Monday, November 27, 2006

Religiositas untuk Anak, Bukan Agama (3)

Indro Suprobo Sewajarnyalah setiap orang menginginkan suatu kejelasan dan kemantaban "kepada siapa ia bergantung dan berserah diri, bersembah pasrah, dan berorientasi kepada apa yang sering disebut sebagai surga. Sungguh ini sangat wajar dan barangkali lebih banyak orang demikian adanya. Kejelasan dan kemantaban itu memang bisa ditemukan dalam agama-agama. Ambillah sebuah contoh, sebagai orang katolik tentu saja seseorang sangat mengharapkan bahwa dalam seluruh hidupnya sebisa mungkin ia menunjukkan kepada orang-orang di sekelilingnya bahwa ia jelas-jelas menggantungkan hidup dan mengarahkan hidup kepada Allah Bapa melalui dan di dalam Yesus kristus (begitulah rumus teologis iman kristen...yang membedakannya dari yang lain). Kebutuhan yang sama tentu juga akan ditularkan kepada anak-anak yang dicintainya sebagai salah satu bukti dan wujud cinta pula, sehingga selanjutnya anak memiliki kebutuhan yang serupa dan orangtua terpanggil untuk memenuhi kebutuhan itu. Demikian pula halnya untuk para pemeluk agama-agama pada umumnya. Dalam pengalaman keseharian, ternyata ada kewajaran yang lain lagi yang dapat kita jumpai. Ada orang yang menjalani hidup ini secara "santai" (mungkin istilahnya kurang tepat juga), yang karena menyadari bahwa ia tidak mengetahui segala pernak pernik hidup yang teramat luas, namun mengakui bahwa sangat mungkin "ada" pernak-pernik itu (surga, neraka dsb), sekaligus mengakui pula adanya bermacam ragam cara berpikir tentang pernak-pernik itu, lalu ia mencoba menikmati saja bermacam ragam kemungkinan itu secara santai dan sungguh-sungguh menikmatinya, meresapinya dan menemukan maknanya. Akibatnya ia tidak memiliki harapan untuk mempertegas mau menggunakan cara berpikir yang mana. Akibat lebih jauhnya juga, ia bahkan tidak mengharapkan surga, namun cukuplah menyembah sujud, menghormat “Yang Tak Terlampaui” itu dan rela nan ikhlas untuk masuk neraka asal berada dalam sikap itu. Ada Rumi, ada Rabiah al Adawiyah. Dalam rumus bahasa arab dan bernuansa agama sikap itu digambarkan dengan "Hasbyallah" atau kurang lebih artinya "cukup Allah" bagiku. Rumus itu tentu saja berada dalam kerangka agama. Dalam aras itu, saya mencoba belajar, tentu dengan segala kegagalan. Aras yang satu ini menarik juga untuk saya pelajari dalam nalar pikiran, dalam pangrasa batin, dan dalam renik-renik tindakan praktis. Ini spiritualitas yang menarik hati dan saya ingin belajar menyelaminya senikmat mungkin. Pada awalnya tentu saja ada banyak halangan dari sisi nalar maupun batin, apalagi dari sisi praksis. Ada banyak pertanyaan mengemuka, ada banyak gugatan dsb. Ada banyak pengalaman mistik yang menarik hati untuk diselami secara real. Dan saya sungguh sedang belajar menyelami beragam pengalaman mistik yang senyatanya tidak hanya berada dalam satu agama saja. Kalau itu bisa memperkaya batin dan hidup rohani pribadi dan berguna untuk praksis hidup (termasuk dalam mendidik anak-anak), dengan senang hati saya menikmatinya. St. Ignatius de Loyola melalui latihan rohani (salah satu mistik kristen) menyatakan agar manusia berlatih dan berusaha "meninggalkan rasa lekat tak teratur". Nah saya bereksplorasi untuk memperluasnya, bagaimana menjalankan semangat atau prinsil "meninggalkan rasa lekat tak teratur kepada salah satu agama". Apakah ini memperkaya rohani atau mengkerdilkan rohani? Tentu awalnya ada banyak keraguan dan bahkan ketakutan, juga pemberontakan batin. Tetapi ternyata setelah berulang kali mencobanya dan belajar.....wah...wah....betapa hidup ini menyediakan kekayaan rohani yang luar biasa harum. Sholat jamaah di mushala desa, misa sederhana di kapel kecil, bajan dan agnihotra di ashram, sujud wening di pendapa sapta dharma dsb...terasa bukan lagi kotak-kotak yang saling terpencil melainkan suatu tanah lapang dengan warna warni aroma yang bisa dihirup dengan bebas dan menyehatkan. Kalau sudah begini, Yesus Sang Junjungan, Al Quran, Mohammad Sang Rasul, injil, santo-santa, para nabi, tritunggal mahakudus, Om dan yang lainnya, bukan lagi kotak-kotak juga melainkan tanah lapang pula. Dalam aras ini, tak ada rumus "tersesat" lagi. Rumus “tersesat” hanya berlaku bagi orang yang mengagungkan “satu kotak” sebagai satu-satunya kebenaran. Tentu ini adalah aras yang lain, yang kebetulan saya sedang belajar memilihnya sebagai sebuah kewajaran yang dibangun. Dalam aras ini pula, saya sangat menaruh tunduk hormat dan syukur penuh ikhlas kepada teman dan saudara dan siapapun yang memilih untuk memiliki ketegasan tertentu dalam arus hidupnya, ada yang menegaskan diri kepada Yesus, ada yang menegaskan diri kepada Al Quran, ada yang lain lagi. Dan saya belajar menegaskan diri menjadi kelana hati. Kalau tidak keliru, ada lagunya di dalam buku madah bakti yang biasa digunakan dalam perayaan ekaristi di gerja katolik: ....kita bagai kelana...di tengah cakrawala....menuju langit suarga......dst

No comments: