Monday, November 27, 2006

Religiositas untuk Anak, Bukan Agama (2)

Indro Suprobo Ada banyak orang beranggapan bahwa ketika menghadapi kematian – sebuah peristiwa besar yang tidak main-main dalam hidup seseorang – orang pastilah menginginkan agama sebagai kejelasan dasar bagi dirinya yang memberi kerangka dari seluruh pemaknaan atasnya. Saya sendiri menghayati kematian (terutama orang-orang terdekat, tercinta dan pada saatnya nanti kematian saya sendiri) sebagai bagian dari kehidupan yang teramat luas dan agung itu. Oleh karena itu, saya menghayati bahwa hidup tak pernah mati, karena ia luas, agung, dalam, maharangkum, mahaliput, dan abadi. Menghadapi kematian dengan demikian adalah memandang suatu bagian dari keluasan, keagungan, kemaharangkuman, kemahaliputan, dan keabadian. Karena kematian adalah bagian dari kehidupan, maka sikap terdalam menghadapinya tak lepas dari sikap terdalam terhadap kehidupan. Dari banyak kearifan agama-agama maupun kepercayaan, dan kehidupan orang-orang mendalam para pendahulu kita (para nabi, mistikus, santo-santa, solihin-soleha, dan semua mereka yang hanif), sikap terdalam terhadap kehidupan adalah hormat, syukur dan hanif (tunduk). Dalam sikap itu pulalah kematian dihadapi. Agama-agama dan beragam keyakinan di dunia ini dengan caranya masing-masing sesuai konteks sejarah dan kebudayaan yang membentuknya juga mengajarkan, mengajak, memotivasi dan mencontohkan dalam praksis nyata sikap terdalam serupa ini terhadap kehidupan (termasuk di dalamnya kematian). Dan agama-agama hanyalah salah satu dari begitu banyak kearifan kehidupan yang lagi-lagi teramat luas, agung, dalam, maharangkum dan mahaliput itu. Agama-agama adalah bagian dari keluasan dan keagungan itu tetapi ia tak bisa diklaim sebagai satu-satunya kearifan apalagi keagungan itu sendiri. Dalam refleksi personal, dari kedalaman kesunyian batin, dari kebeningan dan keheningan hidup yang saya perjuangkan dari waktu ke waktu (dg segala kesulitan dan kegagalannya) - dalam hal ini pendidikan seminari memiliki andil besar melalui pembiasaan silentium ordinarium, magnum maupun sacrum -, saya menjumput sebutir kelegaan dan niatan yang mendasar bahwa saya akan mendidik diri saya dan anak-anak saya untuk terus-menerus belajar menghayati kearifan-kearifan hidup yang telah tumbuh subur dalam keluasan ini. Oleh karena itu, kebutuhan mendasar adalah menjalankan kearifan itu. Kebetulan agama adalah salah satu atau sebagian dari kearifan itu. Ketika umumnya orang merumuskan "agama harus dijalankan....keyakinan harus dipahami....dan anak-anak membutuhkan itu...", saya merumuskannya dengan "kearifan hidup sepantasnya dijalankan, pemahaman dasar tentangnya sepantasnya dicermati.....dan anak-anak tentulah sangat membutuhkan itu". Namun karena saya menghadapi dunia anak-anak, ketika menemaninya dalam membaca dan mengerti kehidupan ini (termasuk di dalamnya kematian), saya berusaha sebisa mungkin menggunakan nalar dunia anak-anak. Ketika dia menanyakan mengapa pamannya yang masih muda meninggal dunia, saya menjawab dengan mengatakan bahwa paman meninggal dunia karena jantungnya berhenti. Kenapa berhenti? Karena jantungnya mengalami kerusakan dsb. Tak ada jawaban yang berkaitan dengan "karena dipanggil Tuhan", karena jawaban itu tentu saja merupakan konsumsi untuk orang dewasa. (Dan sekali lagi, anak-anak tetaplah anak-anak, bukan orang dewasa berukuran kecil) Ilmu pengetahuan alam, biologi, fisika dan kimia dasar adalah referensi yang sangat berguna untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan yang oleh nalar orang dewasa biasanya dijawab dengan nalar agama-agama. Dunia "bermain dan belajar" anak-anak bukanlah (jadi berbeda dengan) dunia yang hanya sekedar "main-main" karena bermain dan belajar-nya anak-anak adalah medan nyata terdekat bagi religiositas sehari-hari. Dalam dan melalui dunia bermain dan belajar itu, saya menikmati proses menemani anak-anak mengenali kearifan-kearifan hidup terutama sikap hormat kepada kehidupan. Bukankah banyak (tentu tidak semua) permainan anak-anak (terutama di desa entah di gunung, di wilayah pertanian, perikanan-nelayan dsb) sebenarnya merupakan perwujudan dari rasa syukur atas anugerah kehidupan dan rasa hormat terhadapnya? Itu semua, menurut saya, merupakan religiositas sehari-hari. Berkaitan dengan kematian saya sendiri suatu saat nanti, dengan ikhlas hati dan segala ketundukan, saya tidak berkepentingan dengan cara agama apa saya mau diperlakukan. Soal itu merupakan urusan orang yang hidup. Mau dengan cara islam, katolik, kristen beragam aliran, kepercayaan lokal, atau aliran apapun yang mungkin tidak mengalir juga, silakanlah saya manut saja karena semua itu adalah bagian-bagian dari kaya rayanya alam semesta ini. Moga-moga saya akan menghadapi kematian saya sendiri dengan satu sikap: hormat dan tunduk kepada hidup yang luas dan abadi. Moga-moga pula ini boleh disebut sebagai iman dalam teori agama-agama. Lalu, orang yang sangat beragama mungkin bertanya, "Lalu Tuhan ada di manakah Engkau?" Salah satu jawabnya (tentu bukan satu-satunya) mungkin bisa meminjam salah satu judul film "Kejarlah Daku....kau Kutangkap!"

No comments: