalah menghancurkan nalar-nalar teroris yang justru tersembunyi di bawah kedalaman pikiran dan jiwa-jiwa para elit Israel dan kroni-kroninya itu sendiri. Bunker-bunker nalar teroris di dalam pikiran dan jiwa mereka itulah yang semestinya dihancurkan, dan diganti dengan nalar yang menjunjung penghormatan, kesamaan martabat, perdamaian, dan dukungan terhadap kehidupan liyan. 

Itu semua, secara nyata dilakukan dengan menghentikan seluruh aktivitas pendudukan yang melahirkan kekejian dan sekali lagi merupakan sustainable terrorism yang sejati. 

Menghentikan pendudukan, adalah langkah nyata menghentikan sustainable terrorism paling lama di dunia ini. Lalu, berpalinglah kepada sikap pro-eksisten, hidup berdampingan, membiarkan satu sama lain menemukan jalan pertumbuhan untuk kehidupan yang mulia, damai, penuh martabat dan rasa hormat. Jika itu dilalui, maka jalan-jalan lain yang menuntun kepada lebih banyak kebaikan dan kemuliaan kemanusiaan akan terus-menerus ditemukan. 

Seorang mantan tentara IDF Israel yang terlibat aktif dalam program Breaking the Silence melalui berbagai upaya edukatif, ketika ditanya oleh pewawancara, apakah ia masih mendukung Israel, negaranya sendiri, dengan tegas ia menyatakan bahwa ia mendukung Israel. Ketika ditanya lagi, bagaimana cara kamu mendukung Israel? Dengan tegas ia mengatakan bahwa satu-satunya cara mendukung Israel adalah dengan mendesak terus-menerus agar pendudukan terhadap Palestina itu dihentikan. 

Mengapa demikian? Tampaknya ia telah menyadari bahwa ia adalah saksi di lapangan bahwa pendudukan Paslestina adalah sebenar-benarnya sustainable terrorism.

No comments: